Tuesday, January 15, 2008

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang
Nippon Mengusai Dunia

11. Etika Kerja Jepang

Etika kerja bangsa Jepang bersifat umum,
tetapi lebih memiliki banyak persamaan
dengan sistem kerja bangsa Asia dari pada
sistem kerja bangsa Barat.

MESKIPUN KEMAMPUAN bangsa Jepang untuk menciptakan sesuatu tidak sehebat bangsa Barat, mereka selalu berusaha memperbaharui ciptaan dan meningkatkan mutu produksi. Hal itu secara tidak langsung mempertahankan Jepang sebagai penguasa perekonomian dunia dalam era globalisasi dan pemicu kebangkitan negara Asia lainnya sebagai penguasa ekonomi yang baru. Sejak beberapa dekade lalu, Jepang banyak membantu perekonomian negara-negara Asia dengan cara menanam modal. Hal tersebut membuka banyak peluang kerja di Asia. Jepang juga memindahkan sebagian teknologinya ke negara tetangga, meskipun beberapa teknologi tersebut sudah usang.

Perusahaan-perusahaan Jepang di Malaysia memberi Sumbangan sebanyak dua puluh tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pabrik-pabrik yang didirikan juga memberi peluang mewujudkan prasarana dan kawasan perindustrian baru.
Malaysia merupakan salah satu negara yang paling banyak mendapat manfaat dan penanaman modal Jepang. Asas “memandang ke Timur” menjadikan hubungan bisnis dan diplomatik semakin utuh. Diakui atau tidak, penanaman modal jangka panjang Jepang memiliki pengaruh besar pada kekuatan ekonomi sebagian besar negara Asia Timur. Keberhasilan perusahaan dan organisasi Jepang lainnya di luar negeri membuktikan etika kerja mereka dapat diterapkan di negara-negara lain.

Etika kerja bangsa Jepang bersifat umum, tetapi lebih memiliki banyak persamaan dengan sistem kerja bangsa
Asia daripada sistem kerja bangsa Barat. Hal itu dapat diterapkan di negara lain dengan melakukan penyesuaian dengan budaya setempat. Bangsa Jepang merupakan contoh bangsa yang maju melalui tekad kuat dan kemauan tinggi. Mereka rajin dan mau bekerja keras untuk membangun dan memajukan negaranya. Bangsa Jepang juga berusaha mengembalikan gambaran, harga diri, dan nama baik mereka yang tercemar akibat kalah perang. Semua infrastruktur yang hancur didirikan kembali menggunakan teknologi yang lebih canggih. Berbagai industri tumbuh dengan cepat, sehingga mampu memenuhi keperluan negara dan menjadi sumber dana untuk membangun kembali negara dan bangsanya.

Etika kerja yang baik menghasilkan “buah” yang baik dan dapat dinikmati terus-menerus. Yang di perlukan adalah tindakan, bukan hanya sekadar pembicaraan. Etika kerja yang baik hanya menjadi etika jika tidak diterapkan. Untuk menerapkannya, diperlukan komitmen. Tanpa konsistensi dan disiplin, etika yang baik juga tidak dapat menghasilkan sesuatu. Semangat dan sikap seperti itu hanya dapat diwujudkan melalui kemauan untuk bekerja. Tanpa kemauan tersebut, kerajinan dan disiplin yang ketat tidak akan terwujud. Kemauan itu harus ditanamkan dalam jiwa dan pikiran. Jika tidak, maka dalam diri seseorang akan selalu timbul perasaan santai dan malas yang dapat merusak prestasi kerjanya.

Etika kerja orang Jepang berbeda dengan etika kerja Barat. Bangsa Barat percaya pada anggapan bahwa sesuatu dapat diperoleh dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, para pekerja di Barat sering mendesak kenaikan gaji dan hal-hal lain tanpa memperkirakan pengeluaran, kemampuan, dan pendapatan perusahaan. Bangsa Jepang beranggapan bahwa mereka perlu bekerja keras dan berusaha demi mendapatkan sesuatu. Mereka perlu bekerja keras untuk menentukan banyaknya bagian yang diperoleh seseorang.

Meskipun tidak memiliki banyak sumber alam, mereka tidak berpangku tangan dan membiarkan keadaan geografis dan takdir menentukan nasib dan masa depan mereka. Bangsa Jepang sadar mereka perlu berjuang untuk kesejahteraan hidupnya. Bagi mereka, hidup merupakan perjuangan. Dalam perjuangan, berbagai rintangan dan cobaan harus dihadapi dengan tabah. Perjuangan itu akan berhasil melalui etika kerja yang teratur, penuh disiplin, kreatif, dan inovatif. Etika kerja seperti itu penting untuk menimbulkan keinginan berusaha dan bekerja lebih keras daripada orang lain. Usaha keras juga berarti mau mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk menghasilkan kualitas kerja yang lebih baik dan produk yang mampu bersaing.

Kebanyakan perusahaan di Jepang mengesampingkan perbedaan status antara pekerja, baik pekerja eksekutif maupun pekerja biasa. Kedua golongan tersebut itu menghabiskan waktu yang sama banyak dalam bekerja. Pengorbanan setiap pekerja dihargai dengan merujuk setiap keputusan yang akan dibuat kepada para pekerja. Hal itu memperkuat komitmen setiap pekerja sebagai bagian dari komponen perusahaan dan organisasi. Organisasi Jepang bersikap seperti seorang ayah dan hal itu meningkatkan kesetiaan dan semangat kerja pekerjanya. Etika kerja Jepang dapat dilaksanakan di negara lain jika ada kemauan dan kesungguhan untuk memajukan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

[ Fakta Menarik ]
Tips menjadi bangsa maju seperti Jepang :
• Tekad kuat
• Kemauan tinggi
• Kerja keras
• Usaha mengembalikan citra, harga diri, dan nama baik negara
___
Etika kerja yang baik
menghasilkan ‘buah’ yang baik
___
Usaha keras berarti mau mengorbankan
waktu, tenaga dan uang.
___

Oleh : Ann Wan Seng

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.