Thursday, October 29, 2009

Dunia Akan Kiamat .... Segera !

PERTEMUAN khusus para pejabat tinggi negara berlangsung
serius. Malah terbilang tegang. Tema pembahasan adalah lingkungan hidup. Para peserta pertemuan mengerutkan kening sembari sebagian geleng-geleng kepala mendengar uraian
dua orang pejabat negara yang sedang memberi presentasi.

Pejabat pertama yang memiliki otoritas di bidang lingkungan, berbicara sekitar satu jam lebih. Ia tampil dengan slide gambar-gambar yang mengerikan tentang rusaknya lingkungan hidup dunia. Berbagai rupa wajah lingkungan kita disorot. Mulai dari sungai yang tercemar oleh limbah yang menyebabkan berbagai penyakit dan membahayakan kehidupan manusia dan binatang-hingga punahnya terumbu karang. Sang pejabat seolah tidak memberi waktu hadirin untuk berkedip. Ia menguraikan bahwa dunia sekarang memang sungguh-sungguh dalam keadaan terancam oleh bahaya kerusakan lingkungan hidup. Katanya, "akibat ulah manusia, berbagai penyakit baru muncul karena udara yang dihirup sehari-hari, tidak lagi sehat. Pernapasan terganggu secara signifikan dan membawa berbagai jenis penyakit."
Malah, lanjutnya lagi, makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum sekarang ini, juga sudah tidak bebas dari pencemaran, yang pada gilirannya akan membawa penyakit. Semua ini membuat kita tidak punya pilihan lagi, harus siap menyambut malapetaka dunia. Singkatnya, beragam rupa aspek lingkungan dijelaskan. Semuanya mengarah kepada kesimpulan: dunia dalam bahaya. Kehidupan umat manusia bakal habis. Kalau kita tidak secepatnya mengambil tindakan, dunia akan kiamat dalam waktu seperempat abad, tegas Sang Pejabat.
Pejabat kedua, yang memiliki otoritas di bidang kehutanan, mendapat giliran berikutnya untuk menyampaikan presentasi. Yang ini lebih mengerikan lagi. "Indonesia adalah paru-paru dunia, tetapi justru di Indonesia ini, kerusakan hutan yang paling parah. Semua itu terjadi karena penebangan yang semena-mena dan kebakaran hutan yang sulit diatasi,"

"Akibat dari semua itu", katanya lagi, "Segalanya jadi terpengaruh. Perubahan iklim global yang kini berlangsung, itu akibat, antara lain, tidak adanya lagi paru-paru dunia. Hutan kita, daratan kita, semuanya menunjukkan tanda-tanda gundul. Dan, ini adalah tanda bahaya bagi kehidupan manusia. Kita menyaksikan dari atas, hutan dan daratan kita sudah tidak hijau lagi. Air sungai, karena itu, berubah menjadi cokelat. Semua ini gara-gara ulah kita semua,"
Maka, menurut Sang Pejabat tersebut, kiamat dunia tidak lagi terjadi dalam waktu seperempat abad, tetapi sebelum itu.

Hadirin pun, yang semuanya adalah pejabat negara, dibuat terkesima oleh kedua pembicara tersebut. Kelihatan sekali wajah tegang para pejabat yang hadir, yang diikuti dengan menarik napas panjang sekali. Di tengah suasana yang tegang itu, JK tiba-tiba minta bicara

"Anda berdua yang bicara tadi, keterlaluan juga. Mengapa Anda tidak mengatakan saja, dunia akan kiamat besok, sebelum matahari terbit," kata JK dengan senyum.
Hadirin pun langsung tertawa semua: Geeeeeer. Napas hadirin yang tertahan selama presentasi tadi, langsung keluar. Wajah hadirin pun, langsung berubah jadi cerah. Sejumlah hadirin saling melirik dan geleng kepala menyaksikan JK mengubah suasana tegang, jadi segar.
Kata JK, "Kalau warna hijau saja yang menentukan kiamat tidaknya dunia ini, maka, Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia, sekian ratus tahun yang lalu, mestinya sudah kiamat, karena di sana tidak ada warna hijau. Kan tidak ada pohon di sana. Yang justru terjadi, di Saudi, segalanya jadi kecokelatan karena padang pasir. Kalau di Indonesia, kan hanya sebagian sungai kita yang cokelat. Di Saudi, semua cokelat. Dunia toh tidak kiamat sampai sekarang,"

"Coba, ya, kalau Anda terbang di atas India, ada ndak pohon hijau yang Anda lihat. Kan tidak ada. Lebih lagi jika Anda terbang di Atas Saudi Arabia, kan hanya padang pasir. Sama sekali tidak ada pohon. Bandingkan kalau Anda terbang di atas negeri kita. Kan masih hijau semua. Bahwa di tengah yang hijau dan rimbun itu ada bolong-bolong, ya, kita memang akui. Tetapi tidak seseram yang Anda semua katakan itu. Yang bolong itu perlu memang kita tanami segera."

"Soal negara-negara lain menyorot kita, jawabannya sederhana, Katanya, negara kita adalah paru-paru dunia. Kalau begitu, semua negara yang membutuhkan udara segar dari hutan kita, ya, harus bayar dong ke kita. Mintalah mereka memberi pembayaran agar napas mereka bisa baik. Pembayaran itu kita pakai untuk memperbaiki hutan kita. Kalau hutan kita adalah paru-paru mereka, ya, mereka harus memelihara paru-paru itu. Jangan mereka hanya tahu menyorot dan marah. Yang membeli kayu dari hutan kita, kan mereka juga. Jadi, jangan selalu menyalahkan bangsa sendiri. Itu tidak bagus. Kita harus jaga martabat bangsa, dong," lanjut JK dengan rileks.

"Mengenai Amerika, Eropa Barat, dan Kanada yang rewel menyoroti kondisi hutan kita yang mulai kurang hijau lagi, ini juga tidak fair. Saya mau tanya Anda semua: apakah Amerika, Kanada dan Eropa Barat itu, selalu hijau sepanjang tahun? Mereka itu kan hanya hijau sekitar empat bulan toh? Selebihnya, malah seluruh pohon sarna sekali tidak punya daun, tinggal batang dan dahan saja selama musim rontok. Bahkan, mereka itu kan untuk beberapa bulan, hanya putih saja, karena salju. Jadi, mereka juga tidak hijau sepanjang tahun,"

"Coba lihat negeri kita ini, sepanjang tahun, 12 bulan, kan semua pohon hijau terus. Tidak pernah ada pohon kita yang kehilangan daun. Ayo, di mana ada pohon kita tanpa daun?" tanya JK.

"Jadi..," lanjut JK lagi, "tidak perlu kita ketakutan bahwa dunia akan kiamat karena kita yang mengiamatkannya. Juga tidak perlu kita selalu menyalahkan bangsa sendiri. Yang penting, mari kita semua konsentrasi menghidupkan kembali program penghijauan kita dan memperketat enebangan liar dan penyelundupan kayu. ltu yang harus kita kerjakan sekarang,"

"Insya Allah, dunia belum kiamat karena ada pohon yang kurang hijau. Dan kepada kedua pejabat yang memberikan presentasi tadi, harus meyakinkan dunia internasional, terutama yang senang menyalahkan kita, agar mereka juga memberi fee ke kita sebagai biaya memelihara paru-paru dunia. Jangan hanya pintar menyoroti tapi tidak mau mernbayar;" tegas JK.*

Sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin