Saturday, February 14, 2009

Never On Sunday

Beberapa tahun terakhir ini kondisi kesehatan saya kurang begitu prima. Dokter menasehati agar saya lebih santai. Umpama mobil begitu, saya tidak lagi digenjot di atas 100 km sejam.
Jangan ngoyo, Pak, nanti cepat tua, lho!”
“Yak, dokter kok klise begitu, Mbok yang lebih orisinil, Dok nasihatnya . . . . “
“Baik ! kalau you begini terus . . . nggak tahu, deh !”
“Yaa, masih ucapan klise dokter, tapi bolehlah, setidaknya lebih jelas, I get your message, doc!”

“Kalau puasa sekuatnya saja dulu. Pokoknya jangan ngoyo !”
Kali ini saya tidak lagi ngeledek “tidak orisinal”. Soalnya nasihatnya sangat kreatif lagi relevan dengan dengan rencana bawah sadar saya. (Menurut freud, bawah sadar memang punya rencana kok!) Rencananya, ya itu! Tahun ini pada bulan pasa 1987, atau Romadhon 1407 Hijriah, saya tidak akan mampu puasa penuh karena menurut roso tubuh saya akan nglemprek, loyo, kalau dipaksa puasa penuh. Lha, kok dokter memerintahkan pas seperti yang dimaui bawah sadar saya. Maka saya memutuskan untuk tidak akan puasa pada setiap hari minggu. Tiba tiba saya ingat nama yang bagus untuk program prei puasa pada tiap hari Minggu itu, Never On Sunday. Bagi mereka yang sebaya dengan penulis kolom ini mungkin masih ingat bahwa Never On Sunday adalah judul sebuah film yang pada permulaan tahun enam puluhan sempat terkenal. Film itu disutradarai oleh Jules Dassin dan dibintangi oleh Merina Mercouri, artis Yunani yang konon sekarang menjadi menteri kebudayaan di negerinya. Yang penting bagi saya bukan filmnya karena saya sudah banyak lupa adegan adegan ceritanya. Yang penting peristiwa pemutaran film itu dengan saya. Lho ! Bukan nyombong nih ye, Saya nonton itu di New York dengan Bung Karno, Pak Ali sastroamidjojo, salah seorang tokoh NU yang saya sudah lupa namanya, dan D.N. Aidit. Pada waktu itu Bung Karno datang dengan delegasi besar dan kami para mahasiswa dikerahkan untuk meladeni Bapak bapak itu. Pekerjaan con amore alias gratisan (waktu itu kita belum memasuki era honorarium . . . . .) tetapi yang sangat membanggakan hati. Bayangkan pada malam hari kita piket di hotel Waldorf Astoria. Dan bila Bung Karno berkenan melihat film kita semua diajak. Wah mongkok-nya hati ini, lho! Rombongan Indonesia itu datang terlambat di gedung bioskop itu. Terpaksa semua penonton bule bule Amerika itu menunggu kita. Dan waktu Bung Karno tampil di balkon memberi salam kepada semua penonton (halo, halo !) kayak gedung itu di Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta dan penonton pada bertepuk, wah banggaku ! presidenku jan hebat tenan . . . . .

Pada Sunday pertama saya mulai programku itu terasa nikmat betul. Bangun pukul 8 pagi, secangkir kopi susu, roti bakar dengan dilepot sale stroberi cap hero, Koran KR Minggu, kaki metangkrang di meja. Uwah, laras banget. Tiba tiba : penggeng eyem, penggeng eyem.
“Panggange, dipunduti, Den?
Lhadalah ! mas Joyoboyo (bukan nama sebenarnya) begitu saja sudah ngelesot di lantai di bawah kursi malas saya. Dan rite de panggang ayam dibeber pun begitu saja dimulai. Karuan saja saya jadi kelabakan, malu ketahuan tidak puasa. Repot, nich. Apakah mungkin wong klaten ini akan mengerti kalau saya terangkan makna program Never On Sunday, dan kenapa dipilih kode Never On Sunday.
“Lho, mboten siyam to, Den ? (tidak puasa, Den)
Belum sempat saya menemukan kata kata penjelasan yang tepat . . . . .
“Saya juga tidak pasa kok, Den. Wong saya mesti menjaja ngalor ngidul, ngetan bali ngulon, cari makan buat anak ini. Mosok Gusti Allah tidak paring ampun, nggih Den”
Saya Cuma bisa manggut mangut tanpa teges, mulutku masih belepot sele strobery.
“Apalagi menurut Den Bei Curiga Naraka (mestinya juga bukan nama sebenarnya) sing penting itu batine kalau pasa, Den. Kalau batine resik dan kuat, lha mbok minum es kopyor ditambahi bestik komplit dikunyah nyas nyis nyus waktu pasa siang hari bolong begini tidak apa apa, Den. Mak legender masuk perut tapi . . . tidak terasa makan. Itu, Den, menurut Den Bei Curiga Naraka pasa klas paling tinggi . . . . .”
“Sudah, sudah, sudah. Ini uang panggang ayam. Sampeyan lekas sana pergi sana meguru sama Den Bei sampeyan!”
Saya masuk kamar mencoba membaca. Edan, tenan! Minum Es Kopyor tidak terasa minum, makan bistik tidak terasa makan. Edan . . . . Dari kamar terdengar jauh mas Joyoboyo menjaja : penggeng eyem, penggeng eyem . . . . suaranya cempreng.
Senja mulai turun, Langit merah campur lembayung. Sirene mengaung terdengar berbareng dengan azan magrib menembus sungai dan pohon randu alas. Nglangut dan adem benar kedengarannya.
Di kamar makan saya lihat dari jendela luar, Beni Prakosa (bukan nama sebenarnya). “Selamat Buka, Pak. Selamat buka, Bu”
“Iya, Le. Terima kasih, ya.Kita sama-sama makan kolak, ya Le.”
Di dalam, sehabis makan malam Rigen bertanya.
“Besok hari Senin, Bapak ‘kan puasa, ta ?”
“Ya, ya, ya, yaaaa . . . . . Allohumaghfirly, Tuhan ampunilah aku . . . . . .
19 Mei 1987, Umar Kayam