Wednesday, June 27, 2012

Majelis 07 – Tentang Kesabaran



PADA hari Ahad, 17 Syawal, 545 H., Syaikh rah.a. berkata:        "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran ke atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (Q.s. Al -Baqarah :250). Perbanyaklah pemberian-Mu kepada kami. Berilah kami rasa syukur atas pemberian itu.

Wahai ghulam, bersabarlah. Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah bencana. Jarang sekali yang selamat darinya. Tidak ada satu nikmat pun kecuali di baliknya ada bencana. Tidak ada kesenangan kecuali di belakangnya ada kesusahan. Tidak ada kelapangan kecuali di baliknya ada kesempitan. Jalanilah hidupmu di dunia dan ambillah bagianmu dari-Nya dengan tangan agama. Sesungguhnya agama merupakan obat penawar dalam mengambil sesuatu dari dunia. Wahai ghulam, ambillah bagian dengan tangan agama, jika engkau mau, dan dengan tangan "perintah" jika engkau orang khawas, serta dengan tangan "perbuatan" Allah swt. jika engkau telah wushul. Yang Maha Memerintah akan memerintah dan mencegahmu serta "perbuatan" akan menggerakkan dirimu. Manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: awam, khawas, dan khawashil-khawash.
Orang awam yaitu seorang muslim yang bertakwa, dia menaati agama, mengikuti syari'at, dan tdak berpisah dengannya. Dia mengamalkan firman Allah swt.

Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Q.s. Al-Hasyr: 7).
Jika telah sempurna hal ini padanya, dan ia mengamalkan agama secara lahir dan batin, maka di hatinya akan muncul cahaya hidayah untuk yang dengannya ia mampu melihat. Jika ia mengambil sesuatu dari tangan agama, maka hatinya merasa kaya, dan ia mencari ilham Al-Haq Azza wa Jalla. Karena ilham-Nya adalah umum pada tiap-tiap sesuatu. Sebagaimana difirmankan Allah swt., "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Q.s. Asy-Syams: 8). Maka hatinya penuh ketakwaan, memandang ilham Al-Haq  Azza wa Jalla dan alamat-Nya, dan ia mengambil perintah dari sisi lahirnya. Bahwa apa yang ada di toko, sebagai tempat mata pencaharian adalah miliknya dan ada dalam kekuasaannya. Kemudian hatinya kembali bercahaya dan ia memandang apa yang ada di tokonya itu. Cahaya itu muncul setelah ia bekerja mengikuti cara agama yang didasari iman dan tauhid yang kuat, bahkan hatinya telah keluar dari dunia dan makhluk serta telah melewati hutan dan menyeberang lautan dunia. Sesungguhnya ketika itu datanglah fajar. Cahaya iman akan meneranginya, yaitu cahaya kedekatan dari Tuhannya, cahaya amal, cahaya sabar, dan cahaya kedamaian. Semua hasil itu diraih setelah menunaikan hak-hak agama sehingga ia mendapatkan keberkatan dalam menjalankannya.

Adapun para wali, mereka termasuk khawashul-khawash, tentu mereka mematuhi agama, kemudian memandang perintah Allah swt., perbuatan, gerak, dan ilham-Nya. Maka apa yang ada di luar tiga hal tersebut adalah kehancuran, penderitaan, haram, memusingkan kepala dan agama, kanker di hatinya, dan nanah di jasadnya.
Wahai ghulam, sesungguhnya peraturan untukmu adalah untuk melihat bagaimana perbuatanmu. Apakah engkau teguh atau hanyut? Apakah engkau benar atau dusta? Barangsiapa tidak menyetujui takdir, maka ia tidak akan disetujui dan dikasihi. Barangsiapa tidak rela dengan qadha, Allah swt. tidak akan rela kepadanya. Barangsiapa tidak mau memberi, ia tidak akan diberi. Barangsiapa tidak berziarah, ia tidak akan naik. Wahai orang bodoh, kamu ingin Allah swt. mengikuti kemauanmu. Kamu tuhan kedua. Kamu ingin Allah swt. mengikutimu. Ini harus dibalik. Baiklah kamu benar, kamu tidak ada takdir, kamu tidak tahu pengakuan-pengakuan dusta. Tetapi setelah diuji akan tampaklah mutiara yang sebenarnya. Ingkarilah dirimu jika mengingkari Al-Haq Azza wa Jalla. Jika engkau mampu mengingkari nafsumu, maka engkau akan mampu pula mengingkari orang lain. Sesuai kadar kekuatan imanmu, engkau hanya duduk di rumahmu dan kamu tidak berusaha menghilangkannya. Langkah-langkah iman pasti teguh ketika berjumpa dengan syaitan, jin, dan manusia. la sangat teguh, jadi engkau jangan mengaku beriman. Bencilah terhadap segala sesuatu, dan cintailah Pencipta segala sesuatu. Jika Dia hendak membuatmu cinta pada sesuatu, engkau akan tetap terjaga, karena Dialah yang membuatmu cinta, bukan engkau sendiri. Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:

"Telah disukakan tiga hal kepadaku dari duniamu, yakni wewangian, wanita, dan sejuk mataku dalam shalat."
Telah disukakan kepadanya setelah dibenci, ditinggalkan, bahkan setelah zuhud dan berpaling darinya. Kosongkanlah hatimu dari selain Allah swt., agar Dia akan membuatmu cinta kepada sesuatu.