Monday, December 7, 2009

Mikul Duwur Mendhem Jero

AYAH kenalan lama saya belum lama ini meninggal, Saya memutuskan untuk datang melayat. Kawan saya itu dulu pernah sekuliah kemudian entah bagaimana dia sukses menaiki jenjang karier berhasil menjadi seorang direktur di satu departemen yang renes bin basah.


Sumpah, bukan karena dia direktur dan priyagung yang begitu penting maka saya memutuskan untuk melayat. Saya melayat karena dia adalah seorang kawan yang sedang kesusahan. Juga karena dulu semasa kuliah, hubungan kami lumayan akrabnya. Bahkan sekali dua kali saya pernah diajak menginap di rumah orang tuanya di satu desa di lereng Gunung Merapi yang subur. Sering kali saya mengenang hari-hari yang menyenangkan menginap di rumah orangtua yang ramah dan sederhana itu.
Rumahnya tidak berapa besar, dari kayu, berpotonqan Limasan sederhana. Pekaranqan rumahnya juga tidak berapa besar, ditumbuhi pohon buah-buahan: Jambu kaget, mangga arum manis, dan duwet hitamnya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Juga suasana yang adem dan teduh dari rumah itu serta sayur lodeh dan sambel terasi yang dihidangkan di meja makan mereka masih sering dengan jelasnya menyusup dalam kenangan saya.
Orangtua itu, sungguh pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan bahagianya. Pilihan pekerjaan yang berbeda serta tempat bertugas, yang berjauhan, dia di ibu kota saya dipedalaman, telah memisahkan saya dan kenalan itu hingga bertahun. Dan dengan itu juga hubungan saya dengan orangtuanya di desa yang Indah itu. Tentu sekali-sekali saya membaca berita-berita tentang dia di surat kabar dari melihat wajahnya di layar televisi. Juga satu dua kali pernah bertemu di resepsi ini dan itu di Jakarta atau di pesta perkawinan di Yogya.

Setiap bertemu yang sebentar-sebentar begitu tentu kami bertukar salam akrab, saling berjanji untuk saling mengunjungi denqan keluarga kami bahkan juga untuk naik gunung ke rumah orangtuanya. Tetapi, kerja dan karier memanq bisa kejam sekali. Mesin tempat kami bekerja tidak pernah mengizinkan kemewahan-kemewahan kecil seperti berkunjung ke rumah kawan berjalan dengan mulus. Sayur lodeh, sambel terasi, jambu kaget, duwet hitam adalah ornamen-ornamen kecil yang, agaknya tidak relevan dengan efisiensi mesin. Maka, begitu saya mendengar bahwa orang tua itu meninggal, saya putuskan untuk melayat ke desa bagaimanapun susah dan rumpil jalan ke sana.

JIP tua, reyot dan knalpotnya yang gemuruh suaranya itu, dengan terengah-engah mendaki tanjakan terakhir menuju desa tersebut. Mr. Rigen yang sebentar-sebentar mendesah dan melenguh karena kondisi mesin dan knalpot jip yang rawan itu harus saya akui, adalah seorang sopir amatir (karena menurut dia belum "propesi" yang cekatan dan tangkas. Tikungan-tikungan jalan yang mendaki dia lahap bagai sopir taksi di Beirut. Tiba-tiba, pada jarak satu kilometer dari desa tujuan kami, jalan itu menjadi jalan yang beraspal mulus sekali. Ini bukan kondisi jalan yang dulu beberapa kali saya lewati. Kemudian kira-kira limaratus meter dari batas desa, kami melihat mobil-mobil berplat AB, B, H, AD, L dan entah apa lagi berderet di pinggir jalan. Mercedes, Volvo, dan segala merk mobil Jepang terwakili pada deretan itu. Juga selain mobil jenazah yang super de lux saya melihat tiga bus Hino berderet dengan megahnya.

Waktu, saya turun memasuki halaman rumah mulut saya nyaris otomatis ternganga lebar. Betapa tidak, halaman rumah yang dulu penuh dengan pohon jambu kaget, mangga Harum manis, dan duwet hitam itu sudah berubah. Di halaman itu sekarang tumbuh pohon-pohon sawo kecik yang megah yang mengingatkan saya pada rumah-rumah bangsawan di jeron beteng di kota. Dan rumah itu Astaga! Lenyap sudah rumah kecil sederhana berpotonqan Limasan itu. Sekarang, dihadapan saya berdiri satu rumah besar, megah, beratap sirap dengan pendopo joglo. Tiang-tiangnya berukir Jepara di
pinggirnya diplipit prada yang kemilau. Kemudian saya baru menyadari keadaan di pendopo itu. Jenazah itu terletak dt tengah, dikepung oleh karangan-karangan bunga. Kemudian saya lihat teman saya itu berbaju surjan sutra hitam lengkap dengan kain dan blangkon gaya Mataraman. Begitu juga saya lihat kaum kerabatnya. Baik yang lelaki maupun perernpuan semua berpakaian daerah lengkap berwarna hitam. Lalu saya mendengar suara kaset gamelan mengalunkan lagu Tlutur yang menyayat hati. Kawan saya, dan istrinya dengan tergopoh menyambut kedatangan saya. Kami berangkulan. Sejenak, untuk beberapa detik, saya tercekam keharuan. Berapa tahun sudah sang waktu dan sang mesin birokrasi telah mengasingkan kami. Tetapi, aneh sekali waktu saya lihat matanya yang basah karena air mata itu, kok saya tidak menangkap signal kesedihan melainkan justru sinar kebanggaan. Dan seakan dia bisa membaca rasa ngungun saya dia pun berkata.

"Yah, cuma beginilah, Mas, yang bisa saya lakukan memuliakan orangtua saya."
Saya manggut-manggut sembari berjalan digandeng masuk ke deretan kursi kehormatan dekat pringgitan.
"Orang Jawa bilang anak laki-laki itu harus bisa mikul duwur, mendhem jero, memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam. Sebisa-bisa saya itu sudah saya laksanakan. Kau lihat rumah ini sudah saya sulap menjadi rumah begini."
“Wah, ini rumah bupati zaman dulu, Dik."
“Yak, ya belum, Mas…. Baru mencoba mendekati. Upacara pemakaman ini sengaja saya bikin megah. Supaya Bapak marem. Semua rekan-rekan di kantor kanwil di tiga propinsi saya datangkan untuk membuat suasana ini khidmat tapi regeng.
Ya, lumayan to, Mas, kalau dilihat banyaknya tamu dan banyaknya mobil yang datang. Yah, biar, biar Bapak lega dan marem di hari akhirnya.
Kau masih ingat kan bagaimana sederhana bapak saya itu. Terus nenuwun, puasa Senin-Kemis,
ngrowot dan entah apa lagi. Semuanya agar anak-anaknya bisa hidup mulyo.
Yah, berkat tirakat itu kau lihat sendiri to, Mas. Saya dan adik-adik slamet meniti karier."
Huwih, lumayan ..... ? Kalau ini lumayan terus yang telah saya capai selama ini apa, dong?
Saya ,ngunandika dalam hati.

Waktu jenazah diberangkatkan lagu Tlutur yang sedih itu justru berhenti. Diganti dengan Lagu Gleyong. Saya terpana. Lagu Gleyong? Bukankah lagu itu lagu yang biasa dimainkan ki dalang untuk mengiringi Prabu Suyudono kalau jengkar kedaton? Iring-iringan mobil yang mengiringi mobil jenazah ke arah selatan kota itu telah mengegerkan desa-desa yang kami lalui. Sungguh satu peristiwa dahsyat dan mengagumkan bagi penduduk.

Suara sirene mobil meraung-raung di jalanan pedesaan yang sepi itu. Mobil berpuluh beriringan. Bus-bus. Dan bunga-bunga yang disebar-sebarkan dengan uang receh lima puluh sen yang entah berapa jumlahnya.
JIP kami tertatih-tatih ingin mencoba mengikuti laju iringan mobil-mobil itu. Suara mesinnya kemrosak, suara knalpotnya gemuruh, tetapi larinya kok terpincang-pincang. Waktu masuk kota di jalan Magelang tiba-tiba terdengar grobyak ! Knalpot itu patah dan jatuh berguling. Mr. Rigen menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Knalpot yang terkapar di jalan itu dipungutnya dan ditunjukkannya kepada saya. Saya tersenyum karena knalpot itu mengingatkan saya pada patung Seni Rupa Baru. '

"Mr. Rigen, enaknya kita istirahat di warung soto depan situ. Nututi iringan mobil itu juga percuma Setuju?"
"Siiip, Boss....."
"Dapurmu ....."
Sambil menyruput kaldu soto yang encernya seperti air kali Code itu saya jadi minder ingat kemegahan upacara pemakaman hari itu; Memang kawan saya itu priyagung yang hebat. Punya roso darma yang cangglh. Dibanding dengan itu pemakaman ayah saya tempoh hari, wah, kok sederhana dan polos saja.

Masih terngiang di telingaku dan terbayang mukanya yang penuh khidmat waktu bilang : mikul duwur; mendhem jero ...

By : Umar Kayam
28 Juli 1987