Wednesday, March 18, 2009

Status

MISTER RIGEN yang bukan hanya berpangkat direktur jenderal dari kitchen cabinet saya tetapi juga komandan satpam rumah dan sewaktu-waktu juga sopir pribadi, pada suatu hari mengeluh kepada saya.
"Wah, Pak. Knalpot jip itu bocor lagi. Suaranya nggegirisi seperti mobil balap anak-anak muda."
"Ya malah keren to, Gen . . . . .
"Ayak, Bapak, ki. Jip sudah butut begitu mbok diganti saja Pak."
"Hus, jipnya embahmu apa. Seenaknya diganti. ltu jip negara. Kalau sudah ambrol baru boleh diganti, tahu.Tur negaranya baru prihatin tidak punya duit."

"Lha, ya, negara. Maksud saya Bapak mundut ngredit mobil sendiri. Wong bapak-bapak lain sudah pada ngredit begitu kok. Malah ada yang sudah jreng apa, lho."
"Ya, ben, Gen. Wong saya ini tidak mampu ngredit. Apa lagi jreng. Tangeh lamun. Lha, yang mau dipake ngredit dan jreng itu apa to, Gen, Gen. Wongkamu tahu gaji tuanmu ini berapa."
"Lha, ya, gaji: Sepakan seminar-seminar. Bapak blebar-bleber ke mana-mana itu mosok tidak cukup to, Pak."
"Oh .... kowe tak sepak pisan! Blebar-bleber. Kamu kira banyak to duit blebar-bleber itu? Ora, kamu kok tiba-tiba begitu getol mendesak saya ganti mobil baru itu kenapa?"
"Ya, tidak apa-apa, Pak. Begitu saja usul. Ee, kan ya saya ini ikut senang dan mongkok, to Pak, kalo Bapak punya mobil sendiri yang keren. Catnya mulus.Suara mesinnya tidak kemrosak seperti lampor. Pintunya halus kalau ditutup mak beup tidak glodakan seperti pintu bui. Dan kalo Ibu sama putri-putri rawuh dari Jakarta mau ameng-ameng kan ya lebih pantes, lebih grengseng kalo mobilnya baru, to, Pak."

"Wis, wis, nyapu latar sana. Omonganmu mulai manas ati."
Mr. Rigen tersenyum klejingan pergi menyambar sapu terus ke halaman depan. Waktu suara sapunya kedengaran krek-krek saya tersenyum sendirian. Ngunandika. Lha, ya, wong namanya wulu cumbu. Kalau tidak memasukkan input pikiran yang cemerlang tetapi gendeng bukan wulu cumbu namanya .....

SEMINGGU kemudian waktu sava sedang leyeh-leyeh di lincak bambu tutul bikinan Salam, Mr. Rigen datang bersama koleganya anggota kitchen cabinet dari blok lain. Menurut Mr. Rigen majikan kawannya itu sekarang sedang bingung mau melego mobil kreditannya, yang baru berumur satu bulan. Masih kinyis-kinyis baru, kata Mr. Riqen. -
"Lha, Bapakmu kok mau melego mobilnya kenapa, to?"
"Lha, ya itu, Pak. Bapak saya itu sambat, mengeluh cicilan yang dicengklong dari gaji tiga bulan itu kok terasa makin berat."

"Lho, lha apa sebelumnya itu tidak diperhitungkan, to?"
"Dulu Bapak saya itu kan banyak proyeknya. Kecil-kecil tapi renes, ada saja proyek ini dan itu. Sekarang nggak tahu kok mak tel Bapak tidak pernah blebar-bleber terbang ke Jakarta,
Medan, Banjarmasin, Menado dan entah ke mana lagi. ",
"Saya tersenyum merasa mendapat kawan sepenanggungan kena krisis proyek. Memang negoro sekarang baru sepi ing proyek rame ing utanq,"
"Terus, kersane Bapakmu itu apa sekarang?"
Mr. Rigen yang dari tadi diam saja terus dengan sigap menyahut.
"Ya, Bapak ambil oper saja. Masih bagus lho, Pak. Corolla DX warna biru endog asin. Cukupan untuk keluarqa kecil ..."
"Eessyy, gundulmu kayak endog asin. Lha, terus Bapakmu itu mau melego ke mana? Saya kan tidak punya duit."
"Ya kalo bisa kepada bapak-bapak di kompleks sini, Katanya teman sendiri, tur tidak nyolok mata Kalo dijual keluar kompleks" wah, malu-maluin kata Bapak saya."
"We, lha. Wong uang uangnya sendiri kok malu."
"Rupanya Bapak dan Ibu saya itu sekarang sedang butuh betul, lho, Pak-Soalnya Ibu itu sudah terlanjur janji mau membelikan Den Rara orgen kalo ketrima di ngGajah Mada."
"Lha, apa sudah pasti Den Rara-mu itu ketrima di Gama?"
"Ya, belum, Pak. Tapi bolehnya nggregik, mendesak-desak Ibunya itu sudah sejak tahun Dal."

dialog pagi itu saya tutup dengan permintaan penyampaian penyesalan yang sangat kepada kolega di blok X tidak dapat nolong ngoper mobil apalagi mencarikan orgen . . . .

WAKTU pulang rutin ke Jakarta, rumah di Cipinang itu terasa kosong dan sepi. Saya bangga melihat rumah itu. Dengan ngakaknya saya berkata kepada keluargaku yang sedang pada nglessot di depan televisi. '

"Ini, Iho, rumah intelektual sejati Kosong, sepi, nggak ada apa. High thinking plain living. Berpikir canggih, hidup prasaja."
Istri dan anak-anak saya termasuk menantu pada melongo melihat saya tiba-tiba bekoar begitu. '
"Nggak sari-sarinya, Babe pidato, lho."
Si Gendut, si tukang meledek mulai menembak.

"Hus, diam dulu kau. Ini penting punya semboyan seperti itu. Gandhi yang mulai dengan semboyan itu. Kan sekarang sedang prihatin."
Rupanya sore itu bukan sore yang tepat buat pidato kesederhanaan, Si Gendut kencana wingka saya yang wuragil menuntut makan-luar di hotel karena sudah berbulan-bulan tapa brata hidup dari ujian tes ke ujian tes.
Dan tuntutan itu rupanya seeara aklamasi sudah disiapkan dan disetujui, oleh seluruh rumah. Hak veto saya pun tidak mungkin mempan dalam keadaan seperti begitu. Maka tidak ada jalan lain daripada ikut mereka. Untung di kantong ada tambahan dua kali honor kolom ini. Kalau tidak .....

Di Hotel Aryaduta,coffee shop Itu baru selesai dipugar. Interiornya jauh lebih indah dan mewah dari sebelumnya. Musik klasik ringan pelan mengalun. Bau uap kopi nescafe, keju
lasagna lewat membelai hidung dan wajah keluargaku yang selalu .... hidup sederhana kelihatan gembira tetapi serius sekali melahap pesanan mereka. French soup, Lembang salad dengan. dressing thousand island, . lasagna, pizza,. roast beef open sandwich, beef steak medium rare .....

Saya tersenyum ingat betul angka-angka yang tertera di menu. Tidak mengherankan kalau suara yang terdengar waktu saya mengunyah roast beefku berbunyi: status, status, status status .....

Oleh : Umar Kayam dikutip dari Kedaulatan Rakyat