Dialog No 10
>> Tuesday, July 6, 2010
Karena Anda telah menerima keteranganku dengan jiwa yang segar dan hati yang riang, sungguh aku gembira dapat membayangkan segera terpenuhinya cita citaku, dan berhasilnya usahaku.
Tiada ragu lagi orang yang berniat suci, berhati bersih, rendah hati, luhur budi, tenang berwibawa, bermahkotakan ilmu, arif bijaksana, pasti selalu menampakan kebenaran dalam kata kata dan tulisannya, ketulusan serta kesungguhan dalam segala ucapan dan perbuatannya.
Sungguh Anda telah membuat aku mmerasa amat berhutang budi dan berkewajiban mentaati apa saja yang anda perintahkan, dengan sikap anda yang begitu ramah tamah dan merendah diri, ketika anda mau berkata - dalam surat yang lalu - "Tambahkanlah !"
Tentunya tiada pilihan lain bagiku kecuali memenuhi permintaan itu, demi memuaskan hati anda ! Untuk itu aku sajikan bagi anda (hadist hadist dibawah ini) :
Telah disebutkan oleh ath - Thabarani dalam kitabnya al-Kabir", dan juga oleh ar-Rafi'i dalam musnad-nya yang dihubungkan kepada Abdulah bin Abbas, ia berkata :
"Telah bersabda Rasulullah saw : Barang siapa yang ingin sehidup semati denganku, dan mendiami sorga ('Adn) yang disediakan Tuhanku, hendaknya ia menjadikan 'Ali sebagai pemimpinnya sepeninggalku, mendukung penggantinya serta mengikuti jejak Ahlu Baitku setelah aku. Sebab mereka itu adalah 'Itrah (kerabatku). Dijadikan mereka itu (oleh Allah) dari darah dagingku. Dilimpahkan-Nya atas mereka itu faham serta ilmuku. Terkutuklah orang orang yang mengingkari keutamaan mereka, dan menolak hubungan (kekeluargaan) mereka denganku. Orang orang itu tak kan mendapat syafa'at-ku.
Dan telah diriwayatkan oleh Mutair, al-Barudi, Ibnu Jarir, Ibnu Syahin, Ibnu Mandah - melalui Ishak dan Ziad bin Matraf, ia berkata : "Kudengar Rasulullah saw bersabda : Barang siapa yang ingin sehidup semati dengan aku, dan memasuki sorga yang telah dijanjikan Tuhanku untukku, yaitu Jannatul Khuld, hendaknya ia menjadikan 'Ali dan anak keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin yang dicintainya. Sebab mereka itu tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu Hidayah, dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam kesesatan.
Dan seperti itu pula apa yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam. Ia berkata :"Telah bersabda Rasulullah saw. Barang siapa bersamaku, sehidup semati denganku, dan mendiami Jannatul Khuld (yang dijanjikan Tuhanku) bersamaku, maka hendaknya ia menjadikan 'Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpinnya. Karena ia tidak akan menjauhkanmu dari petunjuk yang benar, dan tidak akan memasukan kamu kedalam kesesatan.
Begitu pula hadist 'Ammar bin Yasir : Telah bersabda Rasulullah saw. : "Aku berpesan pada siapa saja yang beriman padaku dan membenarkan (kerasulanku) agar ia menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpinnya, maka barang siapa yang menjadikannya sebagai pemimpinnya, maka ia telah menjadikan aku sebagai pemimpinnya. Dan barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka ia telah menjadikan Allah sebagai pemimpinnya. Dan barang siapa yang mencintainya, ia sesungguhnya mencintai aku. Dan barang siapa mencintai aku, sesungguhnya ia mencintai Allah. Barang siapa membenci Ali, maka ia membenci aku, Dan barang siapa membenci aku, sesungguhya ia telah membenci Allah 'Azza wa Jalla.
Dan diriwayatkan pula dari Ammar, dar Rasulullah saw. : "Barang siapa yang beriman padaku dan membenarkan aku, hendaknya ia menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpinnya. Sebab hal itu sama dengan menjadikan aku sebagai pemimpinnya. Dan itu sama pula dengan menjadikan Allah sebagai pemimpinnya.
Dan Rasulullah saw. pernah berpidato antara lain : "Hai manusia, sesungguhnya keutamaan, kemuliaan, kedudukan yang tinggi dan kepemimpinan itu kembali pada Rasulullah dan anak keturunannya (dzurriahnya), maka janganlah kamu diombangambingkan oleh kebohongan kebohongan.
Rasulullah saw. bersabda pula : "Pada setiap generasi dari umatku, akan dijumpai orang orang dari Ahli Baitku yang adil (pandai dan jujur), yang membersihkan agama ini dari penyelewengan penyelewengan kaum yang sesat, pemalsuan pemalsuan kaum yang bathil, serta ta'wil (penafsiran yang keliru) dari kaum yang jahil. Ketahuilah Imam Imam (pemuka pemuka) kamu adalah duta duta kamu yang menghadap Allah. Karenanya perhatikan sungguh sungguh siapa yang kamu angkat sebagai duta dutamu !"
Rasulullah saw. telah bersabda pula : ".... maka, janganlah kamu mendahului mereka (Ahlul Bait), agar kamu tidak binasa. Dan janganlah ketinggalan dari mereka, agar kamu (juga) tidak binasa. Jangan mengajari mereka, sebab mereka itu lebih mengerti dari kamu!"
Dan telah bersabda Rasulullah saw. :"Tempatkanlah kedudukan Ahlul Bait di tempat yang terpenting. Seperti halnya, kedudukan kepala bagi tubuh. Atau kedudukan mata bagi kepala. Dan sesungguhnya kepala tidak akan melihat sesuatu kecuali dengan mata."
Dan telah bersabda Rasulullah saw : "Mantapkanlah dirimu pada kecintaan pada kami : Ahlul Bait. Sebab barang siapa yang menghadap Allah sedang ia mencintai kami, niscaya ia masuk dalam sorga dengan syafa'at kami. Demi Allah, yang diriku berada ditangan-Nya, tidak akan berguna 'amal seseorang bagi dirinya sendiri kecuali bila ia mengetahui (mengakui) hak kami (atasnya).
Dan telah bersabda Rasulullah saw. :"Mengenal keluarga Muhammad (berarti) melepaskan diri dari api neraka. Kecintaan pada keluarga Muhammad adalah surat jalan untuk melewati ash-Shirath. Mendukung kepemimpinan keluarga Muhammad berarti aman dari siksaan.
Dan telah bersabda Rasulullah saw. : "Tidak akan bergeser kaki seorang hamba Allah - pada hari kiamat - sebelum menjawab empat pertanyaan tentang usianya, dimana ia menghabiskannya, tentang tubuhnya, bagaimana ia telah menggunakan tenaganya, tentang hartanya, untuk apa telah dibelanjakan dan dari mana ia mendapatkannya; serta tentang kecintaannya kepada kami - Ahlul Bait."
Dan telah bersabda Rasulullah saw. :"Sekiranya seseorang merapatkan kedua kakinya di antara rukun (sebuah sudut di ka'bah) dan Maqam (tempat nabi Ibrahim bershalat di hadapan Ka'bah) lalu ia shalat dan puasa, sedangkan ia adalah pembenci keluarga Muhammad pasti ia masuk Neraka.
Dan telah bersabda Rasulullah saw. :"Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia mencintai keluarga Muhammad ia meninggal sebagai seorang shahid. Dan barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ia mencintai kelaurga Muhammad ia akan meninggal dalam keadaan terampuni segala dosa dosanya. Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan sempurna imannya. Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia akan digembirakan dengan sorga oleh Malaikatul Maut serta Malaikatul Munkar dan Nakir. Barang siapa meninggal dunia sebagai pecinta keluarga Muhammad, ia akan dihantar ke dalam sorga, seperti pengantin wanita dihantarkan ke rumah suaminya. Barang siapa meninggal dunia sebagai seorang pecinta keluarga Muhammad, akan dibukakan baginya dua pintu di kuburnya menuju sorga. Barang siapa meninggal dunia sebagai penyinta keluarga Muhammad, maka Allah akan menjadikan kuburnya sebagai tempat yang diziarahi selalu oleh malaikat (pembawa) rahmat. Barang siapa meninggal dunia sebagai penyinta keluarga Muhammad, ia meninggal sebagai seorang pengikut sunnah (Rasul) dan sebagai anggauta keluarga besar jama'ah kaum muslimin. Adapun orang yang meninggal dunia dalam keadaan ia membenci keluarga Muhammad, ia akan dihadirkan - pada hari kiamat - tertulis diantara ke dua matanya : "Orang ini telah putus asa dari rahmat Allah ....." dan seterusnya .... dan setereusnya .... sampai akhir pidato beliau yang amat indah susunan kata katanya, yang dimaksudkan oleh beliau untuk membendung ambisi sebagian orang yang telah menyeleweng. Dan semua yang tersebut dalam hadist hadist ini - isi dan themanya - adalah mutawatir (meyakinkan kebenarannya sesuai syarat syarat yang ditetapkan oleh ahli ahli hadist) terutama yang datang lewat al-Itrah keluarga suci Nabi saw.
Tentunya kedudukan yang demikian mulianya ini tidaklah disediakan bagi mereka, seandainya mereka ini tidak dianggap sebagai hujjah-hujjah Allah yang nyata di antara umat-Nya, dan tidak pula merupakan tempat menimba air syari'at Nya yang amat jernih lagi bersih, dan juga sebagai pengganti kedudukan Rasulullah saw. dalam segala ajarannya, baik dari segi apa yang diperintahkan, ataupun yang dilarang oleh beliau.
Itulah sebabnya penyinta mereka adalah juga penyinta Allah dan Rasulnya. Sedangkan pembenci mereka adalah pembenci Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda : "Tidaklah mencintai kami kecuali seorang Mu'min sejati yang bertaqwa, dan tidaklah membenci kami kecuali seoarng munafiq yang celaka."
Itulah sebabnya seorang penyair terkenal : al-Farazdaq telah berdendang tentang mereka (Ahlul Bait) dalam syairnya :
".... dari keluarga mulia
Kecintaan terhadap mereka sebagian dari agama
Kebencian terhadap mereka adalah kufur
Dekat pada meraka berarti keselamatan !
Bila dihitung hitung orang yang bertaqwa
Merekalah pemuka pemukanya
Bila orang bertanya
Siapa penghuni Bumi paling utama ?
Jawabnya pasti : Itulah mereka !"
Amirul Mu'minin (Ali bin Abi Thalib) pernah berkata : "Aku beserta asal usulku yang mulia, dan keluargaku yang baik baik, yang paling sopan ketika muda usia, paling berilmu di kala dewasa. Dengan kami, Allah telah menghilangkan kebohongan. Dan dengan kami, Dia mematahkan taring srigala kaum yang kalap. Dengan perantaraan kami, Dia meringankan penderitaanmu, dan melepaskan belenggu dari lehermu. Dan dengan kami, Dia telah memulai dan mengakhiri para Nabi dan Rasul"
Kiranya cukup alasan bagi kita untuk mengutamakan Ahlul Bait di atas yang lainnya, karena Allah juga telah mengutamakan mereka, dengan cara Dia mewajibkan pembacaan shalawat atas mereka sebagai bagian dari sholat yang difardhukan atas sekalian hamba hamba-Nya. Sehingga tidaklah sah shalat siapapun di seluruh alam - apakah ia seoarang Shiddiq atau seorang Faruq atau Dzun Nurain atau lainnya - kecuali dengan cara yang telah disyariatkan - Nya atas mereka semua, termasuk kewajiban menyebut Nama Aali an Nabi (kerabat Nabi) dalam bacaan shalawat atas Nabi, seperti halnya kewajiban mengucapkan dua kalimat shahadat !
Inilah kedudukan yang teramat mulia, yang memaksa setiap Imam (pemuka agama atau madzhab) - yang pernah anda sebutkan nama nama mereka - menundukan kepala, merendahkan pandangan, dengan segala kekhusyuan, di hadapan keistimewaan-keistimewaan yang dilimpahkan Allah atas mereka (Ahlul Bait) itu !
Dalam salah satu kumpulan syairnya Imam Syafi'i (semoga ridha Allah dilimpahkan atasnya) telah berkata :
"Wahai Ahlu Bait Rasulullah,
mencintaimu difardhukan Allah
Dalam al-Qur'an yang diturunkan-Nya
Cukup tanda kedudukan utamamu
Tiada Sah shalat seseorang
Yang tiada membaca shalawat atasmu."
Untuk sementara, kami cukupkan dahulu kutipan-kutipan dari sunnah yang suci sebagai dalil diwajibkannya mengikuti jejak mereka, dan berjalan sesuai dengan cara yang telah mereka contohkan.
Selain itu dalam kitab Allah Azza wa Jalla, terdapat banyak ayat ayat suci yang muhkamat yang dengan tegas dan jelas mewajibkan hal tersebut di atas; kami serahkan penelitian dan pengkajian kepada fikiran anda yang sehat dan pengertian anda yang halus. Bagi anda cukuplah isyarat sepintas, pengganti keterangan yang panjang lebar. Dan untuk segala karunia-Nya itu segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam !
Wassalam
Syiah
0 comments:
Post a Comment