Thursday, December 2, 2010

SBY - EMHA dan JOGJA

Pernyataan SBY tentang Daerah Istimewa Jogjakarta mengundang kontroversi dan kemarahan banyak kalangan masyarakat Jogjakarta. Semua lapisan masyarakat Jogjakarta dari tukang becak, buruh, akademisi sampai budayawan angkat bicara.


Budayawan Emha Ainun Nadjib mempunyai pandangan yang unik terkait pernyataan SBY, menurut emha ada dua kemungkinan kenapa SBY membuat statement kontroversial tersebut.
Kemungkinan Pertama : SBY sengaja melukai hati rakyat Jogja ! dengan tujuan agar seluruh elemen Rakyat Jogja marah - merasa terlukai kemudian bersatu padu melawan SBY. Dalam posisi ini SBY mencontoh apa yang sudah dilakukan IBLIS. SBY mengorbankan dirinya senndiri untuk tujuan mulia agar semua Rakyat Jogja bersatu padu. Ini sama seperti yang dilakukan Iblis ketika mengorbankan dirinya dari Malaikat menjadi Iblis agar manusia berpaling Kepada Tuhan. So dalam pernyataan Kontroversi diatas Sby secara sadar menjadi Iblis bagi masyarakat Jogja.

Alternatif Kedua : masih menurut budayawan nyentrik emha, Didalam Jiwa - Hati Seorang pemimpin yang arif bijaksana, Seorang pemimpin tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri karena terlalu sibuk memikirkan rakyatnya. detik demi detik waktunya habis untuk memikirkan kepentingan Rakyatnya, sehingga lupa untuk memikirkan dirinya sendiri. Dalam konteks Jogja Didalam Hati Sby hanya terisi SBY SBY !

Wednesday, November 17, 2010

Qurban

A
da satu pemandangan yang sering menggelitik hati saat hari qurban tiba, ratusan orang antri daging qurban, berdesakan sampai ada yang terjepit, terinjak, sampai pingsan. Fenomena ini dari waktu ke waktu selalu kita lihat, padahal secara logika mestinya tidak terjadi.

Kenapa ? Hitung hitungannya begini : bila jumlah orang kaya muslim 10% saja dari penduduk indonesia, artinya bila 10 % muslim kaya tersebut semua berkurban 1 ekor kambing saja berarti 9 orang miskin indonesia akan mendapatkan 1/9 ekor kambing.

1/9 ekor kambing itu jumlah yang sangat besar ! Mungkin 2 atau 3 kg daging, belum lagi kalau keluarga kaya muslim yg mestinya berkurban itu menyembelih 2 atau 3 ekor kambing ( untuk anak dan istri). Berarti 1 keluarga fakir miskin bisa memperoleh 1 paha kambing ! So kondisi sekarang mencerminkan bahwa jumlah muslim kaya yang berkurban mungkin hanya 0.01% saja sehinga moment qurban tidak terasa bagi fakir miskin di Indonesia.

Kapan kita bisa melihat panitia qurban kesulitan membagi daging kurban karena melimpahnya daging qurban dan sedikitnya orang yg bersedia menerima daging qurban?

Saya dengan istri mencoba menghitung secara kasar saat shalat ied kemarin di sebuah masjid, berapa jumlah hewan qurban dan berapa jumlah mobil yang diparkir di halaman masjid tersebut. Jumlah hewan qurban 4 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Sementara jumlah mobil yang parkir puluhan buah.

Disini secara kasar kita bisa melihat bahwa banyak muslim yg sanggup bawa mobil tetapi tidak sanggup berkurban hewan sembelihan, saya tidak tahu apa yang membuat banyak orang kaya muslim yang tidak mau berkurban, tetapi saya yakin bahwa mereka tahu hukum berkurban.

Sepanjang mendengarkan kutbah saya membayangkan Bapak para nabi Ibrahim dengan tulus ikhlas bersedia mengurbankan anak tercinta Nabi Ismail, harta termahal yang Nabi Ibrahim miliki, menyembelih permata hati yang kehadirannya ditunggu selama bertahun tahun kini harus beliau sembelih. Kini kita sebagai muslim hanya diminta untuk menyembelih binatang qurban ! Dan sebagian dari kita yang mampu membeli mobil (bahkan tidak cuma satu) masih enggan untuk ber qurban hewan sembelihan.

Saya sering berbincang dengan kawan kawan yang punya motor, mobil dan rumah cukup bagus, gimana mas qurban berapa tahun ini ? Jawabannya sering kali klasik ...... Waduh mas .... Kayaknya tahun ini tidak bisa qurban nih, rejeki sedang seret, mudah mudahan tahun depan dech ! Dan Alhamdulillah tahun depannya tidak bisa ber Qurban lagi !!!!

Empat belas tahun yang lalu seorang teman mengajarkan kepada saya agar enteng dan bisa ber qurban, caranya sangat sangat sederhana, yang pertama saya disuruh berniat tahun 1996 akan qurban 1 ekor kambing.
Kemudian kita harus tahu berapa harga kambing saat itu. Nah tiap hari saya masukin ke celengan uang uang kecil ataupun besar dikit hehe, tiap bulan kita wajibkan masukin ke celengan agar 12 bulan kemudian cukup untuk membeli kambing.

Alhamdulillah ketika hari qurban tiba jumlah celengan culup untuk membeli satu ekor kambing, pengalaman ini sangat berkesan bagi saya, uang sisa naik angkot setiap hari kerja selama setahun bisa untuk membeli satu ekor kambing. Bagi kawan kawan yang mrrokok, anda bisa berhenti merokok setiap hari dan masukin ke celengan 5 ribu rupiah per hari - sebulan 150 ribu - setahun 1.6 juta so anda bisa berqurban dan tubuh lebih sehat.

Sekali anda ber Qurban saya jamin tahun tahun berikutnya anda akan berQurban, karena ber Qurban itu Nikmat, nikmat menjalankan perintah Allah, Nikmta melihat wajah wajah penuh bahagia membawa daging qurban, nikmat berbagi dengan sesama.

Bila tips sederhana tersebut dijalankan, berkurban itu ndak berat, kalau kita sanggup beli mobil, motor ataupun rokok kita mestinya sanggup membeli hewan qurban. Dan kita tidak lagi akan melihat nenek nenek berebut, terjepit dan terinjak injak untuk 2 ons daging qurban. Mari kita buat panitia qurban bekerja keras kesulitan membagi daging qurban karena melimpahnya daging qurban yang harus dibagi

Monday, August 16, 2010

Taktik Seorang Mourinho

Inter Milan sudah puluhan tahun tidak pernah merasakan final Liga Champions. Bahkan dengan pemain-pemain yang berlipat lebih berbakat dari tim yang ada sekarang, Inter selalu gagal. Lalu apa kunci keberhasilan mereka tahun ini? Jawabnya adalah pada sosok Jose Mourinho.

Ia kembali membuktikan bahwa ia tidak perlu ikut menendang bola di lapangan untuk menjadi bintang satu kesebelasan. Suka atau tidak suka dengan pelatih kontroversial ini, ia membuktikan diri sebagai figur yang lebih bernilai dari pemain bintang di kesebelasan yang ia asuh.

Tidak jelas apakah ia menyukai catur sebagai permainan. Tetapi jelas ia memperlakukan lapangan bola layaknya papan catur.

Mourinho dikenal sebagai orang yang sangat rinci mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan. Ia dengan jenial kemudian mampu menyiapkan tim untuk secara efektif meredam kekuatan lawan dan mengeksploitir kelemahan lawan secara maksimal. Itulah sebabnya Mourinho dianggap tidak pernah mempunyai pola permainan yang baku. Yang baku dari anak asuh Mourinho adalah kemampuan untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan permainan lawan.

Anak asuhnya dilatih sedemikian rupa seperti mesin yang mulus dan bergerak secara otomatis dan instingtif. Tidak ada sedetik pun jeda ketika pemain kebingungan dengan posisi ataupun tak tahu dengan tugas yang harus dilakukan.

Melawan Barcelona di Nou Camp di semifinal adalah contoh yang bagus untuk menggambarkan hal ini.

Inter dengan sengaja membiarkan Barcelona terus menerus memegang bola, tetapi pada saat bersamaan menutup gerak pemain-pemain tengah El Barca yang dikenal mampu melakukan umpan-umpan brilian; menutupnya kalau diperhatikan tidak dengan menempel terlalu ketat, kelonggaran yang terjaga.

Ada dua alasan mengapa Mourinho menginstruksikan pemainnya untuk mengawal dengan kelonggaran yang terjaga. Pertama, kalau terlalu ketat permainan satu dua ataupun segitiga Barcelona yang dikenal hebat pasti akan dengan mudah melewati lini tengah Inter. Kedua, untuk memberi kesan kepada pemain Barcelona bahwa selalu ada lobang dalam pertahanan Inter. Namun setiap kali pemain Barcelona akan memanfaatkan lobang yang sepertinya tersedia itu, maka dengan cepat pemain belakang Inter akan menutupnya.

Sepanjang pertandingan Barcelona berkonsentrasi untuk terus-menerus memanfaatkan lobang pertahanan itu, tetapi berulangkali pula pemain defender Inter bereaksi sama cepatnya. Seperti kejar mengejar. Pemain Inter telah berminggu-minggu melatih hal itu. Bahkan ketika Thiago Motta terkena kartu merah, pemain Inter Milan tidak panik. Mereka sekadar menyesuaikan diri dan bekerja lebih keras lagi.

Saat Zlatan Ibrahimovic ditarik keluar, Intersedikit mengubah taktik dengan semakin menumpuk pemain di tengah dan memaksa Barcelona melakukan serangan dari sayap. Umpan-umpan tarik melambung dari sayap mudah dimentahkan oleh pemain belakang Inter karena ancaman dari udara hampir tidak ada lagi dengan telah ditariknya Ibrahimovic yang jangkung.

Banyak yang mengecam Mourinho saat itu memainkan permainan negatif dan tidak indah. Kontras total dengan Barcelona. Tetapi banyak pula yang membela Mourinho dengan mengatakan apa yang ditampilkan anak asuh Mourinho adalah keindahan dalam bentuk yang berbeda. Membutuhkan imajinasi yang tak kalah rumit, mengundang risiko yang tak terhingga dan eksekusi dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Bayern Munich adalah preposisi yang berbeda bagi Mourinho. Sama seperti Inter, tim Bayern saat ini bukanlah yang terbaik yang pernah ditampilkan klub dari Bavaria dalam sejarah. Sama dengan Inter, mereka lolos ke final setelah mengalahkan beberapa tim yang secara kualitas lebih bagus dari mereka. Sama dengan Inter, mereka lolos karena persiapan organisasional yang matang dan kemampuan memanfaakan kelemahan lawan yang lebih bagus dengan maksimal.

Apa hendak dikata, pelatih Bayern Munich adalah Louis van Gaal. Dan bagaimana Mourinho menyiapkan tim sangat dipengaruhi ketika ia menjadi asisten pelatih Van Gaal di Barcelona selama dua tahun di akhir tahun 1990-an.

By : Liza Arifin - detiksport

Friday, July 16, 2010

Kearifan Gula Batu

Zi Gong atau Cu Khong adalah salah satu murid utama Sheng Ren Kong Zi. Hubungan guru dan murid ini juga begitu dekat. Saking dekatnya, ketika Kong Zi wafat, Zi Gong tinggal di samping makam gurunya selama enam tahun.

Sementara murid-murid yang lain maksimal hanya tinggal di area makam selama tiga tahun. Kalau kita berziarah ke makam Kong Zi di Qufu , Jazirah Shandong, Tiongkok, gubug tempat Zi Gong menginap masih bisa kita jumpai. Bahkan sebatang pohon yang ditanam Zi Gong pada tahun 479 SM, masih tersisa sampai sekarang, meski sudah dalam keadaan tidak utuh. Suatu ketika dalam hidupnya, Zi Gong pernah bertanya kepada Kong zi tentang bagaimana seseorang harus bersikap di dalam hidup. Kong Zi tidak menjawab dengan kata-kata belaka. Beliau mengajak Zi Gong masuk ke dapur. Ketika Zi Gong bingung menunggu, gurunya sudah asyik menyiapkan perapian dan mulai memasak air. kala air mulai mendidih, Kong Zi keluar rumah dan kemudian masuk kembali sarnbil membawa sebongkah batu. Kemudian batu itu dimasukkannya ke dalam air yang mulai mendidih. Kong Zi merebus batu ! Dalam hati Zi Gong bertanya-tanya tentang keanehan Sang Guru. Namun ia belurn berani bicara dan diam menunggu. Selang beberapa waktu Kong Zi mengeluarkan sang batu dan menaruhnya di atas meja. Tiba-tiba Kong Zi berkata,"Kamu jangan seperti batu". Mulut Zi Gong menganga, "Batu ini begitu keras, direbus di dalam air panas mendidih pun tak berkurang kerasnya. Orang yang seperti batu, sangat kaku, merasa paling benar, paling jagoan dan tidak bisa berubah. Padahal kehidupan selalu berubah. Di atas pohon tinggi masih Ada awan. Di atas awan masih ada langit. Di atas langit masih ada Tian" Bagaimana mungkin kita, manusia biasa, boleh
merasa diri paling sempurna?"

Zi Gong tersadar, Sang Guru sedang memberi pelajaran lewat contoh sederhana. Inilah yang acap kali membuat Zi Gong dan saudara-saudara seperguruannya begitu mengagumi cara Sang Nabi mengajar. Pelajaran yang begitu rumit dan dalam sekali pun bisa diuraikannya secara amat sederhana. Sungguh Sang Guru manusia agung. Pantaslah beliau mendapat gelar Nabi Agung dan Guru Agung Umat Manusia.

Setelah merenung sejenak Zi Gong lalu bertanya, " Guru, saya harus bersikap bagaimana?"
Seperti tadi, kali ini Kong Zi pun tidak menjawab. Ditambahkannya kayu ke dalam perapian dan sekali lagi beliau beranjak ke luar rumah. Tak lama kemudian ia membawa sebongkah salju yang mengeras. Tanpa berkata kata bongkahan salju itu dimasukkannya ke dalam air yang bergolak panas. Dalam hitungan detik, salju pun mencair. Hilang dari pandangan, luluh menjadi air. Lalu Kong Zi berkata, "Kamu jangan seperti bongkahan salju. Kelihatan keras, berkarakter, punya prinsip dan teguh pendirian, namun baru diuji sebentar saja sernuanya lenyap tak berbekas. Suka mengecam orang lain yang tidak jujur, berlaku sok suci, namun ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, semua idealismenya hancur tak berbekas dan akhirnya ikutan korup."
Zi Gong tersadar. Dia kini sudah dihadapkan dua ekstrim : keras kepala versus tak berpendirian. Punya prinsip kaku versus prinsip fleksibel banget. Dia kini ingat nasihat Sang Guru sebelumnya. Terlalu kiri tidak baik. Terlalu ke kanan juga tidak baik. Terlalu cepat tidak tepat. Terlatru lambat juga tidak tepat. Terlalu maju, perlu direm. Terlalu lambat, perlu didorong. Yang terbaik adalah Zhong. Tengah, tepat. Syukursyukur kalau bisa Zhong Yong, Tengah Sempurna.

Ketika Sang Guru memandangnya sambil tersenyum. Zi Gong tersentak dari lamunannya. Sambil rnenghormat, Zi Gong kembali bertanya, "saya memahami penjelasan Guru. Namun saya belum menemukan jawaban tentang bagaimana saya seharusnya menyikapi kehidupan. Mohon Guru berkenan memberikan petunjuk lebih lanjut.'
Seperti sebelumnya, Kong Zi juga tidak menjawab. Kini ia pun bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak. Tidak ke halaman depan rurnah, melainkan ke belakang. Tak Lama kemudian Sang Guru membawa dua butir telur ayam di tangannya. Telur yang satu kemudian dipecahkannya di depan Zi Gong. Segera Zi Gong bisa melihat cairan telur yang telah meleleh membasahi meja. Cair namun kental. Telur kedua kemudian dimasukan ke dalam air yang mendidih. Setelah berdiam cukup lama,tiba-tiba Kong Zi mengeluarkan telur yang sudah matang dan mengelupasnya. Segera tercium harum aroma telur rebus dan terlihat putih ranumnya telur matang. Telur yang semula cair dan kental di kala masih mentah, kini telah berubah menjadi lebih keras sesudah matang. Lalu Kong Zi pun berkata, "Kamu pun jangan menjadi telur rebus. Baru belajar sedikit, sudah merasa mampu menguasai semua. Baru paham secuil ayat suci, merasa sudah sah memonopoli kebenaran, sombong, ekstrem, takabur."

Cukup lama Zi Gong merenung Satu-persatu terlintas wajah sahabatnya. Betapa sulit mencari seorang pembelajar sejati, yang tekun belajar tanpa kenal lelah, mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan tetap rendah hati. Tidak sombong. Terbayang salah satu wajah saudara seperguruannya yang terpandai; Yan Yuan. Kiranya hanya dialah yang pantas disebut sebagat pembelajar sejati. Tak salah bila Sang Guru begitu menyayangi Yan Yuan. Figur Yan Yuan jelas bukan seperti telur rebus yang diceritakan Sang Guru. Kalau mau jujur, dirinya pun masih ada unsur telur rebusnya. Terkadang di bawah sadarnya, Ia masih suka menyombongkan diri sesekali. Ia harus berubah. Sang Guru telah dengan jitu menyentilnya secara tak langsung. Setelah sadar, wajah Zi Gong langsung bersemu merah kala melihat gurunya tersenyum senyum memandangnya dari tadi. Seakan telah terbuka semua rahasia hatinya. Tapi mengapa harus malu? Bukankah Sang Guru memang sudah memahami benar segenap kekuatan dan kelemahannya? Tanpa menunggu pertanyaan Zi Gong, Kong Zi kembali bergegas ke belakang. Diambilnya sebuah wortel dari kebun. Seperti sebelumnya, wortel itupun dimasukkannya ke dalam air mendidih. Selang beberapa waktu, wortel itu pun diangkatnya dari air rebusan. Bersamaan dengan itu Kong Zi pun lalu berkata, "Zi Gong, kamu pun tidak boleh menjadi wortel rebus."

Sejenak Zi Gong tercenung. Dipegangnya wortel rebus itu sambil dipencet-pencet. Wortel yang semula keras, kini telah menjadi lunak. Namun ia tetap bisa dikenali sebagai wortel. Mengapa gurunya mengatakan seperti itu? Bukankah wortel melambangkan fleksibilitas, keluwesan, namun sekaligus kekukuhan untuk mempertahankan tidak kehilangan jati diri? Mulut zi gong ingin meluapkan banyak kata-kata, berjuta argumen; Namun entah mengapa seakan terkunci.

Sang Guru tetap tersenyum. "Zi Gong, wortel memang luwes, fleksibel, mampu beradaptasi menyesuaikan diri. Hebatnya lagi ia tidak kehilangan iati dirinya. Lambang seseotang yang teguh memegang prinsip, namun tidak kaku. Bagus' Tapi, cobalah kamu lihat air ini. Air ini tetap tidak berubah Tidak ada nilai tambah. Apa artinya? Pengorbanan wortel itu menjadi sia-sia. Tidak mengubah apa-apa.,,
Mata Zi Gong membelalak lebar, wajahnya memancarkan rona kegembiraan Sekali lagi ia mendapat pencerahan dari gurunya yang amat bijaksana. Ia sungguh - sungguh beruntung mempunyai guru yang begitu arif dan bijaksana.

Sampai di sini zi Gong sudah tidak merasa penasaran lagi. Ia seakan sudah cukup terpuaskan dengan empat contoh yang diberikan gurunya. Dia tak sadar bahwa Sang Guru sudah mengganti air nya, menambah kayu bakar dan mulai merebus air kembali. Dia baru sadar kembali kala gurunya menaruh bongkahan gula batu ke dalam air mendidih. Tak lama kemudian Sang Guru berkata, "Jadilah kamu gula batu, muridku. Tubuhnya memang hancur seperti bongkahan salju, tapi bukan karena Ia tidak punya prinsip. Kelihatannya ia kalah ,tapi sebenarnya dialah yang menang, yang menguasai, yang membuat air berubah manis. Biarkan orang menyangka diri merekalah yang menang, namun sesungguhnya telah dikalahkan secara cerdik dan halus. Bila kamu bisa meresapi dan menghayati makna filosofi gula batu ini, kamu akan bisa menerapkannya di bidang apa pun di sepanjang hidupmu. Itulah jawaban atas pertanyaanmu semula, bagaimana sikap terbaik dalam kehidupan."

Mata Zi Gong mendadak bersinar ribuan watt. Dia sungguh sungguh tercerahkan. Dengan menangis haru Zi Gong bersujud di hadapan Sang Guru. Dipeluknya erat-erat kaki Kong Zi "Lama, sangat lama. Hari ini dia telah mendapatkan mutiara kehidupan yang tak ternilai harganya. Dia berjanji dalam hati, bertekad memanfaatkannya dalam kehidupan sehari hari dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Sheng Ren Kong Zi pun tersenyum haru. Dia menaruh harapan besar pada murid-muridnya, terutama Zi Gong dan Yan Yuan. Di tangan merekalah masa depan ajarannya diharapkan bisa semakin berkembang. Ia selalu menaruh harapan besar kepada generasi muda. Harapan Kong Zi tentang muridnya sebagian besar terwujud. Khusus tentang Zi Gong, dia tumbuh menjadi orang yang sangat sukses, baik di masyarakat, dalam pemerintahan dan juga sebagai pengusaha. Semua itu tidak lepas dari sifatnya yang luwes, lentur, namun tetap memegang prinsip. Kemampuan diplomasinya bahkan beberapa kali menyelamatkan dan mendinginkan situasi panas yang terjadi dalam hubungan antar kerajaan pada masa itu. Tak jarang ketika Kong zi diangkat menjadi Menteri Kerajaan Lu, zi Gong sering diutus Sang Guru untuk menangani hal-hal penting, persoalan-persoalan yang berat. Ia memang murid yang bisa diandalkan.

Dikutip dari : Bertambah Bijak Setiap Hari
Oleh : Budi S. Tanuwibowo

Wednesday, July 7, 2010

5 Alasan Kesehatan Berhenti Minum Soft Drink

Minuman ringan alias soft drink sepertinya sudah jadi tren khususnya di kalangan anak muda. Padahal sudah banyak ahli kesehatan yang mengingatkan bahwa soft drink sama sekali tidak sehat, apapun mereknya. Mengapa?


Tak ada manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari soft drink atau minuman bersoda. Yang Anda dapatkan hanyalah banyak kalori yang tidak berguna. Selain itu, minuman bersoda juga membawa dampak buruk bagi kesehatan sama halnya dengan merokok.

Tapi sepertinya imbauan-imbauan dari dokter atau praktisi kesehatan untuk berhenti mengonsumsi soft drink jarang didengar oleh kebanyakan orang. Tren modern seakan melekat ketika seseorang minum soft drink.

Mengapa harus berhenti minum soft drink?

Dilansir dari GeniusBeauty, Rabu (7/7/2010), berikut 5 alasan kesehatan mengapa orang harus berhenti minum soft drink:

1. Obesitas (berat badan berlebihan)
Peneliti di University of Texas menemukan bahwa soft drink meningkatkan risiko obesitas rata-rata 32,8 persen, sedangkan diet coke (soft drink bebas gula) justru meningkatkan risiko hingga 54,5. Maka soft drink bebas gula tak selalu sehat.

2. Kalori yang tak berguna
Sebagian besar minuman soda mengandung 250 kalori per 600 ml. Tak ada kandungan nutrisi atau mineral di dalamnya, melainkan hanya gula dan kafein.

3. Kecanduan atau adiktif
Soft drink juga dapat menyebabkan semacam kecanduan. Yang merangsang kecanduan adalah kandungan kafein di dalamnya. Setelah berhenti dari kebiasaan minum soft drink, Anda akan mengalami gejala putus zat seperti sakit kepala, depresi, gugup dan menggigil.

4. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes
Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh American Heart Association di Circulation Journal pada tahun 2007, orang yang minum soft drink setiap hari akan meningkatkan risiko sindrom metabolik, yaitu suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, sebesar 44 persen.

5. Mengurangi jumlah sperma
Hasil studi di Denmark menunjukkan laki-laki yang mengonsumsi 1 liter atau lebih soft drink setiap hari bisa berbahaya bagi spermanya. Laki-laki yang sering mengonsumsi soft drink menghasilkan sperma 30 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak mengonsumsi soft drink.

PSMS Medan VS PS Karo Karo

Pada sebuah pertandingan persahabatan antara PSMS Medan dengan PS Karo-karo, pertandingan di selenggarakan di kota medan. Sebelum pertandingan MC lapangan memperkenalkan nama-nama kedua tim, untuk kesempatan pertama di sampaikan nama-nama pemain dari PS Karo-Karo karena sebagai tamu.


"Selamat datang para penonton di Stadion Teladan Medan inilah pertandingan persahabatan yang kita nantikan antara PS Karo melawan PSMS Medan" kata MC Membuka
Kata.
"Sebelum pertandingan di mulai baik kita perkenalkan dulu kekuatan kedua tim kita mulai dengan PS Karo sebagai tamu"

"Dibawah mistar ada Lengket Silangit, kita lihat di barisan belakang ada Jatuh Bangun dan Jegal Tarigan, ...."

MC terus melanjutkan pengumumannya "Di barisan depan ada Lari Peranginangin dan Tembak Sitepu...... dan untuk mengkomandokan tim dipimpin..." MC berhenti sesaat menarik napas panjang "Bah.....oleeeeh Pasti Menang Karo-Karo......"

Penonton terdiam mendengar pengumuman MC dan tiba-tiba kapten tim PSMS Medan berteriak dari tengah lapangan "Menyerah..... bah......namanya saja sudah menakutkan apa lagi mainnya....Dak akan pernah menang nya.. kita lawan dia"

Sapi Gila

Miranda, reporter muda, mewawancarai pak Amir, seorang pemilik peternakan.


Miranda: “Selamat siang Pak Amir. Saya dan suami saya suka sekali meminum susu sapi segar. Tetapi dengan munculnya berita mengenai penyakit Sapi Gila dewasa ini, kami dan tentunya para pemirsa lainnya sangat khawatir dengan berita mengenai berkembangnya penyakit gila pada sapi-sapi betina. Sebagai peternak berpengalaman, dapatkah bapak menceritakan secara jelas pada para pemirsa kita, khusus mengenai penyebab penyakit sapi gila.

Bapak Amir: “Tahukah anda bahwa berbeda dengan manusia, khususnya wanita, bahwa sapi betina dikawini hanya setahun sekali?”

Dengan tersipu-sipu Miranda menjawab: “Ini adalah informasi baru bagi saya, tetapi tentunya para peternak telah mengetahuinya. Tetapi dapatkah bapak langsung saja menjelaskan pokok penyebab penyakit sapi gila ini?”

Bapak Amir: “Tahukah ibu bahwa puting-puting susu sapi betina diremas-remas empat kali dalam sehari?”

Kali ini dengan wajah memerah menahan dongkol, Miranda bertanya lagi: “Ini merupakan pula suatu informasi baru bagi saya, tetapi tentunya hal yang sama dilakukan para peternak lainnya.”

Dapatkah Bapak segera saja langsung menjelaskan penyebab penyakit sapi gila ini???

Bapak Amir: Saya ingin menanyakan pada ibu sebagai seorang wanita, bagaimana perasaan dan naluri ibu bila buah dada ibu diremas-remas setiap hari sampai empat kali oleh suami ibu, tetapi hanya disetubuhi setahun sekali. Apakah ibu tidak merasakan kegilaan yang amat sangat???

· · · · · · · · · ·

Minta Naik Gaji

Suatu pagi seorang pegawai memutuskan untuk menghadap atasannya menyampaikan maksud hati dan segala uneg-unegnya untuk meminta kenaikan gaji.

Atasannya kemudian tertawa, mempersilahkannya untuk duduk dan berkata, "Ha... ha... ha..., dengar kawan, anda itu bahkan belum bekerja untuk perusahaan ini meskipun satu hari! Masa sekarang mau minta naik gaji?" Tentu saja sang pegawai sangat terkejut mendengar hal itu namun atasannya segera meneruskan.. .

Atasan : "Coba katakan ada berapa hari dalam setahun?"
Pegawai: "365 hari dan kadang-kadang 366 hari."
Atasan : "Betul, sekarang ada berapa jam dalam sehari?"
Pegawai: "24 jam."
Atasan : "Berapa jam kamu bekerja dalam sehari?"
Pegawai: "Dari jam 08:00 s/d 16:00 jadi 8 jam sehari."
Atasan : "Jadi, berapa bagian dari harimu yang kamu pakai bekerja?"
Pegawai: "(mulai ngitung dalam hati.... 8/24 jam = 1/3) Sepertiga!"
Atasan : "Wah pinter kamu! Sekarang berapakah 1/3 dari 366 hari?"
Pegawai: "122 (1/3×366 = 122 hari)."
Atasan : "Apakah kamu bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?"
Pegawai: "Tidak, Pak!"
Atasan : "Berapa jumlah hari Sabtu dan Minggu dalam setahun?"
Pegawai: "52 hari Sabtu ditambah 52 hari Minggu = 104 hari."
Atasan : "Nah, kalau kamu kurangkan 104 hari dari 122 hari, berapa yang tinggal?"
Pegawai: "18 hari." Atasan : "Nah, saya sudah kasih kamu 12 hari cuti tiap tahun.... Sekarang kurangkan 12 hari dari 18 hari yang tersisa itu berapa hari yang tinggal?"
Pegawai: "6 hari." Atasan : "Di hari Idul Fitri dan Idul Adha apakah kamu bekerja?" Pegawai: "Tidak, Pak!"
Atasan : "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Pegawai: "4 hari."
Atasan : "Di hari Natal dan Tahun Baru apakah kamu bekerja?"
Pegawai: "Tidak, Pak!"
Atasan : "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Pegawai: "2 hari."
Atasan : "Sekarang sisa tersebut kurangi dengan Libur Waisak, Imlek,Nyepi, 1 Muharram, Maulid Nabi, Isra' Mikraj, Wafat Yesus, Kenaikan Isa Almasih, Proklamasi.. ., berapa hari yang tersisa?"
Pegawai: "??? Gak ada sisa, Pak."
Atasan : "Jadi sekarang anda mau menuntut apa?"
Pegawai: "Saya mengerti pak, sekarang saya sadar bahwa selama ini saya sudah makan gaji buta dengan tidak bekerja sedikit pun. Saya minta maaf, Pak."
Atasan : "Ya udah sana dan jangan coba-coba minta naik gaji lagi yah!"

Sumber Anonim

Tuesday, July 6, 2010

Tahu dan Tidak Tahu

Di dunia ini tidak ada manusia yang serba tahu. Ada sebuah cerita dari kuil tua Buddha Zen di Tiongkok. Pada suatu hari, ada seorang umat Buddha datang ke kuil tua itu dan bertanya kepada Guru Besar Buddha Zen,


"Saya ingin bertanya kepada yang mulia Guru Besar. Kalau manusia sudah meninggal dunia, menurut agama Buddha, rohnya akan pergi ke mana ?"
Sang Guru Besar Zen dengan tenang menjawab
"Saya tidak tahu !"
Orang awam itu terkejut dan sangat heran. Lantas bertanya lagi,
"Masak Guru Besar Zen tidak tahu ?
"Ya, karena aku belum mati !" jawab Sang Guru Zen tenang.
Demikianlah lebih baik merendah dengan mengatakan tidak tahu adalah yang paling baik dari pada mengatakan tahu. Sebaliknya mengatakan tahu padahal tidak tahu adalah mencari penyakit. Hal ini akan menelanjangi kekurangan dan kebodohan diri sendiri. Lao Zi mengatakan bahwa seorang Sheng Ren tidak akan melakukan penyakit seperti itu. Dia selalu merendah, seolah olah seperti orang "Bodoh" yang tidak tahu apa apa. Sebab dia tidak ingin menonjolkan dirinya di depan orang.

Dao De Jing
The Wisdom of Lao Zi

Monday, June 21, 2010

Orang Miskin Selalu Jadi Tumbal

Minggu lalu, pemerintah dan DPR sepakat untuk tidak menaikkan tarif listrik bagi kelompok pelanggan 450-900 volt ampere. Kelompok pelanggan di atas 900 VA akan dikenai kenaikan secara proporsional 6 persen hingga 20 persen atau rata-rata 10 persen mulai 1 Juli 2010 (Kompas, 16 Juni 2010).


Kenaikan sebesar rata-rata 10 persen harus diberlakukan agar tidak melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang APBN Perubahan 2010 yang mematok subsidi listrik sebesar Rp 55,1 triliun.

Tanpa kenaikan tarif, subsidi diperkirakan bakal bertambah sebesar Rp 4,8 triliun. Walau demikian, boleh jadi realisasi subsidi tetap akan terlampaui mengingat pertumbuhan konsumsi listrik kelompok pelanggan 450-900 VA lebih tinggi dari rata-rata konsumsi listrik keseluruhan.

Sebagian besar kelompok pelanggan 450-900 VA adalah rumah tangga. Kelompok ini menyerap lebih dari 40 persen subsidi listrik.

Kesepakatan antara pemerintah dan DPR tersebut terkesan heroik. Kenyataan tidak demikian karena justru merugikan sebagian besar penduduk miskin.

Hampir dua pertiga penduduk miskin tinggal di pedesaan, sedangkan nisbah elektrifikasi (electrification ratio) di pedesaan tidak sampai 20 persen. Dengan demikian, hampir semua penduduk miskin belum menikmati penerangan listrik PLN.

Beberapa desa terpencil bisa memperoleh penerangan listrik berkat usaha kelompok masyarakat atau nonkonvensional lainnya—bahkan dengan menggunakan energi terbarukan—walau mereka harus membayar jauh lebih mahal daripada tarif PLN. Mereka bukan penikmat subsidi yang digembar-gemborkan oleh wakil-wakil mereka di DPR.

Rakyat miskin di pedesaan akan semakin lama dalam kegelapan jika yang diutik-utik hanya sebatas subsidi. Harus segera ada kebijakan nasional yang betul-betul memihak rakyat banyak, yang betul-betul menyentuh rakyat miskin.

Seandainya separuh saja dari subsidi betul-betul diperuntukkan bagi rakyat miskin, hampir seluruh desa akan terang benderang dalam kurun tidak sampai 10 tahun.

Syarat utama agar harapan mulia tersebut terwujud adalah menyehatkan PLN sebagai entitas korporasi. Kapasitas PLN tak akan meningkat secara berarti kalau terus merugi dengan menjual listrik jauh di bawah ongkos pokok produksi.

Di lain pihak, porsi pembiayaan dari APBN (proyek listrik pedesaan dan porsi rupiah dalam proyek pembangkit dan transmisi) kian mengecil, hanya Rp 2 triliun setahun. Sementara itu, kemampuan PLN untuk meraup dana pinjaman (covenant) juga sangat kecil karena posisi keuangannya sangat tidak sehat.

Untuk sementara waktu, penguatan PLN merupakan alternatif terbaik. Pembangkit swasta sebagai pelengkap saja, terutama yang menggunakan energi primer murah dan atau terbarukan. Untuk itu, pemerintah selayaknya memberikan insentif.

Kedua, kebijakan kelistrikan nasional harus memiliki arah yang jelas dengan target terukur. Misalnya, dalam lima tahun PLN diwajibkan untuk menekan ongkos pokok produksi per kWh, tetapi diberikan keleluasaan untuk menaikkan tarif dengan tingkat tertentu.

DPR bisa berperan lebih aktif untuk mempercepat penyehatan PLN. Mengingat sumber utama inefisiensi PLN adalah pembelian bahan bakar, DPR bisa ”memaksa” pemerintah untuk segera menuntaskan segala permasalahan yang menghambat PLN menggunakan energi primer yang lebih murah sesegera mungkin.

Contoh paling nyata adalah tertunda-tundanya pasokan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Tambak Lorok sehingga mengakibatkan potensi pemborosan sebesar Rp 3 triliun setahun. Angka tersebut tertuang dalam laporan resmi hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Apakah karena melibatkan kelompok usaha yang dimiliki oleh petinggi partai koalisi lantas DPR diam saja?

Ditambah dengan pembenahan dalam pengadaan dan sumber-sumber inefisiensi lainnya, ongkos pokok produksi bisa ditekan sampai di bawah Rp 900 per kWh, dibandingkan dengan tingkat sekarang yang masih di atas Rp 1.000 per kWh. Dengan begitu, pada masa mendatang kenaikan tarif bisa ditekan serendah mungkin.

Dalam jangka pendek, kiranya DPR dan pemerintah jangan segan-segan menaikkan tarif listrik bagi kelompok pelanggan kaya. Sekalipun tarif kelompok pelanggan di atas 6.600 VA telah mencapai tingkat keekonomian, tak ada salahnya mereka dibebankan kenaikan dengan persentase yang lebih tinggi.

Ini merupakan wujud solidaritas bahwa yang kaya menanggung beban lebih banyak ketimbang yang kurang mampu.

Sudah saatnya meninggalkan cara-cara usang untuk membantu rakyat miskin. Cara paling efektif untuk memberdayakan mereka adalah dengan subsidi langsung atau dengan menerapkan sistem jaminan sosial sesegera mungkin. Bukan dengan berselubung di balik beragam bentuk subsidi yang notabene lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat yang lebih mampu.
Senin, 21 Juni 2010 | 04:16 WIB

Oleh FAISAL BASRI

Friday, May 14, 2010

Susno, Bicaralah !

Akhirnya, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji dijadikan sebagai tersangka dan langsung ditahan terkait dengan praktik mafia hukum dalam penanganan kasus PT Salmah Arwana Lestari di Rumbai, Riau. Susno diduga menerima suap Rp 500 juta.


Tidak banyak yang terkejut dengan status baru yang disandang Susno. Dari jauh hari telah diduga, perubahan status hukum dan penahanan Susno hanya masalah waktu. Bagaimanapun, banyak kalangan percaya, membiarkan Susno melanjutkan sepak terjangnya berpotensi menimbulkan guncangan dahsyat di internal kepolisian. Mulutnya harus dibungkam!

Bahkan, selang beberapa waktu setelah penahanan Susno, dalam sebuah percakapan santai dengan Zainal A Mochtar, Direktur Pusat Kajian Anti-korupsi Fakultas Hukum UGM ini mengemukakan rumusan yang amat sederhana: jika yang dijadikan tersangka dan ditahan adalah bintang tiga, maka yang dilindungi sesungguhnya adalah elite dengan bintang tiga ke atas. Meskipun rumusan ”sederhana” itu masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, melihat dampak yang mungkin ditimbulkan oleh ”informasi” yang dimiliki Susno, pendapat Zainal Mochtar bisa mendekati kebenaran.

Anehnya, penahanan dan pemberian status tersangka kepada Susno didasarkan keterangan saksi, antara lain Sjahril Djohan, pengacara Haposan Hutagalung, dan Ajun Komisaris Besar Syamsu Rizal (Kompas, 11/5). Padahal, di antara pemberi keterangan itu ada tersangka dalam skandal mafia pajak yang melibatkan Gayus HP Tambunan, bekas pegawai golongan III A Direktorat Jenderal Pajak.

Membungkam Susno

Sulit dibantah, dalam kurun hampir satu tahun terakhir, Susno menjadi sosok sentral yang kontroversial dalam rimba penegakan hukum di negeri ini. Setidaknya, skandal cicak versus buaya membuka mata banyak orang bahwa Susno tidak peduli dengan tekanan publik bahwa kriminalisasi atas pimpinan KPK, Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah, akan menjadi langkah mundur dalam memberantas korupsi. Namun, setelah diberhentikan sebagai Kepala Bareskrim Polri, keterangan di depan Pansus Century sedikit menyadarkan publik bahwa Susno bukan merupakan lapis pertama pengambil keputusan kriminalisasi atas Bibit-Chandra.

Seperti ingin menebus ”dosa” dalam skandal kriminalisasi atas Bibit-Chandra, Susno mulai memberikan keterangan yang mengagetkan banyak orang, di antaranya pengakuan Susno tentang praktik mafia hukum di lingkungan Mabes Polri. Pengakuan Susno itu menimbulkan guncangan hebat di Mabes Polri yang merambat begitu cepat terutama setelah Susno menyebut skandal pajak yang melibatkan Gayus HP Tambunan. Tidak berhenti sampai di situ, Susno mengemukakan sejumlah nama yang disebutnya sudah malang melintang menjadi makelar kasus di Mabes Polri. Misalnya, nama Sjahril Djohan tidak akan dikenal secara luas sekiranya Susno tidak menyebutkan inisial nama tersebut.

Bisa jadi, sejumlah keterangan yang diucapkan Susno berembus kencang sehingga menimbulkan hawa panas di lingkungan Mabes Polri. Bahkan, bukan tidak mungkin udara panasnya mulai menerobos pintu kekuasaan lain. Karena itu, mulut Susno harus dibungkam. Cara yang paling tradisional yang pernah dilakukan adalah memberikan tekanan psikologis kepada Susno. Sebagai bagian dari upaya itu, Susno dijemput paksa di Bandara Soekarno-Hatta ketika hendak berangkat ke luar negeri. Namun, langkah penjemputan paksa tersebut tidak dihitung secara cermat oleh Mabes Polri. Karena itu, tidak hanya gagal memberikan tekanan terhadap Susno, tindakan Mabes Polri itu justru dikecam berbagai kalangan. Sejak kejadian itu, dukungan publik kepada Susno cenderung semakin meluas.

Setelah gagal dengan cara tersebut, Mabes Polri berupa membuka rekam jejak Susno. Ketika pilihan sampai pada pelacakan rekam jejak, hampir dapat dipastikan sulit menemukan seorang petinggi polisi yang tanpa kesalahan sama sekali. Jika ditemukan kesalahan, sesuai dengan Pasal 21 Ayat (1) KUHAP, penahanan terhadap seorang tersangka dapat dilakukan karena diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup.

Sebagai orang yang pernah menduduki jabatan tertinggi di Bareskrim Polri, langkah menahan Susno dapat dikatakan sebagai pilihan yang tidak bijak. Apalagi, dugaan menerima suap Rp 500 juta dalam penanganan kasus PT Salmah Arwana Lestari merupakan kasus yang dicari (-cari) setelah Susno menyuarakan praktik mafia di lingkungan Mabes Polri. Kalaupun ada bukti yang cukup, status tersangka rasanya sudah cukup diberikan kepada Susno. Mengapa harus ditahan?

Mungkin dikhawatirkan status hukum tersangka tanpa diikuti penahanan tidak akan mampu membungkam mulut Susno. Sesuai dengan jabatan yang pernah dipegang, membiarkan Susno terus-menerus berbicara kepada publik tidak hanya akan mengancam Mabes Polri dan Ditjen Pajak, tetapi juga berpotensi mengancam pusat kekuasaan yang lain. Sebagai mantan Kepala Bareskrim, Susno pasti punya banyak informasi dan catatan tentang peristiwa yang terjadi selama sekitar dua tahun terakhir, termasuk skandal Bank Century dan kekisruhan di sekitar penyelenggaraan Pemilu 2009, terutama menyangkut daftar pemilih tetap.

Dukungan publik

Ketika skandal mafia pajak terkuak ke publik, Presiden Yudhoyono memerintahkan untuk membongkar semua praktik mafia hukum yang terjadi. Namun, amat disayangkan, perintah itu hanya menjadi respons sesaat Presiden. Padahal, publik ingin mengetahui bagaimana langkah yang dilakukan Presiden, terutama di tempat-tempat yang ada hubungannya dengan pengakuan Susno. Bentuk langkah konkret Presiden yang ditunggu adalah bagaimana mengoptimalkan pengakuan Susno untuk membongkar mafia di lingkungan perpajakan dan kepolisian.

Karena sumber informasi berasal dari Susno, diharapkan Presiden akan memberikan proteksi kepada Susno sepanjang mantan Kepala Bareskrim Polri itu punya keinginan baik untuk mengungkapkan semua informasi yang ia ketahui. Namun, jangankan proteksi, justru Susno yang semakin berada dalam ancaman. Padahal, sekiranya ada keingian amat kuat, pengakuan Susno dapat dijadikan titik awal membongkar kotak pandora praktik mafia hukum di Mabes Polri dan kemungkinan jejaring mafia hukum yang terkait dengan Polri.

Namun, dengan posisi strategis yang pernah dimiliki Susno, harapan Presiden untuk memberikan proteksi kepada Susno terasa terlalu muluk. Sebaliknya, proteksi politik yang dijanjikan DPR (Kompas, 12/5) diharapkan dapat tetap memberi kekuatan kepada Susno untuk mengungkap mafia hukum. Apalagi Susno pernah menyatakan bahwa mati pun ia tidak takut.

Sekiranya Susno mau mengungkapkan semuanya, potensi dukungan publik bisa lebih besar dari apa yang pernah diberikan kepada Bibit-Chandra. Percayalah, sekiranya dukungan publik berhasil diraih, Istana pun tidak akan mampu menghalanginya. Karena itu, ini saatnya Susno bicara untuk membongkar semuanya.
Saldi Isra Guru Besar Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang

Tuesday, March 9, 2010

Sri Mulyani, Bisma, dan Panakawan

Bagaimana menerawang Sri Mulyani Indrawati dari kacamata panakawan?

Misalnya, melalui sudut pandang Gareng yang selalu kritis, tetapi tanpa vested interest apa pun, sejatinya Menteri Keuangan itu wujud nonfiksi tokoh fiksi Dewi Drupadi yang pernah dipermalukan di depan umum, tetapi ditegakan saja oleh Sang Bisma. Bisma adalah tokoh paling berkuasa di wilayah dan saat tragedi itu berlangsung.

Sebaliknya, dengan sudut pandang Bagong yang tampak lugu tetapi berpikiran mendasar, kita tak perlu menghabiskan waktu buat bertanya-tanya. Mbak Ani belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Drupadi. Mbak Ani baru disebut-sebut namanya dalam suatu skandal keuangan. Orang Semarang ini baru fotonya saja yang diberi taring mirip drakula atau diberi kacamata hitam sebelah mirip perompak.

Aib yang disandang Drupadi jauh lebih besar dan nyata. Di depan Bisma yang diam mematung, putri Kerajaan Pancala ini sungguh-sungguh secara fisik dikoyak-moyak pakaiannya, dan ramai-ramai ditelanjangi di depan umum.

Demikian kira-kira perbedaan sulung Gareng dan bungsu Bagong dalam menelaah Sri Mulyani atas dasar pakem wayang.

Cuma wakil

Gareng matanya juling. Tatapannya ke seantero. Itu pertanda ia kritis, awas, bila perlu curiga tetapi tanpa sinisme terhadap segala hal di sekitarnya. Bagong matanya terus memelototi dunia dan keningnya siap menyeruduk masalah, tetapi tengkuk dan lehernya luruh. Itu perlambang ia selalu menggugat, tetapi sekaligus pasrah terhadap kehidupan.

Selain bermata juling ke seantero pertanda awas, Gareng juga berkaki pincang. Ini pertanda ia berhati-hati dalam melangkah ataupun bersikap. Sejak awal pembentukan Pansus Century, Gareng sudah terheran-heran. Mengapa partai besar yang semula alot dan menolak pembentukan Pansus tiba-tiba menyetujuinya sehingga Pansus itu terbentuk dengan suara nyaris aklamatif? Mungkinkah karena mereka yakin bahwa toh pada akhirnya kesimpulan Pansus bisa mereka belokkan entah redaksionalnya entah substansinya sehingga telunjuk Pansus paling banter cuma mampu menuding menteri dan yang setaraf?

Mungkinkah karena mereka juga yakin jika pun redaksi dan substansi itu tak dapat mereka goyang-goyang, toh tindak lanjutnya masih bergantung pada aparat penyidik yang bisa (disetel untuk) mengatakan bahwa aparat hukum itu tak terikat hasil kerja Pansus, temuan Pansus hanyalah temuan politik, bukan temuan hukum?

Bagong tak akan membuang waktu seperti Gareng. Si bungsu yang sosoknya berupa kanak-kanak abadi itu, yakni perlambang betapa lugu tetapi betapa mendasarnya setiap pertanyaan ataupun pernyataannya, akan melihat respons aparat hukum itu sebagai hal yang wajar belaka.

Bagong akan berkata, ”Terang saja aparat hukum tidak takut kepada DPR. Mereka juga tidak merasa terikat, atau sedikitnya tidak sungkan kepada DPR karena DPR memang bukan rakyat. DPR itu cuma wakilnya. Wakil, ya, lebih rendah daripada yang diwakilinya, yaitu rakyat, pemegang kedaulatan tertinggi di Tanah Air.”

Bisma dan Semar

Bagong suka ngotot kepada pendapatnya yang polos, tetapi mendasar. Konon, karena Bagong dipercaya berasal dari kata Arab bagho ”suka membantah”. Gareng yang dipercaya berasal dari kata ghoiron, ”yang berbeda”, selalu ingin melihat hal-hal yang berbeda dibandingkan dengan yang kasatmata. Petruk, dipercaya dari fatruk ”yang meninggalkan”. Ia sudah berani melampaui topik ataupun tema yang kerap menjadi perhatian Bagong ataupun Gareng. Maka, Petruk digambarkan tubuhnya serbalonggar dan tersenyum senantiasa, pertanda semeleh.

Bagi Petruk, dalam kasus Century dan Sri Mulyani, atau konflik Pandawa-Kurawa dan Drupadi, yang menarik perhatiannya bukan Sri Mulyani ataupun Drupadi. Petruk sudah melampaui itu. Petruk sambil tersenyum akan bertanya mengapa Bisma yang secara spiritual bertanggung jawab, kok, diam saja melihat Drupadi di-kuyo-kuyo?

Leluhur wayang mengajarkan: semua panakawan (kawan yang menerangi, karena pana, bukan puna seperti salah kaprah, berarti terang), sekaligus terkandung di dalam pribadi setiap orang. Di dalamnya termasuk Semar. Semarlah yang menjadi moderator perdebatan Gareng, Petruk, dan Bagong, termasuk ketika ketiga panakawan ini memperbandingkan Sri Mulyani dan Dewi Drupadi.

Bagi Semar, debat tak perlu dilarut-larutkan. Pekerjaan konkret masih banyak. Toh, sudah jelas dalam kasus Drupadi bahwa yang salah adalah Bisma. Tokoh paling berkuasa ini diam saja ketika seorang perempuan yang mestinya berada dalam tanggung jawabnya ditelanjangi di muka umum.

Bagi Semar, Bisma tidak gugur oleh Srikandi yang kesusupan Dewi Amba saat Bharatayuda sebagaimana khalayak wayang terkecoh. Itu hanya kematian fisik. Jiwa Bisma sudah mati jauh sebelum itu, yakni saat ia lepaskan tanggung jawabnya untuk melindungi perempuan teraniaya bernama Drupadi.

Sujiwo Tejo Dalang. [Kompas, 3/3/10].

Thursday, February 4, 2010

Cinta Pertama dan Terakhirku

Sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih

sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

reff:
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku

sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini

sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

repeat reff

bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku