Sunday, December 23, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

16. Inovasi Jepang

Di Jepang, kebanyakan inovasi dihasilkan oleh
tim pengelola dan pekerja golongan menengah
dalam organisasi atau perusahaan.

Di NEGARA BARAT,
inovasi dihasilkan oleh orang yang disebut jenius dalam bidang masing-masing. Akan tetapi, di Jepang, kebanyakan inovasi dihasilkan oleh tim pengelola dan pekerja golongan menengah dalam organisasi ataupun perusahaan. Dengan kata lain, inovasi dihasilkan melalui kerja sama tim, bukan individu. Inovasi tersebut merupakan hasil gabungan ide dari sekelompok orang.

Dalam organisasi Jepang, dibentuk berbagai tim kerja untuk memunculkan ide baru yang kreatif. Pembicaraan dalam suatu tim dan semangat kesetiaan kepada perusahaan yang selalu dipupuk, mampu menghasilkan kerja yang inovatif. Mereka menyumbangkan ide untuk kemajuan dan keberhasilan perusahaan mereka.

Perusahaan Matsushita Electric pernah dikenal dengan sebutan “maneshita”, yang berarti tukang tiru. Namun sumbangan ide seorang wanita pekerjanya, Tanaka, membuat perusahaan mampu menciptakan mesin pembuat roti otomatis pertama di dunia. Alat itu disebut home bakery. Penemuan mesin itu mengubah citra perusahaan Matsushita Electric. Dan perusahaan dengan budaya peniru menjadi budaya pencipta dan inovatif.

Secara tidak langsung, sebutan itu mendorong pekerjanya untuk menghasilkan berbagai ide baru sehingga menjadikan Matsushita Electric sebagai salah satu perusahaan perangkat listrik terbesar dan paling unggul. Oleh karena itulah, perusahaan Jepang selalu mendorong para pekerjanya untuk menyumbangkan ide mereka. Setiap ide selalu dipertimbangkan, meskipun berasal dari pekerja yang tidak memiliki jabatan penting.

Perusahaan Jepang mengutamakan aspek kemanusiaan dalam pengelolaannya. Pekerja yang rajin dan mampu memberikan ide-ide yang membangun untuk kemajuan perusahaan diberikan nilai tinggi. Perusahaan Jepang mendorong persaingan yang sehat dan positif di kalangan pekerjanya agar mereka lebih produktif, kreatif, dan inovatif. penghargaan yang diberikan perusahaan Jepang kepada pekerja golongan bawah mendorong hasil produksi baru yang dapat dipasarkan dengan lebih baik, cepat, dan mampu bersaing. Hal itu disebabkan karena pekerja memahami jenis barang yang dihasilkan dan jenis yang diperlukan konsumen. Mereka sendiri merupakan konsumen dan lebih mengerti jenis barang yang diperlukan dan keadaan pasar.

Proses inovasi produk tersebut tidak hanya mengutamakan hasil produk baru yang dapat memenuhi keperluan pasar, tetapi juga cara kerja dan mutu produksi yang lebih baik. Semangat “menjadi terbaik” adalah asas dan moto organisasi Jepang dan salah satu motivasi setiap perusahaan untuk menghasilkan model dan produk baru dengan kualitas Iebih baik.

Oleh karena itu, tidak heran teknologi di Jepang berkembang sangat pesat dan sulit ditandingi oleh negara-negara lain, termasuk negara Barat. Setiap hari selalu ada model dan produk baru yang dihasilkan, dikeluarkan, dan dijual di pasaran. Orang Jepang sangat inovatif karena selalu ingin menghasilkan produk yang baru dan terkini.

Nilai konservatif kehidupan orang Jepang tidak pernah menghalangi kemajuan dalam bidang teknologi canggih. Sebaliknya, dengan bekal ide, kepercayaan, dan tekad, orang Jepang akhirnya berhasil membuktikan mereka sebagai salah satu bangsa yang paling inovatif di dunia.

Dulu, produk yang berlabel Made in Japan sering dilecehkan dan dianggap barang murahan yang tidak bermutu. Namun, saat ini, produk Jepang dianggap sebagai produk yang terbaik di dunia dan sejajar dengan produk negara maju lainnya. Semua itu dihasilkan melalui inovasi para pekerja Jepang yang kreatif dan hasil kerja yang produktif. Keberhasilan Jepang merupakan hasil usaha dan proses inovasi yang dilakukan secara terus-menerus. Hal itu dilakukan tanpa bosan dan tanpa mengenal rasa putus asa.

[Fakta Menarik]

Tips keberhasilan Jepang :
• Usaha dan proses inovasi yang terus-menerus
• Inovasi para pekerja yang kreatif
• Hasil kerja yang produktif
____
Home bakery adalah mesin pembuat roti
otomatis pertama di dunia
____
Semangat “menjadi yang terbaik
adalah asas dan motto perusahaan di Jepang.

Thursday, December 6, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
10. Budaya Kerja Bangsa Jepang (2)

Bangsa Jepang sanggup bekerja lembur, meskipun tidak dibayar. Itu merupakan wujud kesetiaan dan komitmen mereka pada perusahaan. Kesungguhan dan sikap kerja keras pekerja Jepang tidak dapat ditandingi oleh bangsa-bangsa lain sehingga mereka sanggup mengorbankan kepentingan pribadi dan juga waktu bersama keluarga. Meskipun pekerja Jepang bekerja lima hari seminggu, catatan jam kerja mereka paling tinggi dibandingkan pekerja Eropa Barat dan AS.

Akan tetapi, kesejahteraan ekonomi dan sosial yang pekerja Jepang dirasakan menyebabkan adanya sedikit penurunan dalam jam kerja mereka. Meskipun begitu, jumlah itu tetap yang tertinggi di dunia.

Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada tahun 1992, jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jumlah jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun).

Perkiraan tersebut berdasarkan penggunaan jam kerja secara maksimal dan produktif. Kerajinan dan kemauan bangsa Jepang untuk bekerja melebihi jam kerja membuahkan hasil positif, yaitu membantu perkembangan dan pertumbuhan pesat ekonomi Jepang. Dalam hal itu, tidak ada yang memperkirakan bahwa Jepang dapat bangkit dan pulih kembali dalam waktu yang begitu singkat setelah mengalami masa-masa sulit pada era 1940 - 1950an.

Keberhasilan tersebut menarik perhatian dan keinginan banyak negara, termasuk Malaysia, untuk mempelajari formula keberhasilan Jepang tersebut. Pada era 1980-an, Malaysia memperkenalkan asas memandang ke Timur dengan menjadikan Jepang sebagai contoh dan teladan dalam keberhasilan ekonomi. Azas itu diperkenalkan dengan tujuan rakyat Malaysia dapat mempelaiari dan mengikuti etika kerja orang Jepang.

Budaya kerja bangsa Jepang yang diperkenalkan melalui azas ini antara lain pencatatan waktu, senam pagi sebelum bekerja, bekerja dalam tim, dan penjelasan singkat rnempelajari cara kerja sebelum memulai kerja. Kaidah dan etika kerja tersebut merupakan ciri-ciri dan budaya kerja di Jepang. Akan tetapi, budaya kerja tersebut tidak berhasil diterapkan dalam budaya kerja orang Malaysia.

Untuk menerapkan budaya kerja orang Jepang, diperlukan sikap konsisten dan komitmen tinggi. Jika tidak dilaksanakan sungguh maka akan sia-sia belaka. Sebenarnya, budaya dan kebiasaan kerja bangsa Jepang dapat diterapkan dalam suatu negara dengan cara menyesuaikannya dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Budaya kerja Jepang tidak sulit diterapkan, asalkan setiap orang mau mengubah sikap. Sikap rajin, optimis, kreatif, dan tepat waktu, merupakan ciri-ciri bangsa maju. Bangsa Jepang maju karena mereka rajin. Begitu juga dengan bangsa Cina. Mereka juga rajin seperti Jepang, meskipun tidak melebihi Jepang. Bangsa Jepang memiliki semangat kerja tinggi. Saat melakukan suatu pekerjaan, mereka selalu bersemangat. Sebenarnya, potensi tersebut dimiliki semua bangsa. Namun, tidak semua negara mampu mengelola potensi itu dengan baik. Bangsa Jepang menggunakan potensi itu dengan baik, Sehingga mereka maju. Mereka menjadikan potensi itu sebagai budaya yang di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, setiap bangsa perlu mengubah sikap dengan cara membentuk sikap, budaya kerja, dan cara hidup seperti halnya bangsa Jepang. Dengan demikian, keberhasilan dan kemajuan dapat dicapai. Akan tetapi, setiap bangsa juga perlu mempertahankan jati diri mereka seperti seperti halnya Jepang. Perubahan sikap tidak menghilangkan jati diri Jepang sebagai bangsa berdaulat, tetapi menjadikan mereka sebagai bangsa yang mampu bersaing.

[ Fakta Menarik ]

Budaya kerja bangsa Jepang melalui azas memandang ke Timur :

• Pencatatan waktu

• Bekerja dalam tim
• Senam sebelum bekerja
• Mempelajari cara kerja sebelum memulai kerja
__
Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja
pekerja Jepang adalah 2.450jam/tahun
__
Pada era 1980-an, Malaysia memperkenalkan
asas memandang ke Timur dengan menjadikan
Jepang sebagai contoh dan teladan
dalam keberhasilan ekonomi.
__
Sikap rajin, optimis, kreatif dan tepat waktu
merupakan ciri-ciri bangsa maju.
__
Berani mengubah sikap menjadikan bangsa Jepang
lebih maju dan lebih mampu bersaing.

Oleh : Ann Wan Seng
Dikirim oleh : Retno Kintoko
[bersambung]

Rahasia Bisnis Orang Jepang


Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
09. Budaya Kerja Bangsa Jepang (1)

Malaysia memperkenalkan asas memandang
ke Timur pada awal era 1980-an dengan
menjadikan Jepang sebagai contoh.

BANGSA JEPANG dikenal sebagai bangsa terproduktif di dunia. Mereka juga berhasil membangun negaranya dari sisa-sisa keruntuhan dan kehancuran. Mereka terkenal dengan sikap rajin dan pekerja keras. Jadi, tidak heran jika pekerja Jepang mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa mengenal lelah, bosan, dan putus asa. Mereka bukan hanya mampu bekerja dalam jangka waktu yang lama, melainkan juga mampu mencurahkan perhatian, jiwa, dan komitmen pada pekerjaan yang dilakukannya. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri, dan perdagangan.

Bangsa Jepang tidak menganggap tempat kerja hanya sekadar tempat mencari makan, tetapi juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarga dan kehidupannya. Kesetiaan mereka pada perusahaan melebihi kesetiaannya pada keluarga sendiri. Mereka selalu berusaha memberikan kinerja terbaik pada perusahaan, pabrik, atau tempat mereka bekerja. Budaya kerja seperti itu tidak lahir dan terwujud dengan begitu saja. Budaya itu dipupuk dan dilatih selama berabad-abad, sehingga akhirnya mengakar dalam pemikiran dan jiwa mereka.

Di Jepang, setiap pekerja mengetahui tugas dan perannya di tempat kerja. Mereka tidak bekerja sebagai individu, tetapi dalam satu pasukan, sehingga tidak ada jurang yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak bersaing, tetapi bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas. Di Jepang, semua pekerja tidak memandang pangkat dan berada pada kedudukan yang sama.

Jabatan tinggi atau rendah tidak penting dalam etika dan pengelolaan kerja bangsa Jepang. Di tempat kerja, meja pegawai dan atasan diletakkan dalam suatu ruang terbuka tanpa pemisah. Tidak ada dinding pemisah seperti kebanyakan ruang kantor di Indonesia.

Pengelola tidak dipisahkan dari bawahan mereka. Tidak ada ruangan khusus untuk golongan pengelola.
Tempat duduk dan meja di susun dan diletakkan berdekatan dengan pengelola bagiannya agar memudahkan bawahannya menghubungi mereka. Dengan demikian, mereka dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan bertukar pendapat kapan saja.

Susunan ruangan kantor seperti itu bukan agar atasan mengawasi bawahannya. Melainkan lebih berfungsi sebagai tempat dan saluran untuk berbincang dan bertukar pandangan. Walau begitu, duduk dalam keadaan rapat tidak digunakan untuk membicarakan hal yang tidak berguna. Mereka hanya berbicara dan bercanda setelah jam kerja.

Cara yang digunakan bangsa Jepang adalah salah satu cara membentuk dan menjalin hubungan erat antar pekerja. Semua pekerja mempunyai tugas dan tanggung jawab penting, sehingga mereka tidak merasa asing. Selain itu, antar sesama, mereka memiliki ikatan emosi yang kuat. Begitu juga dengan rasa sentimen dan keterikatan mendalam terhadap perusahaan, pabrik, dan tempat kerja mereka.

Karakter dan budaya kerja keras
merupan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang
dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan.
__
Jabatan tinggi atau rendah tidak penting
dalam etika serta pengelolaan kerja bangsa Jepang
__
Orang Jepang mau kerja lembur
meskipun tidak dibayar.

Oleh : Ann Wan Seng

Dikirim oleh : Retno Kintoko
[ bersambung ]

Tuesday, December 4, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

8. Tradisi dan Transisi

Salah satu keistimewaan Jepang
adalah kemajuan tidak mengubah
sedikit pun cara hidup rakyatnya.

SALAH SATU KEISTIMEWAAN JEPANG
adalah kemajuan tidak mengubah sedikit pun cara hidup rakyatnya. Meskipun dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia, rakyat Jepang masih menerapkan sebagian besar cara hidupnya sesuai tradisi. Nilai-nilai tradisional masih dapat dilihat dari sikap, cara berpikir, bekerja, berpakaian, bahasa, dan makanan mereka.

Bangsa Jepang sadar bahwa untuk mencapai kemajuan, mereka harus mampu menyesuaikan nilai tradisi dengan nilai baru dari luar. Setiap bangsa pasti akan mengalami masa transisi ketika dunia mengalami perubahan pesat. Tradisi berubah menjadi modern. Ini fenomena yang bersifat global dan tidak satu negara pun yang dapat menghindarinya.

Dalam masa perubahan atau transisi, bangsa yang tidak mampu melakukan penyesuaian pasti akan menghadapi berbagai masalah. Misalnya krisis identitas, konflik antar bangsa dan penjajahan bentuk baru. Kelebihan bangsa Jepang: adalah mereka mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan tanpa kehilangkan identitas dan jati diri yang telah mengakar kuat.

Kemajuan dan pembangunan di Jepang dalar kurun 50 tahun ini membawa banyak perubahan pada cara hidup penduduknya. Peningkatan taraf hidup dan biaya hidup menyebabkan harga barang di Jepang sebagai yang termahal di dunia. Banyak protes yang dilakukan masyarakat Jepang menanggapi masalah itu. Golongan yang merasakan akibatnya adalah yang pendapatannya tidak pernah mencukupi keperluan hidupnya. Menurut sebuah penelitian, perbandingan biaya hidup di TOKYO hampir melebihi 1,5 kali lipat biaya hidup di New York, Paris, dan Berlin.

Biaya hidup yang terlalu tinggi menjadi kenyataan yang harus dihadapi bangsa Jepang. Namun mereka sudah terbiasa dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut cara yang mereka lakukan adalah bekerja lebih keras daripada bangsa lain.

Bangsa Jepang sangat mementingkan pekerjaan mereka karena pekerjaan memberikan jaminan sosial pada mereka. Mereka sanggup menghabis sebagian besar waktunya di tempat kerja dan jarang pulang cepat ke rumah. Pulang cepat menghasilkan banyak makna dari konotasi negatif bahwa orang tersebut diberhentikan atau sudah tidak bekerja.

Tidak mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jepang. Bagi mereka yang baru pertama kali ke Jepang mungkin akan mengalami goncangan budaya. Cara hidup bangsa Jepang berbeda dengan bangsa Asia yang lain. Mereka senantiasa bergerak gesit dan berjalan cepat. Mereka selalu mengejar waktu. Kehidupan di Jepang serba cepat dan tidak ada istilah lamban dalam kamus kehidupan mereka. Saat berada dalam bus ataupun kereta api, mereka tidak membuang waktu. Waktu yang ada mereka gunakan untuk membaca, meskipun bahan bacaan mereka adalah komik atau majalah.

Sejak dulu, bangsa Jepang terbiasa tidak membuang-buang waktu. Sikap seperti itu masih diterapkan, meski telah hidup dalam dunia modern yang mementingkan kepuasan pribadi.

Karena sikap tidak suka membuang waktu itu pula, bangsa Jepang bekerja dan mencari nafkah sepanjang waktu. Bagi yang ingin meniru cara hidup bangsa Jepang, harus bisa berhemat. Menabung merupakan salah satu budaya mereka. Gaji mereka tinggi, tapi tidak setara dengan biaya hidup yang sangat tinggi pula. Keadaan itu tidak hanya memaksa mereka berhemat, tapi mereka juga harus melakukan penyesuaian pada setiap perubahan dalam ke hidupan sehari-hari. Perubahan itu meliputi bidang teknologi dan industri seperti kendaraan dan barang elektronik.

Setiap hari terdapat teknologi dan barang baru di pasaran. Perkembangan dan perubahan teknologi di Jepang sangat cepat sehingga sulit dikejar negara-negara lain. Makanya Jepang menjadi pemimpin industri teknologi dan keilmuan. Siapa sangka, dan negara yang kaya dengan tradisi dan bergantung pada pertanian, Jepang mampu menguasai teknologi tingkat tinggi. Pihak Barat dikenal sebagai pencipta dan pelopor teknologi, tapi biasanya perusahaan-perusaha an Jepang yang bertanggung jawab memasarkan teknologi itu. Teknologi itu milik orang Barat, tapi Jepang yang menguasai dan mendominasi penggunaan dan penjualannya.

Setiap orang mampu menguasai teknologi jika mereka pandai menggunakannya. Bagi Jepang, persoalan tradisi dan transisi tidak penting. Hal yang lebih utama adalah bagaimana caranya menjual teknologi sebagai suatu produk yang diperlukan setiap orang. Jepang berhasil melakukannya dan mendahului bangsa lain di Asia untuk memanfaatkan segala ciptaan teknologi dari Barat.

[ Fakta Menarik ]
Cara hidup bangsa Jepang
• Bergerak cepat
• Berjalan cepat
• Selalu mengejar waktu
• Serba cepat
• Tidak membuang waktu
--------

Peningkatan taraf dan biaya hidup
menyebabkan harga barang di Jepang
sebagai yang termahal di dunia.


Menurut sebuah penelitian,
perbandingan biaya hidup di Tokyo
hampir melebihi 1,5 kali lipat biaya hidup
di New York, Paris dan Berlin

Bagi yang ingin meniru gaya hidup
orang Jepang, harus bisa berhemat
--------
Oleh : Ann Wan Seng
Dikirm oleh : Retno Kintoko
[ bersambung ]

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

07. Seni Pengolalaan Jepang

Bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka
sebagai anggota organisasi
dan perkumpulan tertentu jika memperkenalkan diri.


BIASANVA, seseorang memperkenalkan diri berdasarkan identitas negara atau keturunannya. Bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka sebagai anggota organisasi dan perkumpulan tertentu saat memperkenalkan diri. Mereka bangga jika dikaitkan dengan organisasi besar dan berprestasi, tempat mereka bekerja. Semangat inilah yang menjadi tonggak utama kekuatan organisasi perdagangan bangsa Jepang. Mereka bangga bila dapat mencurahkan kesetiaannya pada organisasi besar dan berpengaruh. Oleh karena itu, mereka selalu melakukan dan memberikan yang terbaik kepada organisasi tempat mereka bekerja.

Bangsa Jepang memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Semangat inilah yang memunculkan Jepang sebagai penguasa ekonomi dunia yang berpengaruh pada masa sekarang. Mereka bukan saja dapat menyaingi negara barat, melainkan juga berhasil bangkit dari keruntuhan dan kekalahan akibat perang dalam waktu singkat. Semangat kebersamaan bangsa Jepang sangat besar, sehingga segala keputusan yang dibuat mencerminkan sikap perkumpulan dan organisasi yang didukungnya.

Untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan perusahaannya, bangsa Jepang juga sanggup mengorbankan pendapat pribadi, masa istirahat, gaji, dan sebagainya.

Sikap dan pengelolaan bangsa Jepang berbeda dengan negara Barat yang memberikan ruang sebesar-besarnya kepada anggota organisasi untuk berpendapat dan mengemukakan pandangan. Dalam organisasi Jepang, pendapat anggota dianggap penting dan diberi perhatian sewajarnya. Kesediaan bangsa Jepang mengorbankan hak itu, termasuk kehidupan pribadi, membuat organisasi mereka bergerak lancar tanpa banyak halangan. Halangan-halangan tersebut bisa berupa hal yang selalu dicetuskan para bawahan seperti tuntutan kenaikan gaji, bonus, cuti, dan lain sebagainya.

Selain itu, kemauan orang Jepang menjadi hamba organisasinya merupakan faktor kesuksesan negara itu menjadi penguasa besar dalam bidang ekonomi dan industri. Walaupun cara pengelolaan itu melemahkan bangsa Jepang sebagai seorang individu, tetapi dari sisi lain, cara itu berhasil menghasilkan organisasi yang mantab dan kuat. Para pengusaha Jepang memainkan peran penting dalam memberikan perhatian lebih kepada anggota organisasi. Mereka percaya, jika keperluan anggota dipenuhi dengan baik, maka mereka dapat menyelesaikan banyak pekerjaan yang masih tertinggal. Sikap dan gaya pengelolaan seperti ini tidak dilakukan para eksekutif di AS yang lebih senang membedakan kebutuhan individu dan organisasi. Seni pengelolaan Jepang menitik beratkan kepentingan setiap anggotanya tanpa memandang pangkat dan kedudukan. Oleh karena itulah, para pekerja di Jepang selalu melakukan percakapan dalam bentuk lingkaran sehingga semua dapat ikut ambil bagian dan memberi pendapatnya masing-masing.

Dalam sistem kepengelolaan Jepang, individu tidak penting jika jika dibandingkan dengan perkumpulan dan organisasi. Sikap lain bangsa Jepang yang patut diperhatikan adalah mereka tidak suka membuat keputusan tanpa berpikir terlebih dulu. Keputusan harus dibuat secara kolektif dengan pertimbangkan semua pendapat. Bukan berarti para eksekutif Jepang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk bertindak. Mereka tidak takut mengambil risiko. Hanya saja mereka tidak mau mengambil keputusan dan tindakan yang merugikan organisasi.

Sebagai contoh, perusahaan Matsushita menanamkan semua modalnya dalam pengelolaan Philips, walaupun tidak memiliki sumber yang cukup untuk membuat kajian mendalam karena perang baru berakhir. Untuk melahirkan barisan pengelolaan yang berkualitas dan setia dengan sepenuh hati kepada organisasi tidaklah mudah, karena diperlukan modal yang banyak untuk menghasilkan kepengelolaan gaya Jepang. Seni kepengelolaan Jepang juga perlu dipelajari. Hal yang lebih penting adalah setiap organisasi di Indonesia perlu memberikan perhatian kepada pembangunan manusia dan nilai kemanusiaan dalam kepengelolaan mereka. Jika hal ini dapat dilakukan, maka organisasi tidak perlu lagi takut dan ragu-ragu dengan kesetiaan para pekerjanya. Tanpa elemen-elemen ini sulit bagi organisasi mana pun di dunia untuk menandingi organisasi di Jepang atau yang beroperasi di negara-negara lain.

[ Fakta Menarik ]

• Kelebihan seni pengelolaan Jepang.
Menitik beratkan kepada kepentingan setiap anggota
• Senantiasa melakukan dialog
• Tidak membuat keputusan secara sewenang-wenang.
----
“Kemauan bangsa Jepang menjadi
hamba organisasinya merupakan fakor
kesuksesan Negara itu menjadi penguasa besar
dalam bidang ekonomi dan industri.”
“Dalam sistim pengelolaan Jepang,
individu tidak penting jika dibandingkan
dengan perkumpulan dan organisasi.”
----
Oleh : Ann Wan Seng
Dikirm oleh : Retno Kintoko
[ bersambung ]

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari :
Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
06. Organisasi Jepang
Dalam organisasi Jepang, setiap anggota,
baik tingkat bawah, tengah, maupun atas,
memiliki peran yang sama.

ORGANISASI JEPANG
tidak menyukai individu atau pekerja yang banyak tingkah dan mementingkan diri sendiri. Menurut mereka, kesuksesan sebuah organisasi tidak boleh dianggap sebagai kesuksesan individu, tetapi hasil kerjasama kelompok. Bagi bangsa Jepang, perundingan dan pembicaraan akan menghasilkan keputusan yang baik. Mereka melibatkan orang lain dalam perkara yang hendak diperbincangkan. Dalam organisasi Jepang, setiap anggota, baik tingkat bawah, tengah, maupun atas, emiliki peran dan kepentingan yang sama. Hubungan antar individu tanpa melihat jabatan dan kedudukan membuat hubungan menjadi erat dan saling melengkapi satu sama lain.

Setiap tingkatan dan bagian dalam organisasi sama-sama penting. Tidak ada pihak, termasuk pengelola yang boleh menganggap dirinya sebagai golongan paling penting dalam organisasi. Ini berbeda dengan organisasi barat. Dalam organisasi Barat, terdapat jurang besar antara pengelola dan bawahan. Kedua golongan itu dipisahkan dinding yang terkadang menimbulkan masalah komunikasi yang serius. Mereka bukan hanya dipisahkan oleh keduidukan dan status, melainkan juga oleh ruangan kantor. Untuk bertemu dengan pengelola, ada proses birokrasi tertentu seperti janji pertemuan yang harus dilalui oleh bawahan.

Dalam organisasi Jepang, pengelola berawal dari posisi bawahan dan naik secara perlahan. Oleh karena itulah, kebanyakan pengelola organisasi Jepang lebih akrab dan memahami bawahannya ketimbang pengelola di AS. Sistim kenaikan pangkat seperti itu memiliki banyak kelebihan, karena memberikan kesempatan bagi para pengelola terhadap keseluruhan organisasi dan operasi. Kesempatan dan pengalaman itu membantu mereka memahami dan mengendalikan jalannya organisasi. Di samping itu, mereka juga dapat bekerja sama dan menambah kesetiaan para bawahan kepada pengelola. Itu sebabnya pekerja-pekerja di Jepang lebih setia kepada pengelola daripada pekerja di Barat.

Sistim tersebut menjadikan setiap pekerja menjabat posisi yang lebih tinggi bukan berdasarkan kedudukan dan hubungan dengan pihak pengelola, melainkan prestasi, hasil, kemampuan, dan sikap terhadap pekerjaan. Mereka yang naik jabatan melalui cara itu memiliki hubungan interpersonal yang kuat dengan bawahannya. Sudah menjadi hal biasa bagi pengelola Jepang untuk mengundang bawahannya ke ruang kantor dan meminta bantuan mereka. Sikap ini membuat para pekerja merasa selalu dihargai dan menganggap diri mereka penting bagi organisasi. Sikap berterus-terang mengurangi konflik antara pihak pengelola dan bawahannya.

Secara tradisi, para pemimpin eksekutif Jepang telah diajarkan agar selalu mengamalkan sikap saling membantu dengan pekerja sebagai suatu kumpulan manusia yang besar. Mereka tidak melihat dunianya sebagai suatu yang terasing, tetapi meletakkan diri mereka dalam hubungan berbentuk bulatan yang berlapis-lapis. Setiap individu menempatkan dirinya bersama-sama orang lain yang dekat dengannnya dalam lapisan yang terdalam. Sikap saling tergantung tersebut mempunyai peran penting dalam tim kerja Jepang.

Tim kerja merupakan pondasi dasar dalam organisasi usaha Jepang untuk membentuk interaksi antara anggota tim dan pengelola. Pemimpin tim haruslah individu yang dapat diterima para anggotanya untuk menjaga keharmonisan dan semangat di antara mereka. Melalui tim kerja yang seperti itu, hubungan emosi dan pribadi dipupuk dan dibangun untuk menngkatkan semangat dan motivasi anggota. Tim tersebut juga memberikan dukungan moral untuk mempertahankan kesetiaan, disiplin, dan semangat kerja para anggotanya.

[ Fakta Menarik ]

Keistimewaan sistim organisasi Jepang :
· Membuka kesempatan pengelola kepada pengelolaan organisasi
· Para bawahan memiliki hubungan interpersonal yang kuat.
· Meningkatkan prestasi dan hasil.
__
Dalam organisasi Jepang,
pengelola berawal dari posisi bawahan.

Sikap berterus terang mengurangi konflik
antara pihak pengelola dan bawahan.

Tim kerja merupakan pondasi dasar
dalam organisasi Jepang.
__
Oleh : Ann Wan Seng
Dikirim oleh : Retno Kintoko
[ bersambung ]

Aku Ingin Kau Tahu

Aku ingin
Kau tahu
Hanya Kau yang menemani
malam malamku

Aku ingin
Kau tahu
Hanya kau yang menghiasi mimpi
mimpiku

Aku ingin
Kau tahu
Hanya Kau yang kurindukan
dalam tiap langkahku

Aku ingin
Kau tahu
tulusnya
cintaku padamu

Aku ingin
Kau tahu
besarnya rasa cintaku
padamu

Aku ingin
Kau tahu
betapa berartinya
dirimu bagiku

Aku ingin
Kau tahu
Tak ada yang lain
selain dirimu dalam hatiku

Aku ingin
Kau tahu
Kuingin habiskan
sisa hidupku bersamamu
Selalu . . .
Selamanya . . .

Padang lontar, 4 desember 07

Membeli Waktu

Steven adalah seorang karyawan perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta , memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya dia melihat Leo putra pertamanya di temani bik Yati pembantunya menyambut digerbang rumah. “Kok belum tidur Leo?” sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tidur ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.

“Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?” kata Leo sambil membuntuti papanya.

“Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?”

“Leo Cuma pingin tahu aja kok Pah?

“Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?”

“Sehari Papa kerja berapa jam Pa?” tanya Leo lebih lanjut.

“Sehari papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu.”

Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.

“Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp 15.000.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp. 60.000,-.” Kata Leo setelah mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.

“Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok.” Perintah Steven, namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang berganti pakaian.

“Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,- saja?” tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok saja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besuk tidak terlambat ke sekolah!”

“Tapi Pah..”

“Leooo!! Papa bilang tidur!”bentak Steven mengejutkan Leo.

Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya. Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: “Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo.” ditatapnya anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya. “Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besuk kan bias, jangankan Rp. 5.000,-, lebih banyak dari itupun akan Papa kasih.”"Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung lagi dari uang jajan Leo.” “Iya, tapi untuk apa Leo?” tanya Steven dengan lembut. “Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa.”

“Lalu.” tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.

“Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 60.000,-, maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada Papa.” Kata Leo polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan. “Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.

Monday, December 3, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari : Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
05. Mengapa Tidak Seperti Jepang

Menjelang tahun 1978, gaji pekerja Jepang
lebih tinggi daripada gaji pekerja AS dan
berkali-kali lebih tinggi daripada gaji pekerja
negara-negara Asia lainnya.

MENGAPA KOREA SELATAN, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Indonesia tidak dapat menjadi seperti Jepang? Apakah karakter bangsa Jepang tidak dimiliki bangsa lain? Padahal, berdasarkan ciri fisik dan keadaan geografis, setengah negara tersebut yang lebih baik daripada Jepang. Beberapa penelitian dilakukan untuk menjelaskan hal itu. Namun, sebagian besar penjelasan tersebut dianggap ketinggalan zaman dan tidak dapat digunakan dalam konteks sekarang. Sebagai contoh, keberhasilan ekonomi Jepang pernah dikaitkan dengan gaji buruh dan pekerja yang rendah. Namun, menjelang tahun 1978, gaji pekerja Jepang lebih tinggi daripada gaji pekerja AS dan berkali-kali lebih tinggi daripada gaji pekerja negara-negara Asia lainnya.

Walaupun biaya pengeluaran di Jepang meningkat, negara itu masih dapat mempertahankan kedudukannya sebagai salah satu penguasa perekonomian utama di dunia. Pada saat para pekerja di negara-negara industri Eropa Barat dan AS mengalami penurunan produktivitas, para pekerja Jepang menunjukkan prestasi yang cukup mengagumkan. Pada tahun 1975, setiap sembilan hari, seorang pekerja di Jepang menghasilkan sebuah mobil senilai seribu Poundsterling. Padahal, pekerja di perusahaan Leyland Motors, Inggris, memerlukan waktu empat puluh tujuh hari untuk menghasilkan sebuah mobil bernilai sama. Kecekatan, keahlian, dan kecepatan pekerja Jepang jelas melebihi pekerja di negara mana pun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Jepang dapat pulih dan membangun kembali negaranya dengan cepat, walaupun seluruh sendi perekonomiannya lumpuh setelah dikalahkan Sekutu yang dipimpin oleh AS dalam Perang Dunia II.

Seorang pekerja Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam orang. Di Indonesia, untuk memperbaiki jalan kampung yang rusak, mungkin diperlukan lima belas orang. Mulai dari pihak yang menerima pengaduan, memberi arahan, yang mengangkat peralatan, pemandu, hingga yang bertanggung jawab mengolah ter [aspal], dan yang menutupi jalan yang rusak. Di Jepang, pekerjaan itu dapat di kerjakan oleh tiga orang saja. Oleh karena itu, pekerja Jepang digaji tinggi karena mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan lebih dari satu orang orang. Saat bekerja, orang Jepang tidak banyak bicara dan bertingkah. Hal yang penting bagi mereka adalah mempersiapkan pekerjaan dan tugas yang diberikan.

Jadi, jika ada negara yang ingin seperti Jepang, mereka juga perlu memiliki pekerja yang mampu mengerjakan berbagai pekerjaan dalam waktu yang sama. Pekerja di Jepang tidak hanya mampu bekerja dengan baik, tetapi mau bekerja lembur tanpa bayaran lebih. Bagi mereka, yang terpenting adalah pekerjaan tersebut dapat selesai secepatnya. Mereka tidak terlalu memikirkan imbalan karena imbalan tersebut dapat diperoleh dengan menunjukkan prestasi yang memberi semangat dan ketika perusahaan memperoleh keuntungan.

Berbeda dengan pekerja di Indonesia yang sangat bergairah menuntut berbagai gaji dan bonus tanpa mencoba berusaha untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Konsep untuk membayar terlebih dahulu dari bekerja kemudian haruslah diubah. Pekerja Jepang layak menerima gaji tinggi karena kualitas kerja mereka. Di samping itu, sikap dan cara kerja mereka juga sepantasnya mendapatkan gaji tinggi. Pekerja di Indonesia perlu mencontoh sikap kerja bangsa Jepang jika ingin menjadi negara maju.

Bangsa Jepang berusaha menjadi nomor satu dalam semua bidang. Mereka juga bekerja sungguh-sungguh untuk mencapainya. Sikap positif ini sebaiknya diterapkan dalam hati dan sanubari kita semua. Sikap ini berhasil mengubah pandangan masyarakat dunia pada barang produksi Jepang. Sebelum perang, barang produksi Jepang dianggap tidak berkualitas dengan mutu pembuatan amat rendah. Begitu juga setelah perang, barang berlebel Made in Japan tidak laku di pasaran dan sering dilecehkan jika dibandingkan dengan produksi dan Barat.

Pada awal era 1950-an, radio, perekam pita, dan peralatan hi-fi dari Jepang tidak dapat menyaingi produksi AS dan menembus pasar dunia. Namun, bangsa Jepang tidak putus asa. Para peneliti dan pekerja Jepang terus berusaha memperbaiki produk mereka. Mereka terus melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan mutu produksinya, sehingga produk mereka diakui sebagai yang terbaik di dunia. Hal serupa juga terlihat dan barang barang produksi seperti jam tangan, motor, barang elektrik, kapal, tekstil, dan sebagainya.

Jika Jepang dapat menjadi nomor satu dan menciptakan keajaiban dalam bidang ekonomi, tidak ada alasan bagi negara lain untuk tidak bisa mendapatkan kedudukan yang sama. Bukankah ada pepatah lama yang mengatakan “di mana ada kemauan, di situ ada jalan” dan “mau seribu daya, tidak mau seribu alasan”. Jepang bisa, negara lain juga pasti bisa. Walaupun tidak bisa sama persis seperti Jepang, tetapi negara lain dapat meniru Jepang. Bangsa Jepang juga meniru dari Barat sebelum mereka dapat menghasilkan produk dan barang yang jauh lebih baik daripada yang ditirunya.

[ Fakta Menarik ]
Beberapa produk terbaik Jepang yang diakui dunia :
1. Jam tangan
2. Kendaraan bermotor
3. Perangkat listrik
4. Kapal
5. Tekstil
Oleh : Ann Wan Seng
Dikirim oleh : Retno Kintoko

[ bersambung ]

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Belajar dari : Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
04. Bagaimana Jepang Menjadi Nomor Satu
Hasil pertanian Jepang merupakan yang tertinggi di dunia.

BERBEDA DENGAN INDONESIA, Jepang tidak memiliki hasil dan sumber daya alamnya sendiri. Oleh karena itu, Jepang bergantung pada sumber-sumber dari negara lain. Negara tersebut tidak hanya mengimpor minyak bumi, biji besi, batu arang, kayu, dan sebagainya. Bahkan, hampir delapan puluh lima persen sumber tenaganya berasal dari negara lain. Hasil pertanian Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Selain itu, Jepang juga mengimpor tiga puluh persen bahan makanan dan negara lain untuk memenuhi konsumsi makanan penduduknya. Namun, di Jepang pertanian masih menjadi sektor utama meskipun telah dikenal sebagai negara industri yang maju.

Seperti telah disebutkan, persaingan penggunaan tanah di Jepang sangat tinggi dan ketat. Karena permukaan yang bergunung gunung para petani harus memaksimalkan penggunaan tanah untuk menghasilkan makanan secara produktif. Bangsa Jepang tidak suka pemborosan. Karena itu, mereka memanfaatkan waktu dan sumber daya alam sebaik-baiknya. Semuanya digunakan secara maksimal dengan tahapan yang maksimal pula. Coba bayangkan mereka menanam padi di halaman rumah mereka dan tidak menyia-nyiakan sejengkal tanahpun tanpa menghasilkan sesuatu Selain itu, keadaan negara yang sedemikian rupa mendorong bangsa Jepang untuk menggunakan sumber yang sedikit untuk mendapatkan hasil yang banyak.

Sektor lapangan pekerjaan, pendidikan, dan sektor kehidupan lainnya juga ikut mengalami persaingan yang ketat. Hal itu dlsebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah jumlah penduduk yang padat dan perubahan sosial. Para penduduk pun dituntut bekerja keras untuk memenuhi keperluan yang menjamin kelangsungan hidup mereka. Bangsa Jepang tidak menjadikan keadaan geografis yang kurang baik sebagai alasan mereka tidak bisa maju. Bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus dan angin topan, juga tidak menghalangj mereka menjadi bangsa yang kuat dan dihormati.

Bangsa Jepang berhasil membuktikan mereka dapat menciptakan keajaiban dalam bidang ekonomi dalam keadaan yang serba kekurangan dan dengan sumber daya alam terbatas. Akan tetapi, keajaiban dalam bidang ekonomi itu tidak muncul tiba-tiba dan diperoleh dalam sekejap. Keajaiban itu datang dari hasil kerja keras dan komitmen penduduknya selama beratus-ratus tahun. Tanpa kesungguhan dan keyakinan, bangsa Jepang mustahil dapat membangun kembali negaranya yang hancur akibat Perang Dunia II dan mampu berada dalam posisi seperti saat ini.

Bangsa Jepang merupakan bangsa yang tahan terhadap cobaan. Mereka tidak mudah tunduk pada kekalahan dan kegagalan. Mereka juga tidak mudah putus asa dan menyerah begitu saja. Bagi bangsa Jepang, kalah dan gagal setelah berjuang lebih mulia daripada mati sebelum berperang atau mencoba. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa curahan keringat dan pengorbanan. Dengan kesungguhan, disiplin, kerja keras, dan semangat Bushido yang diwarisi secara turun-temurun, akhirnya Jepang menjadi penguasa perekonomian nomor satu di dunia.

Banyak negara di Asia yang menjadikan ke berhasilan Jepang sebagai sumber inspirasi mereka. Akan tetapi, tidak satu pun yang mampu mencontoh dan mengulang secara utuh keberhasilan Jepang. Mencontoh keberhasilan Jepang tanpa menerapkannya melalui tindakan tentu saja tidak memberikan basil apa-apa. Bangsa Jepang cepat dan tanggap bertindak, Sehingga mereka cepat bangkit dari kehancuran. Mereka tidak menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Sekali mendapatkan peluang, mereka tidak melepaskannya.

Banyak negara yang berusaha mengikuti langkah Jepang. Salah satunya adalah Korea Selatan. Seperti halnya Jepang, Korea Selatan juga mengalami ke hancuran ekonomi yang dahsyat akibat perang saudara dengan Korea Utara. Ketika saudara kandungnya itu masih berhadapan dengan kemiskinan, perekonomian Korea Selatan telah berkembang dengan pesat, sehingga muncul sebagai penguasa baru dalam perekonomian Asia. Namun, kemajuan ekonominya masih belum dapat mengalahkan Jepang. Negara Jepang dianggap sebagai pemimpin utama dan penguasa nomor satu perekonomian di benua kita. Korea Selatan berpotensi menjadi negara seperti Jepang, tetapi perlu waktu lama untuk mengambil alih kedudukan Jepang. Saat ini, Korea Selatan sedang mengikuti Jepang dengan jarak dekat dan Jepang pun berlari tanpa menunjukkan rasa letih. Jepang juga telah jauh meninggalkan negara-negara tetangganya dan terus memperbesar jarak demi mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa ekonomi nomor satu.

[Fakta Menarik]

RAHASIA JEPANG MENJADI PENGUASA NOMOR SATU DI DUNIA:
* Kesungguhan
* Disiplin
* Kerja keras
* Semangat “Bushido”
* “Keajaiban” Jepang bukan karena Sulap.
* Bangsa Jepang tidak menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri
peluang tersebut.

Oleh : Ann Wan Seng
Dikirim Oleh : Retno Kintoko

[ bersambung ]