Sunday, December 7, 2014

Maqolah 28


Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
Wahai Tuhanku…
Sesungguhnya aku senang
Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku
Sementara aku sangat faqir dan lemah
Oleh karena itu wahai Tuhanku,
Bagaimana Engkau tidak senang
Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku
Sementara Engkau Maha Kaya
Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu
Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu
Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:
Ilahy lastu lil firdausi ahla
Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
Fahably zallaty wahfir dzunuuby
Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi
Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi
(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,
‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Wednesday, December 3, 2014

Maqolah 27


Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.
Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepada para Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dunia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Lilin dan Lampu

Umar bin Abdul Aziz menerima utusan dari berbagai wilayah negeri.
Pada suatu malam, pintu Umar diketuk dari luar. 
Penjaga pintu keluar. Sang tamu menitipkan pesan, 

"Sampaikan kepada Amirul Mukminin, bahwa utusan salah satu gubernurnya datang menghadap."
Penjaga pintu masuk. Ia menyampaikan pesan itu kepada Umar yang hendak beranjak tidur. 
Umar duduk. Ia berkata, "Izinkan dia masuk!"

Sang utusan masuk ke dalam. Umar menyalakan lampu lilin dengan sinarnya yang redup, dan meliuk-liuk ditiup angin. 
Umar duduk, diikut oleh sang utusan. 

Kepada utusan itu, Umar bertanya tentang berbagai hal
Tentang keadaan negeri utusan itu, orang-orang Muslim yang tinggal di Sana,
orang-orang kafir ahlu dzimmah, perilaku gubernur, harga-harga kebutuhan di
pasar, tentang anak-anak kaum Anshar dan Muhajirin, anak-anak jalanan dan
kaum fakir-miskin, tentang apakah semua orang menunaikan kewajibannya,
tentang orang yang ingin menyampaikan keluhan dan pengaduan tentang
apakah penguasa berbuat zhalim atau tidak, dan lain-lain.

Sang utusan menyampaikan semua yang ia ketahui dari pertanyaan itu
Setelah Umar menanyakan semua hal, sang utusan ganti bertanya, 
"Wahai Amirul Mukminin, apa kabar Tuan? Bagaimana pula kesehatan Tuan"
Bagaimana halnya dengan keluarga Tuan, dan semua pegawai Tuan?"

Umar mematikan lilin di hadapannya dengan sekali tiupan. "Wahai
pelayan, aku memerlukan lampu," perintah Umar kepada pelayannya. Umar
meminta dibawakan sebuah lampu yang redup dan nyaris tak bercahaya.

Tanyakan apa yang kamu suka," kata Umar kepada sang utusan.
Sang utusan menanyakan kabar Umar. Umar kemudian menceritakan
keadaannya dan keadaan keluarganya, putra, dan seluruh tanggungannya.
Sang utusan heran dengan tindakan Umar yang mematikan lilin di
hadapannya. 

"Wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah melihat engkau
melakukan hal seperti ini sebelumnya."
"Apa itu?" tanya Umar.
Tuan mematikan lilin saat aku menanyakan keadaan Tuan dan keluarga Tuan."

"Wahai hamba Allah, lilin yang aku matikan itu dinyalakan dengan
menggunakan harta Allah dan harta kaum Muslimin. Saat aku bertanya
tentang kebutuhan dan urusan kaum Muslimia maka lilin itu dinyalakan
demi mengatur kepentingan mereka. Saat kamu bertanya tentang
keadaanku dan keluargaku, maka aku mematikan cahaya lilin yang menjadi
hak kaum Muslimin itu."

Monday, July 14, 2014

Maqolah 26



(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 25



(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tanda diterimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.