Sunday, November 4, 2007

Cinta Kepada Allah 1

Rasa Cinta kepada Allah menduduki posisi paling utama di antara sekian unsur seperti perasaan takut, harapan, kerendahan hati, ketaatan, penghambaan dan dzikir. Dengan cintalah terjalin ikatan yang kuat antara manusia dan khaliknya. Tak ada unsur lain yang dapat melebihi cinta dalam memperkuat jalinan pertalian batin antara keduanya.

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada nabi Dawud a.s

Wahai Dawud, ketahuilah bahwa dzikir-Ku
Kuperuntukan para pendzikir,
Surgaku buat orang orang yang taat,
Cintaku buat orang yang merindukan-Ku,
Sedangkan diri-Ku sendiri,
Kuistimewakan buat mereka yang mencitai-Ku

Diriwatkan oleh Muhammad bin Yakub Al Kulaini dari Imam Ja’far Al-Shadiq a.s. :

“Ada tiga macam hamba. Kaum yanng menyembah Allah karena Takut, yang demikian itu adalah ibadah para hamba sahaya. Kaum yang menyembah Allah hanya untuk mengharapkan imbalan, yang demikian itu ialah ibadah para pedagang. Dan Kaum yang menyembah Allah disebabkan rasa CINTA, maka itulah ibadah orang yang merdeka, Ibadah yang paling utama.“

Diriwayatkan oleh Al Kulaini dari rasulullah saw : Manusia yang paling utama ialah yang merindukan ibadah kemudian menghanyutkan diri di dalamnya, dan mencintainya dengan sepenuh hati dan sekujur jazadnya. Ia memberinya tempat di dalam hatinya, dan tak memperdulikan urusan dunia yang akan terjadi ; baik yang sulit ataupun yang mudah diatasinya.

Dari imam Ja’far Al-Shadiq diriwayatkan : “Rahasia kesuksesan para pencapai makrifat bertumpu pada tiga asas : Takut, Harapan dan Cinta. Takut adalah cabang dari ilmu, Harapan merupakan cabang dari keyakinan, Dan Cinta ialah bagian dari makrifat. Bukti adanya ketakutan ialah terjadinya pelarian. Bukti adanya cinta adalah pengutamaan sang kekasih atas yang lain. Jika telah nyata ilmu di dalam dadanya timbulah rasa takut. Dan bila ternyata apa yang ditakutinya itu benar ia pun lari. Dengan pelariannya ini dia selamat. Bila cahaya keyakinan telah bersinar di kalbunya, maka ia menyaksikan satu karunia. Jika telah teguh keyakinannya dalam memandang karunia, maka timbulah harapan. Dikala manisnya harapan ini telah diraihnya lahirlah permohonan. Jika permohonannya dikabulkan ia pun mendapatkannya. Kalau sinar makrifat telah terpancar dihatinya, maka berhembuslah angin CINTA, jika angin cinta berhembus ia mulai menikmati lindungan sang kekasihnya. Ia pun mengutamakan kekasihnya atas yang lain dan segera melaksanakan perintah-perintahnya. Perumpamaan tiga asas ini seperti Al-Haram, masjid dan kabah. Barang siapa memasuki Al-Haram amanlah dari gangguan mahluk-Nya. Dan barangsiapa memasuki masjid terlindungilah anggauta tubuhnya dari penggunaan untuk kemaksiatan. Dan barangsiapa memasuki ka’bah selamatlah hatinya dari hal yang menyibukkannya selain mengingat-Nya.“