Wednesday, March 18, 2009

Semeleh

Bulan Syawal sudah agak lama lampaudan bulan Dulkangidah pun sudah dekat pertengahannya. Bekas luka-Iuka pesta reriungan keluarga bulan Syawal sudah mulai sembuh, mungkin sebentar lagi luka-luka baru (luka-luka rutin bulanan) akan segera hadir. Tidak apa. Pegawai negeri sudah selalu ditempa untuk menderita luka ini atau itu setiap bulannya. Luka rutin bulanan itu sudah diterimanya bagai bagian esensial dari hidupnya sehingga bila ada satu bulan berjalan mulus tanpa luka, mungkin justru akan membuatnya shock berat. Kemulusan memang bukan nyamikan-nya setiap sore waktu minum teh. Justru kejutan-kejutan kecil adalah menu santapannya setiap hari.

Maka dengan penuh percaya diri saya melangkah masuk ke pertengahan bulan Dulkangidah.. Good bye Syawal yang indah tetapi yang telah mendedel-duwelkan kantongku. Welcome Dulkangidah, datanglah luka baru apa pun itu bentukmu :
Hari Minggu. Perintah harian pertama untuk hari itu sudah saya jatuhkan.

"Beni. Cegat Lik Joyo penggeng eyem. Suruh masuk ke sini"
Beni memandang saya. Matanya yang bulat indah itu menatap dengan ngungun terheran-heran. Sepertinya dia mendengar suatu perintah tugas yang sangat absurd. Mungkin karena sudah lebih satu bulan tidak pernah mendengar perintah semacam itu. Waktu akhirnya perintah itu tercerna di otaknya mulutnya segera melepas senyum. Jempolnya segera diacungkannya.

"Dud, Pak Ageng. Beli dud!"
Jenius keci!! Celat begitu lidahnya sudah berbahasa Inggris, lho. Dan dia pun berlari ke pinggir ialan menunggu suara penggeng eyem. ,

Pak Joyoboyo penjaja door to door yang penuh energy meneriakkan penggeng eyem itu, datang mengelesot dengan mata berbinar. , , ' ,
"Wah, Den. Saya kira saya sudah dijotak, dibekot, tidak ditimbali lagi."
"Lho, kan saya bilang bulan kemarin bulan tempe. Nyirik Iwak."
"Ayak, nyirik iwak. Kok ada saja, lho. Tidak mungkin priyayi seperti njenengan cuma mau dahar tempe terus. Pantesnya ya wong cilik seperti saya ini to, Den."

Saya tercenung. Apakah ucapannya itu satu teknik salesmanship, cara menjaja, yang lihay, untuk merayu-gombal calon pembelinya. Ataukah itu pandangannya yang murni, yang melihat manusia dan makanannya dalam penyekatan kelas. Jadi, ada kelas priyayi dan wong cilik, ada kelas iwak dan kelas tempe. Huwih, awas Iho, ini bangsanya Marxisme juga,lho !
Kelas iwak, kelas tempe ....

"Sampeyan ltu bagaimana, to, Mas Joyo. Tempe itu makanan kita semua. Wong, enak tur gizinya tinggi. Nggak ada urusan priyayi dan wong cilik: Semua sama, pada-pada ..... "
"Estu, to, Den? Lha, kok nasib saya dari dulu kok beginiiii saja to Den ?

"Lho, jangan minder,begitu, Mas."
"Minder niku apa?"
"Minder ya minder. Niku, lho, cilik ati. Kenaan apa saja Itu terhormat, Mas. Jualan panggang ayam, dosen ngGajah Modo, sama-sama, Mas."
"Ayak, kok bisa lagi, to, Den. Gantian kerjaan apa, Den?
Situ yang jualan ayam, saya yang jadi dosen ngGajah Modo?"
Saya tertawa kecut. Mas Joyo terbahak keras. Kalau dia orang Perancis pasti akan bilang touche. 'Orang Jakarta bilang kene lu! Orang Yogya, awi, pripun saniki .... Untuk kesekian kali saya kagum terhadap ketangkasan Mas Joyo. Tangkas dalam menyambar paha dan dada mentok. Tangkas dalam retorika. ' -

"Saya ini sekarang sudah semeleh, kok, Den. Pasrah kersane Gusti Allah. Dikasih peranan panggang ayam, ya saya terima. Didapuk ketoprakan lainnya, ya nderek. Lha, njenengan yang sudah priyayi ngGajah Modo mestinya sudah lama semeleh, nggih?"

Dengan gesit paha dan dada mentok dibungkus cantik dalam lipatan daun pisang. Bau gurih manis bercampur harum daun merangsanqku untuk cepat-cepat sarapan pagi. Beni Prakosa menyerobot dua tusuk sate usus. Teriak-teriak di belakang memberi komando bapak-ibunya untuk menyiapkan makan paginya. Di meja makan, tanpa tunggu mandi dahulu saya siap melahap panggang ayam Mas Joyo. Dengan indahnya iwak-iwak ayam itu semeleh di piring di depanku.: Uap nasi hangat, harum ayam panggang. Suara cempreng' Mas Joyo di kejauhan, penggeng eyem, penggeng eyem. Oh, semeleh hatiku.

Oleh : Umar Kayam Dari Harian Kedaulatan Rakyat