DIALOG NO.8
>> Saturday, January 30, 2010
15 Dzul Qaidah 1329 R
1. Kealpaan penanya sekitar apa yang telah kami isyaratkan.
2. Kekeliruan pernyataannya tentang ucapan-ucapan yang dapat dijadikan pegangan.
3. Tentang hadits ats-Tsaqalain.
4. Sifat mutawatir hadits tersebut.
5. Kesesatan orang yang tidak berpegang teguh pada keluarga suci Nabi saw.
6, Tamsil Rasulullah bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh, pintu pengampunan serta keselamatan daripada pertengkaran.
7. Apa yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini.
8. Arti menyamakan mereka dengan bahtera Nuh dan pintu pengampunan
1. Kami sebenarnya tidak melalaikan pembuktian dengan ucapan-ucapan Rasulullah saw. Pada permulaan dialog ini kami telah menunjuk pada hadits-hadits beliau tentang keharusan mengikuti para Imam dari Ahlul Bait saja, dan bukan dari lainnya. Yaitu ketika kami menyatakan bahwa Rasulullah saw. telah menyejajarkan mereka itu dengan ayat-ayat al-Qur'an yang jelas rnaknanva Menetapkan mereka sebagai panutan orang-orang yang mau menggunakan akal-nya. Ditamtsilkan mereka seperti bahtera-bahtera penyelamat. Keselamatan bagi ummat. Pintu pengampunan bagi mereka. Semuanya itu sesuai apa yang tersurat dan tersirat dalam ungkapan-ungkapan beliau yang tercatat dalam kitab-kitab kumpulan hadits yang shahih dan nash-nash yang gamblang. Kami pun telah menyatakan bahwa sesungguhnya anda termasuk sebagai orang yang 'arif yang tidak mernbutuhkan penjelasan panjang lebar. Baginya sebuah isyarat pun telah memadai sebagai pengganti keterangan yang terperinci.
2. Maka - berdasarkan apa yang telah kami sebutkan dari ucapan•ucapan Rasulullah saw. - kami dapat menyatakan bahwa ucapan-ucapan para Imam kami~sudah cukup bagi lawan. Dan hal ini sama sekali tidak berarti kemungkinan pembuktian timbal-balik. Yaitu dengan menjadikan ucapan-ucapan ulama - di luar kalangan Ahlul Bait - sebagai pegangan yang pasti dalam membuktikan suatu keharusan dalam urusan agama.
3. Kini terimalah penjelasan bagi apa yang telah kami isyaratkan dari ucapan-ucapan Rasulullah saw., yaitu ketika beliau memperingatkan orang-orang yang belum mengerti, dan membangkitkan kembali (kesadaran) orang-orang yang lupa. Beliau berseru: "Hai manusia, aku tinggalkan apa yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan, selama -kamu berpegang teguh padanya: Kitab Allah dan "Ittrahku (kerabat-ku), Ahlu Baitku.16)
Juga sabda beliau. "Aku tinggalkan padamu apa yang mencegah kamu dari kesesatan - setelah kepergianku - selama kamu berpegang teguh pada keduanya: Kitab Allah, tali penghubung yang terentang dari langit ke bumi, dan 'itrahku (kerabatku) Ahlu Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud. *) Hati-hatilah dengan perlakuanmu atas keduanya, sepeninggalku nanti.17)
Dan telah bersabda beliau. "Kutinggalkan padamu kedua penggantiku: Kitab Allah, tali penghubung yang terentang antara langit dan bumi, dan 'itrahku, Ahlu Baitku. Kedua-nya takkan berpisah sehingga berjumpa denganku di al-Haud.18)
Sabda beliau lagi.
"Kutinggalkan padamu. ats-Tsaqalain*), Kitab Allah dan Ahlu Baitku. Sungguh keduanyn tak akan berpisah, sampai bersama-sama mengunjungiku di al-Haud.19)
Dan bersabda Beliau lagi :
"Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi panggilan itu. Kutinggalkan padamu ats-Tsaqalain yaitu Kitab Allah Azza wa Jalla. Serta 'Itrahku (kerabatku). Kitab Allah, tali (penghubung) antara langit dan bumi. Dan 'itrahku, Ahlu Baitku. Dan sesungguhnya (Allah) Yang Maha Mengetahui telah berfirman kepadaku bahwa keduanya takkan berpisah, sehingga berjumpa kembali denganku di al-Haud, Oleh karena itu jagalah baik-baik, bagaimana kamu memperlakukan kedua peninggalanku itu.,,20)
Dan ketika Rasulullah saw. pulang dari hajji wada' ,(hajji perpisahan), dan beristirahat di tempat yang bernama Ghadir Khumm (telaga Khumm), beliau memerintahkan ditegakkannya beberapa kemah besar, lalu beliau berseru :
"Kurasa seakan-akan aku scgera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu maka sesungguhnya aku mcninggalkan padamu ats-Tsaqalain Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang ke dua: Yaitu Kitab Allah dan 'itrahku. Jagalah baik-baik kedua peninggaIanku itu, sebab keduanya takkan berpisah sehingga berkumpuI kembaIi denganku di al-Haud
Kemudian beIiau berkata Iagi: "Sesungguhnya Allah-'Azza wa jalla adaIah Maulaku (pemimpinku), dan aku adaIah maula (pemimpin) bagi setiap Mu'min". LaIu beIiau mengangkat tangan 'Ali bin Abi ThaIib sambiI bersabda: "Barang siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka dia ini (AIi) adaIah juga pemimpin baginya. Ya Allah, cintaiIah siapa yang mencintainya, dan musuhiIah siapa yang memusuhinya!" ..... 21)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Hantab bahwa ia berkata:
"Rasulullah saw. berpidato di hadapan kami di Juhfah, (antara lain) beliau berkata. "Bukankah diriku ini lebih kamu utamakan sebagai pemimpin atas kamu daripada dirimu sendiri?"
Jawab mereka: "Benar ya Rasulullah! ".
Beliau melanjutkan. "Kalau begitu, aku meminta pertanggung-jawabanmu tentang dua hal: Kitab Allah dan 'itrahku. "22)
4. Hadits-hadits shahih yang menetapkan kewajiban berpegang teguh pada ats-Tsaqalain (Kitab Allah dan kerabat Nabi) termasuk dalam had its yang mutauiatir. Lebih dari 20 orang sahabat Nabi yang meriwayatkannya. Pada beberapa peristiwa yang berlainan, Rasulullah saw. telah menyampaikannya secara terbuka. Sekali di Gbadir Kbumm seperti yang telah anda dengar tadi Juga pada hari wukuf di 'Arafah pada waktu hajji wada'. Dan pada waktu beliau pulang dari Thaif. Sekali lagi dari atas mimbarnya di Madinah. Dan juga di kamar beliau yang mulia pada saat beliau sakit menjelang wafatnya. Ketika itu kamarnya penuh sesak dengan para sahabat. Beliau berkata. "Wahai manusia semua, kiranya telah dekat saatnya aku akan dibawa pergi dengan secepat-nya, dan aku telah berpesan padamu sebelum ini demi melepaskan tanggung jawabku padamu. Ketahuilah, aku telah meninggalkan bagimu Kitab Allah dan 'itrahku, Ahlu Bait-ku." Lalu beliau mengangkat tangan Ali sambil berkata. "Inilah Ali bersama-sama al-Qur'an. Dan al-Qur 'an pun bersama Ali. Tiada akan berpisah sampai kcduanya menghadap aku di al-Haud. 23 )
Hal ini diakui oleh banyak sekali di antara tokoh-tokoh penting dari kalangan jumhur (Ahlus Sunnah), sehingga Ibnu Hajar - ketika meriwayatkan hadits Tsaqalain ini - berkata:
"Ketahuilah bahwa hadits tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari 20 orang sahabat." Ia menambahkan: "Jalan riwayat hadits itu telah disebutkan secara terperinci pada bab kesebelas (dari kitabnya yang bernama as-Sawa'iq al-Muhriqah). Di antaranya disebutkan bahwa hadits itu diucapkan Rasulullah saw. di 'Arafah pada waktu hajji wada'. Dalam riwayat lain, beliau mengucapkan ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khumm. Ada juga riwayat menyebutkan ucapan beliau itu saat beliau pulang dari Thaif ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat, sebagaimana telah disebutkan tadi". Ibnu Hajar melanjutkan: "Tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayar itu saling bertentangan, sebab mungkin saja Rasulullah saw. sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap al-Qur'an dan Ahlul Bait yang suci." (Baca selanjutnya keterangan Ibnu ) …..24
Cukuplah sudah bagi para Imam dari kalangan keluarga suci Nabi saw, kenyataan bahwa kedudukan mereka di sisi Allah dan Rasul-Nya, telah disejajarkan dengan kedudukan al-Qur'an, "yang tiada dimasuki kebathilan dari arah depan maupun belakang". Dan hal itu sudah merupakan hujjah (bukti nyata) yang memaksa kita ber'ibadat dengan cara madzhab mereka. Sebab seorang Muslim tidak sekali-kali bersedia menggantikan Kitab Allah dengan sesuatu lainnya. Maka bagaimanakah ia dapat berpaling dari Ahlul Bait padanan kitab-Nya!?
5. Tentunya yang dapat dimengerti dari ucapan Rasulullah saw.: "Kutinggalkan bagimu dua hal yang apabila kamu berpegang teguh padanya, tiada kamu akan sesat,yaitu: Kitab Allah dan 'itrahku", maksudnya ialah bahwa kesesatan itu akan rnenimpa orang yang tidak mau berpegang pada kedua-duanya, sebagaimana pasti anda maklumi. Hal itu dikuatkan pula oleh ucapan beliau dalam hadits ats-Tsaqalain menurut versi yang diriwayatkan oleh Thabarani yang kelanjutannya sebagai berikut: " ... maka janganlah kamu mendahului kedua-nya, nanti kamu 'binasa. Jangan pula kamu ketinggalan dari
mereka, nanti kamu celaka. Dan jangan mengajari mereka, sebab mereka itu lebih mengerti dari kamu
Ibnu Hajar berkata: "Ucapan Rasulullah saw.: " ... janganlah kamu mendahului kedua-duanya .... dan seterusnya." menunjukkan kepada kita bahwa barang siapa diantara Ahlul Bait ada yang memiliki kemampuan untuk jabatan-jabatan yang tinggi atau tugas-tugas keagamaan, hendaknya ia diutamakan dari orang-orang selain mereka" (demikian Ibnu
Hajar dalam komentarnya) ... 25)
6. Dan diantara hal-hal yang rnewajibkan seorang Muslim berpegang teguh pada (tuntunan) Ahlul Bait, bahkan memaksanya untuk kembali dalam urusan-urusan Agama kepada mereka saja (dan bukan pada selain mereka), ialah ucapan Rasulullah saw.: "Sesungguhnya (kedudukan) Ahlul Bait diantara kamu, ibarat "bahtera Nuh", barang siapa yang ikut berlayar bersamanya, dia akan selamat. Dan barang siapa yang enggan atau terlambat, dia akan tenggelam !
Dan perumpamaan Ahlu Baitku diantara kamu seperti "pintu pengampunan" bagi bani Israil. Barang siapa memasukinya maka dosa-dosanya akan terampuni! " .... 26 )
Sabda Rasulullah saw. 'pula: "Bintang-bintang (di langit) adalah petunjuk keselamatan bagi penghuni bumi dari bahaya tenggelam. Dan "AhluBait-ku" adalah penyelamat ummatku dari bahaya,; perpecahan (dalam agama). Bila salah satu dari qabilah-qabilah Arab menyeleweng dari mereka (dalam hukum-hukum Allah), niscaya mereka akan bercerai berai dan menjadi "partai iblis" ... 27)
Demikianlah apa yang dikemukakan tentang kewajiban ummat untuk mengikuti (Ahlul Bait), dan mencegah daripada penentangan terhadap kepernimpinan mereka. Menurut perkiraan kami, tidak. ada satupun bahasa manusia semuanya, yang lebih jelas dalam kesimpulan maknanya mengenai hal ini.
7. Adapun yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini tentunya bukan keseluruhan mereka, tetapi hanya terbatas pada pemuka-pemuka (Imam-Imam) yang berasal dari kalangan mereka. Sebab kedudukan yang maha penting ini baik berdasarkan akal atau berdasarkan dalil-dalil agama – hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar ahli .dalam syari'at Allah, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Hal ini telah diakui pula oleh sekelompok dari tokoh-tokoh terkenal dari kalangan Jumhur (Ahlus Sunnah), seperti misalnya yang tersebut dalam kitab as-Sawa'iqul Muhriqah karangan Ibnu Hajar.
" .... dan sebagian lagi berkata: Mungkin yang dimaksud dengan Ahlul Bait
yang mereka itu (menurut hadits) merupakan jaminan keselamatan dari perpecahan dalam agama, ialah para ulama Ahlul Bait. Sebab dari merekalah diharapkan petunjuk, seperti halnya bintang-bintang di langit menjadi petunjuk jalan di malam hari, dan bila mereka tiada lagi berada di antara ummat, maka penghuni bumi ini akan menyaksikan dan mengalami bencana-bencana seperti yang telah diperingatkan Allah kepada mereka ………….."
Ibnu Hajar melanjutkan. "Hal itu akan terjadi pada saat datangnya al-Mahdi, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang menyatakan bahwa Nabi Isa a.s .. akan bersholat di belakangnya, dan bahwa Al-Mahdi akan membunuh Dajjal zaman itu, dan setelah itu, bencana-bencana' akan berdatangan silih berganti .... " - baca keterangan selanjutnya _28)
Pada bagian lain Ibnu Hajar berkata .. pula bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya. "Berapa lama manusia akan bertahan setelah itu? Nabi menjawab: "Selama waktu bertahannya seekor keledai yang patah tulang punggungnya."29)
9. Tentunya anda mengerti bahwa ditamsilkannya mereka (Ahlul Bait) itu seperti bahtera Nuh, maksudnya ialah barang siapa yang berlindung pada mereka dalam urusan agamanya,
dan mendasarkan pelaksanaan ushul dan furu' syari'at sesuai dengan petunjuk para Imam dari kalangan Ahlul Bait yang diberkati (oleh Allah), maka ia akan selamat dari adzab api
neraka. Sebaliknya, siapa yang tidak mau bersama mereka, akan sama halnya seperti mereka yang .- pada saat mengamuknya air bah di zaman Nabi Nuh a.s. - mencoba berlindung di puncak gunung guna mencari keselamatan dari adzab Allah. Bedanya hanyalah: jika orang-orang pada waktu itu tenggelam dalam air bah, maka orang-orang ini (yang tidak mau mengikuti petunjuk Ahlul Bait) akan terjerembab ke dalam neraka (semoga Allah melindungi kita daripadanya)!! Mengenai tamsil mereka itu (Ahlul Bait) seperti pintu
pengampunan, *) ialah bahwa Allah SWT telah menjadikan pintu itu sebagai perwujudan sikap merendahkan diri di hadapan keagungan Allah, serta khusyu' dan khudhu' ter-
hadap perintah-Nya. Sikap seperti ini akan menyebabkan datangnya maghfirah dan ampunan-Nya. Dernikian pula dengan ummat ini, bila mereka dengan segala keikhlasan mau
mengikuti petunjuk para Imam dari kalangan kerabat Rasulullah saw, hal ini pun akan merupakan perwujudan sikap merendahkan diri terhadap keagungan Allah, dan patuh
serta tunduk pada kehendak-Nya, Sikap seperti ini akan mendatangkan maghfirah dan ampunan bagi mereka dari Allah SWT!!!. Di sinilah letak persamaan tamsil yang diberikan oleh
Rasulullah saw.
Ibnu Hajar telah mencoba membuat perumpamaan persamaan dalam hal ini - setelah ia menukilkan hadits-hadits seperti ini dan lain-lainnya - sebagai berikut'") : "Menyamakan mereka (Ahlul Bait) itu dengan bahtera Nuh berarti bahwa barang siapa mencintai dan menghormati mereka sebagai manifestasi rasa terimakasih dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kernuliaan atas mereka, dan ia juga mengikuti petunjuk para ulama dari kalangan mereka, niseaya ia akan selamat dari akibat melanggar perintah Allah. Sebaliknya, barang siapa yang menjauhkan diri, ia akan tenggelam di lautan "kufrun ni'am" (mengingkari nikmat Allah), dan ia akan binasa dalam lembah-lembah kebathilan."! )
Selanjutnya Ibnu Hajar meneruskan. "Arti dari penamsilan (Ahlul Bait) dengan pintu pengampunan, ialah bahwa Allah SWT menjadikan cara Bani Israil memasuki pintu kota Ariha atau kota Baitul Maqdis - dengan merendahkan diri sambil memohon ampunan Allah sebagai sebab bagi maghfirah-Nya, atas Bani Israil. Demikian pula Allah SWT telah menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai sebab dilimpahkan-Nya maghfirah-Nya atas ummat ini."
Masih banyak lagi hadits-hadits shahih dan mutawatir tentang kewajiban mengikuti (kepemimpinan) Ahlul Bait, terutama yang diriwayatkan melalui 'itrah (keluarga suci) Rasulullah saw. Dan sekiranya kami tidak merasa anda akan menjadi jemu, tentu kami akan melepaskan kendali pena ini dalam usaha menukilkan lebih banyak lagi. Namun kami beranggapan , apa yang telah kami sebutkan, sudah mencukupi kebutuhan akan hal itu.
0 comments:
Post a Comment