Friday, February 26, 2016

Ihtiroos


By 


Kiyai Bisri Mustofa

Pada suatu missi pengajian, Kyai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri senior. Menjelang sampai ke tempat acara, Kyai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebauh warung makan. Hidangan dipesan, tapi si santri senior menolak ikut makan.
“Masih kenyang”, katanya. Kyai Bisri membiarkannya.
Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilahkan menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja Kyai Bisri menolak.
“Baru saja makan! Nanti saja”.
Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan, tapi Kyai Bisri tetap menolak.
“Masih kenyang”.
Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak ikut makan di warung. Kyainya pura-pura tidak tahu.
Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.
“Lumayan buat ganjal perut”, pikirnya.
Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, Kyai Bisri tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan!
Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari, karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.
Menurut Imam Ghozali (Asy Syaikh Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozzali Ath Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos ‘anin nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?
Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam benteng sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.
Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, Kyai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiroos ‘anith thoma’, supaya tidak berharap-harap (thoma’) akan suguhan si tuan rumah.
Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah Kyai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kyai Bisri memborong banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan depan rumah.
Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan Datsun keluaran tahun ’60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak yang tahu rahasianya: ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya: cuma body yang mulus, sedangkan mesinnya bodhol!
Apa tujuannya memborong “kereta-kereta tak berguna” macam itu?
“Untuk dipamerkan!” kata Kyai Bisri.
Pameran dalam rangka apa?
“Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya”.
Apa untungnya dianggap kaya?
“Supaya tak ada yang berani menawariku uang”.
Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?
“Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…”

Sunday, January 18, 2015

Maqolah 29


Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’
Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“
Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”
Aku menjawab, ‘Ya’.

Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Inokulasi Bibit Jamur Tiram


Sunday, December 7, 2014

Maqolah 28


Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
Wahai Tuhanku…
Sesungguhnya aku senang
Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku
Sementara aku sangat faqir dan lemah
Oleh karena itu wahai Tuhanku,
Bagaimana Engkau tidak senang
Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku
Sementara Engkau Maha Kaya
Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu
Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu
Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:
Ilahy lastu lil firdausi ahla
Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
Fahably zallaty wahfir dzunuuby
Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi
Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi
(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,
‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Wednesday, December 3, 2014

Maqolah 27


Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.
Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepada para Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dunia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.