Wednesday, June 27, 2012

Majelis 07 – Tentang Kesabaran



PADA hari Ahad, 17 Syawal, 545 H., Syaikh rah.a. berkata:        "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran ke atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (Q.s. Al -Baqarah :250). Perbanyaklah pemberian-Mu kepada kami. Berilah kami rasa syukur atas pemberian itu.

Wahai ghulam, bersabarlah. Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah bencana. Jarang sekali yang selamat darinya. Tidak ada satu nikmat pun kecuali di baliknya ada bencana. Tidak ada kesenangan kecuali di belakangnya ada kesusahan. Tidak ada kelapangan kecuali di baliknya ada kesempitan. Jalanilah hidupmu di dunia dan ambillah bagianmu dari-Nya dengan tangan agama. Sesungguhnya agama merupakan obat penawar dalam mengambil sesuatu dari dunia. Wahai ghulam, ambillah bagian dengan tangan agama, jika engkau mau, dan dengan tangan "perintah" jika engkau orang khawas, serta dengan tangan "perbuatan" Allah swt. jika engkau telah wushul. Yang Maha Memerintah akan memerintah dan mencegahmu serta "perbuatan" akan menggerakkan dirimu. Manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: awam, khawas, dan khawashil-khawash.
Orang awam yaitu seorang muslim yang bertakwa, dia menaati agama, mengikuti syari'at, dan tdak berpisah dengannya. Dia mengamalkan firman Allah swt.

Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Q.s. Al-Hasyr: 7).
Jika telah sempurna hal ini padanya, dan ia mengamalkan agama secara lahir dan batin, maka di hatinya akan muncul cahaya hidayah untuk yang dengannya ia mampu melihat. Jika ia mengambil sesuatu dari tangan agama, maka hatinya merasa kaya, dan ia mencari ilham Al-Haq Azza wa Jalla. Karena ilham-Nya adalah umum pada tiap-tiap sesuatu. Sebagaimana difirmankan Allah swt., "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Q.s. Asy-Syams: 8). Maka hatinya penuh ketakwaan, memandang ilham Al-Haq  Azza wa Jalla dan alamat-Nya, dan ia mengambil perintah dari sisi lahirnya. Bahwa apa yang ada di toko, sebagai tempat mata pencaharian adalah miliknya dan ada dalam kekuasaannya. Kemudian hatinya kembali bercahaya dan ia memandang apa yang ada di tokonya itu. Cahaya itu muncul setelah ia bekerja mengikuti cara agama yang didasari iman dan tauhid yang kuat, bahkan hatinya telah keluar dari dunia dan makhluk serta telah melewati hutan dan menyeberang lautan dunia. Sesungguhnya ketika itu datanglah fajar. Cahaya iman akan meneranginya, yaitu cahaya kedekatan dari Tuhannya, cahaya amal, cahaya sabar, dan cahaya kedamaian. Semua hasil itu diraih setelah menunaikan hak-hak agama sehingga ia mendapatkan keberkatan dalam menjalankannya.

Adapun para wali, mereka termasuk khawashul-khawash, tentu mereka mematuhi agama, kemudian memandang perintah Allah swt., perbuatan, gerak, dan ilham-Nya. Maka apa yang ada di luar tiga hal tersebut adalah kehancuran, penderitaan, haram, memusingkan kepala dan agama, kanker di hatinya, dan nanah di jasadnya.
Wahai ghulam, sesungguhnya peraturan untukmu adalah untuk melihat bagaimana perbuatanmu. Apakah engkau teguh atau hanyut? Apakah engkau benar atau dusta? Barangsiapa tidak menyetujui takdir, maka ia tidak akan disetujui dan dikasihi. Barangsiapa tidak rela dengan qadha, Allah swt. tidak akan rela kepadanya. Barangsiapa tidak mau memberi, ia tidak akan diberi. Barangsiapa tidak berziarah, ia tidak akan naik. Wahai orang bodoh, kamu ingin Allah swt. mengikuti kemauanmu. Kamu tuhan kedua. Kamu ingin Allah swt. mengikutimu. Ini harus dibalik. Baiklah kamu benar, kamu tidak ada takdir, kamu tidak tahu pengakuan-pengakuan dusta. Tetapi setelah diuji akan tampaklah mutiara yang sebenarnya. Ingkarilah dirimu jika mengingkari Al-Haq Azza wa Jalla. Jika engkau mampu mengingkari nafsumu, maka engkau akan mampu pula mengingkari orang lain. Sesuai kadar kekuatan imanmu, engkau hanya duduk di rumahmu dan kamu tidak berusaha menghilangkannya. Langkah-langkah iman pasti teguh ketika berjumpa dengan syaitan, jin, dan manusia. la sangat teguh, jadi engkau jangan mengaku beriman. Bencilah terhadap segala sesuatu, dan cintailah Pencipta segala sesuatu. Jika Dia hendak membuatmu cinta pada sesuatu, engkau akan tetap terjaga, karena Dialah yang membuatmu cinta, bukan engkau sendiri. Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:

"Telah disukakan tiga hal kepadaku dari duniamu, yakni wewangian, wanita, dan sejuk mataku dalam shalat."
Telah disukakan kepadanya setelah dibenci, ditinggalkan, bahkan setelah zuhud dan berpaling darinya. Kosongkanlah hatimu dari selain Allah swt., agar Dia akan membuatmu cinta kepada sesuatu.

Tuesday, June 26, 2012

Majelis 06 - Nasihat Seorang Mukmin Kepada Saudaranya




PADA hari Jum'at, pertengahan Syawal, 545 H., di Madrasah, Syaikh rah.a. berkata:

Hati kaum shufi itu bersih, lupa akan makhluk dan selalu mengingat Allah swt.. Mereka lupa dunia dan ingat akhirat Mereka melupakan sesuatu yang ada di tanganmu dan ingat apa yang ada di sisinya. Engkau terhijab mereka dan apa yang mereka dapatkan. Engkau sibuk dengan dunia dan lupa akhirat, tidak mempunyai rasa malu kepada Tuhan. Terimalah nasihat saudaramu seiman, janganlah engkau menolaknya. Sungguh, Dia melihat apa yang tidak engkau lihat pada dirimu. Oleh karena itu, Nabi saw. bersabda:



"Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya."
Nasihat yang benar dari seorang mukmin untuk saudaranya akan memperjelas hal-hal yang Samar baginya, membedakan antara yang baik dan yang buruk, menerangkan apa yang berbahaya baginya dan apa yang bermanfaat baginya. Maha Suci Allah Yang telah memberiku kelapangan hati untuk memberikan nasihat kepada manusia dan menjadikannya sebagai cita-cita terbesarku. Sesungguhnya aku tidak mengharapkan balasan apa pun dari nasihatku ini. Akhiratku telah tersedia untukku di sisi Tuhanku. Aku tidak mencari dunia. Aku bukan penyembah dunia, akhirat, atau segala sesuatu selain Allah swt. Tidak ada yang aku sembah kecuali Al-Khaliq Yang Maha Esa dan Maha dahulu. Aku hanya ingin agar engkau berbahagia, aku tidak ingin engkau binasa. Jika aku melihat seorang murid berjaya di tanganku, sungguh aku akan bergembira. Wahai ghulam, yang menjadi keinginanku adalah engkau, bukan aku. Jika ada yang berubah, maka yang berubah itu adalah engkau, bukan aku. Aku telah lewat, aku juga ingin engkau secepatnya lewat.
Wahai ghulam, tinggalkan takabur kepada Allah swt. dan makhluk-Nya. Sadarilah kemampuanmu, dan rendahkanlah hatimu. Engkau tidak lain hanyalah dari setetes air hina dan akan menjadi bangkai yang hina pula. Janganlah engkau termasuk orang yang diseret hawa nafsunya ke pintu raja-raja untuk mendapatkan sesuatu, baik yang telah menjadikan bagianmu atau tidak, secara hina. Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:


"Siksa Allah yang paling pedih bagi harnba-Nya ialah is mencari sesuatu yang tidak ditentukan menjadi bagiannya."
Celaka kamu, wahai orang yang tidak mengetahui kemampuan dan takdir. Apakah kamu mengira bahwa pemilik dunia itu mampu memberimu apa yang tidak dibagikan untukmu? Tetapi inilah bisikan syaitan dalam hati dan kepalamu. Kamu bukanlah hamba Allah swt., kamu adalah hamba nafsu, keinginan, syaitan, watak, dinar, dan dirhammu. Lihatlah orang-orang yang berhasil sehingga engkau juga berhasil karena mengikuti jalan mereka. Sebagian ahli sufi mengatakan bahwa orang yang tidak pernah melihat orang yang berhasil tidak akan bisa berhasil. Jika engkau melihat orang berhasil dengan mata kepalamu, bukan dengan mata hati dan nuranimu, berarti imanmu belum hidup. Allah swt. berfirman,


"Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang di dalam dada." (Q. s. Al-Hajj : 46).
Seorang yang tamak dalam mengambil dunia dari tangan makhluk berarti telah menjual agama dengan buah tin, yakni menjual sesuatu yang kekal dengan sesuatu yang fana. Tentu saja ia tidak akan beruntung. Selagi imanmu kurang, meski berusaha memperbaiki kehidupanmu, jangan sampai kamu menukar agamamu dengan makanan mereka. Jika imanmu kuat, engkau pasti bertawakal kepada Allah swt., keluar dari asbab, dan tekun beribadah. Dan engkau pasti pergi meninggalkan segala sesuatu dengan hatimu, sehingga hatimu keluar dari negerimu, keluargamu, bahkan toko dan kenalanmu. Kemudian engkau meyerahkan apa yang ada pada tanganmu kepada keluarga dan kawan-kawanmu. Seolah-olah malaikat maut telah mencabut nyawamu, seolah-olah malaikat telah membawamu pergi. Seolah-olah bumi telah terbelah dan menenggelamkanmu dari lautan ilmu dan ruanganmu. Barangsiapa sampai pada maqam ini, maka asbab tidak membahayakannya. Karena asbab hanya lahirnya, bukan batinnya. Asbab itu untuk orang lain, bukan untuknya.

Wahai ghulam, jika kamu tidak mampu melaksanakan apa yang aku katakan ini, yakni keluar dari asbab dan bergantung padanya dari segi hati, dan jika engkau tidak mampu melaksanakan sepenuhnya, hendaknya engkau laksanakan sebagian. Nabi saw. bersabda:


“Kosongkanlah dari cita-cita dunia semampumu."
Wahai ghulam, jika engkau mampu, kosongkanlah hatimu dari cita-cita dunia. Jika tidak, melangkahlah dengan hatimu kepada Al-Haq Azza wa Jalla. Berpeganglah kepada tali rahmat-Nya sehingga cita-cita dunia keluar dari hatimu. Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiap sesuatu berada di tangan-Nya. Tetaplah berada di pintu-Nya. Mohonlah kepada-Nya agar Dia membersihkan hatimu dari selain-Nya dan memenuhi hatimu dengan iman, ma'rifat, ilmu, dan kaya bersama-Nya, bukan bersama makhluk-Nya. Mohonlah agar Dia memberimu keyakinan dan menenteramkan hatimu serta menyibukkan dirimu dengan menaati-Nya. Mohonlah segala sesuatu kepada-Nya, bukan kepada selain Dia. Janganlah engkau merendahkan kepada sesama makhluk. Hendaklah engkau hanya untuk-Nya, bukan untuk selain Dia.
Wahai ghulam, kefasihan lisan tanpa amalan hati tidak akan mengantarkanmu kepada Al-Haq Azza wa Jalla. Perjalanan ini adalah perjalanan hati. Amalan ini juga amalan hati dengan menjaga batas syari'at dan tawadhu' kepada-Nya dengan menjalankan ibadah. Barang siapa menganggap dirinya berharga, sesungguhnya tidak ada harga baginya. Barangsiapa menampakkan amalnya kepada makhluk, sungguh tidak ada amal baginya. Amalan itu, hendaknya pada waktu sepi. Janganlah menampakkan amalan kecuali amalan wajib yang memang harus ditampakkan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Landasilah amalanmu dengan tauhid dan ikhlas, kemudian bangunlah amal dengan daya upaya Allah swt. dan kekuatan-Nya, bukan dengan upaya dan kekuatanmu. Tangan tauhid itulah yang membangun, bukan tangan niatmu. Tangan tauhid itulah yang membangun, bukan tangan nifaq dan syirik. Orang yang bertauhid amalannya akan naik. Berbeda dengan orang munafik. Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat munafik dalam seluruh keadaan kami. Dan berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, Serta peliharalah kami dari siksa api neraka.

Thursday, June 21, 2012

Majelis 05 - Sebab Sebab Allah swt. Mencintai Hambanya


PADA hari Selasa sore, 12 Syawal 545 H., Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rah.a. berkata:
Wahai ghulam, lakukanlah secukupnya dalam semua urusanmu. Engkau adalah hamba yang lari dari tuan-Nya. Kembalilah kepada-Nya. Bersimpuhlah kepada-Nya. Patuhilah perintah-Nya. Hindarilah larangan-Nya. Terimalah ketetapan-Nya dengan sabar dan setia. Jika yang demikian itu telah sempurna, sempurnalah penghambaanmu kepada Tuhanmu dan kecukupan dari-Nya akan datang kepadamu. "Bukankah Allah telah mencukupi hamba-Nya." (Q.s. Az-Zumar: 36). Jika benar penghambaanmu kepada-Nya, Dia akan mencintaimu, bahkan kuatlah cinta-Nya di hatimu, engkau akan merasa damai bersama-Nya dan dekat dengan-Nya, engkau tidak lagi merasa susah, dan engkau tidak perlu mencari teman selain Dia. Engkau ridha kepada-Nya dalam semua keadaan, meski bumi menyempit dan pintu-pintu tertutup bagimu, engkau tidak akan marah, engkau tidak akan datang ke pintu lain selain pintu-Nya, engkau tidak akan memakan makanan selain makanan dari-Nya. Engkau akan bertemu dengan Musa a.s. di mana Allah swt. berfirman, "Dan kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya)." (Q.S. Al- Qashash :12).
Allah, Tuhan kita Azza Wa Jalla menyaksikan segala sesuatu, hadir pada segala sesuatu, memeriksa segala sesuatu dan dekat dengan segala sesuatu. Engkau tidak mungkin bebas dari-Nya. Tidak ada keingkaran setelah ma'rifat. Celaka kamu, kamu mengenal Allah lalu mengingkari-Nya. Janganlah engkau berpaling dari-Nya sehingga kamu tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Bersabarlah bersama-Nya. Jangan sabar berpisah dari-Nya. Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang bersabar itu
akan berjaya. Demikianlah akal ini, mengapa tergesa-gesa? Allah swt. berfirman :


"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertawakallah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Al-Qur'an)

Banyak ayat Al-Qur'an yang membicarakan tentang kesabaran. Di dalam kesabaran terkandung banyak kebaikan dan kenikmatan, bahkan pembalasan yang baik, karunia dan kedamaian di dunia dan akhirat. Engkau harus bersabar, karena engkau sudah melihat kebaikan itu di dunia dan kelak di akhirat. Kiranya engkau perlu berziarah kubur dan mendatangi orang-orang shalih serta melakukan kebaikan. Maka sungguh, urusanmu akan menjadi beres. Janganlah engkau seperti orang-orang yang apabila sehat tidak mau melaksanakan, jika mendengar tidak mau mengamalkan. Hilangnya agamamu karena empat hal: Pertama, engkau tidak mengamalkan apa yang engkau ketahui. Kedua, engkau justru melakukan apa yang tidak engkau ketahui. Ketiga, engkau tidak mau mempelajari apa yang tidak engkau ketahui sehingga engkau tetap bodoh. Dan keempat, engkau. mencegah orang dari mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.

Wahai ghulam, tampaknya engkau hanya mendatangi majelis-majelis dzikir pada waktu longgar saja, tidak istiqamah. Engkau menolak nasihat para penceramah, bahkan engkau menganggap mereka salah lantas engkau mentertawakan dan mempermainkannya. Jika demikian, sesungguhnya engkau berada dalam bahaya. Padahal sesungguhnya engkau berada dalam kekuasaan Allah swt.. Bertaubatlah kepada Allah. Janganlah engkau menyerupai musuh-musuh Allah. Ambillah manfaat dari apa yang engkau dengar. Wahai ghulam, sungguh engkau telah terikat dengan kebiasaan, mencari bagian dengan mengandalkan sebab dan melupakan empat Musabab dan tawakal kepada-Nya. Engkau harus memulai beramal dengan ikhlas. Allah swt. berfirman,


"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali mereka menyembah kepada-Ku." (Q.S. Adz Dzari.ayat :56).

Allah swt. tdak menciptakan mereka untuk merusak, main-main, atau hanya sekadar makan, minum, tidur, dan nikah. Sadarlah wahai orang yang lalai. Langkahkan hatimu kepada-Nya satu langkah, maka Dia akan melangkah kepadamu beberapa langkah untuk menjumpai para kekasih yang rindu. "Allah swt. memberi rezeki kepada siapa yamg dikehendaki tanpa batas." (Q.s. Al-Baqarah :212).

Jika Allah menghendaki seseorang untuk sesuatu, maka Dia akan menyediakan untuk itu. Ini sesuatu yang berkaitan dengan makna, bukan rupa. Jika apa yang telah aku sebutkan itu sempurna pada diri seseorang, maka benarlah zuhudnya di dunia dan akhirat. Segala sesuatu akan datang kepadanya.
Kesehatan, kerajaan, kekuasaan, dan kepemimpinan akan datang kepadanya. Setiap bijinya menjadi gunung, setiap tetesnya menjadi lautan, bintangnya menjadi bulan, dan bulannya menjadi matahari, yang sedikit menjadi banyak,
ketiadaannya menjadi wujud, kefanaannya menjadi kekal, geraknya menjadi tetap, menjulanglah pohonnya ke'arsy sedang akarnya menancap ke bumi. Daun dan rantingnya mengembang di dunia dan akhirat. Apakah ranting-ranting itu? Yaitu hukum dan ilmu. Dunia berjalan di sisinya seperti lingkaran cincin.  Tidak ada dunia yang menguasainya. Tidak ada akhirat yang mengikatnya. Tidak ada kerajaan yang memilikinya. Tidak ada penghalang yang menghalanginya. Tidak ada seorang pun yang menyakitinya. Jika seseorang itu telah sempurna demikian, maka dia patut berada di tengah manusia, kemudian diambil dari hadapan mereka, dan diselamatkan dari lautan dunia. Jika Allah swt. menghendaki kebaikan untuk seseorang, maka Allah swt. akan menjadikannya sebagai orang yang menunjuki orang lain, dokter, pendidik, pembimbing, juru bahasa, lampu dan matahari bagi manusia. Jika tidak, maka Allah swt. justru akan menghalangi dia dari-Nya. Ada juga sebagian orang semacam ini, di mana Allah swt. mengembalikan kepada makhluk dengan tetap dijaga dan diselamatkan. Allah swt. memberinya taufiq untuk membangun dan menunjuki manusia.

Orang yang zuhud dunia akan diuji dengan akhirat. Orang yang zuhud dunia dan akhirat akan diuji dengan makhluk dunia dan akhirat. Sungguh engkau telah lalai, seolah-olah engkau tidak akan mati. Seolah-olah pada Hari Kiamat nanti engkau tidak akan dihimpun di Mahsyar, tidak dihisab di hadapan  Allah swt., dan tidak meniti shirat. Inilah sifat-sifatmu. Padahal engkau mengaku Islam. Al-Qur'an dan ilmu akan menuntutmu jika engkau tidak mengamalkannya. Sehingga kamu dosa karenanya. Pada Hari Kiamat, ketika kamu hendak menjumpai  Rasullullah saw., beliau tidak mau menerimamu. Pada hari itu semua makhluk takut kepada keagungan dan kebesaran Allah swt., habislah seluruh kerajaan dunia, yang tinggal hanyalah kerajaan-Nya. Pada Hari Kiamat, segala sesuatu kembali kepada-Nya. Tampaklah kerajaan, kemuliaan, dan kekayaan para kekasih Allah swt. Pada hari itu, Allah swt. memuliakan mereka. Bahkan pada hari ini mereka menjadi tiang langit, paku bumi, dan wakil Al-Haq Azza wa Jalla, tetapi dari segi makna, bukan dari segi bentuk. Jika hari ini masih bersifat makna, besok merupakan bentuk aslinya. Keberanian para pembangkang adalah dalam menghadapi dan memerangi orang-orang kafir. Sedangkan keberanian orang-orang shalih adalah dalam menghadapi nafsu, keinginan, watak, syaitan, serta kawan-kawan buruk. Adapun keberanian orang-orang khawas adalah zuhud terhadap dunia dan akhirat.

Wahai ghulam, sadarlah sebelum engkau disadarkan tanpa perintahmu. Bergaulah dengan ahli agama, mereka adalah manusia pilihan. Orang yang berakal adalah yang menaati Allah swt. dan orang yang paling bodoh adalah yang mendurhakai-Nya. Nabi saw. bersabda, "Kedua tanganmu berdebu," yakni miskin. Namun kedua tanganmu menjadi kaya bila bergaul dan mencintai para ahli agama. Kemunafikan akan hilang dari hatimu. Orang munafik adalah orang yang pamer. Sebenarnya ia tidak punya amal. Amalmu tidak akan di terima kecuali yang ditujukan untuk Allah swt.. Yang diterima bukan bentuk amal, tetapi niatnya. Jika engkau menentang nafsu, keinginan, syaitan, dan duniamu dalam beramal, maka Dia akan menerimanya.
Beramallah dengan ikhlas. Janganlah kamu melihat jumlah amalmu. Yang diterima adalah amal karena Allah swt., bukan karena makhluk. Celaka kamu, kamu beramal karena makhluk, tetapi ingin diterima Allah swt., inilah cacat yang ada pada dirimu. Tinggalkanlah kejahatan, kesombongan, dan kepongahan. Sedikitkanlah kesenanganmu dan perbanyaklah kesungguhanmu. sesungguhnya engkau sedang berada di kampung kesusahan, dan sesungguhnya engkau sedang berada dalam penjara. Nabi saw. selalu bertafakur, sedikit bergembira,
dan banyak bersedih. Beliau sedikit tertawa, kecuali tersenyum untuk menyenangkan hati orang lain. Sesungguhnya di hati beliau menaruh kerisauan. Kalau saja bukan karena sahabat dan urusan agama, beliau tidak akan keluar dari 'rumahnya dan tidak akan duduk bersama siapa pun.

Wahai ghulam, jika khalwatmu besama Allah swt. Telah benar, hatimu tentu akan tercengang dan menjadi bersih. Pandanganmu dapat menarik pelajaran, hatimu bertafakur, ruh dan maknamu sampai pada Al-Haq Azza wa Jalla. Berfikir perihal dunia adalah siksaan dan hijab. Tetapi memikirkan akhirat adalah ilmu dan menghidupkan hati. Orang yang bertafakur diberi ilmu tentang keadan dunia dan akhirat. Celaka kamu, kamu telah menyia-nyiakan hatimu untuk urusan dunia, padahal Allah swt. telah menanggungnya, telah menentukan jumlah dan waktunya. Setiap hari Dia memberikan rezeki kepadamu, baik engkau mencarinya atau tidak. Engkau hanya ingin memalukan diri di sisi Allah dan manusia. Sebab kurangnya iman, tidurmu pun memikirkan rezeki. Tetapi dengan bertambahnya iman,
rezeki akan mencarimu. Bahkan dengan kesempurnaan iman, ketika tidur engkau tidak memikirkan rezeki. Wahai ghulam, janganlah engkau mencampur kesungguhan dengan gurauan. Tidak mungkin hatimu bersama makhluk ketika engkau bersama Khaliq. Kamu musyrik dengan sebab, bagaimana mungkin kamu bersama dengan yang zhahir dan batin, sesuatu yang masuk akal dan sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang di sisi makhluk, dan sesuatu yang di sisi Khaliq. Alangkah bodohnya orang yang melupakan Al-Musabab dan sibuk dengan sebab. Tinggal bersama yang kedua berarti melupakan yang pertama. Melupakan yang kekal dan puas dengan yang fana.

Wahai ghulam, engkau menemani orang-orang yang bodoh sehingga kebodohannya merembet kapadamu. Jika berteman dengan orang-orang bodoh, engkau akan tertipu. Temanilah orang-orang yang beriman, yang yakin, yang alim, dan yang mengamalkan ilmunya. Alangkah baiknya keadaan orang-orang yang beriman dalam seluruh perilaku mereka. Alangkah kuatnya mujahadah mereka dan pengekangan mereka terhadap nafsu dan keinginannya. Karena itulah Nabi saw. besabda:


"Kegembiraan orang mukmin itu di dalam wajahnya dan kesedihannya di dalam hatinya."

Hal itu terjadi karena kekuatannya dalam menampakkan kegembiraan di wajah dan menyembunyikan kesedihan antara dia dengan Allah swt., banyak tafakur, banyak menangis, dan sedikit tertawa, sehingga Nabi saw. juga bersabda:


"Tidak ada istirahat bagi orang mukmin kecuali menjumpai Tuhannya Azza wa Jalla."
Orang mukmin menyembunyikan kesedihannya dan kegembiraannya. Lahirnya bergerak bekerja, batinnya tenang kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Lahirnya untuk keluarganya, tetapi batinnya untuk Tuhannya. la tdak menampakkan nuraninya kepada keluarganya, bahkan kepada anak, istri, dan tetangganya, dan tidal kepada seorang makhluk pun. la mendengarkan sabda Nabi saw.:


"Mohonlah pertolongan atas urusanmu dengan menyernbunyikannya. "


la senantiasa menyembunyikan apa yang ada pada dirinya. Jika terlanjur keluar kata-kata dari lidahnya, dia akan segera memperbaiki ucapannya, menutupi apa yang telah tampak darinya, Berta meminta maaf atas pernyataannya. Wahai ghulam, jadikanlah aku sebagai cerminmu. Jadikanlah aku sebagai cermin hatimu, sedang nuranimu adalah amalanmu. Mendekatlah kepadaku. Sesungguhnya engkau akan melihat pada dirimu sesuatu yang tidak akan engkau lihat bila engkau jauh dariku. Jika engkau ingin peningkatan dalam agamamu, engkau mesti bersamaku. Aku tidak akan menyalahimu dalam agama Allah swt.. Aku mempunyai ketegasan kembali kepada agama Allah swt.. Rupanya engkau meragukan tangan yang tegas, tidak munafik. Tinggalkanlah duniamu di rumahmu dan mendekatlah kepadaku. Sungguh, aku berdiri di pintu akhirat. Berdirilah di depanku dan dengarkan ucapanku. Amalkanlah, sebab sebentar lagi is akan mati. Itulah tempat untuk takut kepada Allah swt..
Jika engkau tidak takut kepada-Nya, engkau tidak akan aman dari-Nya di dunia maupun di akhirat. Takut kepada Allah swt. adalah ilmu yang sebenarnya. Allah swt. berfirman:


"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (Q.s. Fathir : 28).

Tidak ada yang takut kepada Allah swt. kecuali para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mereka tidak meminta kepada Allah swt. untuk membalas amal mereka, tetapi mereka semata-mata mengharapkan keridhaan dan kedekatan dengan-Nya. Mereka mengharapkan cinta-Nya serta keselamatan, tidak terjauh atau terhijab dari-Nya. Mereka ingin agar tidak tertutup pintu baginya di dunia maupun akhirat. Tidak ada yang mereka cintai, baik di dunia maupun di akhirat, selain Dia. Dunia untuk
suatu kaum, dan akhirat untuk kaum yang lain, sedangkan Al-Haq Azza wa Jalla untuk kaum tersendiri., yaitu orang-orang yang beriman, yakin, cinta, takut, tunduk, dan mengenal Dia. Mereka adalah orang yang hatinya selalu sedih karena Dia. Mereka takut kepada Allah swt.. Yang ghaib. Dia ghaib dari pandangan lahir mereka, tetapi hadir dalam pandangan hatinya. Bagaimana mungkin mereka tidak takut kepada-Nya, sedangkan Dia setiap hari sibuk mengubah, mengganti, menolong ini, menghancurkan itu, menghidupkan dan mematikan Fulan, menerima ini, menolak itu, mendekatkan ini, dan menjauhkan itu. "Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan mereka akan ditanya." (Q.s. Al- Anbiya' :23).
Ya Allah, dekatkan kami kepada Engkau, jangan jauhkan kami dari Engkau. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.