Mikul Duwur Mendhem Jero

>> Monday, December 7, 2009

AYAH kenalan lama saya belum lama ini meninggal, Saya memutuskan untuk datang melayat. Kawan saya itu dulu pernah sekuliah kemudian entah bagaimana dia sukses menaiki jenjang karier berhasil menjadi seorang direktur di satu departemen yang renes bin basah.


Sumpah, bukan karena dia direktur dan priyagung yang begitu penting maka saya memutuskan untuk melayat. Saya melayat karena dia adalah seorang kawan yang sedang kesusahan. Juga karena dulu semasa kuliah, hubungan kami lumayan akrabnya. Bahkan sekali dua kali saya pernah diajak menginap di rumah orang tuanya di satu desa di lereng Gunung Merapi yang subur. Sering kali saya mengenang hari-hari yang menyenangkan menginap di rumah orangtua yang ramah dan sederhana itu.
Rumahnya tidak berapa besar, dari kayu, berpotonqan Limasan sederhana. Pekaranqan rumahnya juga tidak berapa besar, ditumbuhi pohon buah-buahan: Jambu kaget, mangga arum manis, dan duwet hitamnya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Juga suasana yang adem dan teduh dari rumah itu serta sayur lodeh dan sambel terasi yang dihidangkan di meja makan mereka masih sering dengan jelasnya menyusup dalam kenangan saya.
Orangtua itu, sungguh pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan bahagianya. Pilihan pekerjaan yang berbeda serta tempat bertugas, yang berjauhan, dia di ibu kota saya dipedalaman, telah memisahkan saya dan kenalan itu hingga bertahun. Dan dengan itu juga hubungan saya dengan orangtuanya di desa yang Indah itu. Tentu sekali-sekali saya membaca berita-berita tentang dia di surat kabar dari melihat wajahnya di layar televisi. Juga satu dua kali pernah bertemu di resepsi ini dan itu di Jakarta atau di pesta perkawinan di Yogya.

Setiap bertemu yang sebentar-sebentar begitu tentu kami bertukar salam akrab, saling berjanji untuk saling mengunjungi denqan keluarga kami bahkan juga untuk naik gunung ke rumah orangtuanya. Tetapi, kerja dan karier memanq bisa kejam sekali. Mesin tempat kami bekerja tidak pernah mengizinkan kemewahan-kemewahan kecil seperti berkunjung ke rumah kawan berjalan dengan mulus. Sayur lodeh, sambel terasi, jambu kaget, duwet hitam adalah ornamen-ornamen kecil yang, agaknya tidak relevan dengan efisiensi mesin. Maka, begitu saya mendengar bahwa orang tua itu meninggal, saya putuskan untuk melayat ke desa bagaimanapun susah dan rumpil jalan ke sana.

JIP tua, reyot dan knalpotnya yang gemuruh suaranya itu, dengan terengah-engah mendaki tanjakan terakhir menuju desa tersebut. Mr. Rigen yang sebentar-sebentar mendesah dan melenguh karena kondisi mesin dan knalpot jip yang rawan itu harus saya akui, adalah seorang sopir amatir (karena menurut dia belum "propesi" yang cekatan dan tangkas. Tikungan-tikungan jalan yang mendaki dia lahap bagai sopir taksi di Beirut. Tiba-tiba, pada jarak satu kilometer dari desa tujuan kami, jalan itu menjadi jalan yang beraspal mulus sekali. Ini bukan kondisi jalan yang dulu beberapa kali saya lewati. Kemudian kira-kira limaratus meter dari batas desa, kami melihat mobil-mobil berplat AB, B, H, AD, L dan entah apa lagi berderet di pinggir jalan. Mercedes, Volvo, dan segala merk mobil Jepang terwakili pada deretan itu. Juga selain mobil jenazah yang super de lux saya melihat tiga bus Hino berderet dengan megahnya.

Waktu, saya turun memasuki halaman rumah mulut saya nyaris otomatis ternganga lebar. Betapa tidak, halaman rumah yang dulu penuh dengan pohon jambu kaget, mangga Harum manis, dan duwet hitam itu sudah berubah. Di halaman itu sekarang tumbuh pohon-pohon sawo kecik yang megah yang mengingatkan saya pada rumah-rumah bangsawan di jeron beteng di kota. Dan rumah itu Astaga! Lenyap sudah rumah kecil sederhana berpotonqan Limasan itu. Sekarang, dihadapan saya berdiri satu rumah besar, megah, beratap sirap dengan pendopo joglo. Tiang-tiangnya berukir Jepara di
pinggirnya diplipit prada yang kemilau. Kemudian saya baru menyadari keadaan di pendopo itu. Jenazah itu terletak dt tengah, dikepung oleh karangan-karangan bunga. Kemudian saya lihat teman saya itu berbaju surjan sutra hitam lengkap dengan kain dan blangkon gaya Mataraman. Begitu juga saya lihat kaum kerabatnya. Baik yang lelaki maupun perernpuan semua berpakaian daerah lengkap berwarna hitam. Lalu saya mendengar suara kaset gamelan mengalunkan lagu Tlutur yang menyayat hati. Kawan saya, dan istrinya dengan tergopoh menyambut kedatangan saya. Kami berangkulan. Sejenak, untuk beberapa detik, saya tercekam keharuan. Berapa tahun sudah sang waktu dan sang mesin birokrasi telah mengasingkan kami. Tetapi, aneh sekali waktu saya lihat matanya yang basah karena air mata itu, kok saya tidak menangkap signal kesedihan melainkan justru sinar kebanggaan. Dan seakan dia bisa membaca rasa ngungun saya dia pun berkata.

"Yah, cuma beginilah, Mas, yang bisa saya lakukan memuliakan orangtua saya."
Saya manggut-manggut sembari berjalan digandeng masuk ke deretan kursi kehormatan dekat pringgitan.
"Orang Jawa bilang anak laki-laki itu harus bisa mikul duwur, mendhem jero, memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam. Sebisa-bisa saya itu sudah saya laksanakan. Kau lihat rumah ini sudah saya sulap menjadi rumah begini."
“Wah, ini rumah bupati zaman dulu, Dik."
“Yak, ya belum, Mas…. Baru mencoba mendekati. Upacara pemakaman ini sengaja saya bikin megah. Supaya Bapak marem. Semua rekan-rekan di kantor kanwil di tiga propinsi saya datangkan untuk membuat suasana ini khidmat tapi regeng.
Ya, lumayan to, Mas, kalau dilihat banyaknya tamu dan banyaknya mobil yang datang. Yah, biar, biar Bapak lega dan marem di hari akhirnya.
Kau masih ingat kan bagaimana sederhana bapak saya itu. Terus nenuwun, puasa Senin-Kemis,
ngrowot dan entah apa lagi. Semuanya agar anak-anaknya bisa hidup mulyo.
Yah, berkat tirakat itu kau lihat sendiri to, Mas. Saya dan adik-adik slamet meniti karier."
Huwih, lumayan ..... ? Kalau ini lumayan terus yang telah saya capai selama ini apa, dong?
Saya ,ngunandika dalam hati.

Waktu jenazah diberangkatkan lagu Tlutur yang sedih itu justru berhenti. Diganti dengan Lagu Gleyong. Saya terpana. Lagu Gleyong? Bukankah lagu itu lagu yang biasa dimainkan ki dalang untuk mengiringi Prabu Suyudono kalau jengkar kedaton? Iring-iringan mobil yang mengiringi mobil jenazah ke arah selatan kota itu telah mengegerkan desa-desa yang kami lalui. Sungguh satu peristiwa dahsyat dan mengagumkan bagi penduduk.

Suara sirene mobil meraung-raung di jalanan pedesaan yang sepi itu. Mobil berpuluh beriringan. Bus-bus. Dan bunga-bunga yang disebar-sebarkan dengan uang receh lima puluh sen yang entah berapa jumlahnya.
JIP kami tertatih-tatih ingin mencoba mengikuti laju iringan mobil-mobil itu. Suara mesinnya kemrosak, suara knalpotnya gemuruh, tetapi larinya kok terpincang-pincang. Waktu masuk kota di jalan Magelang tiba-tiba terdengar grobyak ! Knalpot itu patah dan jatuh berguling. Mr. Rigen menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Knalpot yang terkapar di jalan itu dipungutnya dan ditunjukkannya kepada saya. Saya tersenyum karena knalpot itu mengingatkan saya pada patung Seni Rupa Baru. '

"Mr. Rigen, enaknya kita istirahat di warung soto depan situ. Nututi iringan mobil itu juga percuma Setuju?"
"Siiip, Boss....."
"Dapurmu ....."
Sambil menyruput kaldu soto yang encernya seperti air kali Code itu saya jadi minder ingat kemegahan upacara pemakaman hari itu; Memang kawan saya itu priyagung yang hebat. Punya roso darma yang cangglh. Dibanding dengan itu pemakaman ayah saya tempoh hari, wah, kok sederhana dan polos saja.

Masih terngiang di telingaku dan terbayang mukanya yang penuh khidmat waktu bilang : mikul duwur; mendhem jero ...

By : Umar Kayam
28 Juli 1987

Read more...

Melik Nggendong Lali

Nama lengkapnya panjang sekali. Teguh Budisantosa Resik Bawa Laksana. Tentu tidak seorangpun dari saudara dan kawan-kawannya pernah memanggilnya dengan lenqkap. Untuk menghemat napas kami setuju untuk memanggilnya cukup dengan Mas Guh saja. Dia adalah ipar dari sepupu mertua perempuan saya.


Orang Jawa, yang kadang-kadang memang ruwet sistem kekerabatannya, tidak terlalu mementing-
kan lagi bagaimana orang seperti Mas Guh itu mesti didudukkan dalam bagan pohon kekerabatan kami. Maksud saya bagaimana Mas Guh itu seharusnya dipanggil. Mestikah saya dan istri saya memanggilnya dengan Om, Pakde, Paklik, atau bagaimana. Dan anak-anak kami mesti memanggilnya
dengan Eyang atau mBah Guh? Oh, repot.

Yang bernama Mas Guh itu masih muda. Baru kira-kira empat puluh lima tahun umurnya. Tinggi semampai, gagah, rambut berombak, kulit cokelat matang, matanya serasa, mau membujuk. Lha, mulutnya, begitu sensuous-nya. Kalau menurut anak saya, si Gendut, Oom Guh itu hensem, tubuhnya sangat body, dan senyumnya seperti Robert Redford kayak mau menahan sakit tetapi nggak jadi. Ya sudah. Bagaimana lalu mesti dipanggil Teguh Budisantosa etc., itu!
Maka kembalilah kami serumah memanggilnya dengan Mas Guh dan bagi anak-anak Om Guh.

"Ah, sing penting dia itu sedulur dewek. Sing luwih penting lagi kabeh sedulur kudu rukun." Dan ternyata kesediaan keluarga Mas Guh untuk berukun-rukun itu juga diperluas dengan sifatnya yang luwes, soepel, suka berhandai-handai dengan anggota jaringan keluarga yang mana saja, dan yang lebih penting lagi, Mas Guh itu juga amat murah hati. Loma bin blaba. Setiap tarikan arisan keluarga atau rapat trah di rumahnya selalu didatangi lengkap oleh semua anggota. Menunggu kedatangan hari-H arisan itu seperti, menunggu datangnya satu pesta perayaan kawin perak saja. Habis bagaimana tidak begitu. Untuk arisan begitu-saja keluarga Mas Guh pesan dari catering yang terbaik di kota. Dan jumlahnya selalu berlimpah hingga kami yang datang semua selalu mendapat pembagian oleh-oleh sisa makanan arisan itu. Untuk anggota jaringan trah kawulo negeri yang jarang menikmati kemewahan seperti itu tentulah kesempatan seperti itu welkom. Lha, untuk anak-anak remaja putri kesempatan arisan di rumah Mas Guh itu juga merupakan kesempatan yang bagus untuk menguras isi pakaian anak-anak remaja putri mereka. Entah bagaimana, setiap arisan begitu kok selalu saja ada lemari remaja putri yang siap sedia untuk dikuras lho. Mungkin barhari-hari sebelumnya Mas Guh anak-beranak memang sudah membuat inventaris pakaian anak-anaknya. Mana yang dapat dilepas tetap tinggal di lernari. Sedang yang masih baru, maksudnya baru - dari Hongkong atau Singapore disimpan di lemari lain. (Ah, tetapi ini tentulah imaji saya saja).

Apa pun pokoknya, arisan di keluarga Mas Guh adalah hari yang menyenangkan buat kebanyakan anak-anak perempuan anggota trah. Tetapi juqa buat ibu-ibu anggota trah. Kalau pada arisan-arisan lain kesempatan kumpul begitu dipakai untuk saling menjajakan dagangan dan pinjam-.
meminjam uang, tidak pada arisan di rumah Mas Guh. Di rumah itu, arisan itu berfungsi sebagai Bank Dunia. Ibu-ibu akan datang kepada Mas Guh beserta Ibu, yang akan, dengan penuh simpati, mendengarkan proposal pembangunan yang canggih yang tidak tertulis itu. Biasanya setiap proposal itu gol, diluluskan, tanpa bunga, tanpa batas waktu. Bank Dunia mana dapat murah hati seperti itu ???"

"Wah, Mas Guh, mBakyu Guh, matur nuwun sanget, lho ...... Sudah ditolong. Kalau tidak ada Mas dan mBakyu .... "
Atau bagi mereka yang belum dapat mengangsur utang :
"Aduh, Mas Guh, mBakyu Guh, nyuwun duka, maaf seribu maaf, belum dapat mengangsur. Habis bulan ini si genduk dan tole .... "
Atau kadang-kadang laporan yang dahsyat Lagi. "Ketiwasan, Mas Guh, mBakyu Guuuhh. Proyek kami
bangkrut. Ludes modal kami. Habis, saingan sama modal non pribumi .... "
Mas Guh dan mBakyu Guh sama dengan waktu mereka mendengarkan proposal-para nasabah trah tetap simpatik, tetap tersenyum.
"Wis, wis, ora papa, ora papa. Kami mengerti. Kami akan sabar menunggu sampai kalian sanggup. Kalau akhimya tidak sanggup, ora papa, ora papa, Wong rejeki kami kan rejeki paringan. Kalau tidak sumrambah, merata, buat sanak sedulur; Lha kan sedulur apa saya ini. Kan menurut pesan-mBah Putri: sing rukun, sing rukun .... "

AKAN tetapi namanya cakra manggilingan, sang roda waktu, kok ya berputar ke bawah. Dan itu ditandai dengan berita di koran pagi itu. Cilakanya yang melapor lebih dulu kok ya Mr. Rigen.
"Ini lho, Pak. Kabar rame. Pak Guh terlibat korupsi sak miliar …... "
Cepat-cepat koran saya rebut dari tangannya. Astaga .... Memang di situ diberitakan Dr. Tgh. Bst. Resk. Bwlksn. M.Sc., ditahan untuk dimintai keterangannya tentang uang proyek yang ketlisut sebesar satu miliar rupiah.
"Ini kan betul Pak Guh, nggih, Pak? Wah, tidak nyana, tidak ngimpi, nggih, Pak .... "
"Wis, wis, kau ngurus uang proyek blanjan pasarmu sana dulu!"
Keranjingan..... Mr Rigen alumnus SD Pracimantara pun sudah pinter membaca nama-nama yang dipendekkan di koran. Lha, skandal koran yang mana lagi yang tidak akan dia ketahui.
Saya terhenyak duduk di kursi malasku. Juga tidak nyana dan tidak ngimpi. Wah bagaimana orang sekaya dan sebaik begitu sampai mentlisutkan uang sak miliar. Saya mesti pergi ke rumah kawan wartawan yang bekerja di koran itu. Aku butuh info lebih banyak tentang Mas Guh. Dan ternyata
info dari kawan wartawan itu lebih membuatku grogi: Bagaimana tidak. Mas Guh ternyata telah memutarkan uang itu untuk berbagai proyek spekulasi yang agaknya hancur semua. Tetapi yang lebih mengenaskan lagi proyek spekulasi itu masih ditambah dengan proyek spekulasi yang lain. Mas Guh ternyata punya tiga istri lagi. Dikawin sah.
Astaga .... Serta-merta saya ingat lukisan kaca karya almarhum Pak Sastra-gambar dari Muntilan. Gambar itu menampilkan Petruk jadi raja, duduk di kursi goyang, memangku seorang perempuan, sedang tangan kanannya memegang gelas berisi wiski.
Gambar itu bertuliskan huruf Jawa: Melik Nggendong Lali. Mendamba Menggendonq Alpa. Sayang lukisan itu dulu saya berikan kepada seorang sahabat di Jakarta. Siapa tahu, kalau dulu
saya hadiahkan Mas Guh, ada pengaruhnya, Tetapi yah, siapa nyana, siapa ngimpi ....
Di Jakarta semua anggota keluargaku sedih mendengar laporanku. Masing-masing terdiam dengan kenangannya sendiri tentang Mas Guh. Mungkin buat istri saya dia dikenang sebagai sedulur yang pernah memberi oleh-oleh tas Etienne Aigner dan bagi anak-anak saya sebagai Oom yang ngganteng, yang senyumnya bagaikan senyum Robert Redford yang aneh, yang bodynya sangat body.
"Tapi korupsi kan nggak buat dia sendiri, Pak. Rezekinya di bagi-bagi kan? Buat tolong sanak sedulur, kan …..".
Saya tidak mendengar apa-apa lagi. Mungkin saya masih grogi dan bengong. Akhirnya aneh sekali saya cuma bisa bergumam kepada anak Istriku. Wis, wis, ora papa, ora papa, ora papa, ora ...

By : Umar Kayam
4 Agustus 1987

Read more...

2 x 3 = 23

>> Tuesday, December 1, 2009

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.


Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24"
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: " Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
"Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.""
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,dan memberi Yan Hui 2 (Dua) nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.


Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.

Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum".
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku".
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting ?
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.
Murid benar2 malu.

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).

Cerita di atas dikirim oleh temen temen di Gang Bantat Palembang, thanks Atas sharing ceritanya

Read more...

TAK MARAH KARENA PUASA

>> Thursday, November 26, 2009

SAAT itu, masa pemerintahan SBY-JK masih terbilang baru. Harga minyak dunia meningkat secara drastis. Akibatnya, uang negara kian menyusut karena dipakai untuk melakukan subsidi harga minyak.
Dalam pemerintahan SBY, terutama Menteri ESDM, Purnomo, takut menaikkan harga minyak. JK tetap mau menaikkan karena negara di ambang soal yang mendalam, dan ironinya, yang menerima subsidi yang paling banyak adalah kalangan yang berduit.


Bagi JK, adalah tidak masuk akal jika kaum miskin yang mensubsidi kaum kaya. Setelah beberapa kali rapat para pejabat, argumentasi JK akhirnya bisa diterima: menaikkan harga BBM. Masalahnya, soal waktu, Pada umumnya meminta harga BBM dinaikkan sebaiknya setelah lebaran.
Pendapat ini didukung dengan alasan, pada saat selesai bulan puasa, masyarakat tidak lagi banyak mengomsumsi minyak sebab puasa telah selesai. Katanya, selama puasa itu, masyarakat banyak memakai minyak sebab ada sahur. Karena, jika menaikkan minyak pada saat bulan puasa, masyarakat sangat sensitif dan mudah marah. Pasti banyak demo, kata pihak yang menolak menaikkan harga BBM selama bulan puasa.

JK berpendapat sebaliknya. "Justru BBM harus dinaikkan sebelum bulan puasa berakhir. Dan justru pada bulan puasa itu, konsumsi minyak di kalangan kebutuhan keluarga, menurun, sebab orang yang berpuasa itu tidak lagi sarapan pagi dan makan siang," kata JK.
Dalam kalkulasi dan logika JK, orang itu tidak akan mungkin marah dan demo bila minyak dinaikkan selama mereka berpuasa. "Mana ada orang puasa boleh demo. Demo itu kan berarti marah, dan marah itu membatalkan puasa. Jadi, selama ia berpuasa, selama itu juga tidak mungkin ia berdemo," kata JK.
Bagaimana kalau selesai bulan puasa? Pasti mereka akan turun ke jalan untuk mendemo.
JK tak kehabisan akal "Selesai bulan puasa, berarti itu sudah akhir November. Bulan itu adalah musim hujan. Nah, sehebat apa pun demo, jika hujan deras turun mengguyur beberapa
jam, pasti bubar demonya. Tidak ada orang yang bisa bertahan terus-menerus secara berkelompok di bawah siraman hujan beberapa jam. Pasti bubar semuanya," kata JK meyakinkan.

"Lagi pula," kata JK lagi, "setelah lebaran itu, orang sudah pasti lupa, berapa sih kenaikan harga BBM? Orang kan akhirnya menyesuaikan diri lagi dengan itu. Inilah pentingnya
kita terbuka ke rakyat, menghitungkan untung ruginya bila menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM. Yang penting kita tcrbuka dan melayani masyarakat berdialog. Jangan kita mengambil keputusan, lalu anak buah yang disuruh berhadapan dengan masyarakat. Menteri tidak boleh menyuruh dirjen atau dlrekturnya yang tampil," begitu penegasan JK.

Harga BBM memang dinaikkan tahun 2005. Kalkulasi JK sangat akurat. Demo dalam bulan puasa itu, hampir nihil. Tidak ada amuk massa seperti yang diperkirakan. Usai lebaran,ternyata hujan lebat mengguyur Jakarta. Hasilnya, uang negara bisa dihemat karena subsidi BBM tidak lagi terlampau besar. "Lihat kan, prediksi saya benar," kata JK.
Karena JK konsisten, bos yang harus menjelaskan kepada rakyat tentang kebijakan pemerintah itu, ia pun sibuk ke sana kemari menjelaskan kebijakan ini. JK selalu tampil di berbagai
forum dan wawancara media massa, terutama televisi. Lalu, banyak orang yang menyayangkan itu. JK dinilai dijadikan bamper oleh SBY karena JK yang berhadapan langsung dengan pihak yang menolak kenikan harga BBM itu.

JK menampik itu semua. "Ini keputusan Pemerintah. Saya adalah bagian dari Pemerintah, karena itu, saya harus tampil dan konsisten membela keputusan Pemerintah itu, Yang penting, saya ikhlas bekerja untuk kepentingan publik. Menghemat uang negara, juga adalah demi rakyat banyak," jawab JK.
Lantaran kebijakan menaikkan harga BBM itulah maka JK mencari dan menemukan formula kompensasi, yang diberikan langsung ke rakyat. JK tampil dengan ide bantuan tunai langsung.
Malah, JK tidak berhenti pada ide, tetapi ia juga langsung menyusun strategi implementasi. Hasilnya, rakyat miskin langsung diberi uang tunai dan mereka mengambilnya di kantor-
kantor pos. Lalu, para menteri pun berkewajiban turun ke daerah untuk melihat langsung pemberian uang tunai tersebut. Ketika musim kampanye berlangsung, pihak SBY memakai
isu bantuan tunai langsung ini sebagai materi. Orang-orang yang dulunya menyalahkan JK karena tampil berhadapan langsung dengan masyarakat, pers, LSM, membela kenaikan harga BBM, kembali menyalahkan JK. Mereka juga seolah memberi pelajaran kepada JK, tatkala harga BBM diturunkan oleh SBY, tanpa konsultasi dengan JK.

Bagi kelompok ini, JK pasang badan untuk membayar harga, tetapi JK disuruh cuci piring jika pesta telah usai. Lagi-lagi, JK tidak menanggapinya. JK hanya berkomentar singkat, "Niat
baik itu harus dijalankan karena keikhlasan. Tidak boleh hitung-hitungan. Semua itu dilakukan karena itu menjadi keputusan Pemerintah," katanya kepada kelompok ini.

Sejatinya, JK sendiri tidak berkeberatan melakukan hal tersebut, dan tidak menggugat tatkala SBY menurunkan harga BBM tanpa melibatkan dirinya, karena dia menilai bahwa memang seharusnya BBM turun sebab harga minyak dunia memang turun. Antara SBY dan JK, soal ini tidak ada masalah. Yang gelisah sebenarnya adalah orang lain. Begitulah kisah soal kenaikan harga BBM tahun 2005 itu. Di sinilah sebenarnya pangkal kebijakan Pemerintah untuk melakukan perubahan, Lantaran harga minyak yang selalu disubsidi pemerintah, sementara kebutuhan kian meningkat maka JK pun melempar gagasan. Pemakaian minyak tanah harus diganti dengan gas. Dasar pemikirannya sangat sederhana. Minyak tanah kita impor, sementara gas kita ekspor. Nah, ada baiknya kita ubah pola pemakaian energi kita, dari minyak tanah ke gas. JK menuai protes. Ia jalan terus. Berbagai soal diangkat, mulai dari peliknya memperoleh gas hingga langkanya tabung gas. Bagi JK, semua itu terjadi dalam era transisi. Segala yang baru itu butuh penyesuaian. Masyarakat belum saja merasakan nikmatnya gas. Oleh karena itu, Menteri ESDM harus kerjakeras untuk menjaga suplai gas dan penyediaan tabung-tabung gas. "Semua bangsa modern, konsumsi bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga, sudah menggunakan gas. Tidak ada lagi yang memakai minyak tanah. Kita harus menjadi bangsa modern. Lagi pula, kita yang selama ini menyuplai Jepang dengan gas, sementara kita sendiri tidak menggunakannya. Ini sebuah
ironi," kata JK meyakinkan.

Maka, dalam kesempatan melawat ke Jepang, pemerintah negeri Sakura itu meminta JK agar tetap menjual gas ke Jepang. Jawaban JK sangat jelas. "Kita akan mengekspor gas ke Jepang manakala ada yang tersisa dari kebutuhan konsumsi kami. Rakyat kami sangat membutuhkan gas juga," kata JK.*

Read more...

Negeri Para Bedebah

>> Monday, November 2, 2009

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

by : Adhie Massardi


Read more...

Dunia Akan Kiamat .... Segera !

>> Thursday, October 29, 2009

PERTEMUAN khusus para pejabat tinggi negara berlangsung
serius. Malah terbilang tegang. Tema pembahasan adalah lingkungan hidup. Para peserta pertemuan mengerutkan kening sembari sebagian geleng-geleng kepala mendengar uraian
dua orang pejabat negara yang sedang memberi presentasi.

Pejabat pertama yang memiliki otoritas di bidang lingkungan, berbicara sekitar satu jam lebih. Ia tampil dengan slide gambar-gambar yang mengerikan tentang rusaknya lingkungan hidup dunia. Berbagai rupa wajah lingkungan kita disorot. Mulai dari sungai yang tercemar oleh limbah yang menyebabkan berbagai penyakit dan membahayakan kehidupan manusia dan binatang-hingga punahnya terumbu karang. Sang pejabat seolah tidak memberi waktu hadirin untuk berkedip. Ia menguraikan bahwa dunia sekarang memang sungguh-sungguh dalam keadaan terancam oleh bahaya kerusakan lingkungan hidup. Katanya, "akibat ulah manusia, berbagai penyakit baru muncul karena udara yang dihirup sehari-hari, tidak lagi sehat. Pernapasan terganggu secara signifikan dan membawa berbagai jenis penyakit."
Malah, lanjutnya lagi, makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum sekarang ini, juga sudah tidak bebas dari pencemaran, yang pada gilirannya akan membawa penyakit. Semua ini membuat kita tidak punya pilihan lagi, harus siap menyambut malapetaka dunia. Singkatnya, beragam rupa aspek lingkungan dijelaskan. Semuanya mengarah kepada kesimpulan: dunia dalam bahaya. Kehidupan umat manusia bakal habis. Kalau kita tidak secepatnya mengambil tindakan, dunia akan kiamat dalam waktu seperempat abad, tegas Sang Pejabat.
Pejabat kedua, yang memiliki otoritas di bidang kehutanan, mendapat giliran berikutnya untuk menyampaikan presentasi. Yang ini lebih mengerikan lagi. "Indonesia adalah paru-paru dunia, tetapi justru di Indonesia ini, kerusakan hutan yang paling parah. Semua itu terjadi karena penebangan yang semena-mena dan kebakaran hutan yang sulit diatasi,"

"Akibat dari semua itu", katanya lagi, "Segalanya jadi terpengaruh. Perubahan iklim global yang kini berlangsung, itu akibat, antara lain, tidak adanya lagi paru-paru dunia. Hutan kita, daratan kita, semuanya menunjukkan tanda-tanda gundul. Dan, ini adalah tanda bahaya bagi kehidupan manusia. Kita menyaksikan dari atas, hutan dan daratan kita sudah tidak hijau lagi. Air sungai, karena itu, berubah menjadi cokelat. Semua ini gara-gara ulah kita semua,"
Maka, menurut Sang Pejabat tersebut, kiamat dunia tidak lagi terjadi dalam waktu seperempat abad, tetapi sebelum itu.

Hadirin pun, yang semuanya adalah pejabat negara, dibuat terkesima oleh kedua pembicara tersebut. Kelihatan sekali wajah tegang para pejabat yang hadir, yang diikuti dengan menarik napas panjang sekali. Di tengah suasana yang tegang itu, JK tiba-tiba minta bicara

"Anda berdua yang bicara tadi, keterlaluan juga. Mengapa Anda tidak mengatakan saja, dunia akan kiamat besok, sebelum matahari terbit," kata JK dengan senyum.
Hadirin pun langsung tertawa semua: Geeeeeer. Napas hadirin yang tertahan selama presentasi tadi, langsung keluar. Wajah hadirin pun, langsung berubah jadi cerah. Sejumlah hadirin saling melirik dan geleng kepala menyaksikan JK mengubah suasana tegang, jadi segar.
Kata JK, "Kalau warna hijau saja yang menentukan kiamat tidaknya dunia ini, maka, Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia, sekian ratus tahun yang lalu, mestinya sudah kiamat, karena di sana tidak ada warna hijau. Kan tidak ada pohon di sana. Yang justru terjadi, di Saudi, segalanya jadi kecokelatan karena padang pasir. Kalau di Indonesia, kan hanya sebagian sungai kita yang cokelat. Di Saudi, semua cokelat. Dunia toh tidak kiamat sampai sekarang,"

"Coba, ya, kalau Anda terbang di atas India, ada ndak pohon hijau yang Anda lihat. Kan tidak ada. Lebih lagi jika Anda terbang di Atas Saudi Arabia, kan hanya padang pasir. Sama sekali tidak ada pohon. Bandingkan kalau Anda terbang di atas negeri kita. Kan masih hijau semua. Bahwa di tengah yang hijau dan rimbun itu ada bolong-bolong, ya, kita memang akui. Tetapi tidak seseram yang Anda semua katakan itu. Yang bolong itu perlu memang kita tanami segera."

"Soal negara-negara lain menyorot kita, jawabannya sederhana, Katanya, negara kita adalah paru-paru dunia. Kalau begitu, semua negara yang membutuhkan udara segar dari hutan kita, ya, harus bayar dong ke kita. Mintalah mereka memberi pembayaran agar napas mereka bisa baik. Pembayaran itu kita pakai untuk memperbaiki hutan kita. Kalau hutan kita adalah paru-paru mereka, ya, mereka harus memelihara paru-paru itu. Jangan mereka hanya tahu menyorot dan marah. Yang membeli kayu dari hutan kita, kan mereka juga. Jadi, jangan selalu menyalahkan bangsa sendiri. Itu tidak bagus. Kita harus jaga martabat bangsa, dong," lanjut JK dengan rileks.

"Mengenai Amerika, Eropa Barat, dan Kanada yang rewel menyoroti kondisi hutan kita yang mulai kurang hijau lagi, ini juga tidak fair. Saya mau tanya Anda semua: apakah Amerika, Kanada dan Eropa Barat itu, selalu hijau sepanjang tahun? Mereka itu kan hanya hijau sekitar empat bulan toh? Selebihnya, malah seluruh pohon sarna sekali tidak punya daun, tinggal batang dan dahan saja selama musim rontok. Bahkan, mereka itu kan untuk beberapa bulan, hanya putih saja, karena salju. Jadi, mereka juga tidak hijau sepanjang tahun,"

"Coba lihat negeri kita ini, sepanjang tahun, 12 bulan, kan semua pohon hijau terus. Tidak pernah ada pohon kita yang kehilangan daun. Ayo, di mana ada pohon kita tanpa daun?" tanya JK.

"Jadi..," lanjut JK lagi, "tidak perlu kita ketakutan bahwa dunia akan kiamat karena kita yang mengiamatkannya. Juga tidak perlu kita selalu menyalahkan bangsa sendiri. Yang penting, mari kita semua konsentrasi menghidupkan kembali program penghijauan kita dan memperketat enebangan liar dan penyelundupan kayu. ltu yang harus kita kerjakan sekarang,"

"Insya Allah, dunia belum kiamat karena ada pohon yang kurang hijau. Dan kepada kedua pejabat yang memberikan presentasi tadi, harus meyakinkan dunia internasional, terutama yang senang menyalahkan kita, agar mereka juga memberi fee ke kita sebagai biaya memelihara paru-paru dunia. Jangan hanya pintar menyoroti tapi tidak mau mernbayar;" tegas JK.*

Sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin

Read more...

Mobil Anggota Kabinet

SUDAH puluhan tahun, mobil dinas para menteri dan pimpinan lembaga negara, selalu Volvo berwarna hitam. Pemerintahan SBY-JK naik pada tahun 2004, Volvo pun langsung diganti menjadi Toyota Camry.
Spekulasi berkembang di luar. Ada yang menilai, ini pertanda bahwa pemerintahan SBY-JK mengalami kepelikan uang sehingga para anggota kabinet harus memakai mobil Camry yang jauh lebih murah dibanding mobil Volvo. Ada juga yang menebak, itu karena JK adalah pengusaha mobil Toyota. Sebagian lagi mengira, ini berarti orientasi ekonomi kita ke depan, hanyak berkiblat ke Jepang karena Toyota adalah buatan Jepang. Maukah Anda mengetahui mengapa Volvo diganti menjadi Toyota Camry?
Ikutilah cerita berikut ini.

Lepas pembentukan Kabinet, SBY dan JK mendiskusikan tentang sarana penopang para anggota Kabinet untuk bekerja karena masih ada sejumlah anggota Kabinet yang pergi ke kantor dengan mobil pribadi. Ada juga anggota Kabinet yang mengendarai kendaraan reot yang disiapkan oleh kantornya. Kabarnya, JK meminta kepada SBY agar soal kendaraan para anggota Kabinet, diserahkan saja ke dia. Saat itu, Volvo masih dalam hitungan untuk kembali dipakai. Namun, JK menghitung bahwa Volvo terlampau mahal.

JK pun meminta Johny Darmawan, Direktur Toyota Astra Motor, untuk menemuinya. JK bertanya, "Sedan Toyota apa yang lagi popular dan berkualitas andal saat itu. Yang pasti, untuk kelas menengah saja dan tidak terbilang mewah."
Sang direktur pun memberi jawaban: sedan Camry. "Selain produk baru yang nyaman, juga tidak terlampau mahal untuk ukuran kelas menengah. Harganya sekitar Rp425 juta perunit."

JK langsung menyambung, "Kalau begitu Anda banyak mengiklankan produk ini kan? Berapa biaya iklanmu setahun untuk memasarkan produk Camry ini?" tanya JK.
"Ya, sekian banyak, Pak," kata Sang Direktur.
"Bagaimana kalau Anda menghentikan pembayaran iklan itu, lalu saya yang iklankan untuk Anda?" sambung JK.
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Sang Direktur penuh keingintahuan.
"Nah, caranya gampang. Kalau saya beli mobil sedan Camry Anda minimal 40 unit dan saya hanya mau bayar Rp275 juta per unit, gimana?" JK menawar.
"Maaf Pak, susah, karena harga itu terlampau rendah," balas Sang Direktur.
"Iya memang betul harga yang saya tawarkan rendah dari harga penjualan Anda. Tapi, kan Anda tidak perlu keluarkan biaya iklan selama lima tahun," balas JK.
"Nah, maaf Pak, itu yang saya belum mengerti. Bagaimana rumusannya?" tanya direktur Toyota tersebut.
"Begini, mobil sedan Camry saya beli minimal 40 unit dan akan saya berikan kepada para menteri dan juga para pimpinan lembaga negara lainnya. Masa jabatan menteri kan lima tahun. Jadi, selama lima tahun tersebut, menteri-menteri memakai Camry. Artinya, Anda sudah dipasarkan dengan sendirinya oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya nanti," kata JK.

"Bayangkan saja jika setiap menteri memakai sedan Camry kan menteri dikawal, dan sesekali pakai mobil pengawal yang pakai sirene, tentu semua orang memandang. Di situlah sedan Camry Anda langsung dilihat orang. Lagian, biasanya kalau sudah menteri pakai maka semua orang ingin juga memakai kendaraan sama dengan yang dipakai menteri," tegas JK lagi.

"Anda harus lihat dari segi jangka panjangnya. Pembayaran kami memang bisa membuat Anda tidak beruntung banyak untuk beberapa puluh mobil tersebut, tetapi, keuntungan jangka panjang Anda sangat berlimpah nanti. Banyak pengusaha mobil dari berbagai merek datang untuk menawarkan produknya, termasuk Volvo. Jadi, kalau Anda tertarik dengan tawaran saya, Oke, kali ini kita mulai sejarah baru bahwa para menteri dan pejabat lembaga negara lainnya akan menggunakan Toyota. Ini sebuah era baru bagi Toyota," kata JK.
Ternyata memang, tawaran JK masuk akal bagi Toyota. Dan para menteri serta pimpinan lembaga negara lainnya pun menggunakan sedan Toyota Camry sampai sekarang.

Keputusan ini bukannya sepi dari soal. Ada-ada saja yang mencoba menyoalnya. Mereka menyesalkan, menteri itu sebaiknya diberi kendaraan yang lebih atas daripada Camry demi keselamatan menteri. Masalahnya, kata mereka, Camry itu mudah ringsek jika ditabrak atau tabrakan. Volvo kan sudah terbukti keandalannya, alasan mereka.

Gugatan ini dengan enteng ditangkis oleh JK. "Menteri itu kan selalu diiringi oleh sebuah mobil kawal dari belakang. Sebelum menteri ditabrak, tentu mobil kawal langsung menyeruduk kendaraan yang hendak menabrak mobil menteri. Lagian, biasanya mobil menteri itu diiringi oleh mobil atau motor pengamanan yang pakai sirene. Jadi, jauh sebelum itu, kendaraan lain sudah menyisih dari kendaraan yang dipakai menteri," tegas JK.
Hanya sampai di sini? Ternyata tidak. Ada juga kalangan yang menilai, kekuatan mesin Camry tidak mampu lari cepat. Kata mereka, menteri itu kan harus bergerak cepat dari tempat satu ke tempat lainnya.
Yang ini, lebih enteng lagi dijawab oleh JK. "Mobil menteri itu berputarnya di Jakarta dan sekitarnya saja. Dengan jumlah kendaraan yang berjubel di Jakarta, ditambah dengan jalanan
yang sempit, tidak ada kendaraan di Jakarta yang bisa lari dengan kecepatan 140 km/jam, Pasti nabrak kiri kanan kalau ada yang mau mencoba melakukan itu. Jadi, apa gunanya memiliki
kendaraan dengan kemampuan mesin untuk berlari cepat,tetapi faktanya, tidak pernah juga digunakan. Itu kan mubazir," kata JK.
"Tambahan lagi, kualitas mobil yang kita butuhkan adalah: suspensinya bagus, irit, ada pendingin, radio dan tape recorder jalan untuk mendengarkan berita atau lagu-lagu bila macet.
Semua itu telah dimiliki oleh sedan Camry. Apa lagi yang dicari?" simpul JK.

Prediksi JK tidak meleset. Begitu para menteri memakai sedan Camry, pelan-pelan para pejabat daerah pun mulai ikut memakai Camry. Sektor swasta juga demikian. Dan hingga kini,
omset penjualan Camry, dari berbagai jenis dan kelas, tetap saja digemari orang di Indonesia.

Kisah Camry tidak hanya sampai di sini. Tatkala ikhtiar mendamaikan GAM dengan pemerintah mulai dijalankan oleh JK, ia memanggil Dubes Swedia di Indonesia. Ia meminta pemerintah Swedia benar-benar membantu ikhtiar perdamaian yang dirintisnya itu. Tak canggung bagi JK mengatakan kepada Dubes Swedia bahwa jika Anda mengakui dan merasa Indonesia adalah teman Anda, maka bantulah pemerintah Indonesia untuk menghentikan perang di Aceh.
"Masalahnya ... ," kata JK kepada Dubes Swedia saat itu, Hasan Di Tiro dan dr. Zaini Abdullah adalah warga negara Swedia, dan Malik Machmud, meski bukan warga negara Swedia, ia tinggal di Swedia. Mereka adalah para pemimpin tertinggi GAM yang menentukan tiap langkah GAM. Bujuklah mereka agar mereka duduk berbicara dengan pemerintah Indonesia, lalu damai," kata JK

"Hubungan dagang kita dengan Swedia sebenarnya tidak terlampau banyak. Maka, Indonesia tidak segan memutuskan hubungan bila Swedia tidak mau menangani warganya sendiri, yang merugikan Indonesia. Buktinya, kita kan sudah memutuskan, tidak lagi memakai produk Swedia. Sedan Volvo buatan Swedia sudah kita ganti dengan Toyota Camry untuk para menteri. Jelas bagi kami di Indonesia bahwa jika Anda tidak mau berteman baik, ya sudah. Kami juga tidak rugi-rugi sekali," kata JK.

Pemerintah Swedia memang amat membantu ikhtiar perdamaian yang dilakukan JK. Maka, sedan Camry pun bisa jadi alat damai, bukan sekadar alat pengangkutan.*

sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin

Read more...

Buku Termahal di Dunia

>> Friday, October 23, 2009

Meski banyak buku yang dilabeli sebagai “Buku Termahal” di dunia dengan harga sampai puluhan juta, namun mungkin “The Onliest and The Deepest Secrets of The Medical Art” adalah buku yang paling layak disebut sebagai Buku Termahal di Dunia.

Buku ini adalah karya terakhir dari Boerhaave. Seorang dokter Belanda yang menulis bulu “Elementa Chemiae” dan meninggal pada tahun 1738. Sebelum wafat ia meninggalkan sebuah buku tebal bersegel dengan judul “The Onliest and The Deepest Secrets of The Medical Art” yang artinya kurang lebih sebagai “Rahasia Paling Mendalam dan satu satunya dalam seni Pengobatan”. Saat buku tersebut dilelang, buku itu terjual hingga mencapai US$20.000 Namun tahukah anda setelah segel buku dibuka, pemenang lelang menemukan bahwa 99 dari 100 halaman buku itu adalah halaman kosong. Selain sampul depan, hanya terdapat tulisan pendek “Jaga diri untuk tetap tenang, jaga kaki agar tetap hangat, dan kamu akan membuat dokter terbaik sekalipun menjadi Miskin” Untuk sebuah buku dengan tulisan sependek itu, buku ini pantas disebut BUKU TERMAHAL SEDUNIA.

Read more...

Pidato Anak Usia 12 Tahun yang membuat Forum PBB Terdiam

>> Thursday, October 22, 2009


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak” yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah” lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang” terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)


Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak” berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak” yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang” yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan”nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang” dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang” liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu”. tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal” tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah” kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita..

Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.

Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.

TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki” dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara” di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan..

Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak” yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak” jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak” tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak” yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini..

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.

Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.

Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak” anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak” mereka dengan mengatakan ” Semuanya akan baik-baik saja “. ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan’ dan ‘ ini bukanlah akhir dari segalanya’

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?

Ayah saya selalu berkata ‘ kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata” mu ‘

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata” tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang” penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Read more...

Kutub Bakal Tak Punya Es

>> Tuesday, October 20, 2009

Para peneliti meramalkan Laut Artik (Kutub) akan bebas Es di musim panas dalam waktu satu dekade mendatang. Setelah musim semi berlalu para peneliti kembali mengukur ketebalan es sepanjang 450 kilimeter dengan rute menyeberangi Laut Beaufort.

Mereka menemukan sebagian besar es sangat tipis. Pemimpin ekspedisi dan pakar Es lautan dari University of Cambridge, Peter Wadhams mengatakan pada musim semi tahun lalu rata rata ketebalan es hanya 1,8 meter, menandakan usia lapisan itu sekitar satu tahun. Sementara es yang sudah bertahun tahun tebalnya sekitar 3 meter. Tipisnya lapisan tersebut menjadi indikasi penting kondisi memprihatinkan es di laut artik. "Secara sederhana, es tipis itu akan sekejap hilang pada saat musim es mulai meleleh" ujarnya. Angin dan arus laut dapat pula memecah es yang tipis itu. Es yang terpecah dan mengapung bebas akan mudah terdorong ke wilayah perairan yang lebih hangat dan mencair. Catlin Artic Survey dan kelompok konservasi international WWF mendukung penemuan tersebut. Situasi Es di Artik tersebut sangat dipengaruhi iklim dan kondisi alam. Kondisi Es di Laut Artik kerap pula dikaitkan dengan perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP