Monday, December 29, 2008

Leading by Example

Pada suatu hari, Konfusius, seorang filsuf yang terkenal, menempuh perjalanan jauh menyeberangi padang gurun bersama beberapa muridnya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari akhimya persediaan air minum habis, mereka semua berjalan dengan lemah dan gontai. Suatu ketika salah seorang dari muridnya menemukan ceruk kecil dibawah batu-batuan yang berisi genangan air yang dangkal. Dengan segera ia mengambil mangkuk nasinya dan dengan susah payah hanya mampu menyedok sebanyak setengah dari isi mangkuk itu. Ia kemudian mengantarkan semangkuk air itu kepada gurunya. Ketika Konfusius baru menempelkan mangkuk itu ke bibimya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, "Air ini terlalu sedikit untuk kita semua dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini. "

Sebagai seorang pemimpin, Konfusius tidak mampu meminum air itu sendirian dan membiarkan muridnya sengsara. Ia tidak merasa dirinya lebih tinggi dari para muridnya dan inilah contoh dari seorang pemimpin sejati. Hari itu Konfusius belum mampu menghilangkan dahaga pasukannya namun ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berarti kepada pasukannya, yaitu arti dari sebuah kepemimpinan sejati.