Sunday, November 4, 2007

Mengubah Pasir Menjadi Mutiara

Pada suatu hari yang sendu seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh kepada ibunya. Sebuah pasir tajam bagai belati memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
Anakku, kata sang ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan kepada kita bangsa kerang sebuah tanganpun, sehingga ibu tidak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Jadi, kuatkan hatimu, nak. Jangan lagi terlalu lincah. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu. Tegarkan jiwamu melewati rasa nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa engkau perbuat anakku, kata ibunya dengan pilu tetapi penuh kelembutan.
Anak kerang pun mencoba nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa perih bukan alang kepalang. Kadangkala, ditengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Tetapi tak ada pilihan lain. Ia terus bertahan. Dan dengan banyak air mata ia terus tegar, mengukuhkan hati, menguatkan jiwa, bertahun tahun lamanya.
Tetapi, tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Kian lama kian bulat. Dan rasa sakit pun semakin berkurang. Mutiara it uterus semakin berbentuk. Kini bahkan rasa sakitnya pun terasa biasa. Dan ketika masanya tiba, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, akhirnya terbentuk dengan sempurna.
Kerang itu berhasil mengubah pasir menjadi mutiara. Penderitaannya berubah menjadi mahkota. Air matanya menjadi harta sangat berharga. Dirinya kini, sebagai bentukan derita bertahun tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang Cuma disantap orang dibawah tenda tenda bertuliskan“Sedia Kerang Rebus“, di pinggir jalan. Tetapi kristal penderitaannya kini, menjadi perhiasan mahal bergengsi tinggi di leher leher indah para perempuan kaya nan jelita.
Pembaca, cerita di atas merupakan sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan kerang bisa menjadi kerang luar biasa !
Bahwa kesulitan, penderitaan, dan kekecewaan dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Itulah yang terjadi pada orang orang besar seperti : Sidharta gautama, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, AH. Nasution, Kim Dae Jung dan Nelson Mandela.
Dijantungnya, kemampuan bertahan dalam penderitaan merupakan sebuah motivasi murni, semangat superior, spirit sukses yang menggelegak, yang bertanggungjawab bagi semua kinerja kelas dunia dan kualitas karya para maestro.
Jadi apabila anda sedang menderita hari ini, apapun jenisnya, apapun sebabnya, saya menyarankan :
Bertahanlah, bergurulah pada kerang, dan bersiap siaplah menjadi orang luar biasa !
oleh Jansen Sinamo