Sunday, November 4, 2007

Bahagia Menjadi Nomor Dua

Puluhan tahun yang lalu David McClelland dikenal dengan idenya tentang masyarakat berprestasi. Hampir di setiap negara, korporasi tertarik mempercepat pertumbuhan dengan menginjeksikan virus motivasi berprestasi.

Fundamental dalam ide ini, kehidupan hanya layak dijalani bila menjadi nomor satu. Dan sekian puluh tahun setelah ide ini berlalu, tampaknya penyebaran virusnya masih berjalan cepat

Di dunia korporasi, pusat pertumbuhan dari mana masa depan disiapkan, ditandai oleh semakin derasnya virus ini. Dalam pergeseran pergeseran kekuasaan negara juga serupa. Yang berpengaruh adalah tokoh tokoh seperti George W Bush, John Howard yang agresif, diimbangi teroris yang tidak kalah agresif. Sebagai hasilnya, suhu hubungan antar manusia di dunia memanas dari hari ke hari.

Soal implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun semua ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan dan kenyamanan jiwa hanya sebagian hal yang harus dikorbankan. Isu pemanasan global yang belakangan ditiupkan berulangkali oleh Al Gore, belum terlihatnya tanda tanda perdamaian akibat serangan AS ke Afgaistan dan Irak, serta memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulu sejuk seperti Thailand dan Myanmar hanyalah sebagai tanda.

Negeri ini juga serupa, sepuluh tahun reformasi ditandai gesekan antar elite yang berebut menjadi nomor satu. Di zaman pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat teramat sibuk melayani elite yang semuanya mau menjadi nomor satu.

Rahasia-rahasia sentuhan

Sebagaimana ditulis Daoed Joesoef tentang ekonomi Jepang, tiang penopang kemajuan Jepang yang mengagumkan itu adalah Ibu Rumah Tangga yang melaksanakan tugas keibuannya dengan rasa bangga dan bahagia.

Cerita india juga serupa. Begitu India merdeka, Mahatma Gandhi ikhlas memberikan kursi Perdana Menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus memberi kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomor satu.

Mohammad Hatta adalah legenda Indonesia. Ia berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi nomor dua. Saat itu beberapa kali terjadi perselisihan dengan orang nomor satu, Ia selamatkan negeri ini dengan cara berbahagia menjadi nomor dua.

Di Timur pernah lahir guru agung dengan cahaya terang jauh sebelum ia mengalami pencerahan, guru ini pernah terlahir sebagai kura kura. Suatu hari di tengah lautan, kura kura ini melihat manusia terapung. Hanya karena menempatkan hidup orang lain lebih penting daripada hidupnya, ia gendong manusia ini ke pinggir pantai. Setelah kelelahan di pantai, ia tertidur. Saat terbangun, tubuhnya sudah dalam keadaan diselimuti ribuan semut. Lagi lagi karena menganggap hidup orang lain lebih penting daripada hidupnya, ia biarkan ribuan semut memakan tubuhnya. Padahal, hanya dengan gerakan ke laut, ia akan selamat dari ribuan semut ini.

Ter Inspirasi kehidupan seperti inilah, lalu lahir orang-orang seperti master Hsing Yun. Dalam karya Indahnya, The Philosophy of Being Second, guru rendah hati yang banyak dipuji ini bertutur tentang rahasia hidupnya. Di salah satu pojok bukunya, ia menulis, “You are important, he is important, I am not”.

Orang lain lebih penting

Memang terdengar aneh, terutama bagi mereka yang biasa menyembah ego, meletakkan nomor satu sebagai satu satunya kelayakan kehidupan. Namun, bagi raksasa pelayanan dunia seperti Singapore Airlines, keberhasilan mereka dikarenakan rajin mengajari orangnya bahwa “Orang lain penting, saya tidak penting”. Dalai lama is a living spiritual giant. Mendapat Nobel perdamaian dan penghargaan sivil tertinggi di AS yang membuatnya sejajar dengan George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia dibalik semua ini juga serupa, musnahnya semua ego, hanya menyisakan kebajikan.

Lebih lebih pejalan kaki di jalan Tuhan dan Budha. Hampir tidak pernah terdengar bahwa ego dan kecongkakan membawa seseorang sampai di tempat jauh. Mereka yang dikagumi di jalan ini hampir selalu ditandai oleh kesediaan menempatkan orang lain di nomor satu, lalu membangun kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Bagi master Hsing Yun malah lebih jauh lagi, being touched is the most wonderful thing in life. Tersentuh apalagi sampai menitikkan air mata, adalah pengalaman batin yang menawan. Siapapun yang berhasil membuat orang lain tersentuh tidak saja sedang menciptakan kebahagiaan, tetapi juga membuat orang membangun tembok kesetiaan yang susah ditembus.

Disebuah pojokan kehidupan guru rendah hati ini, pernah terjadi ia demikian dipuji, dikagumi. Sehingga tidak saja dirinya yang menitikkan air mata, langit yang biru tanpa awan sedikitpun ikut meneteskan air mata dengan menurunkan hujan. Seperti sedang bercerita tidak ada kecongkakan yang menyentuh hati. Kebajikan, ketulusan dan kesediaan membangun kebahagiaan di bawah kebahagiaan orang lain, itulah rahasia-rahasia sentuhan.

Alam memang penuh pertanda. Ia tidak melarang manusia menjadi nomor satu. Jumlah batu yang menjadi puncak gunung jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang menjadi lereng dan dasar gunung. Bila usaha hanya berujung pada nomor dua, ia sebuah pertanda mulia : kita sedang menjadi lereng dan membuat orang lain menjadi nomor satu, di puncak. Bukankah ini sikap yang menyentuh ?

Perlambang alam yang lain, kelapa tumbuh di pantai, cemara tumbuh di gunung. McClelland telah membuat banyak manusia jadi nomor satu, lengkap dengan hawa panas ala kelapa di pantai. Master Hsing Yun memberikan inspirasi tentang kehidupan yang menyentuh karena berbahagia jadi nomor dua, mempersilahkan orang lain menjadi nomor satu,mirip cemara yang sejuk di gunung.

Bila pencinta nonor satu berfokus pada menjadi benar dan hebat, kesejukan ala cemara berfokus pada menjadi baik dan menyentuh. Ia serupa kisah tiga anak yang memilih tiga buah pir pemberian tetangga. Murid McClelland akan memilih yang terbesar dan tersegar. Anak yang batinnya sejuk akan memilih yang terkecil dan terjelek. Ia berbahagia melihat orang lain menikmati buah Pir yang besar dan segar. Dan Anda pun bebas memilih ikut yang mana

Oleh : Gede Prama – kompas 3 nov 07