Tuesday, November 27, 2007

Belajar dari : Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

03. Kebangkitan Jepang
Jepang diakui sebagai negara termaju,
. . . . dan pengendali utama Negara-negara industri.

KEBERHASILAN BANGSA JEPANG
dalam bidang ekonomi sangat mengagumkan. Siapa sangka setelah mengalami kehancuran dahsyat dalam Perang Dunia II, Jepang mampu bangkit kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Jepang muncul sebagai negara paling maju di wilayah Asia Timur. Hanya dalam dua dekade setelah peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang berhasil menempatkan dirinya di kalangan negara yang berpengaruh dalam perekonomian dunia. Negeri Matahari Terbit itu membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu membangun kembali perekonomian mereka yang hancur. Dahulu Jepang tidak dikenal dan tidak dipandang sebagai negara maju, tetapi sekarang, negara itu menjadi contoh dan teladan Negara-negara yang berpengaruh di dunia.

Awalnya, mutu produk Jepang dianggap paling rendah. Namun, sekarang, produk Jepang dianggap sebagai produk terbaik dan berkualitas. Jepang telah diakui sebagai negara termaju dan salah satu pengendali utama negara-negara industri.

Ukuran kemajuan Jepang dapat diukur dari pendapatan per kapita dan taraf hidup rakyatnya yang menempati posisi kedua tertinggi di dunia, Pada pertengahan era 1990-an, Produk Nasional Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar atau 337,5 triliun rupiah. Angka tersebut sekaligus menempatkan posisi Jepang di belakang Swiss yang memiliki PNB tertinggi di dunia. Simpanan khusus Swiss yang berjumlah US$ 113,7 miliar merupakan yang tertinggi di dunia.

Selain memiliki simpanan khusus yang tinggi, Jepang juga tidak memiliki utang luar negeri. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS), kedudukan ekonomi Jepang lebih kuat dan kokoh. Meskipun AS dikenal sebagai negara penguasa ekonomi nomor satu di dunia, sebenarnya AS menanggung utang luar negeri yang besar. Pengeluaran AS bukan hanya mengalami defisit yang besar, tetapi juga menghadapi masalah inflasi yang tinggi.

Berbeda dengan keadaan Jepang. Negara Jepang bukan hanya memiliki tingkat inflasi rendah, melainkan juga tingkat pengangguran yang rendah. Rakyat Jepang hidup mewah dan bersenang-senang dengan pendapatan rata-rata tahunan lebih dari empat puluh ribu dolar AS per tahun. Pelayanan pendidikan dan kesehatan di Jepang merupakan yang terbaik di dunia. Oleh karena itulah, semua penduduknya dapat membaca dan menulis.

Kemampuan Jepang bangkit dari kerusakan akibat perang dan kehancuran perekonomian dianggap sebagai sebuah keajaiban. Meski demikian, keberhasilan yang dirasakan Jepang tidak dicapai dalam waktu singkat. Sebenarya, tidak ada satu keajaibanpun yang membantu perkembangan dan kemajuan perekonomian Jepang. Semua diperoleh dari hasil kerja dan usaha keras rakyat Jepang untuk memulihkan kembali harga diri bangsa dan negara yang telah tercemar. Segala kesenangan, kemewahan, dan kekayaan negara itu diperoleh dengan usaha yang tidak kenal lelah, disiplin ketat, dan semangat kerja keras yang diwarisi secara turun-menurun.

Bangsa Jepang memiliki semangat pantang menyerah. Mereka tidak takut dengan cobaan dan kesusahan. Mereka sanggup berhadapan dengan segala cobaan demi mencapai tujuannya. Mereka juga teguh menjaga harga diri dan kehormatan bangsa. Jika melakukan suatu pekerjaan maka mereka melakukannya dengan sungguh agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Bangsa Jepang sulit menerima kekalahan. Bagi mereka, kalah tidak berarti mati. Kekalahan dapat ditebus kembali dengan kemenangan dan keberhasilan dalam bidang lain. Jika kalah, maka mereka mau kalah dengan penuh harga diri.

Mereka tidak mau dihina. Bagi mereka, lebih baik mati daripada menjadi bangsa yang dihina dan terhina.

Bangsa Jepang lebih memilih mati dan bunuh diri daripada menanggung malu akibat kekalahan dan kegagalan. Zaman dahulu pahlawan Jepang yang dikenal dengan sebutan samurai akan melakukan harakiri atau bunuh diri dengan menusukkan pedang ke bagian perut jika kalah dalam pertarungan. Hal itu justru memperlihatkan usaha mereka menebus kembali harga diri yang hilang akibat kalah dalam pertarungan. Semangat samurai masih kuat tertanam dalam sanubari bangsa Jepang. Namun, saat ini harakiri tidak lagi dilakukan. Semangat dan disiplin samurai tersebut sekarang digunakan bangsa Jepang untuk membangun kembali ekonomi yang runtuh pada pertengahan tahun 1940-an.

Untuk menjadi bangsa yang hebat dan dihormati, bangsa Jepang melalui berbagai pengalaman pahit dan berliku. Bangsa Jepang tidak pernah menyerah dengan segala kekurangan dan kelemahan pada diri mereka.

Meskipun sumber alamnya minimal, terancam gempa bumi, dan sering dilanda angin topan, mereka menggunakan segala potensi yang ada untuk membangun negara mereka agar sebanding dengan negara yang kaya dengan sumber alam. Mereka pintar memanfaatkan dan memberdayakan segala sumber yang ada.

Namun, mereka tidak boros. Semua sumber alam tersebut dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Mereka juga tidak suka membuang-buang waktu dan selalu tepat waktu.

Sikap itulah yang membantu Jepang bangkit dan mampu bersaing di pasar ekonomi bebas dan dunia perniagaan. Bangsa Jepang memaksimalkan apa yang mereka miliki karena permukaan wilayah yang bergunung-gunung dan tidak bisa lebih banyak lagi mengeksploitasi hasil alam mereka.

Di Jepang, persaingan dalam penggunaan tanah untuk tempat tinggal dan pertanian sangat ketat. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menjelajahi sumber-sumber baru di negara lain. Jepang juga memiliki sumber daya manusia yang cukup dan berkualitas untuk membangun sektor industri dan mendirikan perusahaan-perusaha an industri. Faktor tersebut juga menjadikan Jepang sebagai perusahaan raksasa bertaraf multinasional, dan menjadi penuntun serta pemacu pada keberhasilan ekonominya.

[Fakta Menarik]
• Tidak mudah menyerah
• Tidak takut pada cobaan dan kesusahan
• Menjaga harga diri dan kehormatan bangsa
• Melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh
Kekalahan dapat ditebus dengan kemenangan dan keberhasilan dalam bidang lain
Orang Jepang pintar memanfaatkan sumber alam yang ada

Oleh : Ann Wan Seng
Dikirim oleh : Retno Kintoko
[bersambung . . ]