Monday, December 7, 2009

Mikul Duwur Mendhem Jero

AYAH kenalan lama saya belum lama ini meninggal, Saya memutuskan untuk datang melayat. Kawan saya itu dulu pernah sekuliah kemudian entah bagaimana dia sukses menaiki jenjang karier berhasil menjadi seorang direktur di satu departemen yang renes bin basah.


Sumpah, bukan karena dia direktur dan priyagung yang begitu penting maka saya memutuskan untuk melayat. Saya melayat karena dia adalah seorang kawan yang sedang kesusahan. Juga karena dulu semasa kuliah, hubungan kami lumayan akrabnya. Bahkan sekali dua kali saya pernah diajak menginap di rumah orang tuanya di satu desa di lereng Gunung Merapi yang subur. Sering kali saya mengenang hari-hari yang menyenangkan menginap di rumah orangtua yang ramah dan sederhana itu.
Rumahnya tidak berapa besar, dari kayu, berpotonqan Limasan sederhana. Pekaranqan rumahnya juga tidak berapa besar, ditumbuhi pohon buah-buahan: Jambu kaget, mangga arum manis, dan duwet hitamnya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Juga suasana yang adem dan teduh dari rumah itu serta sayur lodeh dan sambel terasi yang dihidangkan di meja makan mereka masih sering dengan jelasnya menyusup dalam kenangan saya.
Orangtua itu, sungguh pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan bahagianya. Pilihan pekerjaan yang berbeda serta tempat bertugas, yang berjauhan, dia di ibu kota saya dipedalaman, telah memisahkan saya dan kenalan itu hingga bertahun. Dan dengan itu juga hubungan saya dengan orangtuanya di desa yang Indah itu. Tentu sekali-sekali saya membaca berita-berita tentang dia di surat kabar dari melihat wajahnya di layar televisi. Juga satu dua kali pernah bertemu di resepsi ini dan itu di Jakarta atau di pesta perkawinan di Yogya.

Setiap bertemu yang sebentar-sebentar begitu tentu kami bertukar salam akrab, saling berjanji untuk saling mengunjungi denqan keluarga kami bahkan juga untuk naik gunung ke rumah orangtuanya. Tetapi, kerja dan karier memanq bisa kejam sekali. Mesin tempat kami bekerja tidak pernah mengizinkan kemewahan-kemewahan kecil seperti berkunjung ke rumah kawan berjalan dengan mulus. Sayur lodeh, sambel terasi, jambu kaget, duwet hitam adalah ornamen-ornamen kecil yang, agaknya tidak relevan dengan efisiensi mesin. Maka, begitu saya mendengar bahwa orang tua itu meninggal, saya putuskan untuk melayat ke desa bagaimanapun susah dan rumpil jalan ke sana.

JIP tua, reyot dan knalpotnya yang gemuruh suaranya itu, dengan terengah-engah mendaki tanjakan terakhir menuju desa tersebut. Mr. Rigen yang sebentar-sebentar mendesah dan melenguh karena kondisi mesin dan knalpot jip yang rawan itu harus saya akui, adalah seorang sopir amatir (karena menurut dia belum "propesi" yang cekatan dan tangkas. Tikungan-tikungan jalan yang mendaki dia lahap bagai sopir taksi di Beirut. Tiba-tiba, pada jarak satu kilometer dari desa tujuan kami, jalan itu menjadi jalan yang beraspal mulus sekali. Ini bukan kondisi jalan yang dulu beberapa kali saya lewati. Kemudian kira-kira limaratus meter dari batas desa, kami melihat mobil-mobil berplat AB, B, H, AD, L dan entah apa lagi berderet di pinggir jalan. Mercedes, Volvo, dan segala merk mobil Jepang terwakili pada deretan itu. Juga selain mobil jenazah yang super de lux saya melihat tiga bus Hino berderet dengan megahnya.

Waktu, saya turun memasuki halaman rumah mulut saya nyaris otomatis ternganga lebar. Betapa tidak, halaman rumah yang dulu penuh dengan pohon jambu kaget, mangga Harum manis, dan duwet hitam itu sudah berubah. Di halaman itu sekarang tumbuh pohon-pohon sawo kecik yang megah yang mengingatkan saya pada rumah-rumah bangsawan di jeron beteng di kota. Dan rumah itu Astaga! Lenyap sudah rumah kecil sederhana berpotonqan Limasan itu. Sekarang, dihadapan saya berdiri satu rumah besar, megah, beratap sirap dengan pendopo joglo. Tiang-tiangnya berukir Jepara di
pinggirnya diplipit prada yang kemilau. Kemudian saya baru menyadari keadaan di pendopo itu. Jenazah itu terletak dt tengah, dikepung oleh karangan-karangan bunga. Kemudian saya lihat teman saya itu berbaju surjan sutra hitam lengkap dengan kain dan blangkon gaya Mataraman. Begitu juga saya lihat kaum kerabatnya. Baik yang lelaki maupun perernpuan semua berpakaian daerah lengkap berwarna hitam. Lalu saya mendengar suara kaset gamelan mengalunkan lagu Tlutur yang menyayat hati. Kawan saya, dan istrinya dengan tergopoh menyambut kedatangan saya. Kami berangkulan. Sejenak, untuk beberapa detik, saya tercekam keharuan. Berapa tahun sudah sang waktu dan sang mesin birokrasi telah mengasingkan kami. Tetapi, aneh sekali waktu saya lihat matanya yang basah karena air mata itu, kok saya tidak menangkap signal kesedihan melainkan justru sinar kebanggaan. Dan seakan dia bisa membaca rasa ngungun saya dia pun berkata.

"Yah, cuma beginilah, Mas, yang bisa saya lakukan memuliakan orangtua saya."
Saya manggut-manggut sembari berjalan digandeng masuk ke deretan kursi kehormatan dekat pringgitan.
"Orang Jawa bilang anak laki-laki itu harus bisa mikul duwur, mendhem jero, memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam. Sebisa-bisa saya itu sudah saya laksanakan. Kau lihat rumah ini sudah saya sulap menjadi rumah begini."
“Wah, ini rumah bupati zaman dulu, Dik."
“Yak, ya belum, Mas…. Baru mencoba mendekati. Upacara pemakaman ini sengaja saya bikin megah. Supaya Bapak marem. Semua rekan-rekan di kantor kanwil di tiga propinsi saya datangkan untuk membuat suasana ini khidmat tapi regeng.
Ya, lumayan to, Mas, kalau dilihat banyaknya tamu dan banyaknya mobil yang datang. Yah, biar, biar Bapak lega dan marem di hari akhirnya.
Kau masih ingat kan bagaimana sederhana bapak saya itu. Terus nenuwun, puasa Senin-Kemis,
ngrowot dan entah apa lagi. Semuanya agar anak-anaknya bisa hidup mulyo.
Yah, berkat tirakat itu kau lihat sendiri to, Mas. Saya dan adik-adik slamet meniti karier."
Huwih, lumayan ..... ? Kalau ini lumayan terus yang telah saya capai selama ini apa, dong?
Saya ,ngunandika dalam hati.

Waktu jenazah diberangkatkan lagu Tlutur yang sedih itu justru berhenti. Diganti dengan Lagu Gleyong. Saya terpana. Lagu Gleyong? Bukankah lagu itu lagu yang biasa dimainkan ki dalang untuk mengiringi Prabu Suyudono kalau jengkar kedaton? Iring-iringan mobil yang mengiringi mobil jenazah ke arah selatan kota itu telah mengegerkan desa-desa yang kami lalui. Sungguh satu peristiwa dahsyat dan mengagumkan bagi penduduk.

Suara sirene mobil meraung-raung di jalanan pedesaan yang sepi itu. Mobil berpuluh beriringan. Bus-bus. Dan bunga-bunga yang disebar-sebarkan dengan uang receh lima puluh sen yang entah berapa jumlahnya.
JIP kami tertatih-tatih ingin mencoba mengikuti laju iringan mobil-mobil itu. Suara mesinnya kemrosak, suara knalpotnya gemuruh, tetapi larinya kok terpincang-pincang. Waktu masuk kota di jalan Magelang tiba-tiba terdengar grobyak ! Knalpot itu patah dan jatuh berguling. Mr. Rigen menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Knalpot yang terkapar di jalan itu dipungutnya dan ditunjukkannya kepada saya. Saya tersenyum karena knalpot itu mengingatkan saya pada patung Seni Rupa Baru. '

"Mr. Rigen, enaknya kita istirahat di warung soto depan situ. Nututi iringan mobil itu juga percuma Setuju?"
"Siiip, Boss....."
"Dapurmu ....."
Sambil menyruput kaldu soto yang encernya seperti air kali Code itu saya jadi minder ingat kemegahan upacara pemakaman hari itu; Memang kawan saya itu priyagung yang hebat. Punya roso darma yang cangglh. Dibanding dengan itu pemakaman ayah saya tempoh hari, wah, kok sederhana dan polos saja.

Masih terngiang di telingaku dan terbayang mukanya yang penuh khidmat waktu bilang : mikul duwur; mendhem jero ...

By : Umar Kayam
28 Juli 1987

Melik Nggendong Lali

Nama lengkapnya panjang sekali. Teguh Budisantosa Resik Bawa Laksana. Tentu tidak seorangpun dari saudara dan kawan-kawannya pernah memanggilnya dengan lenqkap. Untuk menghemat napas kami setuju untuk memanggilnya cukup dengan Mas Guh saja. Dia adalah ipar dari sepupu mertua perempuan saya.


Orang Jawa, yang kadang-kadang memang ruwet sistem kekerabatannya, tidak terlalu mementing-
kan lagi bagaimana orang seperti Mas Guh itu mesti didudukkan dalam bagan pohon kekerabatan kami. Maksud saya bagaimana Mas Guh itu seharusnya dipanggil. Mestikah saya dan istri saya memanggilnya dengan Om, Pakde, Paklik, atau bagaimana. Dan anak-anak kami mesti memanggilnya
dengan Eyang atau mBah Guh? Oh, repot.

Yang bernama Mas Guh itu masih muda. Baru kira-kira empat puluh lima tahun umurnya. Tinggi semampai, gagah, rambut berombak, kulit cokelat matang, matanya serasa, mau membujuk. Lha, mulutnya, begitu sensuous-nya. Kalau menurut anak saya, si Gendut, Oom Guh itu hensem, tubuhnya sangat body, dan senyumnya seperti Robert Redford kayak mau menahan sakit tetapi nggak jadi. Ya sudah. Bagaimana lalu mesti dipanggil Teguh Budisantosa etc., itu!
Maka kembalilah kami serumah memanggilnya dengan Mas Guh dan bagi anak-anak Om Guh.

"Ah, sing penting dia itu sedulur dewek. Sing luwih penting lagi kabeh sedulur kudu rukun." Dan ternyata kesediaan keluarga Mas Guh untuk berukun-rukun itu juga diperluas dengan sifatnya yang luwes, soepel, suka berhandai-handai dengan anggota jaringan keluarga yang mana saja, dan yang lebih penting lagi, Mas Guh itu juga amat murah hati. Loma bin blaba. Setiap tarikan arisan keluarga atau rapat trah di rumahnya selalu didatangi lengkap oleh semua anggota. Menunggu kedatangan hari-H arisan itu seperti, menunggu datangnya satu pesta perayaan kawin perak saja. Habis bagaimana tidak begitu. Untuk arisan begitu-saja keluarga Mas Guh pesan dari catering yang terbaik di kota. Dan jumlahnya selalu berlimpah hingga kami yang datang semua selalu mendapat pembagian oleh-oleh sisa makanan arisan itu. Untuk anggota jaringan trah kawulo negeri yang jarang menikmati kemewahan seperti itu tentulah kesempatan seperti itu welkom. Lha, untuk anak-anak remaja putri kesempatan arisan di rumah Mas Guh itu juga merupakan kesempatan yang bagus untuk menguras isi pakaian anak-anak remaja putri mereka. Entah bagaimana, setiap arisan begitu kok selalu saja ada lemari remaja putri yang siap sedia untuk dikuras lho. Mungkin barhari-hari sebelumnya Mas Guh anak-beranak memang sudah membuat inventaris pakaian anak-anaknya. Mana yang dapat dilepas tetap tinggal di lernari. Sedang yang masih baru, maksudnya baru - dari Hongkong atau Singapore disimpan di lemari lain. (Ah, tetapi ini tentulah imaji saya saja).

Apa pun pokoknya, arisan di keluarga Mas Guh adalah hari yang menyenangkan buat kebanyakan anak-anak perempuan anggota trah. Tetapi juqa buat ibu-ibu anggota trah. Kalau pada arisan-arisan lain kesempatan kumpul begitu dipakai untuk saling menjajakan dagangan dan pinjam-.
meminjam uang, tidak pada arisan di rumah Mas Guh. Di rumah itu, arisan itu berfungsi sebagai Bank Dunia. Ibu-ibu akan datang kepada Mas Guh beserta Ibu, yang akan, dengan penuh simpati, mendengarkan proposal pembangunan yang canggih yang tidak tertulis itu. Biasanya setiap proposal itu gol, diluluskan, tanpa bunga, tanpa batas waktu. Bank Dunia mana dapat murah hati seperti itu ???"

"Wah, Mas Guh, mBakyu Guh, matur nuwun sanget, lho ...... Sudah ditolong. Kalau tidak ada Mas dan mBakyu .... "
Atau bagi mereka yang belum dapat mengangsur utang :
"Aduh, Mas Guh, mBakyu Guh, nyuwun duka, maaf seribu maaf, belum dapat mengangsur. Habis bulan ini si genduk dan tole .... "
Atau kadang-kadang laporan yang dahsyat Lagi. "Ketiwasan, Mas Guh, mBakyu Guuuhh. Proyek kami
bangkrut. Ludes modal kami. Habis, saingan sama modal non pribumi .... "
Mas Guh dan mBakyu Guh sama dengan waktu mereka mendengarkan proposal-para nasabah trah tetap simpatik, tetap tersenyum.
"Wis, wis, ora papa, ora papa. Kami mengerti. Kami akan sabar menunggu sampai kalian sanggup. Kalau akhimya tidak sanggup, ora papa, ora papa, Wong rejeki kami kan rejeki paringan. Kalau tidak sumrambah, merata, buat sanak sedulur; Lha kan sedulur apa saya ini. Kan menurut pesan-mBah Putri: sing rukun, sing rukun .... "

AKAN tetapi namanya cakra manggilingan, sang roda waktu, kok ya berputar ke bawah. Dan itu ditandai dengan berita di koran pagi itu. Cilakanya yang melapor lebih dulu kok ya Mr. Rigen.
"Ini lho, Pak. Kabar rame. Pak Guh terlibat korupsi sak miliar …... "
Cepat-cepat koran saya rebut dari tangannya. Astaga .... Memang di situ diberitakan Dr. Tgh. Bst. Resk. Bwlksn. M.Sc., ditahan untuk dimintai keterangannya tentang uang proyek yang ketlisut sebesar satu miliar rupiah.
"Ini kan betul Pak Guh, nggih, Pak? Wah, tidak nyana, tidak ngimpi, nggih, Pak .... "
"Wis, wis, kau ngurus uang proyek blanjan pasarmu sana dulu!"
Keranjingan..... Mr Rigen alumnus SD Pracimantara pun sudah pinter membaca nama-nama yang dipendekkan di koran. Lha, skandal koran yang mana lagi yang tidak akan dia ketahui.
Saya terhenyak duduk di kursi malasku. Juga tidak nyana dan tidak ngimpi. Wah bagaimana orang sekaya dan sebaik begitu sampai mentlisutkan uang sak miliar. Saya mesti pergi ke rumah kawan wartawan yang bekerja di koran itu. Aku butuh info lebih banyak tentang Mas Guh. Dan ternyata
info dari kawan wartawan itu lebih membuatku grogi: Bagaimana tidak. Mas Guh ternyata telah memutarkan uang itu untuk berbagai proyek spekulasi yang agaknya hancur semua. Tetapi yang lebih mengenaskan lagi proyek spekulasi itu masih ditambah dengan proyek spekulasi yang lain. Mas Guh ternyata punya tiga istri lagi. Dikawin sah.
Astaga .... Serta-merta saya ingat lukisan kaca karya almarhum Pak Sastra-gambar dari Muntilan. Gambar itu menampilkan Petruk jadi raja, duduk di kursi goyang, memangku seorang perempuan, sedang tangan kanannya memegang gelas berisi wiski.
Gambar itu bertuliskan huruf Jawa: Melik Nggendong Lali. Mendamba Menggendonq Alpa. Sayang lukisan itu dulu saya berikan kepada seorang sahabat di Jakarta. Siapa tahu, kalau dulu
saya hadiahkan Mas Guh, ada pengaruhnya, Tetapi yah, siapa nyana, siapa ngimpi ....
Di Jakarta semua anggota keluargaku sedih mendengar laporanku. Masing-masing terdiam dengan kenangannya sendiri tentang Mas Guh. Mungkin buat istri saya dia dikenang sebagai sedulur yang pernah memberi oleh-oleh tas Etienne Aigner dan bagi anak-anak saya sebagai Oom yang ngganteng, yang senyumnya bagaikan senyum Robert Redford yang aneh, yang bodynya sangat body.
"Tapi korupsi kan nggak buat dia sendiri, Pak. Rezekinya di bagi-bagi kan? Buat tolong sanak sedulur, kan …..".
Saya tidak mendengar apa-apa lagi. Mungkin saya masih grogi dan bengong. Akhirnya aneh sekali saya cuma bisa bergumam kepada anak Istriku. Wis, wis, ora papa, ora papa, ora papa, ora ...

By : Umar Kayam
4 Agustus 1987

Tuesday, December 1, 2009

3 x 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.


Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24"
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: " Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
"Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.""
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,dan memberi Yan Hui 2 (Dua) nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.


Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.

Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum".
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku".
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting ?
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.
Murid benar2 malu.

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).

Cerita di atas dikirim oleh temen temen di Gang Bantat Palembang, thanks Atas sharing ceritanya

Thursday, November 26, 2009

TAK MARAH KARENA PUASA

SAAT itu, masa pemerintahan SBY-JK masih terbilang baru. Harga minyak dunia meningkat secara drastis. Akibatnya, uang negara kian menyusut karena dipakai untuk melakukan subsidi harga minyak.
Dalam pemerintahan SBY, terutama Menteri ESDM, Purnomo, takut menaikkan harga minyak. JK tetap mau menaikkan karena negara di ambang soal yang mendalam, dan ironinya, yang menerima subsidi yang paling banyak adalah kalangan yang berduit.


Bagi JK, adalah tidak masuk akal jika kaum miskin yang mensubsidi kaum kaya. Setelah beberapa kali rapat para pejabat, argumentasi JK akhirnya bisa diterima: menaikkan harga BBM. Masalahnya, soal waktu, Pada umumnya meminta harga BBM dinaikkan sebaiknya setelah lebaran.
Pendapat ini didukung dengan alasan, pada saat selesai bulan puasa, masyarakat tidak lagi banyak mengomsumsi minyak sebab puasa telah selesai. Katanya, selama puasa itu, masyarakat banyak memakai minyak sebab ada sahur. Karena, jika menaikkan minyak pada saat bulan puasa, masyarakat sangat sensitif dan mudah marah. Pasti banyak demo, kata pihak yang menolak menaikkan harga BBM selama bulan puasa.

JK berpendapat sebaliknya. "Justru BBM harus dinaikkan sebelum bulan puasa berakhir. Dan justru pada bulan puasa itu, konsumsi minyak di kalangan kebutuhan keluarga, menurun, sebab orang yang berpuasa itu tidak lagi sarapan pagi dan makan siang," kata JK.
Dalam kalkulasi dan logika JK, orang itu tidak akan mungkin marah dan demo bila minyak dinaikkan selama mereka berpuasa. "Mana ada orang puasa boleh demo. Demo itu kan berarti marah, dan marah itu membatalkan puasa. Jadi, selama ia berpuasa, selama itu juga tidak mungkin ia berdemo," kata JK.
Bagaimana kalau selesai bulan puasa? Pasti mereka akan turun ke jalan untuk mendemo.
JK tak kehabisan akal "Selesai bulan puasa, berarti itu sudah akhir November. Bulan itu adalah musim hujan. Nah, sehebat apa pun demo, jika hujan deras turun mengguyur beberapa
jam, pasti bubar demonya. Tidak ada orang yang bisa bertahan terus-menerus secara berkelompok di bawah siraman hujan beberapa jam. Pasti bubar semuanya," kata JK meyakinkan.

"Lagi pula," kata JK lagi, "setelah lebaran itu, orang sudah pasti lupa, berapa sih kenaikan harga BBM? Orang kan akhirnya menyesuaikan diri lagi dengan itu. Inilah pentingnya
kita terbuka ke rakyat, menghitungkan untung ruginya bila menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM. Yang penting kita tcrbuka dan melayani masyarakat berdialog. Jangan kita mengambil keputusan, lalu anak buah yang disuruh berhadapan dengan masyarakat. Menteri tidak boleh menyuruh dirjen atau dlrekturnya yang tampil," begitu penegasan JK.

Harga BBM memang dinaikkan tahun 2005. Kalkulasi JK sangat akurat. Demo dalam bulan puasa itu, hampir nihil. Tidak ada amuk massa seperti yang diperkirakan. Usai lebaran,ternyata hujan lebat mengguyur Jakarta. Hasilnya, uang negara bisa dihemat karena subsidi BBM tidak lagi terlampau besar. "Lihat kan, prediksi saya benar," kata JK.
Karena JK konsisten, bos yang harus menjelaskan kepada rakyat tentang kebijakan pemerintah itu, ia pun sibuk ke sana kemari menjelaskan kebijakan ini. JK selalu tampil di berbagai
forum dan wawancara media massa, terutama televisi. Lalu, banyak orang yang menyayangkan itu. JK dinilai dijadikan bamper oleh SBY karena JK yang berhadapan langsung dengan pihak yang menolak kenikan harga BBM itu.

JK menampik itu semua. "Ini keputusan Pemerintah. Saya adalah bagian dari Pemerintah, karena itu, saya harus tampil dan konsisten membela keputusan Pemerintah itu, Yang penting, saya ikhlas bekerja untuk kepentingan publik. Menghemat uang negara, juga adalah demi rakyat banyak," jawab JK.
Lantaran kebijakan menaikkan harga BBM itulah maka JK mencari dan menemukan formula kompensasi, yang diberikan langsung ke rakyat. JK tampil dengan ide bantuan tunai langsung.
Malah, JK tidak berhenti pada ide, tetapi ia juga langsung menyusun strategi implementasi. Hasilnya, rakyat miskin langsung diberi uang tunai dan mereka mengambilnya di kantor-
kantor pos. Lalu, para menteri pun berkewajiban turun ke daerah untuk melihat langsung pemberian uang tunai tersebut. Ketika musim kampanye berlangsung, pihak SBY memakai
isu bantuan tunai langsung ini sebagai materi. Orang-orang yang dulunya menyalahkan JK karena tampil berhadapan langsung dengan masyarakat, pers, LSM, membela kenaikan harga BBM, kembali menyalahkan JK. Mereka juga seolah memberi pelajaran kepada JK, tatkala harga BBM diturunkan oleh SBY, tanpa konsultasi dengan JK.

Bagi kelompok ini, JK pasang badan untuk membayar harga, tetapi JK disuruh cuci piring jika pesta telah usai. Lagi-lagi, JK tidak menanggapinya. JK hanya berkomentar singkat, "Niat
baik itu harus dijalankan karena keikhlasan. Tidak boleh hitung-hitungan. Semua itu dilakukan karena itu menjadi keputusan Pemerintah," katanya kepada kelompok ini.

Sejatinya, JK sendiri tidak berkeberatan melakukan hal tersebut, dan tidak menggugat tatkala SBY menurunkan harga BBM tanpa melibatkan dirinya, karena dia menilai bahwa memang seharusnya BBM turun sebab harga minyak dunia memang turun. Antara SBY dan JK, soal ini tidak ada masalah. Yang gelisah sebenarnya adalah orang lain. Begitulah kisah soal kenaikan harga BBM tahun 2005 itu. Di sinilah sebenarnya pangkal kebijakan Pemerintah untuk melakukan perubahan, Lantaran harga minyak yang selalu disubsidi pemerintah, sementara kebutuhan kian meningkat maka JK pun melempar gagasan. Pemakaian minyak tanah harus diganti dengan gas. Dasar pemikirannya sangat sederhana. Minyak tanah kita impor, sementara gas kita ekspor. Nah, ada baiknya kita ubah pola pemakaian energi kita, dari minyak tanah ke gas. JK menuai protes. Ia jalan terus. Berbagai soal diangkat, mulai dari peliknya memperoleh gas hingga langkanya tabung gas. Bagi JK, semua itu terjadi dalam era transisi. Segala yang baru itu butuh penyesuaian. Masyarakat belum saja merasakan nikmatnya gas. Oleh karena itu, Menteri ESDM harus kerjakeras untuk menjaga suplai gas dan penyediaan tabung-tabung gas. "Semua bangsa modern, konsumsi bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga, sudah menggunakan gas. Tidak ada lagi yang memakai minyak tanah. Kita harus menjadi bangsa modern. Lagi pula, kita yang selama ini menyuplai Jepang dengan gas, sementara kita sendiri tidak menggunakannya. Ini sebuah
ironi," kata JK meyakinkan.

Maka, dalam kesempatan melawat ke Jepang, pemerintah negeri Sakura itu meminta JK agar tetap menjual gas ke Jepang. Jawaban JK sangat jelas. "Kita akan mengekspor gas ke Jepang manakala ada yang tersisa dari kebutuhan konsumsi kami. Rakyat kami sangat membutuhkan gas juga," kata JK.*

Monday, November 2, 2009

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

by : Adhie Massardi


Thursday, October 29, 2009

Dunia Akan Kiamat .... Segera !

PERTEMUAN khusus para pejabat tinggi negara berlangsung
serius. Malah terbilang tegang. Tema pembahasan adalah lingkungan hidup. Para peserta pertemuan mengerutkan kening sembari sebagian geleng-geleng kepala mendengar uraian
dua orang pejabat negara yang sedang memberi presentasi.

Pejabat pertama yang memiliki otoritas di bidang lingkungan, berbicara sekitar satu jam lebih. Ia tampil dengan slide gambar-gambar yang mengerikan tentang rusaknya lingkungan hidup dunia. Berbagai rupa wajah lingkungan kita disorot. Mulai dari sungai yang tercemar oleh limbah yang menyebabkan berbagai penyakit dan membahayakan kehidupan manusia dan binatang-hingga punahnya terumbu karang. Sang pejabat seolah tidak memberi waktu hadirin untuk berkedip. Ia menguraikan bahwa dunia sekarang memang sungguh-sungguh dalam keadaan terancam oleh bahaya kerusakan lingkungan hidup. Katanya, "akibat ulah manusia, berbagai penyakit baru muncul karena udara yang dihirup sehari-hari, tidak lagi sehat. Pernapasan terganggu secara signifikan dan membawa berbagai jenis penyakit."
Malah, lanjutnya lagi, makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum sekarang ini, juga sudah tidak bebas dari pencemaran, yang pada gilirannya akan membawa penyakit. Semua ini membuat kita tidak punya pilihan lagi, harus siap menyambut malapetaka dunia. Singkatnya, beragam rupa aspek lingkungan dijelaskan. Semuanya mengarah kepada kesimpulan: dunia dalam bahaya. Kehidupan umat manusia bakal habis. Kalau kita tidak secepatnya mengambil tindakan, dunia akan kiamat dalam waktu seperempat abad, tegas Sang Pejabat.
Pejabat kedua, yang memiliki otoritas di bidang kehutanan, mendapat giliran berikutnya untuk menyampaikan presentasi. Yang ini lebih mengerikan lagi. "Indonesia adalah paru-paru dunia, tetapi justru di Indonesia ini, kerusakan hutan yang paling parah. Semua itu terjadi karena penebangan yang semena-mena dan kebakaran hutan yang sulit diatasi,"

"Akibat dari semua itu", katanya lagi, "Segalanya jadi terpengaruh. Perubahan iklim global yang kini berlangsung, itu akibat, antara lain, tidak adanya lagi paru-paru dunia. Hutan kita, daratan kita, semuanya menunjukkan tanda-tanda gundul. Dan, ini adalah tanda bahaya bagi kehidupan manusia. Kita menyaksikan dari atas, hutan dan daratan kita sudah tidak hijau lagi. Air sungai, karena itu, berubah menjadi cokelat. Semua ini gara-gara ulah kita semua,"
Maka, menurut Sang Pejabat tersebut, kiamat dunia tidak lagi terjadi dalam waktu seperempat abad, tetapi sebelum itu.

Hadirin pun, yang semuanya adalah pejabat negara, dibuat terkesima oleh kedua pembicara tersebut. Kelihatan sekali wajah tegang para pejabat yang hadir, yang diikuti dengan menarik napas panjang sekali. Di tengah suasana yang tegang itu, JK tiba-tiba minta bicara

"Anda berdua yang bicara tadi, keterlaluan juga. Mengapa Anda tidak mengatakan saja, dunia akan kiamat besok, sebelum matahari terbit," kata JK dengan senyum.
Hadirin pun langsung tertawa semua: Geeeeeer. Napas hadirin yang tertahan selama presentasi tadi, langsung keluar. Wajah hadirin pun, langsung berubah jadi cerah. Sejumlah hadirin saling melirik dan geleng kepala menyaksikan JK mengubah suasana tegang, jadi segar.
Kata JK, "Kalau warna hijau saja yang menentukan kiamat tidaknya dunia ini, maka, Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia, sekian ratus tahun yang lalu, mestinya sudah kiamat, karena di sana tidak ada warna hijau. Kan tidak ada pohon di sana. Yang justru terjadi, di Saudi, segalanya jadi kecokelatan karena padang pasir. Kalau di Indonesia, kan hanya sebagian sungai kita yang cokelat. Di Saudi, semua cokelat. Dunia toh tidak kiamat sampai sekarang,"

"Coba, ya, kalau Anda terbang di atas India, ada ndak pohon hijau yang Anda lihat. Kan tidak ada. Lebih lagi jika Anda terbang di Atas Saudi Arabia, kan hanya padang pasir. Sama sekali tidak ada pohon. Bandingkan kalau Anda terbang di atas negeri kita. Kan masih hijau semua. Bahwa di tengah yang hijau dan rimbun itu ada bolong-bolong, ya, kita memang akui. Tetapi tidak seseram yang Anda semua katakan itu. Yang bolong itu perlu memang kita tanami segera."

"Soal negara-negara lain menyorot kita, jawabannya sederhana, Katanya, negara kita adalah paru-paru dunia. Kalau begitu, semua negara yang membutuhkan udara segar dari hutan kita, ya, harus bayar dong ke kita. Mintalah mereka memberi pembayaran agar napas mereka bisa baik. Pembayaran itu kita pakai untuk memperbaiki hutan kita. Kalau hutan kita adalah paru-paru mereka, ya, mereka harus memelihara paru-paru itu. Jangan mereka hanya tahu menyorot dan marah. Yang membeli kayu dari hutan kita, kan mereka juga. Jadi, jangan selalu menyalahkan bangsa sendiri. Itu tidak bagus. Kita harus jaga martabat bangsa, dong," lanjut JK dengan rileks.

"Mengenai Amerika, Eropa Barat, dan Kanada yang rewel menyoroti kondisi hutan kita yang mulai kurang hijau lagi, ini juga tidak fair. Saya mau tanya Anda semua: apakah Amerika, Kanada dan Eropa Barat itu, selalu hijau sepanjang tahun? Mereka itu kan hanya hijau sekitar empat bulan toh? Selebihnya, malah seluruh pohon sarna sekali tidak punya daun, tinggal batang dan dahan saja selama musim rontok. Bahkan, mereka itu kan untuk beberapa bulan, hanya putih saja, karena salju. Jadi, mereka juga tidak hijau sepanjang tahun,"

"Coba lihat negeri kita ini, sepanjang tahun, 12 bulan, kan semua pohon hijau terus. Tidak pernah ada pohon kita yang kehilangan daun. Ayo, di mana ada pohon kita tanpa daun?" tanya JK.

"Jadi..," lanjut JK lagi, "tidak perlu kita ketakutan bahwa dunia akan kiamat karena kita yang mengiamatkannya. Juga tidak perlu kita selalu menyalahkan bangsa sendiri. Yang penting, mari kita semua konsentrasi menghidupkan kembali program penghijauan kita dan memperketat enebangan liar dan penyelundupan kayu. ltu yang harus kita kerjakan sekarang,"

"Insya Allah, dunia belum kiamat karena ada pohon yang kurang hijau. Dan kepada kedua pejabat yang memberikan presentasi tadi, harus meyakinkan dunia internasional, terutama yang senang menyalahkan kita, agar mereka juga memberi fee ke kita sebagai biaya memelihara paru-paru dunia. Jangan hanya pintar menyoroti tapi tidak mau mernbayar;" tegas JK.*

Sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin

Mobil Anggota Kabinet

SUDAH puluhan tahun, mobil dinas para menteri dan pimpinan lembaga negara, selalu Volvo berwarna hitam. Pemerintahan SBY-JK naik pada tahun 2004, Volvo pun langsung diganti menjadi Toyota Camry.
Spekulasi berkembang di luar. Ada yang menilai, ini pertanda bahwa pemerintahan SBY-JK mengalami kepelikan uang sehingga para anggota kabinet harus memakai mobil Camry yang jauh lebih murah dibanding mobil Volvo. Ada juga yang menebak, itu karena JK adalah pengusaha mobil Toyota. Sebagian lagi mengira, ini berarti orientasi ekonomi kita ke depan, hanyak berkiblat ke Jepang karena Toyota adalah buatan Jepang. Maukah Anda mengetahui mengapa Volvo diganti menjadi Toyota Camry?
Ikutilah cerita berikut ini.

Lepas pembentukan Kabinet, SBY dan JK mendiskusikan tentang sarana penopang para anggota Kabinet untuk bekerja karena masih ada sejumlah anggota Kabinet yang pergi ke kantor dengan mobil pribadi. Ada juga anggota Kabinet yang mengendarai kendaraan reot yang disiapkan oleh kantornya. Kabarnya, JK meminta kepada SBY agar soal kendaraan para anggota Kabinet, diserahkan saja ke dia. Saat itu, Volvo masih dalam hitungan untuk kembali dipakai. Namun, JK menghitung bahwa Volvo terlampau mahal.

JK pun meminta Johny Darmawan, Direktur Toyota Astra Motor, untuk menemuinya. JK bertanya, "Sedan Toyota apa yang lagi popular dan berkualitas andal saat itu. Yang pasti, untuk kelas menengah saja dan tidak terbilang mewah."
Sang direktur pun memberi jawaban: sedan Camry. "Selain produk baru yang nyaman, juga tidak terlampau mahal untuk ukuran kelas menengah. Harganya sekitar Rp425 juta perunit."

JK langsung menyambung, "Kalau begitu Anda banyak mengiklankan produk ini kan? Berapa biaya iklanmu setahun untuk memasarkan produk Camry ini?" tanya JK.
"Ya, sekian banyak, Pak," kata Sang Direktur.
"Bagaimana kalau Anda menghentikan pembayaran iklan itu, lalu saya yang iklankan untuk Anda?" sambung JK.
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Sang Direktur penuh keingintahuan.
"Nah, caranya gampang. Kalau saya beli mobil sedan Camry Anda minimal 40 unit dan saya hanya mau bayar Rp275 juta per unit, gimana?" JK menawar.
"Maaf Pak, susah, karena harga itu terlampau rendah," balas Sang Direktur.
"Iya memang betul harga yang saya tawarkan rendah dari harga penjualan Anda. Tapi, kan Anda tidak perlu keluarkan biaya iklan selama lima tahun," balas JK.
"Nah, maaf Pak, itu yang saya belum mengerti. Bagaimana rumusannya?" tanya direktur Toyota tersebut.
"Begini, mobil sedan Camry saya beli minimal 40 unit dan akan saya berikan kepada para menteri dan juga para pimpinan lembaga negara lainnya. Masa jabatan menteri kan lima tahun. Jadi, selama lima tahun tersebut, menteri-menteri memakai Camry. Artinya, Anda sudah dipasarkan dengan sendirinya oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya nanti," kata JK.

"Bayangkan saja jika setiap menteri memakai sedan Camry kan menteri dikawal, dan sesekali pakai mobil pengawal yang pakai sirene, tentu semua orang memandang. Di situlah sedan Camry Anda langsung dilihat orang. Lagian, biasanya kalau sudah menteri pakai maka semua orang ingin juga memakai kendaraan sama dengan yang dipakai menteri," tegas JK lagi.

"Anda harus lihat dari segi jangka panjangnya. Pembayaran kami memang bisa membuat Anda tidak beruntung banyak untuk beberapa puluh mobil tersebut, tetapi, keuntungan jangka panjang Anda sangat berlimpah nanti. Banyak pengusaha mobil dari berbagai merek datang untuk menawarkan produknya, termasuk Volvo. Jadi, kalau Anda tertarik dengan tawaran saya, Oke, kali ini kita mulai sejarah baru bahwa para menteri dan pejabat lembaga negara lainnya akan menggunakan Toyota. Ini sebuah era baru bagi Toyota," kata JK.
Ternyata memang, tawaran JK masuk akal bagi Toyota. Dan para menteri serta pimpinan lembaga negara lainnya pun menggunakan sedan Toyota Camry sampai sekarang.

Keputusan ini bukannya sepi dari soal. Ada-ada saja yang mencoba menyoalnya. Mereka menyesalkan, menteri itu sebaiknya diberi kendaraan yang lebih atas daripada Camry demi keselamatan menteri. Masalahnya, kata mereka, Camry itu mudah ringsek jika ditabrak atau tabrakan. Volvo kan sudah terbukti keandalannya, alasan mereka.

Gugatan ini dengan enteng ditangkis oleh JK. "Menteri itu kan selalu diiringi oleh sebuah mobil kawal dari belakang. Sebelum menteri ditabrak, tentu mobil kawal langsung menyeruduk kendaraan yang hendak menabrak mobil menteri. Lagian, biasanya mobil menteri itu diiringi oleh mobil atau motor pengamanan yang pakai sirene. Jadi, jauh sebelum itu, kendaraan lain sudah menyisih dari kendaraan yang dipakai menteri," tegas JK.
Hanya sampai di sini? Ternyata tidak. Ada juga kalangan yang menilai, kekuatan mesin Camry tidak mampu lari cepat. Kata mereka, menteri itu kan harus bergerak cepat dari tempat satu ke tempat lainnya.
Yang ini, lebih enteng lagi dijawab oleh JK. "Mobil menteri itu berputarnya di Jakarta dan sekitarnya saja. Dengan jumlah kendaraan yang berjubel di Jakarta, ditambah dengan jalanan
yang sempit, tidak ada kendaraan di Jakarta yang bisa lari dengan kecepatan 140 km/jam, Pasti nabrak kiri kanan kalau ada yang mau mencoba melakukan itu. Jadi, apa gunanya memiliki
kendaraan dengan kemampuan mesin untuk berlari cepat,tetapi faktanya, tidak pernah juga digunakan. Itu kan mubazir," kata JK.
"Tambahan lagi, kualitas mobil yang kita butuhkan adalah: suspensinya bagus, irit, ada pendingin, radio dan tape recorder jalan untuk mendengarkan berita atau lagu-lagu bila macet.
Semua itu telah dimiliki oleh sedan Camry. Apa lagi yang dicari?" simpul JK.

Prediksi JK tidak meleset. Begitu para menteri memakai sedan Camry, pelan-pelan para pejabat daerah pun mulai ikut memakai Camry. Sektor swasta juga demikian. Dan hingga kini,
omset penjualan Camry, dari berbagai jenis dan kelas, tetap saja digemari orang di Indonesia.

Kisah Camry tidak hanya sampai di sini. Tatkala ikhtiar mendamaikan GAM dengan pemerintah mulai dijalankan oleh JK, ia memanggil Dubes Swedia di Indonesia. Ia meminta pemerintah Swedia benar-benar membantu ikhtiar perdamaian yang dirintisnya itu. Tak canggung bagi JK mengatakan kepada Dubes Swedia bahwa jika Anda mengakui dan merasa Indonesia adalah teman Anda, maka bantulah pemerintah Indonesia untuk menghentikan perang di Aceh.
"Masalahnya ... ," kata JK kepada Dubes Swedia saat itu, Hasan Di Tiro dan dr. Zaini Abdullah adalah warga negara Swedia, dan Malik Machmud, meski bukan warga negara Swedia, ia tinggal di Swedia. Mereka adalah para pemimpin tertinggi GAM yang menentukan tiap langkah GAM. Bujuklah mereka agar mereka duduk berbicara dengan pemerintah Indonesia, lalu damai," kata JK

"Hubungan dagang kita dengan Swedia sebenarnya tidak terlampau banyak. Maka, Indonesia tidak segan memutuskan hubungan bila Swedia tidak mau menangani warganya sendiri, yang merugikan Indonesia. Buktinya, kita kan sudah memutuskan, tidak lagi memakai produk Swedia. Sedan Volvo buatan Swedia sudah kita ganti dengan Toyota Camry untuk para menteri. Jelas bagi kami di Indonesia bahwa jika Anda tidak mau berteman baik, ya sudah. Kami juga tidak rugi-rugi sekali," kata JK.

Pemerintah Swedia memang amat membantu ikhtiar perdamaian yang dilakukan JK. Maka, sedan Camry pun bisa jadi alat damai, bukan sekadar alat pengangkutan.*

sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin

Friday, October 23, 2009

Buku Termahal di Dunia

Meski banyak buku yang dilabeli sebagai “Buku Termahal” di dunia dengan harga sampai puluhan juta, namun mungkin “The Onliest and The Deepest Secrets of The Medical Art” adalah buku yang paling layak disebut sebagai Buku Termahal di Dunia.

Buku ini adalah karya terakhir dari Boerhaave. Seorang dokter Belanda yang menulis bulu “Elementa Chemiae” dan meninggal pada tahun 1738. Sebelum wafat ia meninggalkan sebuah buku tebal bersegel dengan judul “The Onliest and The Deepest Secrets of The Medical Art” yang artinya kurang lebih sebagai “Rahasia Paling Mendalam dan satu satunya dalam seni Pengobatan”. Saat buku tersebut dilelang, buku itu terjual hingga mencapai US$20.000 Namun tahukah anda setelah segel buku dibuka, pemenang lelang menemukan bahwa 99 dari 100 halaman buku itu adalah halaman kosong. Selain sampul depan, hanya terdapat tulisan pendek “Jaga diri untuk tetap tenang, jaga kaki agar tetap hangat, dan kamu akan membuat dokter terbaik sekalipun menjadi Miskin” Untuk sebuah buku dengan tulisan sependek itu, buku ini pantas disebut BUKU TERMAHAL SEDUNIA.

Thursday, October 22, 2009

Pidato Anak Usia 12 Tahun yang membuat Forum PBB Terdiam


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak” yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah” lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang” terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)


Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak” berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak” yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang” yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan”nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang” dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang” liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu”. tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal” tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah” kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita..

Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.

Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.

TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki” dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara” di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan..

Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak” yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak” jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak” tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak” yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini..

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.

Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.

Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak” anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak” mereka dengan mengatakan ” Semuanya akan baik-baik saja “. ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan’ dan ‘ ini bukanlah akhir dari segalanya’

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?

Ayah saya selalu berkata ‘ kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata” mu ‘

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata” tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang” penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Tuesday, October 20, 2009

Kutub Bakal Tak Punya Es

Para peneliti meramalkan Laut Artik (Kutub) akan bebas Es di musim panas dalam waktu satu dekade mendatang. Setelah musim semi berlalu para peneliti kembali mengukur ketebalan es sepanjang 450 kilimeter dengan rute menyeberangi Laut Beaufort.

Mereka menemukan sebagian besar es sangat tipis. Pemimpin ekspedisi dan pakar Es lautan dari University of Cambridge, Peter Wadhams mengatakan pada musim semi tahun lalu rata rata ketebalan es hanya 1,8 meter, menandakan usia lapisan itu sekitar satu tahun. Sementara es yang sudah bertahun tahun tebalnya sekitar 3 meter. Tipisnya lapisan tersebut menjadi indikasi penting kondisi memprihatinkan es di laut artik. "Secara sederhana, es tipis itu akan sekejap hilang pada saat musim es mulai meleleh" ujarnya. Angin dan arus laut dapat pula memecah es yang tipis itu. Es yang terpecah dan mengapung bebas akan mudah terdorong ke wilayah perairan yang lebih hangat dan mencair. Catlin Artic Survey dan kelompok konservasi international WWF mendukung penemuan tersebut. Situasi Es di Artik tersebut sangat dipengaruhi iklim dan kondisi alam. Kondisi Es di Laut Artik kerap pula dikaitkan dengan perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Monday, October 19, 2009

Face Book ohh ... face book

Face book membuat blog ku terlantar untuk beberapa lama, demikian besar pengaruh yang ditimbulkan. Kalau direnung renungkan beberapa aktifitas positif terganggu gara gara jejaring sosial yang bernama face book.

Mungkin tidak hanya saya saja yang sesaat terpesona dengan segala fasilitas jejaring sosial face book. Salah satu kemampuan yang istimewa dari face book barangkali adalah kemampuannya untuk mengumpulkan kawan kawan yang kita miliki yang kadang bertahun tidak ketahuan juntrungannya ehhh ...

dengan getuk tular dari kawan ke kawan satu demi satu muncul dan terikat kembali jalinan silaturahmi. Face book juga membuat kita mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh kawan kawan kita, maupun apa yang sedang kita kerjakan.

Monday, September 7, 2009

Menundukkan Pandangan

Tidak ada yang lebih menguntungkan dibanding menundukkan pandangan bagi seseorang, sebab penglihatan itu tidak ditundukkan dari segala hal yang dilarang Allah kecuali jika penyaksian akan keagungan dan kemuliaan itu telah sampai ke dalam hati.


Amir Al-mukminin 'Ali ibn Abi Thalib r.a. ditanya tentang apa yang dapat membantu seseorang untuk menundukkan pandangannya. Beliau berkata "Kepasrahan pada kekuasaan-Nya yang mengetahui segala rahasiamu. Mata adalah pancaran hati dan cerminan akal; karena itu tundukkanlah pandanganmu dari apa pun yang tidak disukai oleh hatimu dan dari apa pun yang dianggap oleh akalmu tidak patut"

Nabi Saw berkata "Tundukkanlah matamu dan kamu akan melihat keajaiban-keajaiban"

Nabi Isa a.s. berkata kepada murid muridnya, "Waspadalah untuk tidak melihat hal hal yang dilarang, sebab itu merupakan benih nafsu dan menuntut kepada perilaku yang menyimpang"

Seorang bijak berkata "Aku lebih memilih kematian daripada memandang sesuatu yang tidak perlu"

Friday, April 10, 2009

Inspiration Story - Who Packed Your Parachute

Author Unknown

Charles Plumb was a US Navy jet pilot in Vietnam. After 75 combat missions, his plane was destroyed by a surface-to-air missile. skydiverPlumb ejected and parachuted into enemy hands. He was captured and spent 6 years in a communist Vietnamese prison. He survived the ordeal and now lectures on lessons learned from that experience!

One day, when Plumb and his wife were sitting in a restaurant, a man at another table came up and said, "You're Plumb! You flew jet fighters in Vietnam from the aircraft carrier Kitty Hawk. You were shot down!"

"How in the world did you know that?" asked Plumb.

"I packed your parachute," the man replied. Plumb gasped in surprise and gratitude. The man pumped his hand and said, "I guess it worked!" Plumb assured him, "It sure did. If your chute hadn't worked, I wouldn't be here today."

Plumb couldn't sleep that night, thinking about that man. Plumb says, "I kept wondering what he had looked like in a Navy uniform: a white hat; a bib in the back; and bell-bottom trousers. I wonder how many times I might have seen him and not even said 'Good morning, how are you?' or anything because, you see, I was a fighter pilot and he was just a sailor." Plumb thought of the many hours the sailor had spent at a long wooden table in the bowels of the ship, carefully weaving the shrouds and folding the silks of each chute, holding in his hands each time the fate of someone he didn't know.

Now, Plumb asks his audience, "Who's packing your parachute?" Everyone has someone who provides what they need to make it through the day. He also points out that he needed many kinds of parachutes when his plane was shot down over enemy territory - he needed his physical parachute, his mental parachute, his emotional parachute, and his spiritual parachute. He called on all these supports before reaching safety.

Sometimes in the daily challenges that life gives us, we miss what is really important. We may fail to say hello, please, or thank you, congratulate someone on something wonderful that has happened to them, give a compliment, or just do something nice for no reason. As you go through this week, this month, this year, recognize people who pack your parachutes.

Thursday, April 9, 2009

Inspiration Story - A Mothers Love

By unknown Author

A little boy came up to his mother in the kitchen one evening while she was fixing supper, and handed her a piece of paper that he had been writing on. After his Mom dried her hands on an apron, she read it, and this is what it said:

For cutting the grass: $5.00
For cleaning up my room this week: $1.00
For going to the store for you: $.50
Baby-sitting my kid brother while you went shopping: $.25
Taking out the garbage: $1.00
For getting a good report card: $5.00
For cleaning up and raking the yard: $2.00
Total owed: $14.75



Well, his mother looked at him standing there, and the boy could see the memories flashing through her mind. She picked up the pen, turned over the paper he'd written on, and this is what she wrote:

For the nine months I carried you while you were growing inside me:
No Charge
For all the nights that I've sat up with you, doctored and prayed for you:
No Charge
For all the trying times, and all the tears that you've caused through the years:
No Charge

For all the nights that were filled with dread, and for the worries I knew were ahead:
No Charge

For the toys, food, clothes, and even wiping your nose:
No Charge

Son, when you add it up, the cost of my love is:
No Charge.

When the boy finished reading what his mother had written, there were big tears in his eyes, and he looked straight at his mother and said, "Mom, I sure do love you." And then he took the pen and in great big letters he wrote: "PAID IN FULL".


Lessons:

* You will never how much your parents worth till you become a parent
* Be a giver not an asker, especially with your parents. there is a lot to give, besides money.

Advice: IF your mom is alive and close to you, give her a big kiss and ask her for forgiveness. If she is far away, call her. if she passed away, pray for her.


this story has been circulating over the internet for some time and there is never an author listed (unknown). If anyone happens to know where this story was first published, please let us know.

Monday, April 6, 2009

Google Emang Beda

Tahukah anda bahwa di Amrik sono, Google Inc adalah perusahaan yang paling diminati orang untuk bekerja. Tidak kurang dari 1300 lamaran datang tiap harinya. Ingat tiap hari berarti kalau sebulan ada kurang lebih 39000 pelamar !!

Pertanyaannya adalah ….. Apa sih hebatnya Google sampai bisa menjadi perusahaan yang paling diburu para pelamar mengalahkan perusahaan - perusahaan yang lebih dulu eksis seperti GE, Citibank, Monsanto, Microsoft atau pun Coca Cola ? Sembilan dari sepuluh orang ternyata menyebut hidangan lezat gratis yang menjadi alasan kenapa mereka menyukai kerja di Google (woo ala ternyata gak beda jauh ya sama orang sini kalau masalah perut he he) terkesan agak berlebihan ya kayak bunyi iklan sampo, tapi ini hasil survey lho. Yang membedakan dari perusahaan lain Google menyediakan makan gratis nan lezat sekali dengan aneka minuman berbeda yang disukai karyawannya.
Mereka merekrut koki hebat Charlie Ayers (denger denger doi mantan koki hotel Hotel Waldorf Astoria, salah satu hotel termewah di Amerika). Merekrut koki kelas dunia ini rupanya salah satu ide dari Sergey Brin (salah satu pendiri Google) dalam memandang masalah perut yang kerap kali dianggap tidak penting oleh perusahaan lain. Makanan yang baik, sehat, gratis untuk karyawan akan menjadikan Google berbeda dari perusahaan yang lain. Berani berbeda !
Spirit pendiri Google ini menulari karyawannya seperti Ayers “Tujuan saya setiap hari” katanya, adalah menciptakan suasana bahwa disini orang bukan sedang bekerja, melainkan sedang menjalani semacam liburan. Ini termasuk andilnya untuk turut serta memperkuat kultur bersenang-senang, yang dari awal dicanangkan oleh Brin dan Larry Page.
So jangan heran ketika suatu hari Brin dan Page menyewa Gedung Bioskop dekat kantor selama 24 jam, Semua karyawan dan keluarganya mendapat ticket gratis untuk menonton film Star Wars. Untuk menyenangkan karyawan, kamar mandi kantor dilengkapi toilet otomatis mewah dengan enam tingkat panas di tempat dudukannya (wah gimana rasanya ya ??, yg pasti asyik bagi yg udah pernah merasakannya, anget dan bingung pertama kali makainya he he). Googleplex juga dilengkapi dengan Spa, fitness center, kolam renang (kalau ini kantor kita juga punya ya…). Buat karywan juga disediakan fasilitas laundry modern untuk cuci baju dan setrika (ini juga ada kita ya, Cuma …..)
Makanan lezat dan kultur bersenang senang hanyalah sebagian dari kisah bagaimana Google dikelola, di Google ada aturan khusus, dari lima hari kerja, satu hari harus digunakan oleh para soft ware engineer untuk mengerjakan proyek apapun yang mereka senangi, Aneh kan he he …. (kalau di tempat kita ada aturan begini kira kira apa ya yang mereka lakukan …. :p).
Semua hal di atas membuat para pesaing bisnisnya jadi bingung, mereka melihat Google sebagai perusahaan yang bekerja tidak dengan motivasi untuk berperang melawan kompetitornya, dan sedapat mungkin tidak menciptakan musuh. “Google tidak anti siapapun” kata John Miller dari American On Line (AOL), begitulah suasana Google yg didirikan di tahun 1998, Google kini sudah mengalahkan Microsoft sebagai tempat yang paling diincar pakar Teknologi Nomor Satu di Dunia.

A True Story - Tortois and the Hippopotamus


NAIROBI (AFP) - A baby hippopotamus that survived the tsunami waves on the Kenyan coast has formed a strong bond with a giant male century-old tortoise in an animal facility in the port city of Mombassa, officials said. The hippopotamus, nicknamed Owen and weighing about 300 kilograms (650 pounds), was swept down Sabaki River into the Indian Ocean , then forced back to shore when tsunami waves struck the Kenyan coast on December 26, before wildlife rangers rescued him.


'It is incredible. A-less-than-a-year-old hippo has adopted a male tortoise, about a century old, and the tortoise seems to be very happy with being a 'mother',' ecologist Paula Kahumbu, who is in charge of Lafarge Park , told AFP.


'After it was swept away and lost its mother, the hippo was traumatized. It had to look for something to be a surrogate mother. Fortunately , it landed on the tortoise and established a strong bond. They swim, eat and sleep together,' the ecologist added.


'The hippo follows the tortoise exactly the way it followed its mother. If somebody approaches the tortoise, the hippo becomes aggressive, as if protecting its biological mother,' Kahumbu added.


'The hippo is a young baby, he was left at a very tender age and by nature, hippos are social animals that like to stay with their mothers for four years,' he explained.


'Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.'


This is a true story that shows that our differences don't matter much when we need the comfort of another. We could all learn a lesson from these two creatures. Look beyond the differences and find a way to walk the path together.'


With a very special thank to charityfocus.org and Dailygood.org who share this true story to us.

Sunday, April 5, 2009

Motivation - A Million Dollar Lesson

by : Petey Parker

A cab driver taught me a million dollar lesson in customer satisfaction and expectation. Motivational speakers charge thousands of dollars to impart his kind of training to corporate executives and staff. It cost me a $12 taxi ride.

I had flown into Dallas for the sole purpose of calling on a client. Time was of the essence and my plan included a quick turnaround trip from and back to the airport. A spotless cab pulled up.

The driver rushed to open the passenger door for me and made sure I was comfortably seated before he closed the door. As he got in the driver's seat, he mentioned that the neatly folded Wall Street Journal next to me for my use. He then showed me several tapes and asked me what type of music I would enjoy.

Well! I looked around for a "Candid Camera!" Wouldn't you? I could not believe the service I was receiving! I took the opportunity to say, "Obviously you take great pride in your work. You must have a story to tell."

"You bet," he replied, "I used to be in Corporate America. But I got tired of thinking my best would never be good enough. I decided to find my niche in life where I could feel proud of being the best I could be.

I knew I would never be a rocket scientist, but I love driving cars, being of service and feeling like I have done a full day's work and done it well. I evaluate my personal assets and... wham! I became a cab driver.

One thing I know for sure, to be good in my business I could simply just meet the expectations of my passengers. But, to be GREAT in my business, I have to EXCEED the customer's expectations! I like both the sound and the return of being 'great' better than just getting by on 'average'"

Did I tip him big time? You bet! Corporate America's loss is the traveling folk's friend!
-----
Lessons:

* Go an Extra Mile when providing any Service to others.
* There is no good or bad job. You can make any job good.
* Good service always brings good return.

Inspiration Story - Trees That Wood

Once there were three trees on a hill in the woods. They were discussing their hopes and dreams when the first tree said, "Someday I hope to be a treasure chest. I could be filled with gold, silver and precious gems. I could be decorated with intricate carving and everyone would see the beauty."

Then the second tree said, "Someday I will be a mighty ship. I will take kings and queens across the waters and sail to the corners of the world. Everyone will feel safe in me because of the strength of my hull."

Finally the third tree said, "I want to grow to be the tallest and straightest tree in the forest. People will see me on top of the hill and look up to my branches, and think of the heavens and God and how close to them I am reaching. I will be the greatest tree of all time and people will always remember me."

After a few years of praying that their dreams would come true, a group of woodsmen came upon the trees. When one came to the first tree he said, "This looks like a strong tree, I think I should be able to sell the wood to a carpenter" ... and he began cutting it down. The tree was happy, because he knew that the carpenter would make him into a treasure chest.

At the second tree a woodsman said, "This looks like a strong tree, I should be able to sell it to the shipyard." The second tree was happy because he knew he was on his way to becoming a mighty ship.

When the woodsmen came upon the third tree, the tree was frightened because he knew that if they cut him down his dreams would not come true. One of the woodsmen said, "I don't need anything special from my tree so I'll take this one", and he cut it down.

When the first tree arrived at the carpenters, he was made into a feed box for animals. He was then placed in a barn and filled with hay. This was not at all what he had prayed for. The second tree was cut and made into a small fishing boat. His dreams of being a mighty ship and carrying kings had come to an end. The third tree was cut into large pieces and left alone in the dark. The years went by, and the trees forgot about their dreams.

Then one day, a man and woman came to the barn. She gave birth and they placed the baby in the hay in the feed box that was made from the first tree. The man wished that he could have made a crib for the baby, but this manger would have to do. The tree could feel the importance of this event and knew that it had held the greatest treasure of all time. Years later, a group of men got in the fishing boat made from the second tree. One of them was tired and went to sleep. While they were out on the water, a great storm arose and the tree didn't think it was strong enough to keep the men safe. The men woke the sleeping man, and he stood and said "Peace" and the storm stopped. At this time, the tree knew that it had carried the King of Kings in its boat.

Finally, someone came and got the third tree. It was carried through the streets as the people mocked the man who was carrying it. When they came to a stop, the man was nailed to the tree and raised in the air to die at the top of a hill. When Sunday came, the tree came to realize that it was strong enough to stand at the top of the hill and be as close to God as was possible.

The moral of this story is that when things don't seem to be going your way, always know that God has a plan for you. If you place your trust in Him, He will give you great gifts. Each of the trees got what they wanted, just not in the way they had imagined. We don't always know what God's plans are for us. We just know that His ways are not our ways, but His ways are always best.


this story has been circulating over the internet for some time and there is never an author listed (unknown). If anyone happens to know where this story was first published, please let us know.

Thursday, April 2, 2009

Imajinasi "Kekuatan Sebuah Impian"

Aneh, kok bisa ya semua impian dalam Dream Book ABC saya terwujud?”

Gumaman dalam hati ini muncul setelah 2 tahun mengikuti kelas pelatihan Awareness Before Change (ABC) pertama saya sekitar tahun 2001, dari Master Trainer ABC Bpk. Col. Haji Izaideen Samsoodeen dari Malaysia, beliau adalah murid langsung dari Bob Proctor “The Secret”. Dan, saya mengikuti kelas pelatihan ABC ini sampai 8 kali, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Salah satu impian waktu itu adalah menjadi Pembicara Publik yang masuk TOP 10 di Indonesia. Saat menuliskan impian tersebut, saya belum menuliskan istilah MOTIVATOR. Baru setelah 2 tahun karir sebagai pembicara publik, salah satu majalah me-rating para Motivator dan saya dinilai sebagai salah satu TOP 20, mulai sejak itulah saya menggunakan istilah MOTIVATOR.

Uniknya, saya menggunakan kartu nama dengan label Emotional Motivation Consultant (mungkin karena kurang pede saat itu he he…), namun di dalam Dream Book ternyata saya menuliskan sbb:

“Menjadi Pembicara Motivasi Kelas Dunia”

Ha..ha.. ternyata impian saat dibuat dengan sungguh-sungguh dan sangat jelas, sangatlah kuat dampaknya, walau si Conscious kita masih kurang percaya diri. Namun, yang telah tertanam di Unconscious tetap lebih kuat.

Kesimpulan dari pengalaman saya sendiri ini, menguatkan saya akan pentingnya berimajinasi dalam membuat sebuah impian. Saya tidaklah terlalu tertarik dengan HOW TO, karena BELIEF saya adalah IF YOU KNOW WHY, YOU WILL FIND HOW.

Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan.

Jadi, kuncinya adalah bagaimana membuat sebuah impian yang dapat menimbulkan perasaan yang membara. Sejak itu, saya selalu menguji coba ide sederhana ini, “repotnya” selalu tercapai. Yang belum tercapai, biasanya hanyalah karena perasaan saya akan impian tersebut, belumlah MEMBARA…

Jika perasaan saya sudah membara untuk mewujudkan sebuah impian, pengalaman selama ini PASTI tercapai. Namun, jalannya harus tetap dalam koridor DOA RESTU dari DIA yang MAHA…

Artinya, saya hanya berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh, setelah itu biarlah DIA yang menentukan. Nah,…

Bagaimana Membuat Perasaan Membara?

Kuncinya berimajinasi sedemikian rupa, sampai apa yang kita ingin wujudkan sudah terwujud. Guru ABC saya, Pak Haji Izaideen selalu mengatakan pada saya: If you can hold it in your heart, you can have it in your hand… Mantap, bok! Jadi, berimajinasilah… berimajinasilah…

Pertama kali saya belajar Imajinasi Impian adalah saat saya mengikuti pelatihan di Melbourne, Australia, sekitar tahun 1994. Sekarang saya tahu bahwa pelatihan yang saya ikuti tersebut adalah terapan NLP yang sangat luar biasa. Belum pernah ada lagi pelatihan seperti itu. Karena berupa praktek nyata. Saat itu, kami dibawa ke sebuah lahan kosong di puncak gunung, milik seorang Business Leader terkenal dan kaya raya di Melbourne.

Michael Artusa, demikian namanya, menjelaskan, menggambarkan, menyajikan, mengimajinasikan, ke kami para peserta dari Indonesia (salah satunya adalah Erbe Sentanu yang saya kenal dengan nama Mas Nunu), dengan sangat jelas dan sangat antusias akan rumah yang ingin dia bangun. Begitu hebatnya, sehingga tanah kosong itu seperti ada rumah betulan he he he… Artinya dalam NLP, beliau melibatkan semua alat indra (VAKOG) untuk melukiskan rumah impiannya…

Sebelnya lagi, sampai saat ini, di benak saya, rumah imajinasi itu masih menempel dengan sangat kuat hi hi… Saya sungguh sangat terkagum-kagum dengan pengalaman ini. Dalam hati saya terbangun sebuah keyakinan yang SANGAT BESAR. Saya akan kembali ke Indonesia dan membangun impian saya…

Ternyata dengan terus mengulangi imajinasi sebuah impian, akan berdampak BURNING DESIRE atau keinginan yang membara!!! Nah,…

Bagaimana Melatih Imajinasi untuk Sebuah Impian?

Mari kita mulai dengan sebuah ide yang Anda ingin wujudkan. Ini yang biasa saya lakukan:

1. Saya biasanya berimajinasi impian saya pada malam hari sebelum tidur, yang kadang bisa berdampak semangat yang membara, sehingga kita bisa tetap terjaga.

Seperti yang saya alami saat menulis artikel ini. Pada malam tadi (2 April 2009), saya hampir tidak tidur, imajinasi dalam benak saya terus muncul, yakni: Saya memotivasi di hadapan 10.000 peserta.

Begitu semangatnya, akhirnya terpaksa saya salurkan energinya dengan menulis artikel dan melukis, terbuatlah artikel ini dan sebuah lukisan yang saya beri nama PROGRESS.

2. Buatlah Imajinasi impian Anda sejelas mungkin, sedetail mungkin, warna-warni, ada suara-suara, bisa dirasakan, bisa “disentuh”, bisa dihirup, bisa dijilat, persis ada “nyata” di depan Anda. Libatkan semua VAKOG Anda.

Pokoknya berimajinasilah seperti “orang gila” yang sangat percaya bahwa yang dibayangkannya adalah NYATA…

3. Sering-seringlah putar film imajinasi impian Anda ini, semakin sering semakin baik. Semakin gila perasaan yang muncul, semakin baik. Pengalaman saya, bahkan sangat sering saat tidurpun saya bermimpi imajinasi tersebut.

Terus lakukan langkah-langkah sederhana tersebut di atas, sampai muncul perasaan yang membara dalam diri Anda untuk mewujudkannya. Saat perasaan yang kuat tersebut muncul, kakipun akan sangat mudah untuk melangkah, bahkan berlari untuk mewujudkan impian ini menjadi nyata. Otakpun akan terbuka untuk mencari ide solusi, jalan keluar, metode yang praktis dan sebagainya…

Demikian pengalaman sharing ini, semoga berhikmah untuk Anda semua. Tulisan bisa saja belum lengkap, karena saya menulis jam 3-4 dini hari. Mungkin saja ada yang terlupa dengan pengalaman lainnya, jika ada tambahan, akan saya tambahkan lagi…

Saya kok sangat yakin ya dengan kalimat ini:

Imagination is more important than knowlegde

Maaf, saya lupa siapa yang mengatakan ini.

Jakarta, 2 April 2009

By : Krishnamurti - Mindset Motivator

Pernikahan Menjelang Detik - Detik Kematian


The girl in the picture is Katie Kirkpatrick, she is 21. Next to her, her fiancé, Nick, 23. The picture was taken shortly before their wedding ceremony, held on January 11, 2005 in the US . Katie has terminal cancer and spend hours a day receiving medication. In the picture, Nick is waiting for her on one of the many sessions of quimo to end.

Wanita di gambar atas adalah Katie Kirkpatrick, dia berumur 21 thn. Sebelah kirinya, adalah tunangannya, Nick, 23. Gambar itu diambil tidak lama sebelum pernikahan mereka, yang dilaksanakan tanggal 11 Januari 2005 di US. Katie menderita kanker stadium akhir dan menghabiskan beberapa jam setiap harinya untuk terapi. Terlihat Nick sedang menunggu Katie sampai selesai, ini adalah salah satu dari sekian banyak sesi kemoterapi Katie.


In spite of all the pain, organ failures, and morphine shots, Katie is going along with her wedding and took care of every detail. The dress had to be adjusted a few times due to her constant weight loss
Dalam kesulitannya dalam menahan rasa sakit, kegagalan organ, dan morphin , Katie tetap mau melaksanakan acara pernikahannya dan memperhatikan setiap detail. Gaun pengantin perlu diperkecil beberapa kali karena Katie terus menerus kehilangan berat badannya.

An unusual accessory at the party was the oxygen tube that ketie used throughout the ceremony and reception as well. The other couple in the picture are Nick’s parents. Excited to see her son marrying his high school sweetheart.

Pernikahan dengan aksesoris yang tidak biasa dengan selang oksigen, Katie memakainya baik dalam upacara dan resepsi pernikahannya. Pasangan yang lain di gambar atas adalah Orang Tua Nick. Ikut Bersuka Cita melihat anak laki2nya menikahi sang pujaan hati, teman smunya.

Katie, in her wheelchair with the oxygen tube , listening a song from her husband and friends

Katie, di kursi rodanya dengan selang oksigen, mendengarkan sebuah lagu dari suaminya dan teman2nya.

At the reception, katie had to take a few rests.The pain do not let her to be standing up for long periods

Dalam resepsi, Katie perlu beberapa kali istirahat. Rasa sakitnya membuat ia tidak bisa berdiri lama2.

Katie died five days after her wedding day. Watching a women so ill and weak getting married and with a smile on her face makes us think….. Happiness is reachable, no matter how long it last. We should stop making our lives complicated.

Katie meninggal 5 hari kemudian setelah pernikahannya. Melihat seorang wanita yang sakit kritis dan lemah melakukan pernikahan dan dengan sebuah senyuman di wajahnya membuat kita berpikir….. Kebahagiaan bisa dicapai, tidak perduli bisa bertahan berapa lama. Kita seharusnya tidak membuat hidup kita menjadi rumit.

HIDUP ADALAH SINGKAT.. MAKA ITU PERGUNAKANLAH SETIAP MOMEN DENGAN SE BAIK BAIK NYA .....

sumber : email


Wednesday, April 1, 2009

Thanks for Your Time

It had been some time since Jack had seen the old man. College, girls, career, and life itself got in the way. In fact, Jack moved clear across the country in pursuit of his dreams. There, in the rush of his busy life, Jack had little time to think about the past and often no time to spend with his wife and son. He was working on his future, and nothing could stop him.

Over the phone, his mother told him, "Mr. Belser died last night. The funeral is Wednesday."

Memories flashed through his mind like an old newsreel as he sat quietly remembering his childhood days.

"Jack, did you hear me?"

"Oh sorry, Mom. Yes, I heard you. It's been so long since I thought of him. I'm sorry, but I honestly thought he died years ago," Jack said.

"Well, he didn't forget you. Every time I saw him he'd ask how you were doing. He'd reminisce about the many days you spent over 'his side of the fence' as he put it," Mom told him.

"I loved that old house he lived in," Jack said.

"You know, Jack, after your father died, Mr. Belser stepped in to make sure you had a man's influence in your life," she said.

"He's the one who taught me carpentry," he said. "I wouldn't be in this business if it weren't for him. He spent a lot of time teaching me things he thought were important... Mom, I'll be there for the funeral," Jack said.

As busy as he was, he kept his word. Jack caught the next flight to his hometown. Mr. Belser's funeral was small and uneventful. He had no children of his own, and most of his relatives had passed away.

The night before he had to return home, Jack and his Mom stopped by to see the old house next door one more time.

Standing in the doorway, Jack paused for a moment. It was like crossing over into another dimension, a leap through space and time.

The house was exactly as he remembered. Every step held memories. Every picture, every piece of furniture... Jack stopped suddenly.

"What's wrong, Jack?" his Mom asked.

"The box is gone," he said.

"What box?" Mom asked.

"There was a small gold box that he kept locked on top of his desk. I must have asked him a thousand times what was inside. All he'd ever tell me was 'the thing I value most,'" Jack said.

It was gone. Everything about the house was exactly how Jack remembered it, except for the box. He figured someone from the Belser family had taken it.

"Now I'll never know what was so valuable to him," Jack said. "I better get some sleep. I have an early flight home, Mom."

It had been about two weeks since Mr. Belser died. Returning home from work one day Jack discovered a note in his mailbox. "Signature required on a package. No one at home. Please stop by the main post office within the next three days," the note read.

Early the next day Jack retrieved the package. The small box was old and looked like it had been mailed a hundred years ago. The handwriting was difficult to read, but the return address caught his attention.

"Mr. Harold Belser" it read.

Jack took the box out to his car and ripped open the package. There inside was the gold box and an envelope. Jack's hands shook as he read the note inside.

"Upon my death, please forward this box and its contents to Jack Bennett. It's the thing I valued most in my life." A small key was taped to the letter. His heart racing, as tears filling his eyes, Jack carefully unlocked the box. There inside he found a beautiful gold pocket watch.

Running his fingers slowly over the finely etched casing, he unlatched the cover. Inside he found these words engraved:

"Jack, Thanks for your time! -Harold Belser."

"The thing he valued most...was...my time."

Jack held the watch for a few minutes, then called his office and cleared his appointments for the next two days. "Why?" Janet, his assistant asked.

"I need some time to spend with my son," he said. "Oh, by the way, Janet... thanks for your time!"


With a very special thank you to Charles McCulloch who recommended this story to us. Please note that this story has been circulating over the internet for some time and there is never an author listed. If anyone happens to know where this story was first published, please let us know.

We'll give you our votes, but what do we get in return?

I have promoted you as legislative candidate here, but people will only vote for you if you have something to offer,” a text message read on a candidate's cell phone.
“I have received similar text messages almost every day recently,” National Mandate Party (PAN) candidate from South Sulawesi, Andi Yuliani or Yuli, told The Jakarta Post on Tuesday.

Yuli said most voters in the 2009 elections had been asking their legislative candidates for money and other items.

“Today, eligible voters can be the brokers, 'selling' their votes at certain prices and offering them to legislative candidates like me,” she said.

One voter even offered her 10 votes at Rp 50,000 (US$4.50) each.

“I am trying to play fairly in this election without involving money, but many legislative candidates have indulged voters by giving them money, phone credit, T-shirts and sandals,” Yuli said.

“In the previous election, I didn’t encounter such a situation. Now the voters believe their votes can be sold to whichever candidate pays the highest rate."

Yuli said the arrangement was potentially the worst aspect of regional elections, with local politicians using money to influence supporters.

She also criticized the Election Supervisory Body (Bawaslu) for their poor efforts monitoring the election process.

Political observer Fachry Ali said Indonesian voters had become smarter and more cunning compared to previous elections, learning how to "manipulate" legislative candidates or parties while maintaining distance from them.

“The people can manipulate and benefit from this situation,” he told the Post.

“It happens because politicians only begin approaching them during election periods,” he said.
During the campaign, most party leaders and candidates have made promises to improve the economy and provide cheaper essentials.

The elections — only eight days away — have provided a golden opportunity for the jobless to earn money regardless of their actual political preference.

Rahmanto, a worker from the Tanah Abang textile market in Central Jakarta, said he was enjoying the election campaign period so far.

He and his wife joined a campaign rally for a major party a few days ago and earned Rp 140,000 plus food and T-shirts just to watch a dangdut show and applaud the orators and performers.

His wife also bought cheap food — cooking oil, sugar, rice and instant noodles — in a bazaar staged by a mid-sized party.

“We were allowed to buy various staple goods for about Rp 10,000 each,” Rahmanto’s wife, Irma Yani, said.

For ojek (motorcycle taxi) driver Yono, the campaigns are a must-attend event.

“I have joined five party campaigns in the past two weeks. I received T-shirts, snacks and, of course, cash,” he said, laughing.

He said seasoned supporters like himself could earn between Rp 40,000 and Rp 80,000, depending on the party.

Although he has joined party campaign activities and earned some pay, he refused to reveal which party he will vote on April 9.

“Of course I have my favorite party. Joining these campaigns doesn’t mean I will choose any of them,” he said.

Rahmanto had his own opinion about voting. “I don’t think I will vote for any of those parties. I joined [the campaigns] just for money,” he said.

The Jakarta Post 4/1/2009