Tuesday, December 4, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

07. Seni Pengolalaan Jepang

Bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka
sebagai anggota organisasi
dan perkumpulan tertentu jika memperkenalkan diri.


BIASANVA, seseorang memperkenalkan diri berdasarkan identitas negara atau keturunannya. Bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka sebagai anggota organisasi dan perkumpulan tertentu saat memperkenalkan diri. Mereka bangga jika dikaitkan dengan organisasi besar dan berprestasi, tempat mereka bekerja. Semangat inilah yang menjadi tonggak utama kekuatan organisasi perdagangan bangsa Jepang. Mereka bangga bila dapat mencurahkan kesetiaannya pada organisasi besar dan berpengaruh. Oleh karena itu, mereka selalu melakukan dan memberikan yang terbaik kepada organisasi tempat mereka bekerja.

Bangsa Jepang memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Semangat inilah yang memunculkan Jepang sebagai penguasa ekonomi dunia yang berpengaruh pada masa sekarang. Mereka bukan saja dapat menyaingi negara barat, melainkan juga berhasil bangkit dari keruntuhan dan kekalahan akibat perang dalam waktu singkat. Semangat kebersamaan bangsa Jepang sangat besar, sehingga segala keputusan yang dibuat mencerminkan sikap perkumpulan dan organisasi yang didukungnya.

Untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan perusahaannya, bangsa Jepang juga sanggup mengorbankan pendapat pribadi, masa istirahat, gaji, dan sebagainya.

Sikap dan pengelolaan bangsa Jepang berbeda dengan negara Barat yang memberikan ruang sebesar-besarnya kepada anggota organisasi untuk berpendapat dan mengemukakan pandangan. Dalam organisasi Jepang, pendapat anggota dianggap penting dan diberi perhatian sewajarnya. Kesediaan bangsa Jepang mengorbankan hak itu, termasuk kehidupan pribadi, membuat organisasi mereka bergerak lancar tanpa banyak halangan. Halangan-halangan tersebut bisa berupa hal yang selalu dicetuskan para bawahan seperti tuntutan kenaikan gaji, bonus, cuti, dan lain sebagainya.

Selain itu, kemauan orang Jepang menjadi hamba organisasinya merupakan faktor kesuksesan negara itu menjadi penguasa besar dalam bidang ekonomi dan industri. Walaupun cara pengelolaan itu melemahkan bangsa Jepang sebagai seorang individu, tetapi dari sisi lain, cara itu berhasil menghasilkan organisasi yang mantab dan kuat. Para pengusaha Jepang memainkan peran penting dalam memberikan perhatian lebih kepada anggota organisasi. Mereka percaya, jika keperluan anggota dipenuhi dengan baik, maka mereka dapat menyelesaikan banyak pekerjaan yang masih tertinggal. Sikap dan gaya pengelolaan seperti ini tidak dilakukan para eksekutif di AS yang lebih senang membedakan kebutuhan individu dan organisasi. Seni pengelolaan Jepang menitik beratkan kepentingan setiap anggotanya tanpa memandang pangkat dan kedudukan. Oleh karena itulah, para pekerja di Jepang selalu melakukan percakapan dalam bentuk lingkaran sehingga semua dapat ikut ambil bagian dan memberi pendapatnya masing-masing.

Dalam sistem kepengelolaan Jepang, individu tidak penting jika jika dibandingkan dengan perkumpulan dan organisasi. Sikap lain bangsa Jepang yang patut diperhatikan adalah mereka tidak suka membuat keputusan tanpa berpikir terlebih dulu. Keputusan harus dibuat secara kolektif dengan pertimbangkan semua pendapat. Bukan berarti para eksekutif Jepang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk bertindak. Mereka tidak takut mengambil risiko. Hanya saja mereka tidak mau mengambil keputusan dan tindakan yang merugikan organisasi.

Sebagai contoh, perusahaan Matsushita menanamkan semua modalnya dalam pengelolaan Philips, walaupun tidak memiliki sumber yang cukup untuk membuat kajian mendalam karena perang baru berakhir. Untuk melahirkan barisan pengelolaan yang berkualitas dan setia dengan sepenuh hati kepada organisasi tidaklah mudah, karena diperlukan modal yang banyak untuk menghasilkan kepengelolaan gaya Jepang. Seni kepengelolaan Jepang juga perlu dipelajari. Hal yang lebih penting adalah setiap organisasi di Indonesia perlu memberikan perhatian kepada pembangunan manusia dan nilai kemanusiaan dalam kepengelolaan mereka. Jika hal ini dapat dilakukan, maka organisasi tidak perlu lagi takut dan ragu-ragu dengan kesetiaan para pekerjanya. Tanpa elemen-elemen ini sulit bagi organisasi mana pun di dunia untuk menandingi organisasi di Jepang atau yang beroperasi di negara-negara lain.

[ Fakta Menarik ]

• Kelebihan seni pengelolaan Jepang.
Menitik beratkan kepada kepentingan setiap anggota
• Senantiasa melakukan dialog
• Tidak membuat keputusan secara sewenang-wenang.
----
“Kemauan bangsa Jepang menjadi
hamba organisasinya merupakan fakor
kesuksesan Negara itu menjadi penguasa besar
dalam bidang ekonomi dan industri.”
“Dalam sistim pengelolaan Jepang,
individu tidak penting jika dibandingkan
dengan perkumpulan dan organisasi.”
----
Oleh : Ann Wan Seng
Dikirm oleh : Retno Kintoko
[ bersambung ]