Saturday, February 14, 2009

Badai pun Sudah Berlalu

Kampanye pemilu datang dan pergi bagaikan badai di kota ini. Sekali akan datang berhembus dasyat membawa ekor lesus berwarna hijau, kemudian ekor putting beliung yang berwarna kuning, kemudian lagi prahara berwarna merah.
Setiap ekor panjang berwarna dasyat itu mengeluarka suara gemuruh, gemelegar bagai guruh yang tidak mau berhenti.

Dahulu, zaman saya masih anak anak, gejala seperti itu akan ditanggapi sebagai berbagai macam tanda atau sasmita. Satu saat mungkin ekor lesus yang berwarna hijau, kuning atau merah itu akan ditanggapi sebagai segera datangnya bala berupa pagebluk, musim penyakit menular, yang dahsyat, Pagi sakit sore sudah meninggal. Pagi Cuma mules sore sudah mati kejang. Atau karena badai itu diikuti oleh suara gemuruh, ditafsirkan akan datangnya lampor, yakni konvoi kendaraan magic dari kerajaan lelembut Nyai Roro Kidul yang mengawal dan mengiringi ratu lelembut yang konon berwajah cantik tiada tara. Menurut para tua tua kampong pada waktu itu, Nyai berkenan datang ke salah satu kota magic, Sala atau Yogya, untuk show of force, bertamasya atau mungkin menghadiri konperensi meja bundar di keratin raja raja Jawa. (Harap jangan ditanyakan agenda konperensi itu . . . ) Apapun, badai beserta suara gemuruhnya yang berkepanjangan dan ekor panjang berombak yang berwarna itu tidak akan dibiarkan berlaku tanpainterpretasi canggih dari penduduk. Semua melihat gejala itu sebagai satu system tanda yang cepat atau lambat diperkirakan akan membawa konsekuensi perubahan yang gawat buat negeri ini. (Para ahli smiotik, makanya jangan kesusu kagum pada ahli teori barat dengan cas cis cus kalau di Amerika kalau di Australia . . . Sejak zaman dahulu orang jawa sudah tahu apa iti semiotic, Semua sudah dilihat sebagai satu system tanda, lho !)

Mas Joyoboyo, penjaja ayam panggang Klaten yang tiap hari minggu setia menggedor pintu rumah dan langsung duduk ngelesot di lantai dan dengan keterampilan seorang pro membeber paha paha dan dada dada yang coklat kehitaman di depanku, pada suatu minggu pagi bercerita dengan penuh semangat dan emosi. Tentu saja tentang kampanye. Wong sedang musim kampanye.
“Den, wah sudah to, kampanye itu jan elok tenan !”
“Elok – nya “
“Lho, wong kampanye kok ngangge gontok gontokan, ancam ancaman segala. Lha, dor, wonten sing mati !”
“Lho, itu kan namanya resiko pesta demokrasi, Mas. Pesta ndang dut saja ada resiko mati je . . .”
Mas Joyoboyo terus saja dengan laporannya. Mungkin kata resiko (yang menurut saya kata kunci yang penting) tidak digubrisnya, mungkin ya tidak didengarnya karena “resiko” itu mungkin ya bukan kata apa apa. Tangannya terus cak cek menyambar dada, tepong dan mentok dibungkus, dan dengan cekatan, dalam daun pisang. Dan dengan tangannya mengacung acungkan paha mulus kecoklatan, dia meneruskan cerocosannya.

“Lha, pripun. Kampanye itu nggih, mestinya apik apikan mawon. Wong Jowo itu kan mestinya rukun saja. Kampanye kok jor joran. Kampanye itu sing guyup gitu, lho. Baris baris bareng, saling muji golongane dewed ewe, Rak Begitu ?
Wong yang pisuh pisuhan kampanye itu, kalau habis pemilu ya bareng bareng saya lagi Cuma dodolan ayam panggang atau kuliah lagi sama sama anak saya lho. Kok sekarang bolehnya gawat, lho. Pahanya Den, besar empuk ayu cokelat”
“Sampeyan itu pripun, Mas. Ya ini demokrasi tenan. Kalau kampanye boleh ndongeng program dan kehebatannya sendiri sendiri. Bebas. Wong Demokrasi, kook ! Lho sing pinter dodolan kampanye nanti yang akan ngatur pemerintahan. Pesta demokrasi, kok Mas . . . “
“Den, niki dadane dua, mentoke dua, pahane papat, lha roti santen tengkowah loro. Semua delapan ribu dua ratus empat puluh sen. Maringi duit pas, ya Den !”

Mau apa lagi kecuali membayarnya ? uang pas recehan itu saya pinjam dari para pembantu di belakang. Suara rakyat terus terdengar lagi, Penggeng eyem, penggeng eyem, penggeng eyem . . . . . . .
Rigen adalah pembantu rumah yang sudah ikut saya selama sepuluh tahun. Pada hari ultah Angkatan Bersenjata dua setengah tahun yang lalu ia punya anak. Dinamakan Beni Prakosa. Cita cita orang tuanya, minimal, minimal anaknya kelak jadi pati ABRI. Dia melihat kelahiran apada hari keramat begitu juga dalam rangka system tanda.

Pada musim kampanye itu setiap sore dia anak beranak akan siap berdiri dipinggir jalan nonton gelombang badai kampanye lewat gemuruh di depan hidungnya. Dasar anak calon genius, si Ben yang baru berumur dua setengah tahun itu, sudah apal semua tanda gambar.
“Gambar noror satu apa Le ?”
“Srengenge!” tangannya ngacung jempol.
“Kalau gambar nomor duwa, Le ?”
“Pohon Jambuuuu!” tangannya ngacung jari dua
“Lha, kalau gambar nomer tiga, Le?”
“Kebo, kebo!” tangannya ngacung tiga jari.
Dasar calon jenius. Sampai sekarang, jauh sesudah badai kampanye itu berlalu dan kita menanti nanti hasil ramalan Mas Joyoboyo, si Ben masih terus berkampanye. Mau makan : hidup, hidup srengenge. Mau makan lagi : Hidup, hidup wit jambuuu. Mau makan lagi : Hidup, hidup keboo. Dasar calon jenisu. Seharian kuping kita kudu sabar dan senang mendengar excitement jenius kita itu.
Hari minggu pertama sesudah pemilu, Mas Joyoboyo sudah nglesot di depan pintu lagi. Sambil dengan terampilnya membeber dada dan paha dia laporkan dengan nada gembira.
“To, pripun, Den! Saya bilang apa !”
“Lho, lha bilang apa?”
“bar kampanye dan coblosan semua, kan mulih ke kandange dewe dewe! Sing Bakul seperti saya ya rukun jadi bakul lagi. Sing cah mahasiswa ya kembali sekolah lagi. Sing babu, hik hik, ya jadi babu lagi. Apa ? Wong Jowo saja lho, Den !”
Saya tersinggung entah kena apa.
“Lho, wong Jowo, apa ? Wong Jowo kenapa . . . . . !”
“Niku wau dadane dua, pahane dua, mentoke . . . . “
Saya tidak mendengar lagi apa yang diomongkan. Cepat cepat saya rogoh dompet, saya bayar jreng. Dan diapun kabur sambil penggeng eyem, penggeng . . . . . .
“Mister Rigen, kowe nyoblos apa, hah ?”
“DPR wit jambu, tingkat satu srengenge, tingkat tiga keboo.”
“Lho?
“Lha, nyoblos apa saja ‘kan saya tetap jadi batur sampeyan, to, Pak . . . . . .”