Sunday, April 20, 2014

7. AL MUKMIN (Dzat Yang Maha Terpercaya)


Janganlah kita gantungkan harapan kita kepada selain Allah Ta'ala disaat kita menghadapi suatu permasalahan. Akan tetapi mohonlah hanya kepada-Nya saja, karena hanya Dia Dzat Yang Maha Terpercaya. Mohonlah hanya kepada Allah Ta'ala untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang kita hadapi, yakini dan rasakan bahwa hanya Allah Ta'ala yang dapat menyelesaikan permasalahan kita dengan sebaik-baiknya.

Sering kali apabila kita mempunyai suatu masalah minta diselesaikan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi setelah masalah itu selesai, kita merasa seolah-olah karena kepintaran kita sendiri tanpa merasakan adanya pertolongan Allah.

Padahal seharusnya kita benar-benar mengakui keberadaan Allah Ta'ala, karena Allah Ta'ala hanya minta untuk diakui keberadaanNya. Dan apabila kita tidak mau mengakui keberadaan Allah Ta'ala, maka kita termasuk orang-orang yang sombong. Dan apabila kita termasuk orang yang sombong, maka selamanya kita tidak bisa mencium baunya syurga.
Oleh sebab itu apapun permasalahan yang kita hadapi apabila kita serahkan kepada Allah Ta'ala, maka Dia akan mengurusinya dengan sebaik-baiknya. Dengan syarat kita harus menyerahkannya secara full dan harus menerima apapun keputusan Allah dengan ridho. Karena apapun yang diputuskan oleh Allah Ta'ala adalah pasti yang terbaik untuk kehidupan akhirat. Akan tetapi cara Allah Ta'ala menyelesaikan terkadang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita.

Apabila didalam hidup ini kita menerima sesuatu, hendaklah kita kontrol do'a-do'a yang telah kita panjatkan. Karena hal itu bisa saja pengabulan dari do'a yang kita panjatkan. Sebagai contohnya kita berdo'a agar diselamatkan dunia dan diakhirat. Selamat dunia dan akhirat menurut Allah Ta'ala adalah ketenangan jiwa (hati tentram), sehingga apapun yang membuat hati tidak tentram akan Dia ambil.

Apabila dengan harta, anak, jabatan, dan lain sebagainya tidak membuat hati kita tentram, maka akan diambil oleh Allah Ta'ala. Inilah contoh pengabulan do'a. Akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan nafsu kita, karena kita berfikir selamat didunia adalah dengan banyaknya harta, anak, jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.
Terkadang kita mempunyai masalah sehingga kita berdo'a kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi setelah permohonan tersebut dikabulkan kita tidak terima, karena tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Sebagai contohnya kita mempunyai hutang yang banyak kepada orang lain, lalu kita memohon kepada Allah Ta'ala agar masalah kita tersebut diselesaikan. Setelah itu kita ditangkap polisi dan dipenjara. Akan tetapi hal ini membuat kita tidak terima, padahal itulah bentuk penyelesaian dari Allah Ta'ala. Karena setelah kita dipenjara, maka secara otomatis hutang kita menjadi lunas.

Oleh sebab itu apabila kita sudah menyerahkan kepada Allah harus menerima dengan ikhlas dan jangan sekali-kali berburuk sangka kepadaNya. Karena apapun penyelesaian dari permasalahan yang kita hadapi adalah yang terbaik.

Manusia adalah makhluq yang lemah, bodoh dan tidak punya daya upaya serta kekuatan walau sedikitpun. Sehingga tidak ada satupun manusia yang mampu mengurusi dirinya sendiri. Akan tetapi apabila kita mau menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta'ala. maka Allah Ta'ala akan mengurusinya dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi terkadang kita salah dalam menyerahkan urusan kepada Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita melakukan ibadah-ibadah, setelah itu kita serahkan kepada Allah Ta'ala dan meminta  agar rizki lancar dan banyak. Hal ini adalah tidak benar.

Padahal didalam Al Qur'an Allah Ta'ala telah mengingatkan bahwa apa yang disisi Allah Ta'ala yaitu syurga adalah lebih baik dari pada apa yang dapat kita kumpulkan didunia ini. Bahkan andaikata kita mempunyai emas sepenuh bumi untuk menebus diri dari azab neraka, niscaya tebusan itu tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala. Sesuai Surat Ali Imran (3) : 91
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi. walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”
Seharusnya yang kita serahkan kepada Allah Ta'ala adalah : "Apabila kita sudah berupaya dengan sungguh-sungguh melakukan ibadah atau amal sholeh dengan niat dan syareat yang benar seperti contohnya sholat, akan tetapi masih banyak sekali kekurangan. Inilah yang kita serahkan kepada Allah Ta'ala agar sholat yang kita lakukan diterima disisiNya. Contoh yang lain kita telah bersedekah dengan niat yang ikhlas, akan tetapi sering kali tergoda oleh hawa nafsu dan syetan. Inilah yang boleh kita serahkan kepada Allah Ta'ala agar diterima disisiNya. Begitu juga dengan ibadah-ibadah dan amal-amal sholeh yang lain".

Sisi Tafakkurnya
Seberapa banyak permasalahan yang kita hadapi yang kita serahkan urusannya kepada Allah Ta'ala? Dan seberapa banyak yang tidak kita serahkan kepada Allah Ta'ala karena merasa mampu mengurusi sendiri, yang akhirnya mengecewakan dan menyulitkan kita?

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu menyerahkan segala urusan kepada-Mu.
Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman betul-betul menyadari bahwa dirinya adalah lemah, bodoh, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun. Sehingga dia merasa tidak mampu mengurusi dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah Ta'ala.
Orang-orang yang beriman sangat yakin, apabila dia mau menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala, maka urusannya tersebut akan diselesaikan oleh Allah Ta'ala dengan sebaik-baiknya. Sehingga didalam melakukan amal apapun, semata-mata hanya mengharapkan keridhoan Allah Ta'ala.

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang yang bertaqwa selalu menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta'ala, setelah dia berikhtiyar dan berdo'a. Dan ketika Allah Ta'ala telah memberikan bimbingan kepadanya, maka bimbingan tersebut akan dia jalankan dengan sungguh-sungguh walau apapun resikonya.
Didalam hidup ini kita harus berkhtiyar (berusaha), karena dengan ikhtiyar itulah kita akan mendapatkan amal. Akan tetapi sebelum berikhtivar, terlebih dahulu kita harus memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala. Dan jangan sekali-kali kita bergantung (bersandar) dengan ikhtiyar tersebut, karena masalah hasil adalah hak Allah Ta'ala.

Manusia adalah makhluq yang lemah, bodoh dan tidak punya daya upaya sedikitpun. Sehingga tidak ada satupun manusia yang mampu mengurusi dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa mampu mengurusi diri sendiri dan jangan sekali-kali mengurusi urusan orang lain serta menghina keburukan orang lain. Karena mengurusi diri sendiri saja kita tidak mampu, apalagi mengurusi urusan orang lain?

Bahkan Rasulullah SAW saja tidak bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan orang lain. Karena tugas beliau hanya menyampaikan berita gembira dan peringatan, sedangkan masalah orang mau menerima atau tidak bukan urusan beliau. Sesuai Surat Az Zuiuar (39) Ayat : 41
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. Siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri. Dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka”

Kalau Rasulullah SAW saja tidak bertanggung jawab terhadap orang lain, kenapa kita sibuk mengurusi orang lain? Apakah kita sudah dijamin selamat sehingga berani mengurusi orang lain? Padahal jika kita mau berfikir, untuk mengurusi diri sendiri saja sungguh sangat berat. Apakah kita bisa selamat atau tidak diakhirat nanti.

Karena kita ini adalah makhluq yang lemah dan bodoh, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab itu hendaknya kita serahkan kepada Allah Ta'ala, agar Dia membimbing kita kejalan yang lurus. Dan apabila Allah Ta'ala telah memberi petunjuk-Nya. hendaknya kita jalankan petunjuk tersebut walau apapun resikonya dan jangan sekali-kali kita ingkari.
Makanya ada do'a : "Ya Allah ya Tuhanku, hukumlah hamba jika hamha salah dan berilah hamba rahmat jika hamba benar. Agar kiranya hamba mengerti mana yang benar dan mana yang salah menurut Engkau". Orang-orang yang bertaqwa tidak takut kemudhoratan menimpanya didunia, yang penting diakhirat dia bisa selamat. Karena dia yakin bahwa Allah Ta'ala tidak akan pernah mendzolimi hamba-hambaNya dan tidak akan pernah memberikan beban yang diluar kesanggupan hambaNya didalam menerimanya.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, janganlah Engkau serahkan segala urusan kami kepada kami sendiri walaupun hanya sekejap, karena kami pasti tidak mampu melakukannya.
Perlu digaris bawahi bahwa kita berdo'a setelah berikhtiyar terlebih dahulu. Jangan sekali-kali kita berdo'a tanpa adanya ikhtiyar (usaha).

Sikap Orang Bertawakkal
Apabila dia telah berikhtiyar dan berdoa kepada Allah Ta'ala. maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan sedikitpun dia tidak pernah ragu kepada Allah Ta'ala dan tidak pernah memaksa Allah Ta'ala agar memenuhi keinginan hawa nafsunya.

Didalam hidup ini yang kita harapkan dari Allah Ta'ala ini apa? Apakah kesenangan kehidupan dunia atau kebahagiaan kehidupan akhirat? Orang-orang yang mengharapkan kesenangan dunia, dia akan selalu memperturutkan hawa nafsunya. Bahkan didalam melakukan ketaqwaan, niatnya hanya ingin dibalas didunia untuk memuaskan keinginan hawa nafsunya. Sedangkan untuk kehidupan akhirat tidak pernah dia hiraukan. Akan tetapi bagi orang-orang yang mengharapkan kehidupan akhirat, dia tidak perduli dengan kehidupannya didunia. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan kesusahan atau kemudhoratan. Yang penting dia diakhirat bisa selamat dan hidup bahagia.

Sikap Orang Mukhlis
Apabila dia telah bertawakkal kepada Allah Ta'ala, maka hasil apapun yang Allah Ta'ala berikan dia terima dengan ikhlas dan senang.
Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala, maka dia memaksa agar Allah Ta'ala segera menyelesaikan urusannya tersebut dan harus sesuai dengan hawa nafsunya. Dan apabila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, maka dia tidak mau menerimanya dengan ikhlas. Bahkan dia akan menyalahkan Allah Ta'ala.
Padahal dosa yang paling tinggi adalah kemusyrikan. Dan kemusyrikan yang paling tinggi adalah menjadikan diri sendiri sebagai tuhan dan menjadikan Allah Ta'ala sebagai hamba. Yaitu selalu memaksa Allah Ta'ala agar memenuhi segala keinginan hawa nafsunya.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Mukmin Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka ia akan selalu menyerahkan semua urusan yang ia hadapi hanya kepada Allah Ta'ala, karena hanya Allah Ta'ala sajalah yang mampu untuk menyelesaikan urusan yang dihadapinya. Sedikitpun ia tidak berani untuk menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya walaupun permasalahannya itu sangat kecil.

Dan terhadap sesama manusia, ia akan berusaha untuk menjadi orang yang amanah serta berusaha menyelesaikan segala urusan yang diamanahkan kepadanya dengan sebaik-baiknva.

Contoh do’a yang ingin meneladani Asma' Al Mukmin
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai perantara-perantaraMu didalam menyelesaikan urusan hamba-hambaMu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang amanah.


Saturday, April 19, 2014

6. AS SALAM (Dzat Yang Maha Menyelamatkan)


Allah Ta'ala sangat menyayangi semua hamba-hambaNya dan sangat menginginkan semua hamba-hambaNya bisa selamat didunia dan diakhirat. Oleh sebab itu Allah Ta'ala senantiasa menyelamatkan hamba-hambaNya baik secara fisik maupun secara akidah.

Dari segi fisik, setiap saat kita berada dalam penyelamatan Allah Ta'ala. Sebagai buktinya kita bisa selamat berada didalam rumah. Padahal jika Allah Ta"ala berkehendak merobohkan rumah tersebut, maka hal itu sangat mudah sekali. Kita bisa selamat dalam perjalanan. Padahal jika Allah Ta'ala berkehendak membuat kita kecelakaan, juga sangat mudah sekali. Begitupun juga dengan hal-hal yang lain. Akan tetapi semua itu tidak pernah kita sadari dan syukuri. Padahal seharusnya kita merasa malu apabila melakukan kefasikan atau kedurhakaan. Karena setiap saat kita diselamatkan Allah Ta'ala. tetapi kenapa kita balas penyelamatan Allah Ta'ala dengan kedurhakaan?

Allah Ta'ala juga menyelamatkan dari segi akidah. Sebagai contohnya Allah Ta'ala mencabut harta seseorang. Jika dipahami berdasarkan kehidupan dunia, maka seolah-olah Allah Ta'ala itu dzoliin. Akan tetapi jika dipahami dengan kehidupan akhirat, maka sesungguhnya Allah Ta'ala sangat sayang kepadanya. Karena ternyata dengan hartanya tersebut membuat dia semakin jauh dari Allah Ta'ala dan sering melakukan kedurhakaan kepada Allah Ta'ala. Dan ternvata harta-hartanya tersebut adalah harta yang diperoleh dengan cara yang haram. Sehingga dengan tercabutnya harta tersebut menjadikan hisabnya ringan diakhirat kelak.

Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita mencari harta dengan jalan yang dilarang oleh Allah Ta'ala. Karena harta yang haram tidak ada guna sama sekali. Jika kita makan akan menumbuhkan daging yang haram yang akan memasukkan kita kedalam neraka, jika kita buang mubadzir (sia-sia) dan jika kita berikan kepada orang lain menjadi syafa'at buruk.

Didalam menjalani hidup ini terkadang Allah memberikan penyakit, musibah dan kesulitan-kesulitan. Semua itu Allah Ta'ala lakukan adalah untuk menyelamatkan keimanan hambaNya. Apabila kita bersabar dengan penyakit, musibah atau kesulitan-kesulitan tersebut, maka Allah Ta'ala akan mengampuni dosa-dosa kita.
Akan tetapi tidaklah mungkin kita bisa bersabar jika tidak faham dengan tujuan Allah memberikan semua itu. Sehingga kita selalu berburuk sangka kepadaNya dan menganggap Allah Ta'ala itu dzolim.

Allah telah menurunkan kitab-kitabNya sebagai aturan hidup, menurunkan Rasul-rasulNya sebagai suri tauladan dan membisikkan ilham ketaqwan untuk menyelamatkan kita nanti diakhirat. Karena Dia ingin semua hambaNya masuk syurga dan tidak ingin menyiksa hambaNya dineraka. Oleh sebab itu dengan segala cara Allah Ta'ala lakukan guna untuk menyelamatkan hamba-hambaNya. Akan tetapi manusia itu sendiri yang tidak ingin selamat, sehingga mereka selalu berpegang kepada tradisi dan pendapat orang banyak. Padahal pendapat orang banyak justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta'ala. Sesuai surat Al An'aam (6) ayat : 116
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Seharusnya terserah semua orang yang ada dimuka bumi ini mengatakan kita salah, yang penting dimata Allah kita benar. Karena kebenaran menurut pendapat manusia tidak bisa menyelamatkan kita diakhirat. Sebagai contohnya apabila ingin masuk kerja harus menyuap. Menurut pendapat manusia adalah benar tetapi menurut pendapat Allah adalah salah.

Oleh sebab itu marilah kita fahami perasaan Allah. Begitu kecewanya Dia yang ingin menyelamatkan hamba-hambaNya tetapi sang hamba tidak mau. Padahal Allah sangat sayang kepada kita melebihi sayangnya orang tua, suami, atau isteri. Maka dari itu apabila kita nanti termasuk orang yang tidak selamat, jangan sekali menyalahkan orang lain, syetan, nafsu, keadaan dan lain sebagainya. Tetapi salahkanlah diri kita sendiri. Karena Allah telah memberikan segalanya kepada kita agar bisa selamat, tetapi kita sendiri yang tidak mau selamat.
Ibaratnya kita sangat menginginkan agar orang yang kita sayangi menjadi orang yang baik dan selamat. Akan tetapi dia tidak mau, justru melakukan sesuatu yang kita benci. Tentunya perasaan kita sangat sakit. Begitupun juga Allah Ta'ala. Dia sangat menginginkan kita selamat, tetapi kita justru menyekutukan Dia, mendurhakai Dia dan tidak mau mematuhi peraturan-peraturanNya.

Oleh gebab itu sambutlah dengan hati yang bersyukur semua bentuk penyelamatan Allah Ta'ala yang diberikan kepada kita, agar kita bisa selamat diakhirat nanti.

Memang Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Menyelamatkan. Akan tetapi sebagai seorang hamba, kita harus selalu memohon agar diselamatkan akidah kita. Sebagai contohnya kita berjalan mengendarai mobil. Mungkin fisik kita bisa selamat sampai tujuan, tetapi akidah kita belum tentu selamat. Bisa saja kita sombong, riya' dan lain sebagainva. Oleh sebab itu selalulah memohon untuk keselamatan akidah.
Apabila Allah menginginkan suatu kebaikan (keselamatan) bagi hambaNya, bisa saja Allah Ta'ala sempitkan rizkinya, disusahkan segala urusannya, disakitkan badannya, dan disulitkan dalam sakaratul maut. Sehingga pada saat sang hamba menghadap kepada-Nya, tidak ada lagi keburukannya, karena sudah dibalas semua didunia dan yang tersisa hanya kebaikannya saja.

Begitupun juga sebaliknya apabila Allah Ta'ala menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, yang disebabkan karena keingkaran dan kedurhakaannya, maka Allah Ta'ala akan melapangkan rizkinya. memudahkan segala urusannya, disehatkan badannya, dan dimudahkan didalam sakaratul maut. Sehingga pada saat dia menghadap Allah Ta'ala nanti diakhirat, tidak ada lagi kebaikannya. Karena semuanya telah dibalas didunia, sehingga yang tersisa adalah dosa-dosanya yang akan dibalas didalam neraka.

Sisi Tafakkurnya
Pada awalnya kita seringkali berprasangka buruk, ternyata dikemudian hari baru kita sadari bahwa yang demikian itu adalah penyelamatan dari Allah. "Seberapa banyak hal ini terjadi dalam hidup kita?". Oleh sebab itu apapun yang terjadi pada diri kita, hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada Allah Ta'ala. Karena semua itu adalah bentuk penyelamatan dari-Nya.

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, berikanlah kepada kami keselamatan tubuh dan keselamatan akidah kami.

Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang bisa menyelamatkan, baik secara fisik maupun secara akidah. Dan dia juga yakin bahwa setiap saat dirinya dalam penyelamatan Allah Ta'ala.

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang yang bertaqwa akan memanfaatkan penyelamatan Allah Ta'ala untuk menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan dia sangat malu apabila membalas penyelamatan Allah Ta'ala dengan melakukan kedurhakaan kepada-Nya.

Ini dari segi fisik.
Sebagai contohnya kita diselamatkan oleh Allah Ta'ala didalam suatu perjalanan akan menuju kesuatu tempat. Seharusnya setelah diselamatkan oleh Allah Ta'ala, kita balas penyelamatan tersebut dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jangan sampai setelah diselamatkan oleh Allah Ta'ala justru kita balas dengan keingkaran, kedurhakaan dan perbuatan maksiat.

Dan orang-orang yang bertaqwa juga akan menerima apapun yang Allah Ta'ala berikan kepadanya, berupa kesusahan atau kemudhoratan. Karena dia yakin bahwa apapun vang Allah Ta'ala berikan adalah untuk menyelamatkan dirinya diakhirat kelak.

Ini dari segi akidah.
Sebagai contohnya Allah Ta'ala mengambil hartanya. Karena dengan hartanya tersebut membuat dia sombong dan semakin jauh dari Allah Ta'ala. Contoh yang lain Allah Ta'ala menyakitkan kedua matanya, karena matanya sering dipakai untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta'ala. Hal ini secara fisik tidak selamat, akan tetapi secara akidah dia selamat.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwuan
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat memanfaatkan keselamatan yang Engkau berikan kepada kami untuk melaksanakan ketakwaan kepada-Mu.

Sikap Orang Bertawakkal : Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan keselamatan fisik dan akidahnya hanya kepada Allah Ta'ala. Yang penting dia berusaha memanfaatkan penyelamatan yang telah Allah Ta'ala berikan untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya.
Sikap Orang Mukhlis        : Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan membuat fisiknya sakit, atau mengambil hartanya yang tidak baik, semuanya dia terima dengan ikhlas yang penting akidahnva bisa selamat.

Apabila Allah Ta'ala menyelamatkan fisiknya, maka keselamatan itu akan dia manfaatkan untuk menyelamatkan akidahnya. Dan apabila Allah Ta'ala menyelamatkan akidahnya, walaupun pada dasarnya fisiknya tidak selamat, maka dia terima dengan ikhlas.

Bahkan dia akan berdo'a agar diambil hartanya, apabila hartanya tersebut membuat dia sombong dan semakin jauh dari Allah Ta'ala. Dia akan memohon agar disakitkan badannya, apabila dengan badannya yang sehat membuatnya berdurhaka kepada Allah Ta'ala.

Didalam hidup ini jangan sampai akidah kita tidak selamat gara- gara isteri (wanita), gara-gara suami (laki-laki), gara-gara anak, gara-gara harta, gara-gara pekerjaan dan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ As Salam
Apabila ia telah menjadi kholifah, maka apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya baik balak atau nikmat, ia selalu merasakan dan meyakini bahwa inilah bentuk penyelamatan dari Allah Ta'ala. sehingga ia bisa menjalani kondisi tersebut dengan sabar.

Dan terhadap sesama manusia, ia selalu berusaha untuk menyelamatkan orang lain, baik dari segi fisik maupun dari segi akidah. Dari segi fisik ia akan membantu orang-orang yang terdzolimi. sedangkan dari segi akidah ia berusaha untuk menyampaikan peringatan-peringatan agar manusia kembali kejalan yang lurus.

Contoh do'a bagi orang-orang yang ingin meneladani Asma* As Salam
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai perantara-perantaraMu didalam menyelamatkan manusia, baik dari segi fisiknya maupun dari segi akidahnya.


Monday, April 14, 2014

5. AL QUDDUS (Dzat Yang Maha Suci)


Allah Ta'ala adalah Tuhan yang Maha Suci baik Dzat. Sifat maupun PerbuatanNya  dari perbuatan yang tercela. Tidak ada sedikitpun dari sifat dan perbuatan Allah Ta'ala yang mendzolimi hamba-hambaNya. Akan tetapi hambaNya sendirilah yang mendzolimi dirinya sendiri.

Sekali lagi kita harus ingat bahwa pemahaman Asma'ul Husna ini adalah untuk kehidupan akhirat bukan untuk kehidupan dunia. Sebagai contohnya Allah Ta'ala memberi kita sakit. Jika kita pahami sesuai dengan kehidupan dunia, maka seolah-olah Allah Ta'ala itu dzolim. Padahal Allah Ta'ala itu adalah Dzat Yang Maha Suci.

Akan tetapi jika kita pahami sesuai dengan kehidupan akhirat, maka tujuan Allah Ta'ala memberikan penyakit adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Karena dengan penyakit tersebut Allah Ta'ala berkehendak untuk mengampuni dosa hambaNya dengan syarat ketika diberi sakit, dia ikhlas dan sabar dalam menghadapinya. Rasulullah SAW bersabda : "Demam sehari semalam bisa menghapus dosa satu tahun."
Oleh sebab itu apabila manusia sampai berburuk sangka kepada Allah Ta'ala, maka dia betul-betul sebagai manusia yang tidak tahu diri. Karena apapun yang kita terima sekarang ini baik nikmat atau balak adalah akibat dari perbuatan kita dimasa lalu. Maka dari itu jangan sekali-kali kita berburuk sangka kepada Allah Ta'ala.

Didalam salah satu Hadits Qudsi Allah Ta'ala berfirman : “Barang siapa yang tidak ridho dengan taqdir yang telah Aku tetapkan, maka pergilah dari bumi-Ku dan carilah tuhan selain Aku”

Akan tetapi dalam kehidupan ini banyak sekali orang-orang yang tidak ridho dengan taqdir yang telah Allah Ta'ala tetapkan. Padahal apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepada hamba-hambaNva adalah pasti yang terbaik untuk keselamatan akhiratnya.

Hidup akan terasa nikmat jika kita selalu terima dengan ketentuan Allah Ta'ala. Akan tetapi jika kita tidak menerima ketentuan Allah Ta'ala maka kita akan merasakan kegelisahan dalam hidup. Oleh sebab itu seharusnya dalam mensikapi ketentuan Allah Ta'ala kita harus selalu mengatakan : “Inilah yang terbaik untuk-ku” walaupun pada dasarnya, kita menerima sesuatu yang sangat pahit dan menyakitkan.

Allah Ta'ala telah melakukan segala-galanya untuk menyelamatkan hamba-hambaNya agar bisa masuk syurga. Akan tetapi sang hamba justru menyekutukanNya dan mendurhakaiNya.

Apapun yang dilakukan (diberikan) oleh Allah Ta'ala adalah pasti yang terbaik. Walaupun terkadang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita berburuk sangka kepadaNya. Karena Allah Ta'ala tidak pernah mendzolimi hamba- hambaNya walau sedikitpun.

Seseorang yang sudah bisa memahami dan merasakan Al QuddusNya Allah, maka dia akan selalu berbaik sangka kepadaNya walaupun yang dia terima terkadang tidak menyenangkan. Misalnya dia mendapat penyakit, dia faham dengan penyakitnya tersebut semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.
Jadi janganlah sekali-kali berburuk sangka kepada Allah Ta'ala, karena apapun yang Dia berikan adalah untuk menyelamatkan hamba-hambaNya. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Suci dari cacat dan cela. Baik Dzat, Sifat, dan PerbuatanNya. Oleh sebab itu sedikitpun Dia tidak pernah dzolim kepada hamba-hambaNya.
Sesuai surat Yunus (10) ayat : 44
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”

Allah Ta'ala adalah satu-satuNya Tuhan yang paling baik. Akan tetapi kenapa kita masih berburuk sangka kepadaNya? Dan masih mencari tuhan-tuhan yang lain? Padahal Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Seperti contohnya Allah Ta'ala memberikan kemiskinan adalah untuk menyelamatkan hambaNya tersebut nanti diakhirat. Karena dia tidak perlu mempertanggung jawabkan hartanya.

Oleh sebab itu apabila kita tidak ikhlas dengan apapun yang Allah berikan, berarti kita belum yakin dengan Al QuddusNya Allah. Sebagai tandanya dalam mensikapi ketentuan-ketentuan (pemberian) Allah sering kecewa dan berkeluh kesah. Bahkan dalam hidup ini kita sering berburuk sangka kepadaNya. Kita berfikir sudah sholat, zakat, puasa dan lain sebagainya tetapi kenapa Allah tidak memberi rizki yang banyak?

Sisi Tafakkurnya
Seberapa banyak kita berbaik sangka kepada Allah Ta'ala atas segala sesuatu yang telah diberikanNya kepada kita? Dan seberapa banyak yang kita berburuk sangka kepada-Nya?

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu ridho atas semua ketentuan yang telah Engkau tetapkan bagi kami.

Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala Maha Suci dan apapun yang Dia berikan pasti yang terbaik, sehingga apapun pemberian Allah Ta'ala baik balak atau nikmat tidak membuatnya berburuk sangka kepada Allah Ta'ala walau sedikitpun.

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang yang bertaqwa akan membuktikan keyakinannya tersebut didalam kehidupannya. Yaitu apabila menerima sesuatu, baik balak atau nikmat dia yakin bahwa inilah yang terbaik. Karena sedikitpun Allah Ta'ala tidak pernah dzolim kepada hamba-Nya. Sampai-sampai orang-orang kafir-pun apabila melakukan kebaikan akan dibayar didunia, tetapi diakhirat tidak mendapat apa-apa.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat bersabar atas ketentuan musibah yang Engkau berikan kepada kami, dan agar kami dapat bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan kepada kami.

Sikap Orang Bertawakkal
Orang-orang yang bertawakkal menyerahkan segala keputusan kepada Allah Ta'ala, sehingga hatinya tidak pernah sedih dan gelisah. Dia akan menerima apapun yang diinginkan oleh Allah Ta'ala terhadap dirinya dan dia tidak punya keinginan kecuali apa yang diinginkan oleh Allah Ta'ala.
Apabila kita ridho kepada Allah Ta'ala, maka Allah-pun akan ridho kepada kita. Dan hidup dalam keridhoan Allah Ta'ala sungguh sangat menyenangkan, karena tidak ada rasa khawatir dan bersedih hati. Dan apabila Allah Ta'ala telah ridho kepadanya, maka Allah-pun ridho memasukkannya kedalam syurga.

Oleb sebab itu hendaknya didalani hidup ini kita selalu berusaha membuat Allah Ta'ala ridho. Jangan sampai membuat Allah Ta'ala murka. Sedangkan bagaimana caranya membuat Allah Ta'ala ridho? Yaitu beriman kepada-Nya dengan sebenar-benar iman, bertaqwa, bertawakkal dan ikhlas menerima apapun yang diinginkan Allah Ta'ala. Akan tetapi tidaklah mungkin kita bisa melakukan semua itu jika kita belum mengenal Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya.

Sikap Orang Mukhlis
Dia akan menerima dengan ikhlas ketentuan apapun dari Allah Ta'ala. Karena apapun yang ditentukan oleh Allah Ta'ala adalah pasti yang terbaik.

Orang-orang yang tidak bisa bertawakkal kepada Allah Ta'ala, maka hidupnya akan selalu gelisah dan selalu merasa khawatir. Dan apabila dia tidak bisa bertawakkal, maka dia-pun tidak akan bisa ikhlas. Sedangkan yang dinamakan ikhlas adalah ridho menerima apapun dari Allah Ta'ala, sehingga Allah-pun akan ridho kepadanya.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Quddus
Apabila ia telah menjadi kholifah, ia akan merasakan bahwa apapun yang Allah Ta'ala berikan kepadanya pasti yang terbaik dan pasti ada hikmah dibelakangnya, sehingga ia tidak pernah berburuk sangka kepada Allah Ta'ala. Kemudian terhadap sesama manusia, ia akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya.

Contoh do’a  bagi orang-orang yang ingin meneladani Asma' Al Quddus
Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah Engkau tetapkan bagi hamba-hambaMu. Agar mereka dapat melihat bahwasannya ketentuan-Mu itu adalah yang terbaik bagi mereka.


Sunday, April 13, 2014

4. AL MALIK (Dzat Yang Maha Merajai)


Segala yang ada dilangit dan dibumi semuanya tunduk kepada Allah Ta'ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Merajai dan apabila Dia berkehendak maka tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya. Oleh sebab itu tidak ada pilihan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini kecuali menerima ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala.

Sebagai seorang hamba yang lemah dan bodoh, hendaknya kita fahami dan rasakan tentang Malik-Nya Allah Ta'ala ini, bahwa segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi berada dalam kekuasanNya.

Karena apabila kita tidak bisa merasakan Malik-Nya Allah Ta'ala, mengakibatkan apabila menerima balak (kesusahan) banyak berkeluh kesah dan menyalahkan orang lain, dan apabila mendapatkan nikmat akan merasa tinggi hati (sombong), karena merasa atas kemampuan dan kepintaran diri sendiri. Padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Merajai, apapun yang telah ditentukan-Nya pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang dapat menolak atau merubah ketetapan-Nya tersebut.
Yang Pertama, Allah Ta'ala telah menentukan batas umur manusia. Kapan seseorang lahir dan kapan ia mati tidak ada satupun yang dapat menolak atau merubahnya. Walaupun seluruh kemampuan (kekuatan) dikumpulkan niscaya tidak bisa.

Apakah itu orang yang punya kekuasaan, atau orang yang kaya raya, atau orang pintar, atau orang miskin, atau orang tua, atau anak muda dan lain sebagainya, semuanya tidak bisa menolak ketentuan Allah Ta'ala. Sesuai surat Yunus (10) ayat : 49
Katakanlah: “aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).

Ada satu pertanyaan apabila seseorang bunuh diri apakah dia sendiri yang menentukan ajalnya? Jawabannya “tidak Karena banyak orang yang mencoba bunuh diri tetapi tidak mati karena ajalnya belum sampai. Dan kalaupun dia mati berarti ajalnya sudah sampai tetapi dia memilih jalan kefasikan. Sebetulnya walaupun dia tidak bunuh diri jika ajalnya telah sampai pasti akan mati juga. Karena Ajal setiap manusia telah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi bagaimana cara mati adalah pilihan manusia itu sendiri. Apabila cara mati juga ditentukan, maka orang yang bunuh diri tidak berdosa.

Apabila seseorang sudah sampai ajalnya, maka secanggih apapun kedokteran, ketabiban dan teknologi sedikitpun tidak bisa menolak atau menghalangi. Oleh sebab itu kita harus yakin bahwa kematian pasti akan menemui kita. Apakah nanti malam, atau besok pagi, atau seminggu lagi. atau sebulan lagi, atau setahun lagi dan seterusnya.

Maka dari itu Rasulullah SAW berwasiat : “aku tinggalkan dua perkara yang bisa menjadi nasehat. Yang satu pandai berbicara yaitu Al qur'an dan yang satu lagi diam yaitu kematian”.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya selalu ingat dengan kematian, sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menyiapkan bekal (amal ibadah atau amal sholeh), dan ia juga takut untuk melakukan dosa.

Para sahabat zaman dahulu apabila melakukan sholat subuh ia berfikir tidak akan sampai kepada sholat dzuhur. Mereka merasa bahwa inilah sholatnva yang terakhir sehingga mereka melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. Bahkan ada juga sahabat yang apabila ruku' didalam sholat mereka merasa tidak sampai kepada sujud, sehingga mereka berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Allah Ta'ala. Begitu juga dalam melakukan amal-amal ibadah dan amal-amal sholeh lainnya, mereka selalu berfikir inilah amalku yang terakhir, sehingga mereka selalu mempersembahkan yang terbaik untuk Allah Ta'ala.

Selama ini kita beranggapan bahwa umur selalu bertambah sehingga ada istilah ulang tahun. Padahal yang sebenarnya umur itu selalu berkurang. Karena andaikata umur yang ditentukan oleh Allah 50 tahun, dan sekarang sudah umur 30 tahun, berarti tinggal 20 tahun lagi. Jadi setaip hari kita ini mendekati kematian.
Oleh sebab itu jangan sampai kita menjadi orang yang lalai. Seharusnya kita selalu berfikir dosa-dosa mana yang sudah diampuni oleh Allah Ta'ala dan amal-amal mana yang sudah diterima oleh Allah Ta'ala, karena waktu ini terus berjalan. Allah berfirman disurat Al 'Ashr (103) ayat :1-3
1.      Demi masa.
2.      Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.      Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Andaikata besok pagi kematian menjemput kita, sudahkah kita termasuk orang-orang yang selamat? Andaikata besok pagi kita menghadap Allah Ta'ala, sudahkah kita sanggup mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita? Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa bahwa umur masih panjang. Jangan merasa masih muda sehingga menunda-nunda untuk bertaubat dan beramal sholeh. Karena kita nanti pasti akan menyesal.

Yang kedua masalah Rizki. Rizki telah ditentukan oleh Allah Ta'ala mulai dari kita lahir sampai ajal menjemput. Akan tetapi hal inilah yang justru selalu membuat kita pusing. Padahal sebelum Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya, terlebih dahulu Allah Ta'ala menjamin rizki bagi kita.

Mensikapi masalah rizki ini yang menjadi tugas (kewajiban) kita hanyalah berikhtiyar (berusaha). Masalah berapa banyaknya yang akan Allah berikan kita harus terima dengan ikhlas. Karena itulah yang terbaik bagi kita. Bukan berarti Allah tidak mau memberi rizki yang lebih kepada hamba-hambaNya, akan tetapi jika sang hamba diberi lebih maka cenderung membuat ia melampui batas. Sesuai surat Asy Syuura (42) ayat: 27
“Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”

Oleh sebab itu Allah menurunkan rizki kepada hamba-hambaNva disesuaikan dengan kemampuan sang hamba tersebut didalam menerimanya. Sebagai contohnya si A kemampuannya satu gelas, si B satu ember, sedangkan si C satu drum. Setelah itu ada hujan yang sangat deras. Maka air yang diperoleh oleh masing-masing hanyalah sebatas ukurannya tersebut. Untuk itu bagi orang-orang yang ukurannya satu gelas mungkin hanya untuk kebutuhannya sendiri dan keluarga, tetapi bagi yang ukurannya banyak pasti ada bagian untuk orang lain.

Sebetulnya kalau hanya untuk kebutuhan diri sendiri sebetulnya tidak banyak. Sebagai contohnya kita punya rumah lima. Yang kita butuhkan hanya satu untuk beristirahat. Kalau lima-limanya kita tempati niscaya tidak bisa istirahat. Begitupun juga makan, apabila sudah kenyang akan berhenti. Bukan berarti orang kaya makanya 10 piring. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsunya manusia selalu mengumpul-ngumpulkan harta yang banyak, padahal setelah ia mati akan jatuh waris sedangkan dihari akhir nanti dia yang akan dihisab (dimintai pertanggung jawabannya).

Setiap orang yang diberi lebih oleh Allah sebetulnya ada bagian untuk orang lain. Oleh sebab itu apabila kelebihan tersebut dikumpul- kumpulkan dan tidak diberikan kepada orang yang lebih berhak, maka ia akan memperoleh neraka huthamah. Sesuai surat Al Humazah (101) ayat: 1 - 9

1.      Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
2.      Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
3.      Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
4.      Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5.      Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6.      (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7.      Yang (membakar) sampai ke hati.
8.      Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
9.      (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Orang-orang yang selalu merasa kurang dengan rizki-rizki yang Allah Ta'ala berikan, membuat ia tidak pandai bersyukur. Oleh sebab itu hendaknya kita tahu diri bahwa kita adalah seorang hamba yang banyak berdosa dan selalu durhaka. Selalu menyekutukan Dia dan apabila beramal belum bisa sempurna. Akan tetapi Allah masih memberi kita rizki dan tidak mengazab kita serta menunggu kita untuk bertaubat. Padahal andaikata Allah tidak memberi rizki kepada kitapun sangat wajar. Tetapi kenapa kita tidak mau bersyukur dengan pemberian- pemberianNya dan masih selalu merasa kurang?

Yang ketiga masalah penghidupan. Sebetulnya masalah penghidupan mau menjadi apa sudah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi banyak sekali manusia yang tidak terima dengan penghidupan yang telah Allah Ta'ala tetapkan, sehingga ia tidak pandai bersyukur. Padahal itulah yang paling sesuai untuk dirinya.

Menjadi apapun diri kita yang penting tidak menyalahi hukum- hukum Allah Ta'ala, disitulah terdapat amal bagi kita. Sebagai contohnya apabila kita menjadi seorang petani. Dengan bertani kita berniat memudahkan orang-orang untuk makan nasi atau sayur. Kita menjadi pedagang berniat memudahkan orang-orang yang mau membeli sesuatu. Jadi semua itu bernilai ibadah jika kita niatkan dengan benar. Yang paling penting menjadi apapun kita jadilah yang Islami (baik). Pegawai, petani, pedagang, pejabat yang islami.
Yang keempaat adalah balak dan nikmat. Balak dan nikmat ini juga sarana untuk memberikan amal kepada manusia. Maksudnya adalah, apabila seseorang didalam menerima nikmat ia bersyukur maka akan memperoleh amal dan apabila dalam menerima balak ia bersabar juga akan mendapat amal.

Allah memberikan balak kepada hamba-Nya bukan berarti Dia benci, akan tetapi agar Allah mempunyai alasan untuk mengampuni hambaNya tersebut. Asalkan sang hamba ridho dan sabar didalam menerimanya. Oleh sebab itu tidak perlu kita pusing apabila menerima balak. Keempat hal diatas pasti akan terjadi, karena yang menentukan adalah Allah Al Malik (Dzat Yang Maha Merajai). Sehingga tidak ada satupun yang dapat merubahnya.

Didalam hidup ini Allah Ta'ala telah membuat hukum-hukum, diantaranya : "Apabila seseorang melakukan ketaqwaan akan menerima kemanfaatan dan apabila melakukan kejahatan akan menerima kemudhoratan". Dan hukum-hukum yang telah Allah Ta'ala tetapkan ini pasti akan terjadi.

Oleh sebab itu tidaklah mungkin seseorang yang melakukan kebaikan akan mendapatkan kemudhoratan. Begitu juga sebaliknya apabila melakukan kejahatan tidak mungkin mendapatkan kemanfaatan.

Akan tetapi apabila kita banyak sekali melakukan kefasikan (kejahatan) tetapi justru mendapatkan kemanfaatan-kemanfaatan, maka berhati-hatilah (khawatirlah). Karena mungkin kita termasuk orang- orang yang mendapatkan harta istijraj, yaitu bayaran didunia dari kebaikan yang kita kerjakan, tetapi diakhirat kelak kita tidak memperoleh balasan apa-apa melainkan hanya neraka dan kita akan kekal didalamnya.

Sisi Tafakkurnya
Sudahkah kita ridho dengan semua pemberian Allah Ta'ala untuk diri kita, begitu juga untuk orang lain?. Seberapa banyak yang kita ridho dan seberapa banyak yang kita iri atau kecewa?.

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang ridho atas semua ketentuan yang telah Engkau tetapkan bagi kami.

Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan ketentuan Allah Ta'ala yang telah ditetapkan-Nva dengan Asma’ Ar Rahman. Dan orang-orang yang beriman juga yakin bahwa apabila dia memilih kefasikan akan mendapatkan dosa (azab) dan apabila memilih ketaqwaan akan mendapatkan amal (syurga).

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang bertaqwa akan membuktikan keyakinannya tersebut dengan perbuatan. Yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hukum-hukum yang ada didalam Al Qur'an sifatnya adalah pasti. Bahwa barang siapa yang fasik akan mendapatkan dosa (azab) dan barang siapa yang taqwa akan mendapat amal (syurga). Tidaklah mungkin orang-orang yang melakukan kefasikan akan mendapatkan amal (syurga) dan tidak mungkin orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan dosa neraka, apabila niatnya benar dan dilakukan dengan syareat yang benar.

Apabila orang-orang yang fasik mendapatkan kebaikan, maka ini adalah istijraj. Sebagai contohnya orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya, dan apabila melakukan ibadah niatnya hanya mengharapkan duniawi. Dan dia-pun kikir serta enggan melakukan amal-amal sholeh. Orang-orang seperti ini apabila mendapatkan kebaikan berarti istijraj. Yaitu balasan didunia tetapi diakhirat tidak mendapat apa-apa melainkan mendapat neraka.

Apabila orang-orang yang fasik mendapatkan musibah ini namanya peringatan. Apabila orang-orang yang melakukan kebaikan mendapatkan musibah ini namanya ujian untuk meningkatkan keimanannya kepada Allah Ta'ala. Dan apabila orang-orang melakukan kebaikan mendapat kebaikan, ini namanya rahmat supaya melakukan amal yang lebih banyak lagi.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat menggunakan apa-apa yang telah Engkau berikan kepada kami untuk melakukan ketaqwaan kepada-Mu.

Sikap Orang Bertawakkal
Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan hasil ketaqwaan-nya hanya kepada Allah Ta'ala. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan balasan atau tidak. Dan andaikata dia berbuat salah, dia sangat mengharapkan ampunan dari Allah Ta'ala dan siap menerima pembalasan.

Sikap Orang Mukhlis
Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang telah Allah Ta'ala berikan kepadanya. Bahkan apabila menerima musibah akibat dari kesalahan yang dia lakukan, maka dia akan bersyukur. Karena dengan musibah itulah dia bisa menjadi sadar, sehingga bisa bertaubat dan kembali kejalan yang lurus.

Ada seorang Ulama' ditanya : “Apa yang engkau sukai dalam hidup ini?” Dia menjawab : "Yang aku sukai adalah apa yang disukai Allah Ta'alan. Allah Ta'ala suka mengingatkan hamba-Nya yang berdosa, maka diapun juga suka menerima peringatan apabila berdosa.

Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman dan selalu mengikuti hawa nafsu, didalam hidup ini dia suka dengan sesuatu yang membuat Allah Ta'ala murka, dan benci dengan sesuatu yang membuat Allah Ta'ala senang (ridho).

Padahal apabila Allah Ta'ala memberikan peringatan atas kesalahan yang kita lakukan, berarti Allah Ta'ala masih sayang kepada diri kita dan masih menghendaki kebaikan bagi diri kita untuk dikehidupan akhirat nanti.

Kalau dikasihi, semua manusia dikasihi oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi kalau disayangi, hanya sedikit sekali orang-orang yang disayangi oleh Allah Ta'ala. Karena orang-orang yang disayangi adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Ta'ala. Oleh sebab itu bagi orang-orang mukhlis dia akan merasa ikhlas dan bersyukur menerima peringatan dari Allah Ta'ala.

Tidaklah mungkin seseorang bisa selamat apabila tidak diselamatkan Allah Ta'ala. Akan tetapi terlebih dahulu kita harus mempunyai keinginan yang kuat untuk selamat. Tidaklah mungkin Allah Ta'ala menyelamatkan hamba-Nya apabila sang hamba tidak mampunyai keinginan untuk selamat. Karena pecuma saja diselamatkan juga tidak akan mau.

Ibaratnya ada anak yang tidak mau makan. Walaupun orang tuanya memaksanya, mengancamnya atau menjanjikan akan memberikan sesuatu, tetap saja dia tidak mau makan.

Begitupun juga dengan orang-orang yang tidak mau selamat. Walaupun Allah Ta'ala sudah mengancamnya dengan siksa neraka, dijanjikan dengan syurga, bahkan dipaksa dengan diberikan peringatan-peringatan, tetap saja dia tidak mau selamat.

Dizaman Nabi Musa, Allah Ta'ala menurunkan hidangan dari langit berupa Manna dan Salwa. Hal ini Allah Ta'ala lakukan agar hamba- Nya mau beriman kepada-Nya sehingga bisa selamat diakhirat kelak. Disini Allah Ta'ala membuktikan bahwa Allah Ta'ala sangat menginginkan hamba-Nya bisa beriman kepada-Nya. Karena mereka meminta bukti akan ada-Nya Allah Ta'ala dan kekuasaan-Nya, yaitu mereka meminta diturunkan hidangan dari langit. Dan hal itu Allah Ta'ala kabulkan agar kiranya mereka percaya (beriman) kepada-Nya.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Malik
Dia mempunyai kemauan yang sangat kuat didalam melakukan sesuatu yang dia minati. Dengan kata lain dia memiliki sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Tetapi disini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu kehendaknya ini apakah kehendak dari Ailah Ta'ala atau kehendak hawa nafsunya.

Orang yang telah meneladani Asma' Al Malik ini mempunyi keyakinan bahwa apapun ketentuan Allah Ta'ala pasti terjadi dan ketentuan tersebut pasti yang terbaik. Dan dia selalu mengajak orang lain kepada Allah Ta'ala bukan kepada dirinya.

Terkadang kita melihat sesuatu dinampakkan sifat dan perbuatan Allah Ta'ala sehingga kita bisa menerima ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala dan menjadikan peringatan bagi diri kita. Akan tetapi terkadang seseorang memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu dan dipaksakannya seolah-olah yang dilakukan itu adalah kehendaknya sendiri. Tetapi setelah itu ia baru sadar bahwa memang ini ketentuan Allah, sehingga ia menjadi yakin bahwa apapun yang ditentukan Allah pasti terjadi.

Misalnya dalam menghadapi ketentuan Allah Ta'ala masalah umur. Apabila ada orang sakit yang terlambat dibawa kerumah sakit sehingga ia mati, banyak sekali orang yang mengatakan bahwa andaikata cepat dibawa kerumah sakit maka nyawanya akan tertolong. Akan tetapi bagi orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Malik ini akan mengatakan “tidak”. Karena ini sudah ditentukan Allah ia akan mati. Sehingga dengan demikian apapun yang menjadi ketentuan Allah ia akan berusaha untuk mengikutinya dan meluruskannya ketika ada orang yang menentang atas ketentuan Allah tersebut.

Contoh do'a bagi orang-orang yang ingin meneladani Asma' Al Malik
Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu bagi pemberian yang Engkau kehendaki untuk hamba-hambaMu. Sehingga mereka dapat melihat manfaat dari pada apa yang Engkau berikan adalah paling tepat (sesuai) bagi mereka.