Monday, August 16, 2010

Taktik Seorang Mourinho

Inter Milan sudah puluhan tahun tidak pernah merasakan final Liga Champions. Bahkan dengan pemain-pemain yang berlipat lebih berbakat dari tim yang ada sekarang, Inter selalu gagal. Lalu apa kunci keberhasilan mereka tahun ini? Jawabnya adalah pada sosok Jose Mourinho.

Ia kembali membuktikan bahwa ia tidak perlu ikut menendang bola di lapangan untuk menjadi bintang satu kesebelasan. Suka atau tidak suka dengan pelatih kontroversial ini, ia membuktikan diri sebagai figur yang lebih bernilai dari pemain bintang di kesebelasan yang ia asuh.

Tidak jelas apakah ia menyukai catur sebagai permainan. Tetapi jelas ia memperlakukan lapangan bola layaknya papan catur.

Mourinho dikenal sebagai orang yang sangat rinci mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan. Ia dengan jenial kemudian mampu menyiapkan tim untuk secara efektif meredam kekuatan lawan dan mengeksploitir kelemahan lawan secara maksimal. Itulah sebabnya Mourinho dianggap tidak pernah mempunyai pola permainan yang baku. Yang baku dari anak asuh Mourinho adalah kemampuan untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan permainan lawan.

Anak asuhnya dilatih sedemikian rupa seperti mesin yang mulus dan bergerak secara otomatis dan instingtif. Tidak ada sedetik pun jeda ketika pemain kebingungan dengan posisi ataupun tak tahu dengan tugas yang harus dilakukan.

Melawan Barcelona di Nou Camp di semifinal adalah contoh yang bagus untuk menggambarkan hal ini.

Inter dengan sengaja membiarkan Barcelona terus menerus memegang bola, tetapi pada saat bersamaan menutup gerak pemain-pemain tengah El Barca yang dikenal mampu melakukan umpan-umpan brilian; menutupnya kalau diperhatikan tidak dengan menempel terlalu ketat, kelonggaran yang terjaga.

Ada dua alasan mengapa Mourinho menginstruksikan pemainnya untuk mengawal dengan kelonggaran yang terjaga. Pertama, kalau terlalu ketat permainan satu dua ataupun segitiga Barcelona yang dikenal hebat pasti akan dengan mudah melewati lini tengah Inter. Kedua, untuk memberi kesan kepada pemain Barcelona bahwa selalu ada lobang dalam pertahanan Inter. Namun setiap kali pemain Barcelona akan memanfaatkan lobang yang sepertinya tersedia itu, maka dengan cepat pemain belakang Inter akan menutupnya.

Sepanjang pertandingan Barcelona berkonsentrasi untuk terus-menerus memanfaatkan lobang pertahanan itu, tetapi berulangkali pula pemain defender Inter bereaksi sama cepatnya. Seperti kejar mengejar. Pemain Inter telah berminggu-minggu melatih hal itu. Bahkan ketika Thiago Motta terkena kartu merah, pemain Inter Milan tidak panik. Mereka sekadar menyesuaikan diri dan bekerja lebih keras lagi.

Saat Zlatan Ibrahimovic ditarik keluar, Intersedikit mengubah taktik dengan semakin menumpuk pemain di tengah dan memaksa Barcelona melakukan serangan dari sayap. Umpan-umpan tarik melambung dari sayap mudah dimentahkan oleh pemain belakang Inter karena ancaman dari udara hampir tidak ada lagi dengan telah ditariknya Ibrahimovic yang jangkung.

Banyak yang mengecam Mourinho saat itu memainkan permainan negatif dan tidak indah. Kontras total dengan Barcelona. Tetapi banyak pula yang membela Mourinho dengan mengatakan apa yang ditampilkan anak asuh Mourinho adalah keindahan dalam bentuk yang berbeda. Membutuhkan imajinasi yang tak kalah rumit, mengundang risiko yang tak terhingga dan eksekusi dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Bayern Munich adalah preposisi yang berbeda bagi Mourinho. Sama seperti Inter, tim Bayern saat ini bukanlah yang terbaik yang pernah ditampilkan klub dari Bavaria dalam sejarah. Sama dengan Inter, mereka lolos ke final setelah mengalahkan beberapa tim yang secara kualitas lebih bagus dari mereka. Sama dengan Inter, mereka lolos karena persiapan organisasional yang matang dan kemampuan memanfaakan kelemahan lawan yang lebih bagus dengan maksimal.

Apa hendak dikata, pelatih Bayern Munich adalah Louis van Gaal. Dan bagaimana Mourinho menyiapkan tim sangat dipengaruhi ketika ia menjadi asisten pelatih Van Gaal di Barcelona selama dua tahun di akhir tahun 1990-an.

By : Liza Arifin - detiksport