Sunday, November 4, 2007

Ali Zainal Abidin

Malam sudah larut, dinihari sudah hampir. Angin dingin sahara berhembus dalam kesepian. Bukit bukit batu, rumah rumah tanah, pepohonan semua tak bergerak ; berdiri kaku seperti rangkaian shiluet. Tapi ditengah Masjidil Haram, seorang pemuda berjalan memutari Ka’bah. Usai thawaf, ia berdiri di pintu ka’bah sambil bergantung pada tirainya. Matanya menatap langit yang sunyi. Tak seorang pun berada di situ, kecuali Thawus Al Yamani, yang menceritakan peristiwa itu kepada kita. Thawus mendengar pemuda itu merintih :

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam
Semua mata mahluk-Mu telah tertidur
Tapi pintu-Mu terbuka lebar
Buat pemohon kasih-Mu

Aku datang menghadap-Mu
Memohon ampunan-Mu
Kasihi daku
Perlihatkan padaku wajah kakekku Muhammad saw
Pada mahkamah hari kiamat

(kemudian ia menangis)

Demi kemuliaan dan kebesarn-Mu
Maksiatku tidakklah untuk menentang-Mu
Kala kulakukan Maksiat
Kulakukan bukan karena meragukan-Mu
Bukan karena mengabaikan siksa-Mu
Bukan karena menantang hukum-Mu
Kulakukan karena pengaruh hawa nafsuku
Dan karena kauulurkan tirai untuk menutupi aib ku

Kini siapakah yang akan menyelamatkan aku
Dari azab-Mu
Kepada tali siapa aku harus bergantung
Kalau kau putuskan tali-Mu
Malang nian daku kelak
Ketika bersimpuh dihadapan-Mu
Kala si ringan dipanggil : Jalanlah
Kala si berat dipanggil : Berangkatlah
Aku tak tahu
Apakah aku berjalan dengan si ringan
Atau berangkat dengan si berat.

Duhai celakalah aku
Bertambah umurku dan bertumpuk dosaku
Tak sempat aku bertobat kepada-Mu
Sekarang aku malu menghadap Tuhanku

(Ia menangis lagi)

Akankah Kau bakar diriku dengan api-Mu
Wahai tujuan segala kedambaan

Lalu, ke mana harapku kemana cintaku
Aku temui-Mu
Dengan memikul amal buruk dan hina
Di antara segenap mahluk-Mu
Tak ada orang sejahat aku

(Ia menangis lagi)

Mahasuci Engkau
Engkau dilawan seakan-akan Engkau tiada
Engkau terlalu pemurah
Seakan akan Engkau tak pernah dilawan.
Engaku curahkan kasih-Mu pada mahluk-Mu
Seakan akan Engkau memerlukan mereka
Padahal Engkau, duhai Junjunganku
Tak memerlukan semua itu

Kemuadian ia merebahkan diri bersujud, Thawus bercerita : aku dekati dia. Aku angkat kepalanya dan kuletakan pada pangkuanku. Aku menangis sampai air mataku membasahi pipinya. Ia bangun dan berkata, “Siapa yang mengganggu dzikirku“. Aku berkata , “Aku Thawus, wahai putra Rasul Allah . Untuk apa segala rintihan ini ? Kamilah yang seharusnya berbuat seperti ini, karena hidup kami bergelimang dosa.
Sedangkan ayahmu Husain bin Ali, Ibumu Fathimah, dan kakekmu Rasulullah saw.“

Ia memandangku seraya berkata, “Keliru, kau Thawus, Jangan sebut sebut perihal ayahku, ibuku kakekku, Allah menciptakan surga bagi yang menaati-Nya dan berbuat baik, walaupun ia hanya hamba sahaya dari Habsi, Ia menciptakan neraka buat yang melawan-Nya walaupun ia bangsawan Quraisy. Tidakkah engkau dengar firman Allah –Ketika sangkakala ditiup, tidaklah ada hubungan lagi di antara mereka hari itu dan tidak saling meminta tolong. Demi Allah esok tidak ada yang bermanfaat selain amal saleh yang telah engkau lakukan.“

Yang diceritakan Thawus dalam riwayat ini adalah Ali Zainal Abidin. Imam keempat dalam rangkaian imam Ahli Bait ini terkenal sebagai As Sajjad, orang yang banyak bersujud. Doa doanya dikumpulkan dalam As-Shahifah As-Sajjadiyah; berisi kalimat kalimat yang indah dan mengharukan.