Saturday, March 28, 2009

Ngalap Berkah Di Malam Suro

BAGI Mr. Rigen, yang kelahiran Pracimantara: itu, pastilah tidak ada kota yang melebihi Solo perkara keindahan, keelokan serta keorisinalan ide-idenya. Tentu juga bagi istrinya, Ms. Nansiyem yang kelahiran Jatisrana, Jalan protokolnya sejak dari Purwosari hingga Jalan Siamet Riyadi, lebar bukan main, Satu arah lagi. Yogya tidak punya jalan seperti itu, kata Mr. Rigen bangga. Makanan dan kehidupan malam? Oh, Yogya bukan apa-apa dibandingkan dengan Solo.

Suaml-istrl Rigen terus nyerocos. .
"Lha, bagaimana. Kehidupan malam Malioboro itu 'kan baru saja, Pak." .
"Yak, 'ya tidak to kalo baru saia. Dari dulu ya sudah ada."
"Ning kalah lama dengan Solo, Pak. Wong orang Solo itu suka kehidupan malam karena suka tirakat, kok, Pak",
"Weh, elok. Betul apa-Gen?' - .

"Eh, Lha,. inggih. Orang Solo itu suka jalan malam untuk nglakoni.Sambil jalan nenuwun kepada Sing Kuwaos. Jalan membisu merenung kaelokan-nya urip. Lha, kalo sudah capek jalan-jalan begitu berhenti minum dulu. Nyruput wedang. Makan nasi liwet Baki."
Kemudian sebagai layaknya orang, Solo pada umumnya, Mr. Rigen dengan disela dukungan mantap dari istrinya akan bercerita secara mendetil tentang rtwayat kehidupan malam di Solo beserta tempat-tempat jajanannya.

"Sega liwet Malioboro itu 'kan tiruan Solo. Itu pun tiruan yang jelek, Tidak gurih, tanpa areh yang putih mumpluk di taruh di atas sambel goreng jipang. Sing asli-itu ya sega liwet Baki itu, Pak. Lha kalo tindak Solo mau mencicipi itu di Keprabon. Yang kondang itu mBok Lemu. Makannya harus dari daun dipincuk. Atau Bapak mau dahar sate' kambing gaya Solo?
"Eh, kok kayak' kamu belum tahu saja, Gen. Aku ini 'kan bludrek, mana bisa sate kambing. ".
"Wah, sayang Pak. Sate kambing Solo itu elok-elok, lho.

Ada sate buntel Tambaksegaran. Ada sate warung Nyus dari Pak Man. Wah, pokoknya Solo itu .... "
Pokoknya bagi Mr. Rigen & family, Solo itu uber alles, di atas segalanya. Munqkin kebanggaan itu tidak terlalu berlebih-lebihan. Perdana Menteri Kruschev dari Uni Soviet pun pernah sangat terkesan melihat kehidupan malam Solo.' Komentarnya di Jakarta sepulang dari Solo: "Wah, orang Solo memang hebat. Kalau bekerja tidak kenal lelah hingga jauh malam.... "

PADA waktu malam Sura datanq saya kena terbujuk oleh Mr. Rigen dan kawan-kawan lain. Merayakan malam Suro itu ya mesti di Solo, kata mereka. Melihat arak-arakan pusoko Manqkuneqaran dan Kasunanan. Ikutmengarak kebo bule Kiai Slamet. Melihat lautan manusia. Nyruput wedang dongo dan mincuk, makan di pincuk, sega liwet di Keprabon. Dan , kalau masih belum puas wayang orang Sriwedari malam Sura itu mau pentas semalam suntuk. Opo ora elok? Begitulah, dengan jip saya yang antik itu berangkatlah kami keSolo. Sejak dari Tegalgondo yang masih kira-kira dua puluh lima kilometer dari Solo kami sudah melihat irinq-iringan manusia berjalan menuju kota. Mr. Rigen yang duduk di belakanq setir bertindak sebagai guide tur Internasional yang profesional. Tangannya menunjuk ke kiri ke kanan. Persis seperti guide luar neqeri yang sebentar-sebentar bilang to your 'left, to your right, you will see ... ', Dan kepala kita akan tingak-tinguk ke kiri ke kanan bagaikan kunyuk Gembira Loka,

"Orang-orang yang beririnqan itu, bapak-bapak, .adalah orang-oranq desa sekitar Tegalgondo sini. Mereka jauh-jauh berjalan ke kota mau ngalap berkah."
"Lha, ,ngalap berkah dari siapa, Gen?"
"Ya dari Kiai Siamet si kebo bule, dari pusoko-pusoko kraton, dari, Gusti Allah. Malam ini malam suci. Kudu jalan terus ' tidak boleh ngantuk, nanti ilang berkahnya. "" "
"Tidak boleh berhenti jajan wedang dan nasi liwet ?"
"Oh, ya boleh. Tapi kalo sudah keliling kraton."
Di Keprabon, waktu kami lesehan di tempat mBok Lemu menggelar nasi liwet-nya yang tersohor itu suasana malam Sura itu sudah tampil dengan hidupnya. Di antara kami sekelompok turis bule menglesot, mencoba mencicipi nasi liwet. Mantuk-mantuk menyatakan nikmatnya sega liwet, mbok Lemu. ,Mungkin takut dikatakan tidak punya roso canggih oleh kawan bulenya yang lain yang sudah lebih in .dengan dunia Solo. Semua deretan warunq di' jalan Keprabon itu penuh dijejali orang, jajan .. Lautan manusia berjalan memenuhi jalan rupanya baru pulang dari mengikuti prosesi pusaka keraton Mangkunegaran. Sambil menunggu Kiai Slamet dan pusaka keraton keluar dari keraton orang berjalan hilir mudik di sepanjang jalan Slamet Riyadi. Prosesi itu baru akan dimulai pada pukul dua belas malam .saat masuknva tahun baru Sura.

Sementara itu mereka yang datang dari segenap penjuru Surakarta akan menunggu dengan sabar. Menarik juga Menunggu datangnya sesuatu yang dianggap keramat dengan berjalan hilir mudik dan jajan duduk lesehan'mat-matan.
"Pusoko kraton yang dikeluarkan itu apa saja, Gen?"
"Wah, saya tidak tahu betul, Pak. Yang jelas pusoko!"
"Lho, kamu itu pemah lihat malam Sura begini apa belum sih?"
"Ya"sudah Pak. Cuma tidak pemah lihat jelas pusoko Itu.
Lha, wonq orang berjubel, suk-sukan, begini to, Pak.
Lagi pula tidak penting."
"Lho, tidak penting?" Saya kaget bukan main mendengar pernyataan Mr. Rigen....."
"Iya tidak penting, Tidak bisa lihat kebo bule Kiai Slamet juga tidak penting. Kalo bisa lihat ya sukur. Kalo tidak ya tidak apa-apa. Wong yang' penting itu bukan lihatnya itu, kok, Pak."
"Lha apanya dong; vang penting. Sudah jauh-jauh datang. Untel-untelan lagi. Tidak penting lihat pusoko dan Kiai Slamet."
"Lha, inggih yang penting itu hadir, kita di sini ini. Di tengah ombyaking rakyat, kawulo, Surokarto.

Di Sriwedari, kami menonton wayang orang yang malam itu memainkan Banjaran Srikandi, riwayat lengkap Srikandi. Jam, sudah menuniuk menjelang pukul empat subuh.
Sarworini primadona veteran yang sudah berumur 62 tahun itu ikut bermain lagi bersama rekan-rekan sesepuh yang lain. Luar-biasa! Dengan penuh gusto, energi dan seni aktingyang cemerlang, Sarworini memukau penonton waktu memainkan episode "Srikandi Edan". Begitu juga para sesepuh yang lain. Sepertinya pada malam itu'mereka mendapat suntikan kekuatan remaja yang baru, Ah, tentu saja! Malam itu malam Suro. Mereka yang sudah exit panggung pun mesti hadir malam itu. Hadir itulah yang penting. Maka bagi: kami pun yang tidak sempat. lagi melihat prosesi Kiai Siamet dan pusoko kraton karena terpaku lagi di dalam gedung wayang orang Sriwedari, tidak merivesal karena tidak hadir di dekat alun-alun, Kami sudah hadir bersama Sarworini, Listiorini, Darsi, Rusman, dan Surono di dalam gedung wayang orang itu. Mungkin kami sudah ikut ngalap berkah: juga dengan hadir semalam suntuk mengikuti riwayat Srikandi.

Tetapi, waktu akhimya saya duduk di dalam pesawat yang akan membawa saya dari lapangan terbang Solo ke Jakarta dan merasa mengantuk sekali, saya tidak terlalu pasti lagi apakah berkah itu sudah turun di pangkuanku.
Di dalam gedung, saya masih ingat saya pemah jatuh lelap untuk beberapa kali.

Oleh : Umar Kayam, sumber Kedaulatan Rakyat